SUASANA TERKURUNG DALAM AMBIENCE FOR ODGJ (ORANG DENGAN GAJI JOGJA) DAN SPASIALISASI SEBAGAI STORYTELLING DI KARYA MUSICAL INTERPRETATION OF DANCE WORKS “SEMILAH”

20-12-2023 22:20

Art Music Today


Art Music Today Image

Artikel kedua ini membahas karya Bahtera, Ambience for ODGJ (Orang Dengan Gaji Jogja), dan karya Muhammad Khoirur Roziqin, Musical Interpretation of Dance Works “Semilah”. Ditulis oleh Florentina Krisanti. Selamat menyimak!

#SERIARTIKELOMCMM2023

 

(1)

Suasana Terkurung dalam Ambience for ODGJ (Orang Dengan Gaji Jogja)

              October Meeting 2023: Spatiality hari pertama dibuka dengan Ambience for ODGJ (Orang Dengan Gaji Jogja) karya Bahtera. Karya ini bersumber dari data upah minimum regional (UMR) Yogyakarta dari tahun 2016-2023 yang diproses secara multiplikasi lewat aplikasi Pure Data. Hasilnya berupa beberapa frekuensi bunyi yang diproses dengan synthesizer virtual dan disusun menjadi sebuah komposisi dalam aplikasi digital audio workstation (DAW). Karya ini menggunakan 10 kanal untuk teknis audionya; terdiri dari 2 kanal untuk frekuensi bawah, 4 kanal untuk frekuensi tengah, dan 4 kanal frekuensi atas. Ketika dipentaskan, karya ini berdurasi kurang lebih 1 jam.

              Mengingat karya ini menggunakan synthesizer, Ambience for ODGJ dipenuhi dengan bunyi-bunyi elektrik yang cenderung seragam tapi tetap ada berbagai macam warna; ada yang halus, ada yang sedikit terdistorsi, ada yang panjang, ada yang pendek-pendek. Selama pentas, Bahtera cenderung menggerakkan tiap kanal secara merata di seluruh speaker, sehingga di manapun kita duduk, kita bisa merasakan hampir semua suara yang ada di dalam karya ini tanpa kehilangan efek spasialnya. Perbedaannya hanya sekadar suara mana yang lebih menonjol; apakah yang panjang atau pendek, yang halus atau yang kasar.

              Jika kita tidak terbiasa mendengarkan musik elektronik eksperimental, rasanya kurang betah bagi telinga kita untuk mendengarkan begitu banyak bunyi elektronis dalam waktu lama. Saya mencoba untuk pindah ke titik dengar yang mungkin akan lebih nyaman. Namun, cara Bahtera yang menggerakkan tiap bunyi secara merata membuat kita lagi-lagi mendengar bunyi yang tidak saya suka itu. Saya jadi seperti berputar-putar, mencari tempat yang lebih baik namun tetap saja kena lagi. Selama pentas memang saya banyak jalan-jalan di sekitar lokasi konser.

              Spasialisasi pada pentas karya Bahtera seperti memunculkan persepsi ruang dari sebuah karya musik. Ketika Ambience for ODGJ mulai dimainkan, kita seperti masuk dalam sebuah ruangan baru yang tidak kasat mata. Persepsi ruang tersebut diperkuat dengan lokasi pentas yang kebetulan berada di Dome Tempuran Space yang memiliki dua lantai dan beratap kubah. Bentuk ruangan yang sedemikian rupa dengan konten bunyi yang memancing resah membuat kita benar-benar seperti terkurung dalam sangkar burung. Mengingat di lokasi konser speaker tidak hanya berada di dalam dome tetapi juga digantungkan di pohon-pohon di luar dome, rasanya jadi ragu-ragu apakah kita sudah keluar dari kurungan tersebut meski kita tidak berada di dalam dome.

              Penerapan spasialisasi dalam karya musik juga terasa seperti memperkuat atau malah menimbulkan makna baru. Isu rendahnya UMR Yogyakarta sering menjadi keluh kesah para pekerja di Yogyakarta, ditambah lagi dengan isu sosial lainnya seperti sandwich generation, kebutuhan memiliki rumah, sulit mencari kerja, dan masih banyak lagi. Begitu banyak warga asli atau pendatang di Yogyakarta yang sulit untuk keluar dari masalah ekonomi. Kita seperti terjebak di dalam kurungan bernama UMR Yogyakarta.

              Pertunjukan Ambience for ODGJ cukup berhasil untuk menunjukkan kemungkinan baru yang muncul dari penerapan spasialisasi pada karya musik. Spasialisasi bisa menambah begitu banyak interpretasi baru; uraian interpretasi di atas pun sifatnya subyektif, mungkin ada pendengar lain yang justru nyaman dengan musik dari UMR Yogyakarta. Kebetulan, ketika saya mencoba mendengarkan karya ini dari titik yang berbeda, saya tidak sengaja mendengar pengunjung kafe Tempuran Space yang melewati dome dan berceloteh, “Ambience i lho!”. Semoga maksud mereka adalah Ambience for ODGJ, karena saya juga setuju kalau musik ini meresahkan.

 

(2)

Musical Interpretation of Dance Works “Semilah” dan Spasialisasi sebagai Storytelling

              Penerapan spasialisasi yang paling praktis dan mudah dipahami orang awam adalah ketika spasialisasi digunakan untuk mempengaruhi persepsi pendengar. Contohnya adalah ketika kita sedang menonton film di bioskop atau bermain game yang memiliki efek surround. Efek tersebut membuat kita seolah-olah berada di dunia lain, di dunia yang menjadi latar film atau game yang sedang kita nikmati.

              Setelah Bahtera, musisi kedua yang mengisi October Meeting 2023 hari kedua adalah Muhammad Khoirur Roziqin dengan karya Musical Interpretation of Dance Works “Semilah”. Karya ini sebenarnya adalah musik kolaborasi dengan tari yang ia kerjakan di tahun 2021, dan kali ini ia proyeksikan ulang dengan spasialisasi. Musiknya ia rekam di Kulonprogo dari beberapa instrumen gamelan, synthesizer, dan voice-over dengan 16 kanal dan menggunakan digital audio workstation (DAW) Ableton.

              Setiap penampil berhak memberi perlakuan spasialisasi pada karya mereka sendiri-sendiri sesuai dengan karya mereka, dan perlakuan dari tiap musisi dengan musisi lain sangat berbeda. Ketika musiknya dipentaskan, Roziqin lebih banyak menempatkan bunyi-bunyi yang lebih mudah dicerna awam pada speaker atas, seperti suara burung, suara siter, dan suara gamelan. Sementara suara-suara yang lebih asing dan mencekam seperti voice-over yang merapal “Bismillah” dan obrolan berbahasa Jawa, synthesizer, dan beberapa suara gamelan dikumpulkan di speaker bawah dan tengah.

              Speaker atas berada di luar dome dan digantung di batang pohon, sementara speaker tengah dan bawah berada di dalam dome. Memanfaatkan posisi speaker tersebut, Roziqin seperti memancing penasaran tidak hanya penonton konser, tetapi juga para pengunjung kafe. Ketika karya dimainkan, sempat terlihat beberapa pengunjung kafe di dekat dome seperti penasaran; ada yang mencari sumber suara, ada yang cenderung menikmati. Andai mereka lebih peka dan penasaran lagi, mereka bisa menuju ke dome, menemukan bunyi-bunyi yang lebih kaya di dalam situ.

              Spasialisasi yang diterapkan pada karya Roziqin memunculkan persepsi ruang yang lebih dinamis. Ketika kita mendengarkan suatu bunyi, bunyi tersebut seperti jadi pemantik dan penarik perhatian kita untuk mengeksplor ke titik lain yang memiliki suasana bunyi yang berbeda. Kurang lebih seperti ketika kita bermain game dengan perspektif first-person; ketika kita mendengar suara gemerisik di belakang, kita jadi penasaran dan akhirnya berbalik ke arah suara gemerisik tersebut, hingga akhirnya kita menemukan sesuatu yang menarik.

              Jika suatu karya sudah memiliki narasi, penerapan spasialisasi yang dinamis seperti ini bisa membantu menguatkan narasi tersebut. Sebuah cerita yang menarik umumnya memiliki kronologi yang jelas dan babak-babak penceritaan seperti pengenalan, konflik, klimaks, dan penyelesaian yang kuat. Karya Roziqin secara garis besar diawali dengan bunyi-bunyi yang sederhana dan easy-listening seperti suara burung dan siter, kemudian ditambah dengan suara gamelan, lalu muncul suara synthesizer yang berat dan makin berat, lalu diakhiri dengan tambahan beberapa suara voice-over. Awalnya ringan, lalu semakin berat hingga akhir. Meskipun karya ini tidak mencantumkan sinopsis, bentuk komposisi yang seperti ini dan ditambah dengan spasialisasi membuat kita menduga karya ini mungkin memiliki cerita menarik di baliknya.

Roziqin seperti tidak hanya bercerita lewat musik, tetapi juga bercerita lewat audio. Meski audio engineering juga memiliki kreativitas dan selera pribadi dari audio engineer, umumnya pekerjaan produksi rekaman lebih banyak dianggap sebagai pekerjaan teknis yang butuh pemikiran logis. Spasialiasi seperti memberikan kesempatan bagi audio engineer untuk “bercerita”. Storytelling tidak selalu muncul pada sesuatu yang bersifat seni atau hiburan, tapi juga pada lingkup yang lebih saintifik. Roziqin seolah-olah mencoba menarik perhatian banyak orang, terutama selain penonton konser, lewat perlakuan spasialisasinya dalam Musical Interpretation of Dance Works “Semilah”.

              Spasialisasi memang memiliki teknik dan peralatan yang sulit dipahami, namun efeknya sebenarnya tidak terlalu asing bagi kita. Penerapan spasialisasi dalam karya Roziqin ini menawarkan penggunaan spasialisasi yang lebih praktis, misalnya untuk instalasi seni interaktif atau untuk wahana hiburan seperti rumah hantu. Efek surround yang biasanya muncul di karya maya seperti game dan film kini bisa dirasakan secara nyata, dan akhirnya membuat pengalaman menikmati karya menjadi lebih kaya. Rasanya spasialisasi semakin perlu diceritakan untuk lebih banyak orang sehingga semakin berkembang dan makin mudah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis: Florentina Krisanti | @fkrisanti

291 x dilihat

Prev Next

Login Member

forgot password?
Kabar Berita
PERJALANAN BUNYI YUDANE

4772 x dilihat

9 Tahun Art Music Today

5950 x dilihat