SPASIAL: KIPRAH ARTISTIK DALAM EKSPANSI RUANG AKUSTIK

13-12-2023 08:16

Art Music Today


Art Music Today Image

SPASIAL: KIPRAH ARTISTIK DALAM EKSPANSI RUANG AKUSTIK

October Meeting: Contemporary Music and Musicians 2023 telah mempraktikkan seni bunyi spasial untuk mewujudkan citra dengar yang meruang dan natural, namun sekaligus kompleks dalam hal teknis, sistem, maupun pre-knowledgenya. Mulai hari ini, seminggu sekali, kami akan menampilkan seri artikel yang membahas peristiwa ini. Artikel pertama ini ditulis oleh Andri Widi Asmara, bersumber dari data transkripsi audio rekaman Artist Talk dan Diskusi: Praktik Artistik dalam Ekspansi Ruang Akustik dengan narasumber Gatot Danar Sulistiyanto. Selamat menyimak!

Pengantar

Spatial audio/spasial adalah contoh hasil olah kreatif manusia dalam memanfaatkan ruang dengan bunyi sebagai episentrumnya. Pada perkembangannya, spasial sudah digunakan oleh industri film, game, gadget, dan selluler untuk mengembangkan citra dengar perseptual pada produk-produknya. Namun di ranah medan ekspresi artistik, kami melihat masih banyak yang belum memanfaatkannya sebagai piranti yang asyik untuk diimplementasikan.  Maka pada October Meeting yang dilaksanakan  tanggal 16-19 Oktober 2023 di Tempuran Space ini kami mengeksperimen spasial pada wilayah kerja rekayasa artistik dari 5 seniman bunyi memanfaatkan 20 speaker. Seniman bunyi tersebut mencoba sistem multikanal, realtime spatial, dan live spatial. Ketiga percobaan tersebut mungkin masih belum banyak konsensusnya di hari ini. Sehingga kami menduga akan ada banyak penyesuaian cara dengarnya, cara kerjanya, dan mungkin cara delivery mekanismenya. Maka sifat dari performance ini adalah eksperimentatif, dan membebaskan para seniman bunyi dan pendengar untuk mengeksplor lebih jauh tentang spasialitas.

Memahami Seni Bunyi Spasial

Seni bunyi spasial kami tafsir sebagai wahana bertemu dan bereksplorasi bersama dari para audio engineer, acoustical engineer, computer scientist, audio production, dan tentu saja seniman yang berbasis proyeksi bunyi. Sistemnya mempadukan kinerja intelektual, kinerja astistik, dan kinerja teknikal. Mereka saling bertaut kebutuhan secara hybrid. Seni bunyi spasial tidak hanya menawarkan ruang yang lain untuk mereka, namun juga untuk pendengar. Bentuk pertunjukan yang menggunakan citra ruang depan-belakang, atau istilahnya frontal sistem-kontras antara penyaji dan pendengar yang hanya berhadapan, bertransformasi menjadi ruang dengar seutuhnya.

Untuk memahami seni spasial, baiknya wajib mempunyai pre-knowledge. Diantaranya: telah memahami kinerja Digital Signal Processing (DSP) dan seni computer music. Mengetahui kinerja DAW (Digital Audio Workstation) saja sebenarnya sudah cukup. Namun lebih afdol lagi jika ditambah pengetahuan DSP (Digital Signal Processing). Tanpa itu sebenarnya bisa-bisa saja. Namun, tanpa modal tersebut, spasial hanya terbatas dimaknai pada perseptual bunyinya. Tidak keliru, namun kurang lengkap. Karena memasuki sistem spasial, akan menemui banyak perbedaan jika dibandingkan dengan sistem stereo. Sistem stereo hanya memproyeksikan suara ke dalam amplitude panning-kanan dan kiri. Hanya sebatas perbesaran dan perbedaan amplitudo antara kanan dan kiri. 

Bedanya dengan stereo?

Perbedaan pertama antara sistem spasial dan sistem stereo adalah adanya efek dopler. Efek dopler merupakan khas efek spasial. Contoh: ketika ambulance melintas, jalan dari kanan ke kiri, tanpa mencermatipun kita merasakan bahwa ada penurunan pitch dan intonasi pada sirenenya. Sederhananya, hal semacam itu bisa disebut sebagai efek dopler.  Jika kita lihat di dalam metadata, dopler ini disebut  sound localization, sumber di mana informasi datang dan diterima. Keberadaan dopler merupakan medan penting sekaligus medan poin baru. Dalam penyajiannya dapat menjadi point of interest. Itu yang nanti akan membedakan dari sistem stereo. Karena sistem stereo berkarakter pada depthness dan wideness saja, maka metadatanya berbeda dengan spasial.

Unsur pembeda kedua adalah redaman udara. Redaman udara ini di sistem stereo tidak berlaku/tidak diprioritaskan. Redaman udara/absorbing air, adalah dampak dimana suara itu seperti diserap. Di dalam sistem spasial, redaman udara digunakan untuk processing.  Sehingga terdapat perubahan spektrum dan perubahan citra bunyi. Perubahan ini tidak hanya pada warna bunyinya saja, melainkan kualitasnya. Jika dibedah, dampak redaman udara pada sistem spasial mengakibatkan percampuran antara filter, face, dengan time delay. Kemudian ketiganya tersebut diakumulasikan menjadi satu. Sedangkan di sistem stereo hanya mewakili delay dan reverb saja.

Unsur pembeda ketiga adalah proses reverberasi/gema. Reverberasi  di spatial system tidak hanya mengaitkan dua speaker saja, namun mengaitkan jaringan loudspeaker. Maka amplitudo reverbnya bukan pada stereo reverb, melainkan convolution reverb. Ini dapat menjadi salah satu mata baca artistik di dalam olahan spatial audio. Sehingga, selain sound localization, artistic awarenessnya adalah reverberasi. Jika di dalam sistem stereo karakter reverberasinya bisa dikatakan “memperdalam”, di spatial audio berbeda. Sistem ini membuat sebuah virtualisasi atau artificial reverbration. Tidak hanya merekatkan suara satu dengan yang lainnya, namun membuat sebuah layer gema setara 360 derajat.

Unsur pembeda yang keempat adalah modul konfigurasi panning. Ini yang membedakan dengan amplitude panning khas stereo sistem. Modul konfigurasi panning ada banyak, di antaranya ada A dan B, X dan Y, MS, VAB, dll. Contoh lainnya adalah Factor Amplitude Base, sampai ke ambisonic, binaural dan wave field synthesis. Ini merupakan proses akustifikasi dari seluruhnya sinyal input menuju ke panning sistem. Sehingga, sistem proyeksinya itu yang menentukan apa konfigurasi panningnya. Ini sebenarnya adalah logika organologis.

Pada sistem stereo, kita tidak menjumpai decoding dan transcoding. Karena di stereo tidak dibutuhkan persesuaian metadata, hanya menggiring data menuju ke amplitude. Ini merupakan unsur pembeda kelima. Di sistem spatial dibutuhkan enkripsi menjadi decoding atau transcoding. Sehingga modul konfigurasi transcodingnya menjadi bermacam-macam. Ada model transaural, ada ambisonic, dll. Lebih jelasnya, proses transcoding dan decoding secara teknis adalah pekerjaan matematika dan pekerjaan computer sains. Namun, secara praktis, kita bisa menyederhanakan itu menjadi mengalihformatkan atau mixing format dari seluruh proses sinyal. Atau istilahnya mix-basednya. Tanpa  hal tersebut, seluruh metadata tak dapat diproyeksikan ke sinyal. Karena itu adalah final dari mix-based. Decoding dan encoding banyak digunakan dalam ambisonic system. Karena basicnya adalah A format menuju ke B format, dst. Sistem ini memiliki format-format khusus, karena ada channel based sistem. Sistem pengolahan data ini jika ingin bisa dibunyikan/dimapping harus di “B” formatkan sehingga ini dapat masuk ke dalam sistem metadata. Sedangkan transcoding ini untuk format realtime spatial. Maka bisa dibedakan menjadi on-site rendering sama non-realtime.

Unsur pembeda yang terkahir adalah output. Seni bunyi spasial adalah adalah sistem berbasis multikanal. Maka outputnya juga harus multichannel, alias mandiri per-kanal. Misalnya, Jika outputnya 16 kanal, ya harus 16 speaker. Tidak dapat dipararel bergabung menjadi satu sinyal. Maka sebetulnya sistem spasial ini bukan low maintenance tools, melainkan high maintenance. Maka ada mekanisme produksi yang ceritanya akan berbeda.

Bagaimana merancang spasial?

Merancang sistem spasial dapat menggunakan 3 jenis maqam. Yang pertama adalah Perceptual Model. Di dalam model ini masih menggunakan sistem berbasis amplitude panning. Kita dapat memulainya dengan teknik panning, kemudian beralih ke sistem stereo. Pada sistem stereo ini kita bisa mengembangkannya menjadi sistem surround. Yang nantinya ini semua akan bermuara di virtualiasi sound source yang berbasis VBAP (vector base amplitude panning). Model ini dikenal modern sehingga sering dipakai oleh industri film, game, seluler, dan gadget untuk mengembangkan produknya (dolby atmos, dll.). Mengapa istilahnya perseptual? Karena mengalami persepsialisasi citra dengar yang bersifat environmental. Contohnya: seolah-olah kita berada di tengah lautan, tengah hutan, di antara kereta lewat, dll.

Untuk yang kedua adalah Signal Model. Bisa dikatakan, spasial yang dirancang sedari bahan mentahnya. Karakter arah tangkap/arah dengarnya itu menjadi satu titik episentrum orientasi artistik. Sehingga muara yang dituju adalah binaural/transaural. Salah satu alatnya: dummy head – model kepala manusia yang dipasang mikrofon di di beberapa titik untuk merekam model-model sinyal dari arah tangkap yang berbeda. Hasilnya memang terbukti berbeda antara depan, belakang, samping, atas, bawah, dll. Ada ukuran tersendiri. Sistem ini hanya membutuhkan dua channel, namun dengan catatan, sebelumnya sudah mengalami proses olah media.

Untuk yang ketiga adalah Physical Model. Phsycal model ini berorientasi pada proses-proses akustifikasi, tidak lagi berbasis manusia yang diorientasikan perspektif dengarnya, tetapi pendengar masuk ke dalam realitas fisik kondisi ruang bunyi. Maka yang ditata adalah proses sintesis dari ruang bunyi itu. Istilahnya Soundfield Synthesis. Contoh: dari physical model itu kita bisa membuat refleksi spesifik persis seperti gedung Taman Budaya Yogyakarta. Nanti yang muncul adalah data-data laporan yang  saintifik (tingginya berapa, serapannya berapa, pantulannya berapa, dll). Ini yang menjadi epicentrum dari wave field synthesis dan ambisonic.

Teknis

5 seniman bunyi di October Meeting 2023 menggunakan 3 jenis sistem, yaitu Multichannel Projection/Proyeksi Mutikanal, Realtime Spatial, dan Live Spatial. Pada hari pertama adalah Bahtera, ia menggunakan proyeksi multikanal untuk mengekspos karyanya yang berjudul Ambience for ODGJ. Kemudian hari kedua adalah Muhammad Roziqin dengan karyanya berjudul Musical Interpretation of Dance Works “Semilah” dan Rangga Purnama Aji dengan karyanya berjudul Suppressed Fantasia. Mereka berdua menggunakan sistem realtime spatial. Pada hari terakhir, pendengar disuguhkan live spatial performance dari Gatot Danar Sulistiyanto dengan karyanya yang berjudul Meruang. Gatot berkolaborasi dengan instrumentalis Prasiddha Iwang pada clarinet dan Tony Maryana pada perkusi. Disusul oleh kelompok Sentabi yang beranggotakan 3 orang membawakan karya berjudul 17.00-05.00 Tuwuh.

Gambaran teknis yang mereka pakai dalam kegiatan ini adalah sebagai berikut:

Salin dan klik tautan berikut untuk melihat gambar 1:  https://archive.org/details/picture-1-artikel-andri

Jika kita cermati, ada fitur yang khas, yaitu panoramix. Panoramix ini bisa menghantarkan data bunyi ke dalam beberapa power amp dan subwoofer yang tersedia. Sebelum menuju panoramix, seniman bunyi harus mendiferensiasi input mereka dulu, apakah DAW based ataukah analog based. Sistem ini menyediakan sampai 24 channel.

Untuk sistem penataan output speaker, kami menyusun 20 speaker ke dalam 3 jenis ruang:

Salin dan klik tautan berikut untuk melihat gambar 2: https://archive.org/details/picture-2-artikel-andri

Pertama, ruang di indoor yang terdapat di lantai bawah dom lingkaran. Pada ruang ini terdapat 8 speaker yang mengelilingi ruang berdinding kaca dan beralaskan semen dan batu. Ditata secara melingkar serta ditambah subwoofer. Pada ruang ini pendengar sangat bisa merasakan frekuensi rendah dan larinya suara dari bawah ke atas, berputar, dan memantul.  Serta bisa berinteraksi dengan seniman bunyi yang sedang meramu. Di sini pendengar bisa duduk maupun berdiri. 

Salin dan klik tautan berikut untuk melihat gambar 3: https://archive.org/details/picture-3-artikel-andri

Lalu kemudian di outdoor ruang atas. Untuk bisa mengaksesnya, pendengar bisa menaiki tangga yang terdapat di tengah-tengah stage bawah atau melewati luar ruangan. Di sini pendengar bisa menikmati lebih sound lokalisasi yang lebih terasa netral. Bunyi-bunyi yang dilempar ke atas dari ruang bawah sedikit demi sedikit menerobos lubang tangga. Namun pendengar lebih fokus ke laju larinya bunyi dari speaker ke speaker yang terasa hidup. Di sini pendengar jauh lebih santai menghayati sambil rebahan di bantal yang tersedia.

Salin dan klik tautan berikut untuk melihat gambar 4: https://archive.org/details/picture-4artikelandri 

Terakhir adalah formasi speaker pohon di sekitar Dom/Ruang Gendol. Penempatan ini juga sifatnya eksperimental, karena mencoba seberapa kompleks spektrum yang dipendarkan jika dari sisi atas terpasang speaker. Dalam praktiknya, speaker pohon ini sering mengundang rasa penasaran pendengar pasif yang memang tidak berencana untuk mendengarnya. Karena posisinya relatif bisa memancarkan suara untuk jarak yang sedikit jauh, maka penggunaan speaker pohon menambah kompleksitas formasi spasial.

Kesimpulan

October Meeting telah mempraktikkan seni bunyi spasial pada tatanan sistem proyeksi multikanal, realtime spatial, dan juga live spatial secara eksperimentatif dari 5 seniman bunyi. Adapun hasil-hasil yang di dapat dari percobaan tersebut adalah:

  1. Adanya persesuaian dan pengalaman baru antara pendengar dan penyaji musik, di mana mereka bisa menjelajah dua ruang yang tersedia di Tempuran Space yaitu ruang gendol/dom lantai bawah dan lantai atas. Ditambah dengan persesuaian pendengar pasif yang berada di luar dom, dipancing dengan speaker yang tertanam di pohon. Ini mungkin menjadi pembeda dengan pertunjukan dengar yang lainnya, dimana stage penyaji dan penonton saling berhadapan. Sedangkan pada eksperimen ini, ruang penyaji berekspansi menjadi ruang dengar seutuhnya.
  2. Adanya penyesuaian dari seniman bunyi dengan sistem yang jarang mereka temui sebelumnya, dimana mereka diharuskan memahami sisi panoramix yang menjadi kunci untuk mentransformasi input sampai ke output yang jumlahnya tidak seperti lazimnya frontal stage. Ini merupakan bertemunya skill intelektual, teknikal, dan kiprah pengembangan artistik dalam satu waktu.

Peluang

Performance Values:

  1. Open standart/kolaboratif/Integratif/memungkinkan untuk menampung banyak ekspresi artistik
  2. Antitesis kultur dengar, dari simple to complex
  3. Multi perspektif dalam menerima pesan yang terdelivery.
  4. Alternatif/modus operandi/delivery mechanism yang bisa ditawarkan
  5. Pengalaman baru/unik dalam ruang pertunjukan dengar
  6. Mengeksplorasi pendengaran, yaitu pasif to active listener
  7. Enty level to advanced listeners.
  8. Pengalaman fisik yang berbeda dari biasanya.

Technological Values:

  1. Sistem tata suara audio spatial
  2. Visual interface/object geometry
  3. Adaptif terhadap berbagai kondisi ruang
  4. Loudspeaker treatment/placement/instalasi
  5. Live mixing spatial/on site rendering
  6. Multilayer profesi audio (studio dan nonstudio)
  7. Multidimensional object based mixing
  8. Interface/controller

 

Penulis: Andri Widi Asmara

Narasumber: Gatot Danar Sulistiyanto

Tulisan ini bersumber dari data transkrip audio rekaman Artist Talk dan Diskusi  Praktik Artistik dalam Ekspansi Ruang Akustik – Visi dan Problematika yang berlangsung pada Senin 16 Oktober 2023 di Tempuran Space dengan pengembangan konteks dari penulis.

 

 

 

 

 

623 x dilihat

Prev Next

Login Member

forgot password?
Kabar Berita
PERJALANAN BUNYI YUDANE

4772 x dilihat

9 Tahun Art Music Today

5950 x dilihat