Literasi & Buku 14 Apr 2026

SEGERA TERBIT BUKU JEJAK GARAM DI KULIT GUNUNG KARYA EKO SUPRIYANTO

Segera Terbit Judul Buku Jejak Garam di Kulit Gunung – Ekodramaturgi Eko  PenulisEko SupriyantoEditorRenee Sari WulanISBNDalam prosesDetailUkuran buku 15 x 23 cm; Tebal: x + 240 hal  Sinopsis:  Saya menulis buku ini sebagai bentuk refleksi dan kesadaran: bahwa perjalanan artistik saya sejatinya adalah perjalanan tubuh yang terus belajar mendengarkan.Saya lahir di Astambul, Kalimantan Selatan, dan tumbuh besar di Karang Kidul, Magelang. Masa kecil saya diisi oleh suara gamelan, latihan silat, dan tarian jatilan yang mengisi halaman kampung. Dari sana tubuh saya mulai mengenal tanah; bukan hanya sebagai pijakan, tetapi sebagai ruang spiritual tempat gerak dan kehidupan bertemu. Saat saya kuliah di STSI Surakarta, dunia tari membuka diri dengan cara baru. Saya belajar bahwa tradisi bukan sesuatu yang beku, melainkan sumber energi yang selalu bisa dibaca ulang. Pertemuan dengan para guru seperti Sardono W. Kusumo, S. Pamardi, Djarot B.Darsono dan Suprapto Suryodarmo meneguhkan keyakinan saya bahwa tubuh adalah teks hidup yang terhubung dengan alam. Dari mereka, saya mengenal kata kunci penting: ekologi.Buku ini saya tulis bukan untuk menjelaskan karya, melainkan untuk memahami proses: bagaimana penciptaan dapat menjadi bentuk perawatan. Di suatu titik perjalanan, tumbuh  kepercayaan baru pada saya bahwa koreografi bermakna membangun hubungan antara tubuh dan ruang, antara manusia dan alam. Proses penciptaan bagi saya adalah proses perawatan sosial dan ekologis: to choreograph relationships.Pendekatan ekodramaturgi yang saya kembangkan bukan semata teks dan teori panggung, tetapi praktik hidup yang menuntut keberadaan tubuh secara utuh.Ia menempatkan pengetahuan lokal, pengalaman komunitas, dan kesadaran ekologis sebagai sumber utama penciptaan seni. Dari riset dan pertemuan ini lahirlah gagasan tentang care-based choreography, ecological rehearsal, dan storytelling care, yang kemudian saya ajarkan kepada mahasiswa di ISI Surakarta terutama di Program Studi saya Prodi Koreografi Inkuiri. Pendekatan ini tentang investigasi, bukan hanya sebagai teknik penciptaan, tetapi sebagai etika memahami pengetahuan hidup. Buku ini ditulis dalam gaya autoetnografi praktik - sebuah bentuk penulisan yang menempatkan pengalaman personal sebagai sumber pengetahuan akademis. Dengan cara itu, tubuh tak lagi sebatas objek analisis, ia meluas sebagai subjek epistemologis yang dapat berbicara, merasakan, dan mengingat. Semoga buku ini dapat menjadi rujukan bagi mahasiswa, peneliti, dan pembaca umum yang ingin memahami seni pertunjukan menggunakan cara pandang proses dan ekologi. Saya pun berharap buku ini menjadi ruang perenungan bagi siapa saja yang percaya bahwa tari adalah cara untuk hidup selaras dengan bumi.“Buku ini bukan catatan karya, tetapi catatan tubuh - tubuh yang terus belajar mendengar bumi, laut, dan napas kehidupan di antara keduanya.” Pemesanan bisa dilakukan dengan menghubungi:WhatsApp: 0895341875712Instagram: @amtpublisher_Marketplace: Tokopedia/Penerbit AMT 

Artikel Terbaru

Literasi & Buku

KUMPULAN ESAI INDONESIAN COMPOSERS COLLECTIVE

 Judul Buku                : Kumpulan Esai Indonesian Composers CollectivePenulis                        : Arham Aryadi, Aldy Maulana, dkk.Editor                         : Erie SetiawanISBN                           : 978-634-96820-0-8Detail                          : Ukuran buku 15 x 23 cm; Tebal: vii + 174 hal  Sinopsis: Buku ini adalah kumpulan esai beberapa komponis Indonesia yang tergabung di dalam Indonesian Composers Collective (ICC). ICC bersifat terbuka untuk komponis dari beragam latar belakang dan minat musik. ICC ingin menjadi wadah untuk karya, pemikiran, dan informasi berkaitan dengan komposisi untuk komponis dan penikmat musik di seluruh Indonesia. Untuk saat ini rekaman kegiatan-kegiatan ICC tersedia di laman Youtube Indonesian Composers Collective. Kumpulan esai ini adalah bagian dari tanggung jawab sosial ICC untuk menginformasikan pengetahuan seputar komposisi musik mutakhir.Buku ini terdiri dari delapan esai. Esai-esai ini mengetengahkan topik yang cukup bervariasi, antara lain pengetahuan seputar metodologi, uraian analisis karya, hingga fenomena model-model bentuk musik kontemporer terkini.Pemesanan bisa dilakukan dengan menghubungi:WhatsApp: 0895341875712Instagram: @amtpublisher_Marketplace: Tokopedia/Penerbit AMT  

13 Views 14 Apr 2026
Literasi & Buku

BUKU VIRALITAS DAN LEGASI GONG KEBYAR

 Judul Buku          : Viralitas dan Legasi Gong KebyarPenulis                 : Nyoman Sukerna, JamalEditor                   : Wahyu Widyasih, S.Sos., M.Si.ISBN                     : 978-623-89796-9-1Detail                   : Ukuran buku 15 x 23 cm; Tebal: xvi + 172 hal Sinopsis:  Gong Kebyar adalah entitas yang unik dalam sejarah seni Nusantara. Ia lahir di tengah kawah pergolakan sosial Bali Utara pada awal abad ke-20, tepat ketika kekuasaan feodal istana (puri) runtuh akibat kolonialisme dan beralih ke tangan masyarakat desa (banjar) yang egaliter. Dalam waktu singkat, gaya musik yang agresif, meledak-ledak (byar), dan penuh kejutan ini berhasil menggeser dominasi gamelan-gamelan tua yang telah mapan berabad-abad lamanya. Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar: Mengapa Gong Kebyar bisa begitu cepat diterima? Siapa agen yang menyebarkannya? Dan psikologi sosial apa yang bersembunyi di balik dentuman kerasnya?Untuk menjawab pertanyaan tersebut, buku ini mengambil pendekatan pisau analisis dari ilmu sosial modern, yakni teori difusi inovasi dari Everett M. Rogers, teori epidemi sosial (the tipping point) dari Malcolm Gladwell, psikologi viralitas (contagious) dari Jonah Berger, serta kerangka cincin legasi (legacy rings) dari Dawson & Jöns untuk menjelaskan fenomena budaya Gong Kebyar. Melalui lensa multidisiplin ini, Gong Kebyar tidak hanya dilihat sebagai susunan nada, tetapi sebagai produk inovasi yang memiliki keunggulan relatif, disebarkan oleh para agen karismatik, dan diterima oleh masyarakat karena memiliki kemanfaatan sosial (social currency). Pemesanan bisa dilakukan dengan menghubungi:WhatsApp: 0895341875712Instagram: @amtpublisher_Marketplace: Tokopedia/Penerbit AMT 

10 Views 14 Apr 2026
Literasi & Buku

BUKU PAKELIRAN SANDOSA

Sinopsis:    Pengkajian secara komprehensif tentang Pakeliran Sandosa belum pernah dilakukan oleh pihak lain, padahal bentuk pertunjukan wayang ini sangat signifikan untuk disosialisasikan kepada masyarakat Indonesia dan dunia, baik sebagai bahan kajian maupun perbendaharaan pertunjukan wayang. Umumnya, Pakeliran Sandosa baru ditulis dalam bentuk artikel pendek maupun makalah yang mengulas segi pertunjukan maupun selayang pandang tentang Pakeliran Sandosa. Proses pengamatan dan penelitian Pakeliran Sandosa ini telah penulis lakukan semenjak mahasiswa, bahkan beberapa kali penulis ikut terlibat dalam proses produksi lakon pakeliran ini.             Isi dari buku ini mencakup sejarah pakeliran Sandosa, unsur-unsur estetika pekaliran Sandosa, proses penyusunan dan tinjauan naskah, proses penafsiran naskah dalam pertunjukan, proses latihan dan pementasan, pembaruan pakeliran Sandosa, kasus pembaruan lakon Dewa Ruci, dan bentuk serta arah pembaruan pakeliran Sandosa.      Buku ini tersusun atas bantuan dari berbagai pihak, terutama rekan-rekan dosen Jurusan Pedalangan ISI Surakarta yang banyak memberikan kontribusi tentang informasi Pakeliran Sandosa kepada penulis. Mereka ini adalah orang-orang yang berkompeten terhadap penyusunan Pakeliran Sandosa sehingga benar-benar mengetahui seluk beluk pakeliran ini.   Pemesanan bisa dilakukan dengan menghubungi: WhatsApp: 0895341875712 Instagram: @amtpublisher_ Marketplace: Tokopedia/Penerbit AMT    

9 Views 14 Apr 2026
Literasi & Buku

SEGERA TERBIT BUKU METODE SOFRAN SISTEM PEMBELAJARAN BIOLA

  Segera Terbit   Judul Buku                : Metode Sofran Sistem Pembelajaran Biola Penulis                        : Sopian Loren Sinaga, M.Sn. Editor                         : Erie Setiawan ISBN                           : Dalam proses Detail                          : Ukuran buku 21 x 29,7 cm; Tebal: v + 71 hal     Sinopsis:    Buku Metode Sofran Sistem Pembelajaran Biola ini adalah buku mendasar yang disusun secara tersruktur, teratur dan terukur, sehingga akan memudahkan siapapun untuk mempelajari biola secara menyenangkan, tapi tetap sistematik. Buku panduan ini dirancang dalam tahap-tahap pertemuan, dari pertemuan 1 hingga 20, dilengkapi dengan notasi dan instruksi. Tahapan dimulai dari pengenalan fisik instrumen biola, senar dan nada-nada, hingga memainkan lagu-lagu sederhana. Diharapkan buku ini dapat bermanfaat bagi pemula, dan dapat digunakan di sekolah atau kursus biola.   Pemesanan bisa dilakukan dengan menghubungi: WhatsApp: 0895341875712 Instagram: @amtpublisher_ Marketplace: Tokopedia/Penerbit AMT  

177 Views 19 Jan 2026
Literasi & Buku

SEGERA TERBIT BUKU ARSITEKTUR TEORI SENI PETA JALAN FILOSOFIS DARI MIMESIS HINGGA METAVERSE

  Segera Terbit   Judul Buku                : Arsitektur Teori Seni Peta Jalan Filosofis dari Mimesis hingga Metaverse Penulis                        : Bambang Sunarto Editor                         : Erie Setiawan ISBN                           : Dalam proses Detail                          : Ukuran buku 15 x 23 cm; Tebal: vii + 193 hal     Sinopsis:    Motivasi terbesar di balik penulisan ini adalah keprihatinan mendalam mengenai kelangkaan buku filsafat dan teori seni yang komprehensif dalam bahasa Indonesia. Selama bertahun-tahun, mahasiswa dan penggiat budaya di Indonesia menghadapi kendala akses terhadap pemikiran filosofis global karena literatur kunci sering kali berbahasa asing atau terjemahannya terfragmentasi. Akibatnya, banyak mahasiswa kesulitan menempatkan karya mereka dalam peta diskursus global. Ketiadaan jembatan literatur ini kerap memutus hubungan antara kekayaan praktik di studio, sanggar, dan ruang-ruang kreatif penciptaan seni dengan ketajaman analisis di ruang seminar. Tujuan utama buku ini adalah menghadirkan kerangka berpikir yang sistematis dan kritis bagi siapa saja yang ingin memahami seni sebagai fenomena budaya yang sarat makna. Buku ini berfungsi sebagai “peta jalan” yang membentangkan rute intelektual dari pemikiran klasik hingga futuristik, menyajikan gagasan para filsuf besar dalam bahasa yang lebih mudah dicerna.   Pemesanan bisa dilakukan dengan menghubungi: WhatsApp: 0895341875712 Instagram: @amtpublisher_ Marketplace: Tokopedia/Penerbit AMT

143 Views 19 Jan 2026
Event & Festival

SAAT "LUKISAN BERBUNYI": EKSPLORASI GRAPHIC SCORE DALAM PAMERAN YANAL DESMOND

  Oleh: Betrand Angelius Zai Bayangkan kita berada di sebuah galeri seni dan berdiri di depan sebuah karya lukisan. Bukannya kita hanya melihat sebuah lukisan yang utuh, tetapi di samping karya lukisan tersebut ada sebuah lembaran kertas yang penuh dengan coretan dan simbol-simbol aneh. Pada 19 April 2025 di Galeri Kiniko Art Yogyakarta, seniman Rupa Yanal Desmond Zendrato menyelenggarakan pameran tunggal yang berjudul "TITIK TUBUH", berkolaborasi dengan VorMarka Ensemble yang mereka singkat sebagai MondMarka (Desmond VorMarka). Pameran ini berlangsung dari 19 April hingga 11 Mei 2025. VorMarka Ensemble adalah sekelompok musisi eksperimental Yogyakarta yang beranggotakan empat personil yaitu Rangga Purnama Aji, Dhewantara Manurung, Welderahmat, dan Betrand Angelius Zai. Dipimpin oleh Rangga Purnama Aji seorang komposer musik yang juga terlibat dalam proses pembuatan karya musik di projek kolaborasi MondMarka. Tidak seperti pameran karya lukis seperti biasa nya, di pameran tersebut mencuri perhatian orang yang ada disana, karena di samping beberapa lukisan dipajang selembar kertas yang berisi seperti coretan dan simbol-simbol aneh yang di sebut Graphics Score (notasi grafik). Apa itu Graphic Score? Rangga Purnama Aji menjelaskan bahwa dalam musik kontemporer dan avant-garde ada istilah namanya Graphic Score atau Notasi Grafis dimana ada keterlibatan grafik digunakan sebagai aspek terpenting dalam instruksi permainan musik. Lebih tepatnya Graphic Score adalah notasi musik yang menggunakan simbol-simbol dan elemen visual di luar notasi musik barat tradisional atau not balok, notasi ini terkenal pada tahun 1950-an. Biasanya musik yang dihasilkan sangat aneh ketika didengar, maka dari itu musik dari Graphics Score sangat cocok untuk lukisan Yanal Desmond yang surealis dan gelap. Dari beberapa karya yang dipamerkan ada lima karya lukisan yang direspon dan dijadikan sebuah karya musik. Di sesi bincang-bincang seni yang diadakan di hari terakhir pameran Rangga menjelaskan proses pembuatan karya musiknya. Ia mengatakan upaya interpretasi itu tidak hanya sekadar melihat lukisan lalu menerka-nerka musiknya seperti apa, melainkan harus memperhatikan setiap unsur-unsur yang ada di lukisan nya seperti garis, karakteristik, tekstur, wujud dan bentuk-bentuk yang ada, jadi konsekuensi musik itu muncul berakar pada lukisan itu sendiri. Ini adalah suatu terobosan baru di bidang seni terkhusus musik yang mana Graphics Score mengajak kita untuk menikmati musik melalui bahasa visual. Musik bukan lagi tentang "memainkan apa yang tertulis," tetapi tentang menginterpretasikan apa yang dilihat. Semua jenis seni sangatlah berhubungan, dari karya lukisan bisa menciptakan karya musik baru. Di balik itu kita juga bisa menikmati karya seni dengan jangkauan yang lebih luas jika dikolaborasikan.  

266 Views 28 Nov 2025
Literasi & Buku

SEGERA TERBIT BUKU GHIYAR Harmoni dan Resiliensi Seniman Pinggiran Catatan Etnografi Musik Tradisi Timur Jawa

SEGERA TERBIT Judul Buku:  GHIYAR Harmoni dan Resiliensi Seniman Pinggiran Catatan Etnografi Musik Tradisi Timur Jawa   Penulis: Panakajaya Hidayatullah   Penerbit: Lembaga Pusat Informasi Musik Art Music Today ISBN: Dalam proses Harga: Rp. 129.000,-  Ukuran buku 15 x 23 cm; Tebal 200 hal   Sinopsis:  Perjalanan penelitian etnografi ini dimulai dengan rasa ingin tahu. Bagaimana mungkin tradisi musik yang begitu kaya, yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama ratusan tahun, bisa bertahan dalam kondisi yang serba menekan? Apa yang membuat sebuah budaya memilih untuk menyesuaikan diri alih-alih menghilang? Dan, apa yang sebenarnya mereka pertahankan? Pertanyaan-pertanyaan itu membawa saya ke tiga daerah di Jawa Timur: Bondowoso, Probolinggo, dan Madura (Sumenep-Pamekasan). Di sinilah saya menemukan cerita-cerita yang tidak hanya membuka mata, namun juga hati dan empati. Catatan etnografi ini adalah bagian dari penelitian doktoral saya di Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Universitas Gadjah Mada yang saya kerjakan dari tahun 2021-2024. Namun, di luar itu, perjalanan ini juga adalah perjalanan personal saya, sebuah upaya untuk memahami hubungan antara seni, masyarakat, dan keyakinan. Fokus penelitian saya adalah fenomena adaptasi musik, di mana gamelan logam yang dulu menjadi inti dari sebuah tradisi, kemudian berubah menjadi “gamelan” berbahan membran. Dua ansambel membran yang menjadi pusat perhatian saya adalah: Kemplang di Bondowoso dan Terbhâng Ghendhing di Probolinggo. Ansambel membran ini tidak lahir dari kemudahan, tetapi dari keterpaksaan. Di masa lalu, otoritas agama melarang masyarakat memainkan gamelan logam, memaksa tradisi itu hampir lenyap, tetapi di tengah larangan itu, muncul solusi dari kiyai-kiyai kampung yang kreatif. Lahirlah “gamelan” membran yang mampu memainkan gending, sehingga tradisi tetap hidup, meski dalam wujud yang berbeda. Menariknya, tradisi ini dipraktikkan oleh komunitas Madura migran. Meski mereka telah bermigrasi ke tanah Jawa selama beberapa generasi, budaya Madura tetap hidup dalam diri mereka, termasuk gending-gending gamelan Madura. Dalam penelitian etnografi ini, saya ingin memahami, mengapa tradisi ini terus mereka pertahankan? Apa yang membuat mereka bertahan, meskipun dunia seolah memaksa mereka untuk melupakan? Pemesanan bisa dilakukan dengan menghubungi: WhatsApp: 0895341875712 atau 085729809236 Instagram: @amtpublisher_ Marketplace: Tokopedia/Penerbit AMT  

410 Views 29 Sep 2025
Rilisan Musik

Alfian Emir Adytia Merilis “Decolmuseum” — Album Prog Rock Cello Tentang Bayang-Bayang Kolonialisme

  Den Haag, Belanda – Pada tanggal 20 Juni 2025, pemain cello dan vokalis lintas genre Alfian Emir Adytia meluncurkan “Decolmuseum” , sebuah album berkonsep cello prog-rock yang bertema sejarah kolonial, bayang-bayangnya dalam dunia hiper-kapitalistik saat ini, dan pencarian makna sebagai manusia. " Album ini lahir dari sebuah desakan batin dalam diriku. Ketika aku memasuki museum dan ruang-ruang yang masih menyimpan benda peninggalan leluhurku, hatiku terasa tercabik. Kisah di balik setiap benda itu belum diceritakan dan belum didengar. Aku berharap bisa membuat museum yang bisa menceritakan kisah mereka. Museum yang bukan hanya untuk dilihat. Museum yang bisa menggerakkan orang hingga meneteskan air mata maupun tertawa lewat kisah mereka. Aku percaya seni bahwa, terutama musik, adalah salah satu alat paling kuat untuk menggerakkan manusia secara fisik dan spiritual. Ia bisa mengubah ide, menggugah emosi, dan akhirnya." — Alfian Emir Aditia  Karya Mandiri Dengan Dukungan Kolektif Album ini menjadi spesial karena pendekatan independennya yang kuat dan dukungan kolektif dari komunitas. Setelah berbulan-bulan menciptakan, menulis, dan merekam demo album ini pada tahun 2023 dan 2024, Emir menggandeng produser musik asal Turki yang berbasis di Belanda, Kaan Yazici , dan mempercayainya untuk memimpin produksi sonik album ini sejak Juni 2024. Secara paralel, Emir menginisiasi kampanye crowdfunding yang didukung oleh 123 individu, memungkinkan dirinya membiayai produksi sonik dari album berisi 10 lagu ini. Pendekatan ini, meski penuh tantangan sebagai seniman independen, memberi Emir kebebasan berkreasi penuh dalam memproduksi dan menyajikan albumnya.  Dekolonisasi & Dekonstruksi Cello & Penulisan Lagu Album 10 lagu ini mengundang para penggemar musik rock dan metal ke dalam dimensi baru—dan sebaliknya, memperkenalkan para pendengar cello dan musik klasik pada daya tarik baru dalam musik cello. Setelah menyelesaikan studi magister di bidang cello klasik di The Royal Conservatoire of The Hague , Emir kembali ke “rumah musikal”-nya: rock, metal, dan musik tradisional Indonesia. Bersama produser musik Kaan Yazici , mereka bekerja sama menemukan keseimbangan yang pas antara sumber bunyi cello yang otentik dan distorsi yang menyerupai ampli gitar. Mereka menghabiskan banyak waktu menciptakan rantai efek yang menjadi formula khas sonik album ini. Dalam Decolmuseum , Emir merancang struktur lagu yang anti-mainstream—kebanyakan berstruktur linier, bentuk yang jarang digunakan dalam ranah musik non-klasik—menjadi jembatan antara musik klasik dan musik populer.  Menghapus Supremasi Budaya Lewat Musik Keroncong Elemen musik keroncong menjadi bagian integral dari album ini. Emir secara sadar menghadirkan pengalaman masa lalunya di dunia musik Indonesia tersebut dengan pesan yang tegas tentang dekolonisasi budaya sonik. Berabad-abad yang lalu, musik keroncong di Indonesia mengalami segregasi budaya—dianggap sebagai musik "kelas bawah" dibandingkan gamelan keraton atau musik klasik barat. Emir dengan cermat meramu album ini dengan elemen keroncong yang menyatu dengan struktur komposisi klasik, riff metal, dan vokal edgy —menciptakan identitas sonik yang unik.  Lebih Dari Sekadar Musik Selain dirilis secara digital di platform musik arus utama, Emir juga meluncurkan format fisik seperti vinyl edisi terbatas , kaset dengan bonus track , dan sebuah buku foto-esai . Buku ini menampilkan karya fotografi kolaboratif dari etnografer visual asal Italia, Andrea De Angelis , serta seri collage art dan esai Emir yang membahas kisah di balik setiap lagu dalam album ini. Rilisan dari tiap format fisik akan dirilis secara bertahap, dimulai dengan vinyl pada hari perilisan resmi, buku pada bulan Agustus, dan kaset menyusul di bulan Oktober.  Dengarkan / Bagikan / Ikuti  Spotify: https://open.spotify.com/album/13bmWzMvuYIqJPNKbZJH0I?si=-98qhHw-S26GqFrx2JREdw  Bandcamp: https://emircello.bandcamp.com/album/decolmuseum  Instagram: https://www.instagram.com/emir.cello/    Permintaan Media / Wawancara / Undangan Media Budaya Kontak: alfianadytia@gmail.com Situs web: https://emircello.com/   Kit Pers: https://drive.google.com/drive/folders/1AvwiF5WJNgx2xveTWNTrAMkc1MQGdk0-?usp=drive_link Lirik: https://drive.google.com/drive/folders/1FLQdm7elhN70Li2PUJBvNZInM0hqgz_F?usp=drive_link     Youtube Konser  

175 Views 27 Jun 2025
Event & Festival

Konser Musik Spasial Lokananta X Art Music Today

Lokananta X Art Music Today   KONSER MUSIK SPASIAL Echoes of The Displaced (Thelonious Hamel & Jenny Szabo) Wahyu Thoyyib Pambayun & Gamelan Kalatidha   Studio Lokananta Selasa, 24 Juni 2025     Agenda ini adalah kerja sama antara kolektif Art Music Today-Yogyakarta dan Lokananta sebagai kontribusi untuk memperkenalkan sajian konser musik dengan system tata suara spasial, khususnya kepada masyarakat Surakarta. Sistem tata suara spasial dapat menciptakan pengalaman mendengarkan tiga dimensi, menciptakan kesan realistis dan imersif—berbeda dengan system stereo yang hanya sebatas kiri-kanan. Layout speaker dalam system tata suara spasial ditata mengelilingi audiens dengan treatment spesifik berdasarkan ruang dan tipikal karya musik. Audiens dapat menikmati sajian secara mendalam, intim dan imersif. Pengalaman ini akan memberikan sensasi auditif yang berbeda dan baru. Agenda ini akan diawali dengan Artist Talk untuk berbagi konsep, informasi, dan pengalaman teknis kreatif seputar musik spasial dan karya -karya seniman. PROFIL PENAMPIL THELONIOUS HAMEL adalah seorang musisi multidisipliner, komponis, dan seniman pertunjukan asal Austria. Ia telah memiliki banyak pengalaman sebagai komponis musik film, penyelenggaraan festival, serta instalasi seni. Thelonious mengembangkan gaya organik yang mengalir antara elektro akustik, desain suara, permainan klarinet, dan pendekatan musikal eksperimental. Blog: https://thelonioushamel.de/ Instagram: @theloniousmusic Jenny Szabo adalah pemain teater dengan perjalanan artistik di IWANSON International School of Contemporary Dance di Munich, sembari menempuh studi di bidang manajemen media dan komunikasi. Pada tahun 2015, ia memperoleh beasiswa Fulbright yang membawanya ke Binghamton University di Amerika Serikat, memperdalam keterlibatannya dengan isu-isu politik dan sosial. Sekembalinya ke Eropa, ia bekerja sebagai manajer proyek dan penari, menjalani pelatihan akting, dan tampil dalam pementasan Desire Caught by the Tail karya Picasso di Swiss. Pada tahun 2019, ia meraih gelar MA dalam Teater Fisik di Accademia Teatro Dimitri sebagai penerima Beasiswa Keunggulan Pemerintah Swiss, dan pada tahun yang sama, ia menampilkan pertunjukan solonya yang berjudul PITCH! untuk pertama kalinya. Sejak pindah ke Salzburg pada tahun 2020, Jenny aktif mencipta dan tampil dalam berbagai proyek teater dan film, serta memulai debut pertunjukan solo di OFF Theater Salzburg. Ia juga ikut mengorganisasi FACTORY-FREE ART SPACE Festival yang digelar setiap tahun. Jenny telah mengikuti berbagai lokakarya lintas disiplin—mulai dari seni peran dan tari hingga clowning, topeng, teater objek, dan improvisasi—dan dikenal karena karyanya yang menggabungkan pertunjukan fisik dengan seni multimedia. Dalam karyanya, ia berupaya memecah pola konsumsi dan persepsi yang kaku dengan menyisipkan isu-isu sosial melalui pendekatan yang ringan, jenaka, dan puitis. Melalui seni, Jenny tidak hanya mendorong batas-batas konvensi, tetapi juga menginspirasi orang lain untuk mengeksplorasi kekayaan dan keragaman seni dalam segala bentuknya. Wahyu Thoyyib Pambayun adalah seorang komponis, pemusik gamelan, dan pengajar gamelan. Sebagai komponis, ia menyusun komposisi baru dengan dasar pengetahuan dan praktik gamelan tradisi yang kuat. Ia aktif melakukan riset mengenai perluasan bahasa musikal gamelan Jawa serta menggubah musik untuk beragam bentuk pertunjukan, seperti konser, tari, wayang, hingga film. Pada tahun 2016, Wahyu Thoyyib bersama Nanang Bayu Aji mendirikan Gamelan Kalatidha, sebuah kelompok gamelan yang beranggotakan pengrawit multi-instrumen  yang berfokus pada penciptaan dan penyajian komposisi baru. Instagram: @wahyuthoyyib Spotify: Wahyu Thoyyib Pambayun   PROGRAM Sesi 1 Artist Talk 15.30 – 17.00 WIB -- Break   Sesi 2 Concert 19.00 – 21.00 WIB   Acara tidak dipungut biaya/free     INFORMASI Erie (0895341875712)   Didukung oleh:  Rekambergerak, Seruni Audio, Lokonaudio. 

323 Views 22 Jun 2025

Pustaka Buku Terbaru

Kurasi literatur seni pilihan redaksi.

Lihat Semua

Judul asfadfa fasfs adfsas fafg asggdsg dsgsdgdsg dsg dsgsdgds dsgdsgsd

Sasfas asfasfasf

Rp 45.000

Dsdfsadfg sdg sgsdg sdg fdgd

AEG dsfgsdgfdgs

Rp 110.000

Mendengar di Bali: Sebuah Buku Harian Bunyi

Gardika Gigih

Rp 375.000

Ddsfgsd dgffdgsdg fdsgfsdgsfdgsfd gfsdgs ffdsgsfdgfd

Ddsfshgh dfgsdsdhdf sd shh

Rp 225.000

Ddsfg fghsfg sdtdsrdgdf dfgd sdffdfgs dfsgsd dd

FTrey sdf fgdhdfhg hdfhgfhfd

Rp 90.000

Galeri Visual

Dokumentasi momen dan karya visual terbaru.

Lihat Semua
Sasasef dsfdsafafssd faddsaf

18 Apr 2026

Sasasef dsfdsafafssd faddsaf

Ddgs fgdfgf fdgsgfsdgsh

18 Apr 2026

Ddgs fgdfgf fdgsgfsdgsh

Ddsgs fdgfdsgf dfggfsgf gfsdgfdg

18 Apr 2026

Ddsgs fdgfdsgf dfggfsgf gfsdgfdg

Dedgdfg sdg gsshsghgfh

18 Apr 2026

Dedgdfg sdg gsshsghgfh