Semua Artikel

Eksplorasi pemikiran, kritik, dan berita terbaru seputar dunia seni dan musik hari ini.

OCTOBER MEETING  KEMBALI DIGELAR DI 2019
31 Jul 2019 Redaksi 2.064 Views

OCTOBER MEETING KEMBALI DIGELAR DI 2019

    October Meeting adalah pertemuan musik tahunan yang diprakarsai oleh Trace 21 dan Art Music Today. Tahun ini October Meeting telah menginjak tahun keempat, akan diselenggarakan selama lima hari di Yogyakarta, 21-25 Oktober 2019 di Tembi Rumah Budaya. October Meeting kali ini mengusung tema “Turning Forward.” Tema tersebut dimaknai sebagai upaya merespon lalu-lintas sosio-kreatif dalam bidang musik yang tengah riuh belakangan ini. Ada kemajuan-kemajuan pesat yang terasa nyata, namun di sisi lain juga sedang terjadi multi-degradasi baik di aspek sosial (komunal), maupun kreatif. Di antara silang-sengkarut medan kreatifitas saat ini kami terus mencari berbagai celah untuk menemukan peluang-peluang interaktif yang lebih intim dalam komunitas sosial maupun kreatif. Kami percaya bahwa ruang dialog masih menjadi pilihan yang efektif untuk saling mempelajari tantangan yang dihadapi seluruh jaringan yang telah kami bentuk dan akan terus berkembang. Seperti biasa, kami juga mengundang Mitra Akademik dari perguruan tinggi musik di seluruh Indonesia guna melengkapi cakupan dialog dan memperkaya wahana riset yang lebih sistematik dan bermanfaat ke depan. Tahun 2019 ini kami juga akan meluncurkan portal “Spektrum” yang berisi informasi personal para komponis Indonesia lintas generasi. Portal ini akan dikelola secara kolektif oleh komponis di berbagai region sebagai upaya untuk menguatkan interaksi dan produktifitas kekaryaan maupun jaringan. October Meeting, yang sifatnya lebih sebagai ruang pertemuan ketimbang festival/pementasan, adalah sebuah kesempatan jangka panjang untuk saling berdialog secara terbuka, terutama dalam memahami cakupan nilai-nilai artistik-estetik dan berbagai gejala yang mengikutinya.   *Info lengkap program akan disusulkan kemudian.        

SENI TINGKILAN KUTAI DI TANGAN GENERASI MUDA
30 Aug 2024 Redaksi 1.481 Views

SENI TINGKILAN KUTAI DI TANGAN GENERASI MUDA

Pengantar:  Artikel ini adalah bagian dari notulensi (reportase jurnalistik) program Kemah Budaya Se-Kalimantan Timur yang telah diselenggarakan di Tenggarong, Kutai Kartanegara, 5-8 Agustus 2024 atas dukungan dari Dana Indonesia Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Program Dokumentasi Maestro).  Penulis: Ratu Arifanza .  Kesenian merupakan bagian penting bagi sejarah Indonesia. Sebuah potongan kejadian yang dituangkan dalam berbagai stigma leluhur kepada muda-mudinya. Tidak jarang waktu mengikis banyaknya makna tersirat dalam perjalanan. Penting bagi si muda belajar mengenal kebudayaan sebab jika bukan si muda, lantas siapa penerus budaya. Sama halnya dengan kekayaan budaya yang dimiliki Kota Raja, Tenggarong. Budayanya tidak sebatas Tari Jepen yang hingga saat ini populer di kalangan anak muda.  Melainkan adanya sebuah bagian penting dalam pertunjukan seni Tari Jepen yaitu iringannya yang khas dengan penggunaan musik tradisi tingkilan. Sayangnya, kini tingkilan justru redup termakan arus waktu dan perkembangkan teknologi. Penggunaan rekaman musik menggeser popularitas seni musik tingkilan itu sendiri. Meski meredup di kalangan awam, tingkilan tetap hidup di dalam hati pecintanya. Salah satu seniman yang masih terikat erat dengan petikan gambusnya, Juwita, merupakan sorotan bagi kalangan muda untuk menimbulkan cinta akan budaya. Di usianya yang tidak lagi muda, nyatanya tidak mengurangi keterampilan Juwita dalam memainkan alat musik Gambus. "Nenek itu (Juwita) main Gambus mahir sekali, seperti lekat dengan jarinya," ujar Natalia Sarah Tivana Turangan saat pertama kali menyaksikan maestro musik tingkilan itu. Pengalaman baru bagi kalangan muda untuk mempelajari sejarah, makna bahkan cara memainkan musik tingkilan saat mengikuti Kemah Budaya Bertemu, Berguru, Meramu selama kurang lebih 4 hari sejak Senin, 5 Agustus 2024 hingga Kamis, 8 Agustus 2024 di Ladaya Tenggarong. Mempertahankan seni tingkilan merupakan hal yang sangat diinginkan oleh Juwita. Harapannya besar kepada anak-anaknya untuk meneruskan seni tingkilan. Namun, Juwita sendiri mengatakan keturunannya tidak mahir memainkan Gambus dan hanya cenderung pada dunia tarik suara.  Meski besar berharap adanya darah keturunan untuk meneruskan budaya ini, Juwita tidak keberatan menerima kehadiran orang lain untuk ikut melestarikan tingkilan. Bahkan dirinya sangat terbuka dengan adanya kalangan muda yang memerhatikan caranya memetik Gambus, malam itu.   Art Music Today yang memberikan kesempatan kalangan muda bertemu dengan seniman tingkilan itu juga memberikan ruang ekspresi untuk menampilkan pertunjukan dengan adanya unsur tingkilan. Menariknya, 12 kalangan muda yang terbagi menjadi 3 kelompok itu memiliki kreativitas yang luar biasa.  Kelompok pertama, dengan beranggotakan 3 orang perempuan dan 1 orang laki-laki cenderung menonjolkan adanya ikatan emosional di dalam karya yang dipertontonkannya. Pertunjukan seni tingkilan yang biasanya bersahutan pantun spontan dikreasikan dengan bersahut-sahutan ungkapan rasa emosional dari masing-masing anggota kelompok yang diberi nama "Cantik" ini. Sebagai kalangan Gen Z yang sering disibukkan dengan berbagai tanggung jawabnya memikul masa depan bagi dirinya, orang tuanya, bahkan bangsa yang besar ini sering kali tawa dan duka menyapa. Bagi mereka yang tidak pandai mengekspresikan diri, kelompok cantik memberikan alternatif menuangkan emosional sekaligus menghidupkan budaya yang telah ditelan kemajuan zaman. "Terinspirasi Film Inside Out, memiliki banyak emosi di dalamnya. Marah, sedih, apapunnya kegelisahan yang dirasakan," sebut Eka Aprilia. Penampilan kelompok cantik pada Kamis malam itu sungguh cantik. Tanpa menggunakan Gambus, justru menggunakan biola dan teknik looping yang menghidupkan musik berulang dengan sahut-sahutan rasa di dalamnya. Kelompok lainnya, Santri. Dengan dipenuhi pria di dalamnya, menampilkan gabungan alat musik Gambus, Gendang, Beduk dan vokal sebagai pembawa tarsul di dalamnya. Dengan mengusung tema "Ngonjon di Huma" ke empat pria ini berhasil menyalurkan hiburan menenangkan bagi siapapun yang hendak menenggelamkan diri menuju alam mimpi. "Terinspirasi dari gabungan ngonjon (menimang anak) dengan menghibur diri dari pekerjaan," kata Muhammad Ferdy Ramadhanur. Juwita sendiri sempat menyebutkan, tingkilan awalnya bermula dari kreativitas masyarakat usai melakukan penanaman padi. Setelah menanam, masyarakat biasa menghibur diri dengan menandungkan lagu-lagu abstrak yang tidak berpatok pada notasi pemusik pada umumnya.  Kelompok Santri mengangkat cerita rakyat yang dibawakan Juwita untuk menjadi inspirasi bersantai usai bekerja. Namun, adanya ngonjon dalam karya itu terinspirasi dari gambaran nenek yang menimang bayi dengan nyanyian ala tetua kala itu. Karya ini menjadi sebuah inspirasi untuk mengembangkan seni tingkilan dari dasar yaitu menimang bayi. Mengajarkan kesenian sejak dini pada sang buah hati meski hanya melalui pendengaran yang rancu. Kelompok terakhir, Jelmu. Namanya yang unik, diambil dari bahasa Kutai dengan makna penyebutan pohon menggeris, yaitu pohon tempat biasanya madu hutan bersarang. "Filosofi yang diambil dari nama pohon tersebut agar harapan dan keinginan yang akan dicapai setinggi pohon tersebut," papar Faisal Erlangga.   Penampilan Kelompok Jelmu menghadirkan tema kesedihan dan kehampaan. Dengan membawakan pantun dan lagu berjudul Pupus Harapan yang  berisi curahan hati dari seseorang. Dimana harapan cintanya sudah habis dengan berbagai penyesalannya. "Lagu ini kami terjemahkan ke dalam Puisi dan Tarian  Tujuannya agar penonton bisa menerjemahkan melalui berbagai visual, contohnya gerakan tarian, syair lagu, dan puisi. Sehingga pesan yang disampaikan jadi lebih jelas," jelas Delilah Swara Ababiel. Iringan dalam penampilan Kelompok Jelmu menggunakan 2 alat musik berupa Gambus Kutai dan Keyboard. Sebelum penutupan Kemah Budaya pada Kamis, 8 Agustus 2024, seluruh peserta berkesempatan duduk bersama dan berdiskusi.  Peserta kemah yang berlatar mahasiswa Etnomusikologi tentu tidak asing dengan adanya gambus dan pola pertunjukkan yang diperuntukkan tiba-tiba. Namun, bagi peserta yang datang dari jurusan lainnya seperti Ekonomi tentu ini menjadi sebuah pengalaman yang menantang. Kesempatan tampil di depan khalayak tidak hanya menegangkan, melainkan juga mengesankan. Pertemuan ini juga menjadi upaya mendorong cinta budaya bagi kalangan muda untuk terus melestarikan seni tingkilan  

Urgensi Seni Tradisi di Tengah Budaya Pop
30 Aug 2024 Redaksi 1.324 Views

Urgensi Seni Tradisi di Tengah Budaya Pop

Pengantar:  Artikel ini adalah bagian dari notulensi (reportase jurnalistik) program Kemah Budaya Se-Kalimantan Timur yang telah diselenggarakan di Tenggarong, Kutai Kartanegara, 5-8 Agustus 2024 atas dukungan dari Dana Indonesia Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Program Dokumentasi Maestro).  Penulis: Tanty Ayu Nandiya . Hari Pertama Para peserta yang berjumlah 12 orang hadir pada tanggal 5 Agustus 2024. Para peserta yang mengikuti kegiatan Kemah Budaya memiliki latar belakang pengalaman berkesenian, serta pengalaman bermain musik, dan menciptakan suatu karya yang berbeda-beda. Dihari pertama ini juga para peserta dikenalkan oleh mbok Juwita. Yang merupakan seorang wanita yang memainkan seni tingkilan tradisi secara turun temurun dari keluarga. Menariknya mbok Juwita memainkan tingkilan atas dasar suatu situasi yang mendorongnya untuk memainkan alat musik yang bernama gambus. Namun bukan dalam situasi paksaan. Sehingga bias dikatakan mbok Juwita memainkan tingkilan tradisi karena naluri dirinya. Dimalam hari pertama peserta disuguhkan dengan materi dan penampilan mbok Juwita pada kesempatan ini para peserta diberikan ruang untuk menikmati sembari menganalisa hal-hal yang menjadi keunikan, dan nilai suatu seni tradisi tingkilan. Dan mereka terbagi atas 3 kelompok.   Hari Kedua Dihari kedua ini peserta sudah mulai disuguhkan dengan tugas untuk mengeksplorasi imajinasi, ide-ide mereka. Peserta Bersama kelompok masing-masing diberi tanggung jawab untuk dapat menyatukan ide, gagasan, pengetahuan, serta kemampuan dalam berkesenian untuk bias menciptakan sebuah karya yang dapat dinikmati. Dengan waktu yang cukup singkat peserta harus bias membuat suatu karya namun dalam hal ini para peserta diberi arahan, masukan oleh para mentor. Dimomen ini sangat terlihat masing-masing peserta mengalami kendala, kesulitan dan kebingungan. Mereka tampak tidak percaya diri atas kemampuanya untuk mengeksplor ide-ide karya yang dimiliki. Sehingga hal-hal yang dilakukan peserta terkesan monoton, dan menjadi PR para mentor untuk bagaimana menyentuh para peserta agar percaya diri dengan kemampuanya. Hari Ketiga Masing-masing kelompok telah memiliki karya yang dihasilkan. Dan dengan ciri khasnya yang beragama. Ada yang mebuat karya musikalisasi, menggunakan alat musik biola, gambus, dan lainnya.dan dimalam ini masing-masing kelompok menampilkan karyanya didepan para penonton.   Kelompok Jelmu   Faisal selaku perwakilan kelompok Jelmu merupakan mahasiswa Universitas Mulawarman Samarinda, jurusan Etnomusikologi. Faisal mengatakan keertarikannya terhadap seni dikarenakan memilik latar belakang keluarga yang berkesenian, salah satunya yakni seni tingkilan. Keterlibatan Faisal pada kegiatan Kemah Budaya ini sendiri, diakuinya mendapat informasi dari sesama temanya yang turut juga menjadi peserta Kemah Budaya. “Kalo keluarga ada yang berlatar belakang seni, kalo tingkilan agak jauh kakek saya sekedar bisa memainkan gambus. Kalo bergelut seni itu dorongan dari diri saya sendiri.” Ungkap Faisal Selama empat hari berlangsunnya kegiatan kemah budaya, Faisal mengakui bahwa kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan bagi pelaku seni, terutama generasi-generasi muda. Sebab kegiatan yang penuh dengan teori dan dibarengi dengan praktek serta arahan mentor membuat dirinya yang semula cukup asing dengan bahasa-bahasa seni, serta hal-hal komponen yang membentuk suatu karya yang dapat dinikmati khalayak orang sangat penting. “Tentu mentor kita selama empat hari ini yaitu mas Gatot luar biasa saya pribadi banyak belajar ilmu baru yang tidak didapat di perkuliahan itu sangat berharga. Kalo proses meramu itu bener bener harus banyak penyesuaian terlebih temen-temen tidak terbiasa dengan seni dan tidak berlatar belakang seni. Dan ini sarana menyatukan seni dan latar belakang ide.” Tutur Faisal. Faisal juga mengaku dirinya mengenal Gambus  sejak ia masih  kecil, dan untuk bisa memainkan Gambus ia mulai bermain  dari SMA saat megikuti ekskul. Sehingga dirinya cukup merasakan tantangan kesulitan selam Kemah Budaya ini. “Sebetulnya untuk kesulitan banyak cuma yang paling terasa menyatukan kepala , pikiran agar kami bisa meracik . Bagaimana sebuah karya bisa mewakili semua keinginan tetapi melalui kegiatan ini. Banyak mulai dari istilah-istilah musik. Terus berkomunikasi baik dengan orang lain. Dan menyusun suatu pertunjukan. Disinilah  banyak hal komplek yang baru dipelajari dari kegiatan ini. Serta kesan yang paling diingat waktu  kami menyatukan musikalisasi puisi. Dikoreksi oleh mentor mulai dari transisi cara masuknya dan dapat feelnya dan teknik mainya itu ilmu ilmu baru.” Jelas Faisal Namun sebagai generasi muda pelaku seni,menyadari keberadaan seni tradisi tingkilan yang hamper pudar ditengah masyarakat mendorong pemuda ini untuk dapat terus mempertahankan keberadaan seni tradisi tingkilan . “Ya kedepannya pengen tingkilan terus lestari saat inikan ada dua, ada keroncong dan tradisi harapannya, kedepan musik tingkilan tradisi di rilis dibentuk digital sehingga khalayak banyak yang mau belajar bisa mendengarkan.” Harap Faisal   Kelompok Luper Muhammad Adi Afriansyah selaku perwakilan kelompok Luper, pemuda asal Loa Janan, kabupaten Kutai Kartanegara ini mengaku, dirinya bisa mengikuti kegiatan Kemah Budaya berkat informasi dari rekannya. Pemuda yang akrab disapa Cepot ini menyebutkan bahwa kehadiran mentor pada kegiatan Kemah Budaya Se-Kalimantan Timur ini merupakan sesuatu yang tidak terbayangkan olehnya. “Mentor ini orang orang hebat, dan sangat berkesan, dan apa yang mereka berikan belum pernah kita dapat. Bahkan Bahasa-bahasa musikal yang asing di dengar, komposisi musik dan lain lain. Bahkan cek sound dilakukan langsung oleh mentornya yang ngeditec. Sejauh saya main ke panggung panggung ini mentor yang totalitas.” Ungkap Cepot Menurut Cepot kehadiran mentor-mentor ini membentuk mentalitas pelaku seni, yang dimana pelaku seni untukmenciptakan suatu karya memerlukan suatu proses yang tidak cukup sederhana. Atau dikatakan sulit namun bukan berarti tidak dapat dilakukan. “Mereka lebih bangun mentalitas seni, dari kegiatan ini benar benar dikasih ruang. Lebih tepatnya cara berproses secara ideal. Namanya proses belaja pasti kesulitan proses itu ada, misalnya saat musikalisasi ada beberapa temen temen yang terlalu tinggi dan ada yang rendah jadi bentrok. Tapi dengan adanya mentor diarahkan gimana caranya ada solusi ketemu. Itu menarik sih.” Jelasnya Cepot juga mengatakan kelompoknya berhasil membuat suatu karya. Yang mana sebuah gagasan dapat dikolaborasikan dengan angkat tingkilan, Cepot berpegang teguh dengan pernyataan pak Saiful teman mbok Juwita. Bahwa  tingkilan hadir dan ada karena ada ungkapan perasaan karena merespon kejadian. Jadi konsepnya dari dirinya. Dan ini mengusung konsep masa lalu. “Kalo secara kebudayaanya berpantun ditambah musik jadi tingkilan. Jadi lebih ke bagaimana mengungkapkan seni secara bebas walaupun ga menggunakan gambus, tapi secara teknikal ada hal yang aku masukan dari unsur tingkilan. Kemudian saling berbalas pantun. Dan memperhatikan seni tradisi Tingkilan hampir pudar ini, pastinya keinginan melestarikan. Harapannya semoga saya dan temen-temen terus memiliki Inovasi. Dan itu pasti bakal ada, aku coba berkarya mengambil esensi tingkilan ini. Seperti yang kami tampilkan lebih esensi tingkilan dulu.” Ujar Cepot   Kelompok Santri Dwi Mustofa selaku perwakilan  kelompok Santri. Pemuda asal Samboja Kukar ini , mengikut kegiatan kemah budaya berdasarkan informasi dari media sosial yakni instagram. ‘’Saya sudah mengikut Ig Art Music Today , sebelumnya belum ada kepikiran ikut terus ada temen juga di acara ini, dan menurut saya menarik banyak hal didalamnya untuk diikut. Jadi saya ikut’’. Ungkap Dwi Dwi merasa meski peserta lain memiliki kemampuan di atasnya, namun tidak memutuskan semangatnya untuk menambah pengetahuan tentang kesenian tingkilan tradisi, sehingga dengan adanya kegiatan kemah budaya, dirinya beranggapan bahwa ni merupakan kesempatan emas yang tidak dating dua kali. “Walaupun dari temen yang lain diatas merek Tapi tidak mengurangi untuk mundur kegiatan ini. Basic saya memang kuliah di seni etnologi. Jadi ilmu yang saya dapat selama kegiatan ini, sama sekali  tidak didapatkan di kampus, tidak sedalam seperti kegiatan ini. Sebab itu mengikuti kegiatan ini sendiri bakal lebih banyak menambah ilmu.” Jelas Dwi Sebagai peserta dan pemud yang bergelut pada suatu kesenian. Dari kemah budaya ini. Hal yang mengesankan bagi Dwi sendiri yaitu  hal baru banyak ia temukan. Terlebih pada kegiatan ini menghadrkan mentor-mentor yang ia rasa memiliki kompetensi yang tidak perlu dipertanyakan lagi kualitasnya, sehingga dirinya berharap kegiatan semacam kemah budaya ini dapat digelar kembali. “Pengetahuan yang diberikan itu tidak kami dapat diperkulihan. Karena ini banyak hal teknis lapangan dari mentor. Dan mentor yang luar biasa ini, kita langsung dilibatkan secara dalam analisis seni pertunjukan kita tidak hanya bisa bermain musik tapi mempertanggungjawabkan karya. Konsep ini banyak metode teknis secara kesimpulan kita tidak hanya main saja tapi harus merasakan.” Tuturnya Selama kegiatan ini Dwi merasakan tantangan yang cukup membuat dirinya kebingungan. Namun meski situasi dirasakan penuh tekanan lantaran dipaksa untuk membuat suatu karya dengan mengkolaborasikan ide, kemampuan, tim kelompok yang memiliki kemampuan berbeda-beda, dengan kurun waktu yang singkat dan terbatas. Hingga akhirnya menciptakan suatu karya, ia Bersama timnya merasa bersyukur lantaran selama proses pembuatan karya kelompoknya ini, dibimbing oleh mentor-mentor yang dihadirkan pada kegiatan kemah budaya. “Presentase  kesulitan 50% kebingungan menyuruh kita untuk belajar lebih dalam , dan 50% kita memang harus belajar. Dan bahasa bahasa yang digunakan. Semenjak kegiatan ini ternyata banyak hal diperhatikan dalam kesenian untuk dikaji dipelajari. Dan ini tantangan terbaru. Saya pribadi tentu kegiatan ini salah satu kegiatan yang dikemas untuk mengarahkan kita bagaimana kita menjadi melahirkan suatu karya dan mempertahankan kesenian.” Ungkap Dwi “Moment yang berkesan saat kami menggarap sebuah karya, kita harus mengeksplor dan mempertanggungjawabkan agak sedikit rumit karena setiap orang punya perspektif. Dan tugas kita bagaimana penonton dapat menikmati. Tidak hanya sebuah karya.” Sambungnya Sebagai generasi muda yang bergelut dengan kesenian Dwi ingin . Seni Tradsi Tingkilan terus dilestarikan. Terlebih menurutnya Tingkilan untuk sekarang sudah mulai berjalan dan berkembang dan banyak anak muda mulai mengikuti tingkilan,bahkan  dikolaborasikan dengan musik apapun. “Tingkilan bisa mengikuti arus itu dan ini tanggung jawab saya dan teman-teman bagaimana kita bisa mengembangkan tingkilan. Dengan pakem tradisi tersebut.” Kata Dwi   Mentor Gatot Danar Sulistiyanto Kehadiran Gatot Danar pada kegiatan Kemah Budaya  sangat memberikan warna baru bagi para peserta yang merupakan putra-putri daerah Kalimantan Timur, khusunya kabupaten Kutai Kartanegara. Banyak hal terkait kesenian yang Gatot berikan kepada para peserta, bahkan para peserta pun merasa terdapat beberapa pengetahuan seni yang selama ini tidak didapatkan diperkuliahan dan dirasa asing. Sehingga pada kegiatan kemah budaya yang dimentori langsung oleh Gatot cukup memberikan pengetahuan dan wawasan serta pengalaman baru bagi para peserta. Gatot sendiri mengatakan tujuan dari kegiatan ini, yang terutama memberikan pemahaman kepada peserta terkait dengan kerangka belajar dalam menciptakan suatu karya. “Dari frame worknya  itukan kita bisa mendapatkan arahannya mau ke mana visi artisitiknya itu gimana, artistik ini mau didekati bagaimana, sampai ke performance jadi ada tiga tadi maka yang pertama adalah  frame work kenali persoalan nya dulu.” Kata Gatot “Kita juga liha terutama lihat mbok juw tamplatenya seni tradisi seperti itu , jadi peserta ini melihat otentik suatu seni. Terus yang kedua membuat framework, setelah itu artistik building, dan finalisasi dengan apa saja yang ditampilkan. Jadi penambahan dan pengurangan itu wajar. Jadi mereka tau konsep dan tau eksekusi terlebih dulu. Memang tidak biasa.’’ Jelasnya Pada pembuatan suatu karya, tentu dapat dikatakan seni pada prosesnya tidak sesederhana itu. Atas hal ini menurut Gatot pentingnya kedisiplinan setiap personal yang bergelut dalam suatu seni. “Disiplin itu meliputi segala macam, meliput menyiapkan diri, meluangkan waktu, berbagi fokus. Aku lihat peserta ini belum memiliki habit disiplin. Disiplin itu penting dan fokus. Dari kegiatan ini aku berharap mereka bisa mengembangkan dan bisa belajar lebih intens karena disiplin awal segala nya.” Harapnya “ Disamping itu kan mereka bergaul dengan tingkilan apapun bentuknya terlebih mereka generasi penerus , jadi mereka tidak hanya meneruskan dan mewarisi budaya saja tapi harus disiplin melestarikan budaya . Disesuaikan dengan disiplin yang sekarang karena mengingat sistem produksi nya sudah berubah, maka sistem perubahannya itu  yang harus di akomodir biar progresif, supaya kebudayaan progresif bisa diakses semua orang karena musik tidak boleh domestik  harus universal.” Sambungnya     Menurut Gatot juga Kaidah Bahasa bagi  pendengar akan terus mengalami perkembangan, dan pastinya suatu tradisi pun turut berkembang. Seperti gambus tingkilan proses kebudayaan yang  sama. “Tingkilan  adalah suatu fakta musik, fakta musik yang punya sekian banyak sejarah fenomena. Tingkilan itu sekala sejarh ga menguasai. Tapi fakta bunyi aku mempelajari sangat singkat. Tingkilan ini kan kaidah  vokal dan instrumental itu sebetulnya hari ini sangat mungkin di adopsi untuk performance, kita tidak memindahkan seni tradisi lama ke baru . Tapi menambahkan dengan misal kemarin Saiful bilang ini ungkapan emosi sesaat, saya piker dari pada anak muda saat sedih galau  mereka curhat disosmed mending buat pantun curhat. Dan kehadiran tingkilan secara tradisi itu benih, benih itu kan harus ditanam. Hingga bermanfaat.” Terang Gatot Sebagai mentor pada kegiatan kemah budaya, dirinya merasa setiap peserta telah belajar untuk disiplin. Sehingga menurutnya peserta mempelajari bagaimana menghadapi musik membuat musik dan berpikir bagaimana kontruksi musik. “ Mungkin selama ini dipikir musik hanya dipikir dimainkan saja. Inikan jadinya musik ke ranah ilmu sehingga ada dialektika, memahami Ini material, ternyata partikelnya banyak, dan terminologi kan spesifik dan banyak. Musik di dalam tanah ilmu itu mau tidak mau kita harus bekerja disisi ruang ruang bekerja itu.” Ujar Gatot Menurutnya juga setiap peserta punya karakter. Terlebih tugas mentor untuk  meyakinkan peserta. Dengan kata lain tradisi harus dibongkar maksudnya. Dimana tradisi sering  selalu dianggap barang mati. “Maka dalam terminologi  dibongkar itu dibuat masa kini Tampa harus dirusak dibuang. Gambus harus dipake, tapi pake pantun, ada ngutip pantun. Maksud  dibongkar contoh ditingkilan tradisional tidak ada dimasukn biola listrik. Sehingga ruang yang mereka senang itu pasti di pake. Semua aspek ada. Jadi tergantung seberapa dalam itu masuk ke tingkilan. Akumulasi banyak sebenarnya itu tugas peserta untuk mengenali.” Jelas Gatot Gatot berharapan peserta akan belajar, dan menumbuhkan rasa realistis kebudayaan masa lalu, masa kini, masa depan. Peserta  harus dapat meguasai 3 fase masa lalu sumber ilmu inspirasi, masa realitas saat ini, dan masa depan yang menjadi PR para peserta generasi muda.   PENUTUP Dari hasil observasi penulis selama kegiatan diselenggarakan, penulis beranggapan bahwa urgensi keberadaan seni tradisi tingkilan apabila tidak mendapatkan perhatian penuh dari stakeholder yang berkaitan. Tentunya akan mengalami kepunahan. Sebab menyadari perkembangan jaman yang kian modern sehingga diperlukannya suatu keseimbangan. Dan bagi generasi muda terkhusus pelaku seni menjadi suatu catatan penting untuk terus mengikuti perkembangan jaman, tanpa mengubah suatu seni tradisi. Sehingga seni tradisi terus berjalan pada tiga fase yakni masa lalu, masa kini, masa depan. Bahkan pentingnya keterlibatan pemerintah sangat diperlukan dalam melakukan pelestarian kesenian disetiap daerah. Sebab tidak dipungkiri saat ini banyaknya wadah yang bisa digunakan sebagai sarana untuk menampilkan suatu karya seni agar dapat dikenali masyarakat dan tetap terus lestari.  

Pendaftaran Partisipan Open Lab/Laboratorium Terbuka October Meeting 2019
30 Jul 2019 Redaksi 1.791 Views

Pendaftaran Partisipan Open Lab/Laboratorium Terbuka October Meeting 2019

Pendaftaran Partisipan Open Lab/Laboratorium Terbuka (Untuk Umum, Gratis)     . Komite Kurasi October Meeting - CMM akan memilih 10 (sepuluh) Partisipan untuk mengikuti lokakarya/workshop selama 5 (lima) hari; 21 s.d. 25 Oktober 2019, di Rumah Budaya Siliran, Yogyakarta. . Hasil lokakarya berupa sejumlah karya kolaborasi akan ditampilkan pada Open Lab Concert, 25 Oktober 2019, di Museum Tembi, Yogyakarta. . Transportasi dari kota asal ke Yogyakarta ditanggung sendiri oleh masing-masing Partisipan. . Akomodasi dan Konsumsi selama 5 (lima) hari akan ditanggung oleh Komite October Meeting - CMM. . Kirimkan data diri (CV), foto terbaru, 1 (satu) karya musik yg pernah dibuat, dan sinopsis karya ke: octobermeetingcmm@gmail.com (Subject: Open Lab) . Registrasi dibuka s.d. 20 September 2019 . Tunggu apa lagi, ayo segera daftar!

Bergabunglah Menjadi MITRA AKADEMIK di October Meeting 2019!
30 Jul 2019 Redaksi 1.778 Views

Bergabunglah Menjadi MITRA AKADEMIK di October Meeting 2019!

    Kepada Yth. Rekan-rekan Akademisi Musik. Dengan hormat, Sehubungan akan diselenggarakan kembali program tahunan Art Music Today-Trace 21 October Meeting: Contemporary Music and Musicians, yang pada tahun 2019 ini mengambil tema “TURNING FORWARD”, dan akan diselenggarakan pada: Hari/Tanggal: Senin - Kamis, 21 - 25 Oktober 2019 Tempat: Tembi Rumah Budaya Yogyakarta   Maka dengan rendah hati kami kembali memohon kesediaan Bapak/Ibu/Saudara-saudari untuk berkenan menjadi Mitra Akademik untuk seluruh rangkaian acara tersebut. Mitra akademik  boleh atas-nama perorangan, maupun perwakilan dari afiliasi/institusi pendidikan. Info selengkapnya mohon bisa diunduh di tautan berikut: bit.ly/mitraakademik   Info mengenai kegiatan-kegiatan October Meeting sebelumnya (2016-2018) bisa dilihat di:   YouTube: October Meeting Website: www.octobermeeting.org   Untuk pertanyaan silakan menghubungi narahubung: Erie Setiawan di nomor WA (0895341875712). Salam, dan terimakasih banyak. Kami tunggu kehadiran Anda.     Arviana Ingridha Direktur Tata Kelola OM-CMM 2019   . #OctoberMeeting #TurningForward #PertemuanOktober #Yogyakarta #Mitra #Akademik #MitraAkademik #Contemporary #Music #Musicians #AcademicPartners #Pertemuan #Oktober #AMT #Trace21 #OMCMM

Dewa Alit dan Semangat Baru Gong Kebyar
30 May 2018 Redaksi 5.810 Views

Dewa Alit dan Semangat Baru Gong Kebyar

      Oleh: I Putu Arya Deva Suryanegara Dewa Alit mementaskan karya-karya terkininya bertajuk “Kebyar Baru” di Bentara Budaya Bali (25/5). Pementasan ini berhasil mengembalikan semangat kebyar pada gamelan Gong Kebyar. Dinilai oleh Dewa Alit, Gamelan Gong Kebyar kini mulai kehilangan arah karena mulai masuk ke ranah musik populer. “Sungguh berbeda dengan awalnya yang revolusioner,” tegasnya.                Meninjau Fenomena Kebyar di Bali             Colin McPhee dalam bukunya Music in Bali A Study Form and Instrumental Organization in Balinese Orchestral Music mengatakan bahwa gamalan Gong Kebyar muncul pertama kali di Bali Utara sekitar tahun 1915, dan sejak itu gamelan tersebut mulai berkembang Bali. Faktor-faktor yang membentuk kesuburan Gong Kebyar menurut Pande Made Sukerta di antaranya adanya ruang kreativitas, fleksibel dalam penyajian maupun fungsinya, dan adanya tradisi mebarung di Bali Utara.             Mengacu pada tulisan I Nyoman Cahya, mebarung adalah warisan tradisi masyarakat Buleleng yang memiliki pengaruh pada kesenian atau khususnya gamelan Bali. Hal itu dilakukan dengan menampilkan dua grup gamelan pada satu acara, dan saling menampilkan keunggulan virtuositas, serta melahirkan karya-karya baru yang variatif. Seperti dua kelompok gamelan di Bali Utara yang terkenal, yakni Dangin Enjung, yang dimotori oleh I Gede Manik (alm) dari Desa Jagaraga, dan Dauh Enjung, yang dimotori oleh I Ketut Merdana (alm) dari Desa Kedis. Kedua kelompok tersebut saling berlomba dalam menciptakan karya baru.             Fenomena tersebut berdampak pada gamelan Gong Kebyar di Bali Selatan, yang salah satunya dimotori oleh I Wayan Beratha (alm); dikenal dengan kebyar gaya Bali Selatan. Selain itu, gaya Bali Utara dan Bali Selatan juga dipercaya mengalami interaksi musikal antara I Gede Manik dan I Wayan Beratha; yang juga disebut sebagai “jembatan emas”.             Mebarung terhenti sejak meletusnya peristiwa tragedi nasional dan perseteruan politik di Indonesia pada tanggal 30 September 1965, yang sekaligus sebagai puncak runtuhnya tradisi mebarung di Bali Utara. Setelah beberapa tahun semenjak orde baru, didirikan Listibiya untuk kembali menghidupkan tradisi mebarung pada gamelan Gong Kebyar, dan beberapa tahun kemudian tradisi mebarung dilanjutkan ke ajang Pesta Kesenian Bali (PKB).             Semenjak adanya PKB, mebarung gamelan Gong Kebyar mengalami perubahan, karena mulai adanya unsur kompetitif yang memilih salah satu kelompok sebagai juara. Maka yang sering menjadi pemenang (yakni  gaya Bali Selatan) akan menjadi acuan atau tolak ukur kesuksesan dalam penyajian atau komposisi. Hal itu menurut Cahya, membuat beberapa kelompok di Bali Utara mulai mengikuti gaya-gaya Bali Selatan. Hingga kini penciptaan karya baru sudah dibingkai dalam sebuah kriteria atau penggolongan bentuk, seperti tabuh kreasi yang sebagian besar strukturnya menggunakan Tri Angga (pengawit, pengawak atau gegenderan, dan pengecet), dan tabuh lelambatan; strukturnya sudah ditentukan dalam lelambatan pegongan, dan sebagainya. Maka komposisi dari karya-karya ciptaan baru dibatasi oleh kreteria tersebut, walaupun pada tahun 1995, Wayan Gede Yudane dengan berani membuat komposisi bertajuk “Lebur Seketi” yang inkonvensional dari aturan sebelumnya.             Selain pada ajang PKB, gamelan Gong Kebyar juga sering beralih fungsi untuk memainkan karya-karya gamelan lain. Menurut saya itu dilakukan karena banyaknya gamelan Gong Kebyar di Bali, dan tuntutan fungsional masyarakat untuk gamelan tesebut.             Menggaris-bawahi pendapat Dewa Alit mengenai komposisi dan spirit gamelan Gong Kebyar yang saat ini mulai mengerucut, bisa jadi disebabkan karena adanya beberapa bentuk atau aturan yang mengikat penciptaan karya musik baru. Berbeda halnya dengan lahirnya kebyar Bali Utara dan Bali Selatan yang merupakan semangat penciptaan tanpa batas dari masing-masing komposer.             Pernyataan yang mendukung, Michael Tenzer, dalam Gamelan Gong Kebyar The Art of Twentieth-Century Balinese Music mengatakan pengertian kebyar dalam gamelan ini cenderung mengarah pada komposisi musik baru (new) pada kebyar. Maka pendapat Dewa Alit menandakan bahwa ia sangat melek ilmu pengetahuan dan memiliki pemikiran luas. Itu  menyadarkan saya bagaimana sebenarnya esensi kebyar pada gamelan Gong Kebyar yang saat ini sudah tidak pada ranahnya. Seperti katanya, “yang baru itu adalah musiknya”. Namun demikian, catatan ini hanyalah sebagian kecil dari peristiwa penting dari fenomena umum kebyar yang ada di Bali, dan tidak dapat digeneralisasi. Komposisi Dewa Alit             Pada malam itu, Dewa Alit menampilkan lima karya baru ciptaannya, yakni Caru Wara (2005), Tanah Sedang Bicara (2014), Kedituan (2017), GeringSing (2005), dan Somewhere There (2017). Karya itu akan dipentaskan juga pada acara International Gamelan Festival yang diselenggarakan di Münchner Stadtmuseums, Munich, Jerman, bulan Juni mendatang.              Menurut pengamatan saya, karya Dewa Alit juga dirangsang oleh kebyar gaya Bali Utara dan Bali Selatan, dan itu menjadi satu di dalam dirinya untuk melahirkan kebyar baru. Itu dilihat dari karya-karya yang dipentaskan, di antaranya Caru Wara dan GeringSing; komposisi, ritme, tempo, dinamika, dan fungsi masing-masing instrumen sangat inkonvensional di telinga pendengar.              Pertama, Dewa Alit menampilkan karya Caru Wara; Caru berarti memperindah, mempercantik, atau harmoni, sedangkan Wara adalah waktu perputaran hari-hari berdasarkan kalender Bali. Pada karya ini Dewa Alit nampak ikut bermain instrumen Ugal yang berfungsi sebagai pemberi aba-aba musikal pada karya tersebut. Ia juga memasukkan instrumen Suling pada bagian tengah karya ini. Layaknya pada bagian yang sering disebut bapang pada tabuh kreasi pada umumnya. Namun ia sangat kreatif dan mengolahnya dengan ornamentasi yang variatif dan terkesan “aneh” bila didengar. Itulah salah satu alasan saya bahwa mungkin saja terdapat rangsangan dari kebyar sebelumnya.             Kedua, Ia menampilkan karya yang hanya menggunakan instrumen ber-pencon, yakni diberi tajuk Tanah Sedang Bicara. Karya itu didedikasikan untuk mengingatkan kita terhadap kepedulian akan pentingnya arti hidup, serta dalam hubungannya dengan alam dan kebudayaan yang adiluhung. Pada karya ini terdapat pelbagai jenis ritme dan dinamika yang dimainkan antara instrumen Riong dan Gong, serta menghasilkan interaksi antara kedua instrumen tersebut untuk saling bersahutan. Ketika semua instrumen dimainkan bersamaan, menghasilkan sebuah harmoni  unik dari timbre dan tangga nada yang digunakan.             Ketiga, menampilkan karya yang bertajuk Kedituan; artinya “di sana” atau menunjukan tempat yang tidak diketahui manusia, seperti surga untuk orang baik, dan neraka untuk orang jahat. Dua hal yang saling berlawanan, namun berada pada suatu tempat yang sama, adalah filosofi sekaligus konsep dasar atau landasan ide dalam penyusunan komposisi ini secara kontekstual. Komposisi ini mulanya dibuat untuk Gamelan Salukat yang memiliki sebelas nada, namun kini  diaransemen kembali ke gamelan kebyar lima nada. Menurut Dewa Alit, hal yang menarik dari aransemen tersebut adalah perhitungan harmoni dari sebelas nada ke lima nada yang dapat memunculkan harmoni baru dari sebelumnya. Jujur saja, bagi saya hasil aransemen ini tidak kalah menarik dari versi aslinya pada Gamelan Salukat, karena seolah-olah terdapat nada baru dari hasil harmoni tersebut. Ia sangat jago melakukannya.             Keempat, menampilkan karya tari yang berjudul GringSing, karya komposer Dewa Alit dan koreografer Ida Ayu Arya Satyani. Ide dasarnya palegongan, jauh sebelum berganti nama menjadi Legong Keraton. Ia membuat tariannya terlahir dari konsep musiknya, seperti pacedigdag, ngatih, individual, jalin-menjalin, harmonis, gegedig kendang (pukulan kendang; pada mulanya tari legong memang erat kaitannya dengan aksentuasi kendang).             Menurut saya, Dewa Alit membuat komposisi gaya palegongan, tapi tetap menggunakan pelbagai unsur pada kebyar atau Gong Kebyar. Seperti masih menggunakan Riong, Kempur, dan dapat dilihat permainan Gangsa pada beberapa bagian memainkan melodi pokok, serta instrumen Riong bermain norot; seperti layaknya karya tabuh Teruna Jaya, Kebyar Legong – gubahan dan ciptaan I Gede Manik. Selain itu terdapat juga aksen-aksen dinamis yang mencerminkan seperti ngebyar.             Dewa Alit menggunakan instrumen Riong karena tidak ingin menghilangkan satupun esensi penting pada gamelan Gong Kebyar. Melihat pendapat I Ketut Maria (alm) yang menyatakan, bahwa karya tarinya yang berjudul Tari Kebyar Terompong sebelumnya tidak menerima kalau tarinya diisi kata kebyar, karena dalam sajian gending kekebyaran tidak menggunakan instrumen Terompong. Dengan demikian, Dewa Alit telah memahami betul bagaimana unsur kekebyaran tersebut, walaupun pada karya ini ia justru menambahkan instrumen Gender Rambat, namun difungsikan sebagai pengganti dari instrumen melodi yakni Ugal. Itulah salah satu alasan pembaharuan dari karyanya, selain terletak pada komposisinya juga.             Kelima, Dewa Alit menampilkan karya berjudul Somewhere There, artinya “sesuatu di sana”. Spesifiknya, Ia membuat komposisi dengan menggabungkan gamelan Gong Kebyar dengan instrumen Carillon. Namun pada malam itu ia menggunakan piano sebagai penggantinya. Menurut Dewa Alit, ia ingin mendengar bagaimana gamelan digabungkan dengan Carillon, dan apapun yang terjadi nantinya itulah jawaban dari misteri pertemuan musik diantara kedua kebudayaan yang berbeda.             Carillon adalah alat musik yang terdiri dari kurang lebih 23 lonceng perunggu (tergantung besar dan kecilnya carillon), bernada kromatik, dan mampu membuat harmoni ketika dimainkan bersama. Lonceng biasanya diletakan di Menara, namun dimainkan dan berbentuk seperti clavier atau keyboard dengan beberapa tuas dan pedal kayu. Jadi musisi biasanya mengepalkan tangan untuk mengayunkan peniup yang beratnya ratusan pon (baca selengkapnya: https://www.britannica.com/art/carillon).             Pada komposisi itu, Dewa Alit berperan sebagai pengaba yang menghubungkan tempo antara gamelan dan piano. Menurut Putu Septa (musisi), dengan adanya pengaba akan dapat mempermudah menyamakan tempo dengan instrumen piano, namun kesulitannya yakni ketepatan dalam menghitung jatuhnya setiap pola dan tempo yang harus sama dengan pengaba (biasanya tempo dipegang oleh instrumen Kajar). Ia juga menambahkan, proses latihan komposisi ini menggunakan sistem sektoral per-instrumen; setelah semua materi sudah diberikan ke musisi, barulah latihan bersama untuk menunjukkan hubungan antar instrumen. Sebab masing-masing musisi mempunyai cara sendiri untuk mengingat. Itu dipermudah, karena semua komposisi sudah ditulis dengan notasi lengkap, dan mengacu pada ketepatan bermain.             Pengamatan saya dalam komposisi itu sebagaian besar memainkan time signature (meter) 5/4 atau 5 ketukan dalam satu birama, dan beberapa terdapat 3/4. Ritme yang menggunakan di antaranya polyrhythm, dan menyerupai teknik “Jathis”. Ritmenya terkadang kurang maupun lebih dari 5 ketukan per-birama, namun pada akhirnya ritme itu kembali ke ketukan pertama pada suatu bar. Salah satu contoh yang terdapat pada karya ini, kurang lebih sebagai berikut:               Pada pengolahan motif demi efektivitas struktur, Dewa Alit menggunakan dan mengolah satu ritme ataupun melodi yang dimainkan oleh gamelan  dan piano secara bergantian. Terdengar juga, ia lebih sering memadukan nada dang pada gamelan dengan frekuensi yang mirip pada piano. Ia membuat harmoni pada gamelan, sehingga perpaduan nada antar instrumen (gamelan dan piano/carillon) menjadi satu kesatuan, walaupun terdapat beberapa jarak frekuensi dari nada tersebut. Penutup             Secara keseluruhan menurut pengamatan saya, terdapat berbagai pengolahan bunyi pada gamelan, seperti glissando, dan harmoni. Selain itu ritme dan strukturnya indah untuk didengar maupun dibayangkan, karena perpindahan motif perbagian tidak terlalu cepat, serta mengolah kreatif satu macam melodi atau ritme sebagai pondasinya. Alhasil tidak membosankan bila didengar berulang kali.             Maka, Dewa Alit memberikan jalan atas apa yang ia pikirkan dan dibuat dalam karyanya. Bukan hanya untuk menambah karya ciptaannya saja, tapi juga dapat membangkitkan rasa ingin tahu pada sesuatu yang belum kita ketahui dari karyanya. Semangat kebyar telah memasuki era yang baru, juga semangat yang baru.  Cuplikan video:  https://www.facebook.com/dewa.alit.5/videos/1686498141441265/?t=0 Referensi Cahya, I Nyoman. 2013. Mabarung Seni Pertunjukan di Daerah Bali Utara. Surakarta: ISI Press   Surakarta. McPhee, Colin. 1966. Music in Bali A Study Form and Instrumental Organization in Balinese Orchestral Music. New Haven and London: Yale university Press. Sukerta, Pande Made. 2016. Gong Kebyar yang Tidak Ngebyar. Surakarta: ISI Press. Tenzer, Michael. 2000. Gamelan Gong Kebyar The Art of Twentieth-Century Balinese Music. Chicago: The University of Chicago Press. Sinopsis Karya Dewa Alit. Foto: Gus Santi Utama

SEGERA TERBIT BUKU GHIYAR Harmoni dan Resiliensi Seniman Pinggiran Catatan Etnografi Musik Tradisi Timur Jawa
29 Sep 2025 Redaksi 410 Views

SEGERA TERBIT BUKU GHIYAR Harmoni dan Resiliensi Seniman Pinggiran Catatan Etnografi Musik Tradisi Timur Jawa

SEGERA TERBIT Judul Buku:  GHIYAR Harmoni dan Resiliensi Seniman Pinggiran Catatan Etnografi Musik Tradisi Timur Jawa   Penulis: Panakajaya Hidayatullah   Penerbit: Lembaga Pusat Informasi Musik Art Music Today ISBN: Dalam proses Harga: Rp. 129.000,-  Ukuran buku 15 x 23 cm; Tebal 200 hal   Sinopsis:  Perjalanan penelitian etnografi ini dimulai dengan rasa ingin tahu. Bagaimana mungkin tradisi musik yang begitu kaya, yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama ratusan tahun, bisa bertahan dalam kondisi yang serba menekan? Apa yang membuat sebuah budaya memilih untuk menyesuaikan diri alih-alih menghilang? Dan, apa yang sebenarnya mereka pertahankan? Pertanyaan-pertanyaan itu membawa saya ke tiga daerah di Jawa Timur: Bondowoso, Probolinggo, dan Madura (Sumenep-Pamekasan). Di sinilah saya menemukan cerita-cerita yang tidak hanya membuka mata, namun juga hati dan empati. Catatan etnografi ini adalah bagian dari penelitian doktoral saya di Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Universitas Gadjah Mada yang saya kerjakan dari tahun 2021-2024. Namun, di luar itu, perjalanan ini juga adalah perjalanan personal saya, sebuah upaya untuk memahami hubungan antara seni, masyarakat, dan keyakinan. Fokus penelitian saya adalah fenomena adaptasi musik, di mana gamelan logam yang dulu menjadi inti dari sebuah tradisi, kemudian berubah menjadi “gamelan” berbahan membran. Dua ansambel membran yang menjadi pusat perhatian saya adalah: Kemplang di Bondowoso dan Terbhâng Ghendhing di Probolinggo. Ansambel membran ini tidak lahir dari kemudahan, tetapi dari keterpaksaan. Di masa lalu, otoritas agama melarang masyarakat memainkan gamelan logam, memaksa tradisi itu hampir lenyap, tetapi di tengah larangan itu, muncul solusi dari kiyai-kiyai kampung yang kreatif. Lahirlah “gamelan” membran yang mampu memainkan gending, sehingga tradisi tetap hidup, meski dalam wujud yang berbeda. Menariknya, tradisi ini dipraktikkan oleh komunitas Madura migran. Meski mereka telah bermigrasi ke tanah Jawa selama beberapa generasi, budaya Madura tetap hidup dalam diri mereka, termasuk gending-gending gamelan Madura. Dalam penelitian etnografi ini, saya ingin memahami, mengapa tradisi ini terus mereka pertahankan? Apa yang membuat mereka bertahan, meskipun dunia seolah memaksa mereka untuk melupakan? Pemesanan bisa dilakukan dengan menghubungi: WhatsApp: 0895341875712 atau 085729809236 Instagram: @amtpublisher_ Marketplace: Tokopedia/Penerbit AMT  

Merawat Komunitas Musik Melalui Portal Musik Online
29 Sep 2017 Redaksi 1.824 Views

Merawat Komunitas Musik Melalui Portal Musik Online

AMT didukung Kedai Kebun Forum baru saja menyelenggarakan acara "Introducing Gemusik" (28/9). Acara ini merupakan acara presentasi dan ngobrol santai bersama teman-teman gemusik.com, sebuah platform musik online yang mewadahi ekspresi dan ide-ide musisi Tanah Air. Sebagai platform musik online yang tergolong baru, GeMusik juga menawarkan strategi baru, yaitu merawat komunitas musik melalui sistem yang mereka bangun. "Kami memang berupaya membangun sistem dan pengetahuan terutama untuk keperluan pasca-produksi, merawat komunitasnya. Ini tidak mudah, dan seringkali problem para musisi adalah kesulitan untuk mempromosikan karya-karya mereka", ujar Amanda mewakili GeMusik. Melalui GeMusik, musisi diberi kesempatan menjual dan mempromosikan karya-karya mereka, difasilitasi blog, dan terus mengembangkan karir melalui informasi dan jaringan. Denny MR, wartawan senior Rolling Stone yang malam itu juga hadir turut menyampaikan pengalaman dan pemikirannya. Ia menggarisbawahi pentingnya komunitas sebagai sebuah sistem baru. "Ini berbeda dengan era-era sebelumnya, kekuatan komunitas musik inilah yang penting untuk saat ini. Media mendukung pada sisi akses informasi dan pengetahuannya," jelasnya. Hamzah selaku Direktur Operasional GeMusik juga menambahkan soal niat GeMusik sebagai partner bagi para musisi. "Kami tidak membangun hirarki di GeMusik, kami lebih berkomitmen dan memposisikan diri sebagai partner, sebab itu kami merasa perlu berinteraksi langsung dengan para musisi demi kemajuan bersama," ujarnya. Acara yang dihadiri oleh musisi, penggiat musik, produser, dan pelaku bisnis studio musik di area Yogyakarta ini terkesan intim dan sarat wawasan. Meski hujan deras mengguyur di luar area tak mengurangi minat peserta yang hadir. (amt/es)

Kunjungan Direktur CTM Festival Jerman ke Art Music Today
29 Sep 2017 Redaksi 1.602 Views

Kunjungan Direktur CTM Festival Jerman ke Art Music Today

Jan Rohlf, Direktur CTM Festival, Jerman, baru-baru ini (22/8) berkunjung ke Art Music Today atas rekomendasi WokTheRock dari Mes 56. CTM Festival adalah festival musik elektronik dan visual art yang telah berumur panjang. Mulai diselenggarakan sejak 1999, festival yang berbasis di Berlin ini menjadi sebuah festival garda depan yang menawarkan gagasan-gagasan kontemporer. Jan Rohlf banyak bercerita mengenai pengelolaan festival dan harapan yang mereka capai. Kami juga banyak membahas mengenai potensi kreatif di Indonesia khususnya, dan jaringan Asia Tenggara pada umumnya. Ditemani Rully Shabara, Gardika Gigih, dan beberapa kawan Jan Rohlf, obrolan siang itu berlangsung hangat dan sarat wawasan. AMT dan CTM Festival sepakat untuk membina komunikasi demi keperluan masa depan. (amt/es)

Pianis Angelica Liviana Segera Luncurkan Album Piano Pertamanya
29 Sep 2017 Redaksi 2.050 Views

Pianis Angelica Liviana Segera Luncurkan Album Piano Pertamanya

Pianis Angelica Liviana asal Jakarta akan meluncurkan album piano pertamanya bertajuk "Moods". Album ini telah direkam Juli lalu di Sekolah Musik Indonesia, Yogyakarta, dengan dukungan penuh dari Art Music Today dan Rekambergerak. Album ini berisi karya-karya musik dari para komponis muda Indonesia dalam berbagai format, baik solo dan musik kamar. Livi, panggilan akrab Angelica Liviana mengatakan, pembuatan album ini sudah dicita-citakannya sejak lama, tapi baru bisa terwujud saat ini. "Bersyukur akhirnya kesampaian juga," ujarnya lega. Album ini sudah dalam tahap proses mastering dan direncanakan akan diluncurkan pada pertengahan Oktober mendatang, juga di bawah label Art Music Today. Livi merupakan alumni Jurusan Musik Universitas Pelita Harapan, Jakarta yang sehari-hari mengajar piano dan aktif terlibat dengan berbagai proyek, salah-satunya sebagai pianis pengiring seni balet. Kita nantikan, ya! (amt/es)  

9 Tahun Art Music Today
29 Sep 2017 Redaksi 6.217 Views

9 Tahun Art Music Today

Pada Agustus tahun 2017 Art Music Today genap memasuki usia 9 tahun. Meski dalam segala pasang surut perjalanan, AMT tetap setia menjadi mitra bagi siapa saja yang ingin mengabdikan diri di dunia musik dan pengetahuan di sebaliknya, tidak terbatas pada genre atau wilayah tertentu. Kami percaya bahwa musik tidak hanya sekadar sebagai seni hiburan, melainkan sebagai proses produksi ilmu pengetahuan yang dibutuhkan oleh siapa saja. Sepanjang 9 tahun perjalanan ini AMT telah melakukan berbagai rintisan kerja-kerja kebudayaan musik melalui penerbitan buku, pendokumentasian pemikiran dan karya-karya musik, lecture concert, diskusi, program kursus spesifik, memberi konsultasi, dan membina jaringan seluas-luasnya demi masa depan sumber daya manusia itu sendiri. Kami merintis perjalanan ini secara mandiri dan tidak bergantung kepada sumber dana yang besar. Proses bertahan dan terus produktif bukan suatu hal yang niscaya, karena kami dikelilingi oleh orang-orang baik, meliputi dukungan para donatur, stakeholder, dan teman-teman yang dengan suka rela mendukung kerja-kerja yang kami lakukan. Sebab itu terlebih dahulu kami mengucapkan terimakasih kepada siapapun yang memperhatikan perjalanan kami, dari awal hingga kini. Art Music Today juga terus menyadari segala kekurangan yang ada, menerima segala masukan dan kritik yang datang dari siapapun. Tanpa perhatian berwujud kritik, mustahil kami bisa melanjutkan kerja-kerja kami. Sejak 2012, Art Music Today melebar menghasilkan dua sayap niaga, yaitu AMT Publisher dan Rekambergerak, adalah sebuah sistem untuk menjaga keberlangsungan Art Music Today sebagai organisasi nirlaba. AMT Publisher lebih sebagai aset pengetahuan melalui dokumentasi karya dan pemikiran yang diterbitkan. Sedangkan Rekambergerak adalah sebuah laboratorium riset audio yang bergerilya kemana saja untuk mendokumentasikan musik secara keliling dan berdiskusi. Rekambergerak juga telah berkembang dan memiliki aset berbagai perangkat rekam yang standar untuk berbagai keperluan perekaman musik.   Sebagai informasi, tahun ini AMT juga kembali menyelenggarakan program tahunan "October Meeting" untuk kali kedua. October Meeting adalah sebuah pertemuan musik yang secara spesifik mengetengahkan dinamika musik kontemporer Indonesia masa kini berupa pentas dan diskusi. Melalui program tersebut kami juga mengundang sedikitnya 20 perwakilan dari perguruan tinggi musik di seluruh Indonesia untuk menjadi "Mitra Akademik". Ke depan, kami ingin membentuk October Meeting Academy dan October Meeting Education and Audience Development. Diharapkan melalui upaya tersebut kami dapat saling mempelajari potensi kreatif masing-masing dan menjalin kerjasama lebih intensif demi mendukung penguatan di aspek keilmuan, kekaryaan, edukasi, dan pengembangan audiens musik kontemporer di wilayah masing-masing. Pada era teknologi informasi yang pesat dan mampu merubah cara hidup setiap orang ini, AMT justru tertantang untuk memanfaatkannya sebagai sebuah peluang, yaitu dengan terus membina komunitas musik di seluruh jaringan yang ada. Komunitas musik adalah salah satu kekuatan besar bagi dinamika kebudayaan saat ini. Maka dari itu kami terus berjejaring dengan siapa saja untuk melebarkan sayap dan saling berinteraksi demi kebutuhan bersama. Tahun ini juga untuk pertama kalinya AMT bergabung dengan Kampung Buku Jogja. Program pameran dan penjualan buku alternatif/indie yang diselenggarakan tahunan tersebut kami jadikan sebagai modal silaturahmi sekaligus observasi pasar untuk buku-buku musik yang kami terbitkan, yang rata-rata memiliki konten spesifik. Kami juga bekerjasama intensif, misalnya dengan Yayasan Kajian Musik Laras untuk meluaskan sudut pandang dalam memahami dinamika musik dan sosial. Selebihnya kami juga terus mencari cara agar interaksi yang terjadi dalam berbagai unsur ekosistem musikal dapat terbentuk lebih efektif; dan demi upaya itu, teknologi informasi sangatlah mendukung. Tidaklah banyak yang ingin kami sampaikan di angka "9" ini, kecuali rasa terimakasih yang besar kepada seluruh pihak yang terus mendukung kami. Mohon doa dan restunya selalu. Semoga kita berkembang bersama, menemukan manfaat yang baik bagi kehidupan, melalui musik dan pengetahuan di sebaliknya. Musik hanyalah media, yang abadi adalah pengetahuannya. Salam hangat, Erie Setiawan, Direktur.              

Art Music Today Kembali Menggelar October Meeting
29 Sep 2017 Redaksi 1.587 Views

Art Music Today Kembali Menggelar October Meeting

Tahun 2017 ini Art Music Today (AMT) kembali menggelar October Meeting, sebuah pertemuan musik tahunan yang secara spesifik dipersembahkan untuk musisi dan musik kontemporer. Agenda ini adalah kerjasama antara AMT - Yogyakarta dan Trace 21 - Belanda, didukung Tembi Rumah Budaya, Forum Musik Tembi, Rekambergerak, Yayasan Kajian Musik Laras, Rumah Budaya Siliran, dan Total Perkusi. Selain konser yang akan menampilkan karya-karya terkini para komponis, agenda ini juga merupakan agenda edukatif yang berisi ceramah, pemutaran karya, dan diskusi musik lintas topik demi menjangkau dimensi apresiasi audiens terhadap musik kontemporer, khususnya yang berkembang di Indonesia. Agenda yang akan dipusatkan penyelenggaraannya di Museum Tembi Rumah Budaya pada 5-6 Oktober mendatang ini bisa dihadiri oleh siapa saja, dan gratis. Tahun ini October Meeting secara resmi juga mengundang Mitra Akademik dari berbagai perguruan tinggi musik yang ada di Indonesia sebagai langkah awal untuk membentuk October Meeting Academy dan October Meeting Education and Audience Development.  Diharapkan sinergi tersebut dapat bermanfaat untuk saling mengenali potensi dan peluang kreatif masing-masing dan menjalin kerjasama lebih intensif demi mendukung penguatan di aspek keilmuan, kekaryaan, edukasi, dan pengembangan audiens musik kontemporer di Indonesia. "Singkatnya, ini sebuah ekosistem musik kontemporer yang harus mulai dibangun lebih sinergis. Pengembangan audiens menjadi bagian penting dari misi kita bersama, dan agenda ini tidak sekadar jangka pendek," ujar Erie Setiawan mewakili Art Music Today. "Kontra-Akustika" adalah tema besar untuk October Meeting 2017, yaitu sebuah rupaya untuk mempelajari gejala-gejala terkini di wilayah musik kontemporer, khususnya kecenderungan yang terjadi dalam proses penciptaan musik. "Musisi dan komponis Abad ke-21 saya kira penting untuk mempelajari dimensi kreatif individu mereka masing-masing. Sumber bunyi maupun cara-cara yang bisa dipakai untuk keperluan penciptaan musik sudah semakin luas, kita bisa pakai apa saja, baik sumber-sumber akustik maupun dari media elektronik dan digital. Tapi apakah kita menyadari sepenuhnya atas pilihan-pilihan itu? Kita akan menjadi pengguna saja atau bisa lebih dari itu? Kontra-Akustika adalah sebuah tantangan untuk telinga kita saat ini, demi mengurai makna dari perluasan-perluasan itu," kata Gatot Sulistiyanto selaku Direktur Artistik. Rilis acara lebih detail akan menyusul kemudian, namun bagi Anda yang membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai October Meeting 2017 bisa menghubungi Saudari Dida (081332843296).