Semua Artikel

Eksplorasi pemikiran, kritik, dan berita terbaru seputar dunia seni dan musik hari ini.

GEMA TABUHAN SOUND INSTALLATION AND SITE SPESIFIC PERFORMANCE
16 Dec 2024 Redaksi 879 Views

GEMA TABUHAN SOUND INSTALLATION AND SITE SPESIFIC PERFORMANCE

Gema Tabuhan Sound Installation & Site Specific Performace   Curator: Ignatia Nilu Music Director: Gatot Danar S  Composer: Elisabeth Schimana (AT)   Artis Collaborator:  Daniel Caesar Sandikala Ensamble Dion Nataraja (Vokal) Yusti Paradigma (Gender Barung) Roni Driyastoto (Rebab) Suseno Setyo (Gender Panerus)  Mustika Garis (Rebab) Muhammad Erdifadillah (Perkusi) Ali Azca (Elektronik)   Minggu, 08 Desember 2024  Goa Tabuhan Pacitan, Jawa Timur   didukung oleh: Kementrian Kebudayaan  Pemerintah Kabupaten Pacitan Art Music Today Rekambergerak SAAB! Production   #GoaTabuhanPacitan #gematabuhan  #festivalpacitanian #elektroakustik #soundinstallation #artmusictoday

Komponis Indonesia Memotret Lokalitas
15 Oct 2018 Redaksi 3.958 Views

Komponis Indonesia Memotret Lokalitas

Catatan Konser Seri Komponis Muda October Meeting 2018 Oleh: Septian Dwi Cahyo Corak lokalitas menjadi sangat dominan mewarnai dimensi kekaryaan musik masa kini. Konser ini menjadi “cermin,” sekaligus besutan serius untuk mempertahankan dan mengembangkan potensi kreatif yang beragam.   Tahun 2018 merupakan tahun ketiga dari penyelenggaraan agenda musik October Meeting yang digagas Art Music Today (Yogyakarta) dan Trace 21 (Belanda). October Meeting adalah sebuah ruang pertemuan musik yang menampilkan karya-karya musik masa kini dari komponis-komponis Indonesia maupun luar negeri. Telah selesai diselenggarakan dari tanggal 7 hingga 11 Oktober di Yogyakarta. Pada tahun ini October Meeting mengusung tema “Reconnect” yang mempunyai cita-cita untuk menghubungkan kembali komponis antar generasi, musisi, dan juga “stakeholder” yang berkecimpung di wilayah musik, khususnya musik kontemporer (baca: musik masa kini). Acara dilangsungkan di beberapa tempat, yaitu Tembi Rumah Budaya Yogyakarta, Pendhapa Art Space, Gayam 16, Kita Suka Kitchen, dan Rumah Budaya Siliran. Selain konser pada tiap malam, ada pula agenda lain berupa diskusi dengan beragam topik.   Beragam Program Tahun ini terasa lebih segar dari sebelumnya, karena terdapat beberapa seri yang didedikasikan untuk komponis muda dan musisi-musisi lintas genre. Beberapa sesi tersebut meliputi Opening Concert yang dibuka oleh Aggarayesta (Bandung) dan Dissonant (Yogyakarta), Portrait Concert yang menampilkan Royke B. Koapaha, komponis yang mempunyai peran penting dalam skena komposisi musik khususnya di Yogyakarta. Tiga sesi lainnya adalah Highlight Concert, Young Composer Series (seri komponis muda), dan Open Lab (Laboratorium Terbuka). Pada Seri Komponis Muda October Meeting mengundang 8 komponis dari berbagai kota seperti Bandung (Wendi Jiad Pernmana), Jakarta (Yohanes Kelvin), Yogyakarta (Aldy Maulana, Rangga PurnamaAji), Pontianak (Reza Zulianda dan Juan Arminandi), Papua (Septina Rosalina Layan), Padang Panjang (Hario Efenur). Karya-karya mereka oleh October Meeting Ensemble, sebuah ansambel yang tengah dirintis dan didedikasikan untuk merepresentasikan karya-karya musik masa kini.   Catatan Seri Komponis Muda Konser seri komponis muda October Meeting kali ini dibuka oleh karya Reza berjudul “Nun” dengan format Ansambel Campuran. Karya ini merupakan karya yang “agresif” serta fluktuatif jika kita melihat dan mendengar alur tensi yang ia buat. Di dalam karya ini Reza juga banyak mengekplorasi perluasan teknik instrumen untuk menunjang pembangunan tensi tersebut seperti penggunaan teknik barriolage di instrumen gesek yang dipadukan dengan open harmonic di 6 senar yang dimainkan dengan teknik rasguardo pada gitar dan kombinasi perkusi campuran yang disusun untuk mencapai puncak tensi tertentu untuk membawa ke alur-alur berikutnya. Alfred Schnittke menyebut tumbukan warna bunyi ini dengan istilah timbral dissonance dimana terdapat kombinasi dari timbre yang mempunyai relasi berjauhan yang menahan karakter individual mereka. Jika susunan “akor”/tekstur timbral dissonance hanya muncul secara singkat maka akan sulit sekali untuk mendapatkan kombinasi apa saja di dalamnya, kecuali kombinasi ini diperpanjang; dan dibeberapa bagian Reza memperpanjangnya di instrumen trumpet sebagai penanda menuju bagian berikutnya. Setelah karya dari Reza konser dilanjutkan dengan menampilkan karya Hario Efenur yang berjudul “Aku Delay Padamu”. Karya Hario Efenur, yang akrab dipanggil Uncu ini berjudul “Aku Delay Padamu”, yang dibuat untuk alat perkusi perunggu, vokal dan efek gitar. Ia berangkat dari fenomena “delay” yang secara harfiah mempunyai arti penundaan. Penundaan bagi banyak orang adalah suatu berita buruk, karena berdampak pada kerugian material dan hal penting lainnya. Terkait dengan “berita buruk” tersebut Hario mencoba mengekplorasi nyanyian/ritme dengan nuansa lokalitas Minangkabau yang menandakan kesedihan/kehilangan. Unsur itu dikombinasikan dengan penggunaan efek digital dan pemanfaatan feedback yang dihasilkan dari komunikasi dua ponsel yang ditampilkan dalam mode “loudspeaker” dan diposisikan saling berdekatan. Dalam karya ini pula Hario banyak mengkplorasi bunyi-bunyi yang saling “delay”. Selanjutnya dengan format yang hampir serupa datang dari Rangga Purnama Aji untuk Vokal dan Elektronik Langsung (live electronic). Karya ini diberi judul “Beda.” Pada karya ini Rangga menginterpretasi serta memanfaatkan teks dari puisi Sari Putri Diana yang berjudul “Beda” yang dibunyikan ulang melalui google translate dan direkam. Pada karya ini vokal manusia saling merespon kata-kata yang dibunyikan melalui komputer yang mana mengakibatkan “ketersesatan” pendengaran yang mengasyikan, dimana telinga kita seperti merasa dikelabuhi. Sulit membedakan yang mana sesungguhnya suara asli manusia dan yang mana bunyi sintesis vokal manusia yang hadir dari komputer. Pada repetoar keempat diisi oleh karya dari Juan Arminandi yang berjudul Totonk untuk trumpet rangkap tam-tam, dan kwartet gesek. Pada karya ini Juan terinspirasi dan ritual shaman dan musik yang disebut “Totonk” dari Dayak Kanayant. Seperti yang tertulis pada sub-judul karya ini “The Spirit of War,” karya ini begitu menggebu-gebu dengan ditandai tempo cepat dan berapi-api, serta dikombinasikan dengan hentakan-hentakan kaki yang menyerupai tarian perang dan momentum bunyi tam-tam yang dibunyikan oleh pemain trumpet yang semakin memberikan kesan berapi-api. Selain tempo yang cepat dan silih berganti, karya ini juga memanfaatkan banyak pergantian tanda sukat seperti 7/8, 3/8, dan 4/4. Pentas dilanjutkan dengan tiga repertoar lain yang hampir sama di wilayah penggunaan instrumen namun sangat berbeda di wilayah penggarapannya. Septina Rosalina Layan adalah komponis perempuan dari Papua yang menampilkan karya berikutnya. Septina merupakan komponis yang produktif belakangan ini. Ia juga meraih hibah dari Yayasan Kelola untuk mementaskan karyanya “Sagu (DA) vs Sawit”. Kali ini Septina menampilkan karyanya “Reincarnation of South Papua” untuk playback, kwartet gesek dan kick drum. Pada karya ini Septi memanfaatkan suara lingkungan/bunyi-bunyian yang berasal dari Papua yang diputar ulang melalui laptop dan dikombinasikan dengan kwartet gesek yang memainkan material-material yang bersifat repetitif namun juga transendental. Elemen tempo dipercepat sedikit demi sedikit serta diisi dengan teriakan-teriakan yang saling bersahutan hingga akhir bagian, dan di tutup dengan bunyi vokal dan fade out dari pengeras suara. Karya dari Septina ini mengingatkan penulis dengan musik-musik tradisi dari Papua yang biasa digunakan sebagai iringan upacara tertentu. Karya selanjutnya dengan format instrumen yang sama persis datang dari Wendi (Bandung) dan Kelvin (Jakarta). Wendi merupakan murid dari komponis senior Iwan Gunawan yang banyak berkarya di Indonesia maupun di luar Indonesia bersama grup gamelan besutannya, Ensemble Kyai Fatahilah. Pada sesi seri komponis muda ini Wendi menampilkan karya yang berjudul “Ngalengkah” (melangkah). Bunyi dari karya ini sepintas mengingatkan penulis pada karakteristik karya kwartet gesek dari komponis-komponis Aliran Wina Kedua dengan karakteristik yang lain. Pada karya ini Wendi terlihat banyak memodifikasi tangga nada “pentatonis” yang juga mengingatkan penulis pada musik-musik Jawa Barat yang berangkat dari sistem pelog dan slendro. Namun pada karya ini Wendi mengaburkan kesan-kesan itu dengan memodifikasi nada-nada yang ia gunakan, seperti kita melihat lukisan lanskap kota Bandung yang “Blur”. Karya selanjutnya dengan format instrumen yang sama adalah karya dari Yohanes Kelvin, seorang mahasiswa Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta. Kelvin yang berguru kepada Otto Sidharta ini juga tergabung dalam Indonesian Contemporary Gamelan Ensemble. Ia memberi judul karya ini “Interlooking-Residu”. Karya ini berangkat dari residu ingatan masa kecilnya ketika berada di Kefamenanu, sebuah kota kecil di Pulau Timor. Ia mengadopsi ritme serta bunyi dari dari tarian adat Dawan. Karya ini merupakan karya yang “longgar,” ditandai dengan penggunaan notasi spasial yang mengizinkan pemain untuk saling berinteraksi tanpa terikat dengan birama yang ketat, namun bukan berarti karya ini bisa seenaknya dimainkan karena karya ini sudah tertulis dengan pola yang tertentukan. Karya ini juga dibangun dengan komunikasi yang intens antar pemain, yang mana pemain harus “berkomunikasi” secara intens untuk merealisasikan nada-nada maupun ritme yang ditulis dengan model notasi spasial tersebut. Pada karya ini Kelivin juga menginstruksikan kepada pemain cello dan violin untuk menghentakkan kaki mereka dan mengelilingi lingkarang pemain lain dengan berbagai pola seperti layaknya mempraktekkan sebuah tarian. Karya terakhir sekaligus karya penutup pada sesi ini adalah karya dari Aldy Maulana, seorang komponis muda yang saat ini tinggal di Yogyakarta. Karya Aldy yang ia beri judul “Water Vapor 1.0” untuk violin dan electronic ini terinspirasi dari proses “Refraksi” yang terjadi pada lapisan troposfer. Fenomena alam ini juga ia hubungkan pada fenomena sosial dimana tumpah ruah informasi pada berbagai media sosial yang ter-“refraksi”, seperti bias antara keberpihakan antara benar-salah. Hingga saat ini penulis masih meraba diimana letak hubungan antara proses refraksi pada fenomena alam dan sosial terhadap musiknya. Namun sependengaran penulis, karyanya lebih dekat pada model “plunderphonic” yang dikenalkan John Oswald, dimana Aldy mengutip beberapa karya-karya lain untuk digabung menjadi satu; mulai dari sepersekian detik rekaman dari lagu band Burgerkill hingga bahasa musik/karya dari zaman “klasik” dengan berbagai pengolahan. Karya ini terasa seperti “mengaburkan” antara karya yang sudah dikenali sebelumnya dan belum dikenali untuk menjadi sebuah unitas yang dibentuk dari berbagai unsur yang digabungkan (kolase). Karya model kutip-mengutip  seperti ini bukanlah sesuatu yang “baru.” Sebagai contoh Berio pada Sinfonia gerakan ketiga menjadikan kutipan dari karya Mahler (gerakan III. In ruhig flieBender Bewegung) sebagai landasan struktur besar.   Cermin di Masa Depan Selain media dan gaya yang beragam, karya-karya yang ditampilkan pada sesi seri komponis muda October Meeting ini sedikit memberikan kita gambaran seperti apa yang terjadi saat ini pada kekaryaan komponis-komponis muda di Indonesia yang berasal dari berbagai kota di Indonesia. Corak lokalitas menjadi sangat dominan mewarnai dimensi kekaryaan mereka, selain cipratan-cipratan bercorak urban. Konser ini bisa menjadi “cermin” bagi siapapun yang berkecimpung di wilayah komposisi musik, khususnya bagi talenta muda untuk melihat kembali peluang-peluang kreatif yang ada di masa kini. Penting pula untuk memikirkan potensi-potensi lain di masa mendatang. Selamat untuk para komponis muda yang terlibat. (Editor: Erie Setiawan/Info lain-lain: www.octobermeeting.org). Foto: Icha.

OCTOBER MEETING CONTEMPORARY MUSIC AND MUSICIANS 2023: SPATIAL
14 Oct 2023 Redaksi 1.050 Views

OCTOBER MEETING CONTEMPORARY MUSIC AND MUSICIANS 2023: SPATIAL

  October Meeting Contemporary  Music and Musicians 2023: "Spatial".   -Sound Spatiality Discourse -Multi-channel Spatial Audio Music Performance   Jadilah bagian dari kami dan para komponis dalam bereksperimen di wilayah sistem bunyi spasial dan yang multikanal!   16-19 Oktober 2023 Tempat: @tempuran.space Jl. Plataran 9 Sembungan Bantul YK Pukul: 15.00-17.30 WIB Free! CP: 085729809236   Support by: @tempuran.space @artmusictoday @rekambergerak @amtpublisher_   #octobermeeting #spatial #contemporary #music #musicians #artmusictoday #musikmasakini #experimentalmusic #electronicmusic #contemporarymusic #indonesiancontemporarymusic #spatialaudio #spatialsound

SEGERA TERBIT BUKU KARYA RM SURTIHADI: MENARI DENGAN TROMPET
14 May 2023 Redaksi 1.317 Views

SEGERA TERBIT BUKU KARYA RM SURTIHADI: MENARI DENGAN TROMPET

    Kehadiran orang-orang Eropa di Nusantara telah mempertemukan budaya musik kelompok-kelompok etnik Nusantara dengan budaya musik Eropa. Kontak hubungan tersebut semula terjadi secara terbatas di kalangan kelompok etnis wilayah pesisir, namun kemudian meluas ke wilayah pedalaman (Simatupang, 2013: 41). Di sisi lain, awal dari diseminasi musik Eropa di Hindia-Belanda yang pertama kali di kepulauan Maluku terjadi dimulai sejak abad ke-16 melalui kegiatan para pedagang dan misionaris Kristen Katolik Portugis (Bramantyo, 2004: 62-86). Memasuki awal abad ke-20 banyak peristiwa terjadi dalam sejarah kehidupan dua keraton di Jawa Tengah yakni Keraton Kasunanan Surakarta dan Keraton Kasultanan Yogyakarta (Larson, 1990: 1). Secara khusus, di Keraton Yogyakarta sebagai salah satu pusat budaya Jawa (pusèring bumi) mempunyai fakta sejarah yang menarik. Fakta yang menarik bukan terkait dengan isu politik secara langsung tetapi lebih pada peristiwa seni budaya keraton pada masa lampau. Menurut beberapa sumber data, pada awal abad ke-20 aktivitas seni-budaya keraton mengalami perubahan dan perkembangan. Salah satu perubahan tersebut terjadi karena faktor budaya lokal berinteraksi dengan budaya asing. Fakta sejarah yang terungkap dalam fenomena aktivitas seni-budaya Keraton Yogyakarta dapat dijumpai dalam seni pertunjukan tari klasik gaya Yogyakarta. Menurut Lindsay, (1991: 16-19), jenis kesenian tari Klasik Keraton Yogyakarta mengalami perkembangan pesat pada era Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939)[1].  Lebih lanjut Lindsay (1991) mengungkapkan bahwa, kehadiran instrumen musik Eropa di Keraton Yogyakarta juga merupakan bagian dari perkembangan seni pertunjukan keraton, bahkan musik Eropa merupakan instrumen ritual-ritual keraton dalam peristiwa budaya bagi masyarakat kerajaan vorstenlanden. Ritual yang dimaksud bukan berarti religius saja tetapi juga ritual keseharian seperti upacara adat, perkawinan, khitanan dan sebagainya. Namun demikian, yang terjadi pada aktivitas musik Eropa di keraton itu hanya bagian kecil dari pengaruh-pengaruh modernisasi di keraton. Perkembangan seni pertunjukan di Keraton Yogyakarta  khususnya seni tari klasik gaya Yogyakarta, tidak dapat dipisahkan dari unsur iringan tarinya. Iringan tari Bedhaya, Srimpi maupun beksan Lawung Ageng, terdapat bagian yang unik pada unsur iringan tarinya, yakni ditambahkan ansambel musik tiup dan genderang Eropa ke dalam gamelan Jawa dimainkan bersama-sama mengiringi tari-tarian di atas. Pada gerakan berbaris entrance dan exit-nya di area pentas[2], dalam iringan tari Bedhaya-Srimpi menggunakan iringan musik gamelan Jawa ditambah ansambel musik tiup dan genderang Eropa, sedangkan pada gerakan tari lainnya hanya diiringi gamelan Jawa saja. Namun demikian menurut data yang diperoleh, beberapa jenis tari Srimpi iringan tari pada gerakan inti tariannya ditambahkan ansambel musik Eropa, seperti Srimpi Pandelori dan Srimpi Muncar. Informasi dari (Kartahasmara, 1990: 191). Arsip Keraton Yogyakarta berjudul ‘Ngayogyakarta Pagelaran’ yang ditulis R.Ng. Kartahasmara membuka cakrawala dan informasi tentang indikasi konsep estetis penciptaan komposisi-komposisi gendhing mars/gati maupun gending-gendhing beksan Lawung Ageng[3] yang melibatkan ansambel musik Eropa dan gamelan Jawa bersama-sama mengiringi tarian. Dari data ini disebutkan bahwa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII mempunyai pengaruh besar terhadap konsep estetis seni pertunjukan di Keraton Yogyakarta pada masa pemerintahannya[4]. Apa yang tersirat dalam Arsip Keraton Yogyakarta itu merupakan bukti bahwa ide penambahan instrumen musik Eropa ke dalam iringan tari tersebut di atas merupakan ide Sultan yang dituliskan melalui sebuah dhawuh Dalem atau perintah sultan (Kartahasmara, 1990: 193). Sementara itu dalam iringan Beksan Lawung Ageng, ansambel musik tiup dan genderang Eropa juga dipakai untuk mengiringi hampir seluruh gerakan tari dari awal hingga akhir tarian, kecuali pada gerakan sodoran[5] hanya instrumen genderang Eropa saja yang dimainkan bersama instrumen gamelan. Gerakan tari maskulin yang bersinergi dengan karakter gendhing iringannya sangat terasa terutama saat bunyi gamelan Jawa berlaras pélog dimainkan bersama-sama dengan ansambel musik tiup Eropa berupa trumpet, trombone (brass section) dan klarinet, dengan instrumen tambur (genderang Eropa), kadang juga ada instrumen gesek (string section) sebagai additional instruments. Bunyi instrumen perkusi seperti: kendhang Jawa, bedhug, dan tambur memainkan pola ritme yang sama dengan pola permainan kendhangan dhang dhang thung dah, sedangkan instrumen melodi seperti brass section, string section  dan klarinet memainkan melodi (balungan) gamelan Jawa.  Pada saat ini pertunjukan tari Bedhaya, Srimpi, maupun Beksan Lawung Ageng tidak hanya dipentaskan untuk acara-acara ritual di dalam keraton saja, tetapi  juga bisa dipentaskan untuk acara yang bersifat non-ritual di luar keraton, bahkan pertunjukan tari tersebut kadang dipentaskan untuk acara hiburan resepsi pernikahan maupun acara-acara hajatan seremonial yang digelar oleh warga masyarakat umum. Penggunaan instrumen musik Eropa dalam iringan tari Bedhaya, Srimpi maupun Beksan Lawung Ageng diduga merupakan pengaruh perkembangan zeitgeist (World spirit) atau semangat zaman pada waktu itu.  Ada kemungkinan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII menginginkan musik untuk iringan tari ditambahkan instrumen-instrumen Eropa seperti trompet, trombone, klarinet, genderang dan biola untuk melengkapi iringan tari. Hal ini dikarenakan adanya semangat zaman waktu itu yakni semangat modernisasi, dimana Belanda menjadi kiblatnya, sudah barangtentu Eropa menjadi kiblat modernisasi itu sehingga adanya perubahan ini dapat dipahami sebagai upaya memodernkan musik Jawa khususnya pada iringan tari keraton. [1]Seluruh aspek yang mendukung kesenian baik dari gaya penampilan seperti kostum penari, properti untuk pertunjukan wayang wong, gendhing iringan tari dan sebagainya. Hal yang menarik di sini, ada beberapa tarian diiringi dengan gamelan Jawa ditambah ansambel musik Eropa seperti tari Bedhaya dan Srimpi memainkan komposisi gendhing gati atau gendhing mares pada gerakan kapang-kapang, demikian pula pada beksan Trunajaya (Lawung Agêng).   [2] Gerakan berbaris pada tari Bedhaya, Srimpi  ketika entance-exit-nya di area pentas ini   disebut kapang-kapang. [3] Beksan Lawung Ageng merupakan bagian dari Beksan Trunajaya, dalam komposisi Beksan Trunajaya terdiri dari dari beksan Sekar Medura, Lawung Alit dan Lawung Ageng. [4] Hal tersebut dibuktikan dengan dhawuh Dalem yang dituangkan dalam naskah ‘Ngayogyakarta Pagelaran’ sebagai berikut: Karsa Dalem njangkepi iringaning kapang-kapang Bedhaya/Srimpi, Beksan Trunajaya, sarta Srimpi Pandelori miwah Srimpi Muncar kanthi tambahing musik gesek/Biola. (Karsa Dalem/Kehendak Sultan melengkapi iringan Kapang-kapang Bedhaya/Srimpi, beksan Trunajaya, serta Srimpi Pandelori dan Srimpi Muncar dengan tamabahan instrumen musik gesek/ Biola).   [5] Sodoran adalah bagian dari beksan Lawung pada gerakan adu tombak (lawung).  _____________ Menari Dengan Trompet: Apropriasi Musikal dalam Iringan Tari Keraton Yogyakarta   Penulis: R.M. Surtihadi Editor: Erie Setiawan Penyunting: Andri Widi Asmara Desain Sampul: GagaRoom Design Tata Letak: Dwi Pratomo Penerbit: Art Music Today   Alamat Penerbit: Jaranan RT 02 Panggungharjo, Sewon, Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta 55188 @amtpublisher_ www.artmusictoday.org   Cetakan Pertama, Mei 2023 INFO: 0895341875712 (Erie)     

BUKU VIRALITAS DAN LEGASI GONG KEBYAR
14 Apr 2026 Redaksi 15 Views

BUKU VIRALITAS DAN LEGASI GONG KEBYAR

 Judul Buku          : Viralitas dan Legasi Gong KebyarPenulis                 : Nyoman Sukerna, JamalEditor                   : Wahyu Widyasih, S.Sos., M.Si.ISBN                     : 978-623-89796-9-1Detail                   : Ukuran buku 15 x 23 cm; Tebal: xvi + 172 hal Sinopsis:  Gong Kebyar adalah entitas yang unik dalam sejarah seni Nusantara. Ia lahir di tengah kawah pergolakan sosial Bali Utara pada awal abad ke-20, tepat ketika kekuasaan feodal istana (puri) runtuh akibat kolonialisme dan beralih ke tangan masyarakat desa (banjar) yang egaliter. Dalam waktu singkat, gaya musik yang agresif, meledak-ledak (byar), dan penuh kejutan ini berhasil menggeser dominasi gamelan-gamelan tua yang telah mapan berabad-abad lamanya. Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar: Mengapa Gong Kebyar bisa begitu cepat diterima? Siapa agen yang menyebarkannya? Dan psikologi sosial apa yang bersembunyi di balik dentuman kerasnya?Untuk menjawab pertanyaan tersebut, buku ini mengambil pendekatan pisau analisis dari ilmu sosial modern, yakni teori difusi inovasi dari Everett M. Rogers, teori epidemi sosial (the tipping point) dari Malcolm Gladwell, psikologi viralitas (contagious) dari Jonah Berger, serta kerangka cincin legasi (legacy rings) dari Dawson & Jöns untuk menjelaskan fenomena budaya Gong Kebyar. Melalui lensa multidisiplin ini, Gong Kebyar tidak hanya dilihat sebagai susunan nada, tetapi sebagai produk inovasi yang memiliki keunggulan relatif, disebarkan oleh para agen karismatik, dan diterima oleh masyarakat karena memiliki kemanfaatan sosial (social currency). Pemesanan bisa dilakukan dengan menghubungi:WhatsApp: 0895341875712Instagram: @amtpublisher_Marketplace: Tokopedia/Penerbit AMT 

KUMPULAN ESAI INDONESIAN COMPOSERS COLLECTIVE
14 Apr 2026 Redaksi 18 Views

KUMPULAN ESAI INDONESIAN COMPOSERS COLLECTIVE

 Judul Buku                : Kumpulan Esai Indonesian Composers CollectivePenulis                        : Arham Aryadi, Aldy Maulana, dkk.Editor                         : Erie SetiawanISBN                           : 978-634-96820-0-8Detail                          : Ukuran buku 15 x 23 cm; Tebal: vii + 174 hal  Sinopsis: Buku ini adalah kumpulan esai beberapa komponis Indonesia yang tergabung di dalam Indonesian Composers Collective (ICC). ICC bersifat terbuka untuk komponis dari beragam latar belakang dan minat musik. ICC ingin menjadi wadah untuk karya, pemikiran, dan informasi berkaitan dengan komposisi untuk komponis dan penikmat musik di seluruh Indonesia. Untuk saat ini rekaman kegiatan-kegiatan ICC tersedia di laman Youtube Indonesian Composers Collective. Kumpulan esai ini adalah bagian dari tanggung jawab sosial ICC untuk menginformasikan pengetahuan seputar komposisi musik mutakhir.Buku ini terdiri dari delapan esai. Esai-esai ini mengetengahkan topik yang cukup bervariasi, antara lain pengetahuan seputar metodologi, uraian analisis karya, hingga fenomena model-model bentuk musik kontemporer terkini.Pemesanan bisa dilakukan dengan menghubungi:WhatsApp: 0895341875712Instagram: @amtpublisher_Marketplace: Tokopedia/Penerbit AMT  

SEGERA TERBIT BUKU JEJAK GARAM DI KULIT GUNUNG KARYA EKO SUPRIYANTO
14 Apr 2026 Redaksi 25 Views

SEGERA TERBIT BUKU JEJAK GARAM DI KULIT GUNUNG KARYA EKO SUPRIYANTO

Segera Terbit Judul Buku Jejak Garam di Kulit Gunung – Ekodramaturgi Eko  PenulisEko SupriyantoEditorRenee Sari WulanISBNDalam prosesDetailUkuran buku 15 x 23 cm; Tebal: x + 240 hal  Sinopsis:  Saya menulis buku ini sebagai bentuk refleksi dan kesadaran: bahwa perjalanan artistik saya sejatinya adalah perjalanan tubuh yang terus belajar mendengarkan.Saya lahir di Astambul, Kalimantan Selatan, dan tumbuh besar di Karang Kidul, Magelang. Masa kecil saya diisi oleh suara gamelan, latihan silat, dan tarian jatilan yang mengisi halaman kampung. Dari sana tubuh saya mulai mengenal tanah; bukan hanya sebagai pijakan, tetapi sebagai ruang spiritual tempat gerak dan kehidupan bertemu. Saat saya kuliah di STSI Surakarta, dunia tari membuka diri dengan cara baru. Saya belajar bahwa tradisi bukan sesuatu yang beku, melainkan sumber energi yang selalu bisa dibaca ulang. Pertemuan dengan para guru seperti Sardono W. Kusumo, S. Pamardi, Djarot B.Darsono dan Suprapto Suryodarmo meneguhkan keyakinan saya bahwa tubuh adalah teks hidup yang terhubung dengan alam. Dari mereka, saya mengenal kata kunci penting: ekologi.Buku ini saya tulis bukan untuk menjelaskan karya, melainkan untuk memahami proses: bagaimana penciptaan dapat menjadi bentuk perawatan. Di suatu titik perjalanan, tumbuh  kepercayaan baru pada saya bahwa koreografi bermakna membangun hubungan antara tubuh dan ruang, antara manusia dan alam. Proses penciptaan bagi saya adalah proses perawatan sosial dan ekologis: to choreograph relationships.Pendekatan ekodramaturgi yang saya kembangkan bukan semata teks dan teori panggung, tetapi praktik hidup yang menuntut keberadaan tubuh secara utuh.Ia menempatkan pengetahuan lokal, pengalaman komunitas, dan kesadaran ekologis sebagai sumber utama penciptaan seni. Dari riset dan pertemuan ini lahirlah gagasan tentang care-based choreography, ecological rehearsal, dan storytelling care, yang kemudian saya ajarkan kepada mahasiswa di ISI Surakarta terutama di Program Studi saya Prodi Koreografi Inkuiri. Pendekatan ini tentang investigasi, bukan hanya sebagai teknik penciptaan, tetapi sebagai etika memahami pengetahuan hidup. Buku ini ditulis dalam gaya autoetnografi praktik - sebuah bentuk penulisan yang menempatkan pengalaman personal sebagai sumber pengetahuan akademis. Dengan cara itu, tubuh tak lagi sebatas objek analisis, ia meluas sebagai subjek epistemologis yang dapat berbicara, merasakan, dan mengingat. Semoga buku ini dapat menjadi rujukan bagi mahasiswa, peneliti, dan pembaca umum yang ingin memahami seni pertunjukan menggunakan cara pandang proses dan ekologi. Saya pun berharap buku ini menjadi ruang perenungan bagi siapa saja yang percaya bahwa tari adalah cara untuk hidup selaras dengan bumi.“Buku ini bukan catatan karya, tetapi catatan tubuh - tubuh yang terus belajar mendengar bumi, laut, dan napas kehidupan di antara keduanya.” Pemesanan bisa dilakukan dengan menghubungi:WhatsApp: 0895341875712Instagram: @amtpublisher_Marketplace: Tokopedia/Penerbit AMT 

BUKU PAKELIRAN SANDOSA
14 Apr 2026 Redaksi 13 Views

BUKU PAKELIRAN SANDOSA

Sinopsis:    Pengkajian secara komprehensif tentang Pakeliran Sandosa belum pernah dilakukan oleh pihak lain, padahal bentuk pertunjukan wayang ini sangat signifikan untuk disosialisasikan kepada masyarakat Indonesia dan dunia, baik sebagai bahan kajian maupun perbendaharaan pertunjukan wayang. Umumnya, Pakeliran Sandosa baru ditulis dalam bentuk artikel pendek maupun makalah yang mengulas segi pertunjukan maupun selayang pandang tentang Pakeliran Sandosa. Proses pengamatan dan penelitian Pakeliran Sandosa ini telah penulis lakukan semenjak mahasiswa, bahkan beberapa kali penulis ikut terlibat dalam proses produksi lakon pakeliran ini.             Isi dari buku ini mencakup sejarah pakeliran Sandosa, unsur-unsur estetika pekaliran Sandosa, proses penyusunan dan tinjauan naskah, proses penafsiran naskah dalam pertunjukan, proses latihan dan pementasan, pembaruan pakeliran Sandosa, kasus pembaruan lakon Dewa Ruci, dan bentuk serta arah pembaruan pakeliran Sandosa.      Buku ini tersusun atas bantuan dari berbagai pihak, terutama rekan-rekan dosen Jurusan Pedalangan ISI Surakarta yang banyak memberikan kontribusi tentang informasi Pakeliran Sandosa kepada penulis. Mereka ini adalah orang-orang yang berkompeten terhadap penyusunan Pakeliran Sandosa sehingga benar-benar mengetahui seluk beluk pakeliran ini.   Pemesanan bisa dilakukan dengan menghubungi: WhatsApp: 0895341875712 Instagram: @amtpublisher_ Marketplace: Tokopedia/Penerbit AMT    

SPASIAL: KIPRAH ARTISTIK DALAM EKSPANSI RUANG AKUSTIK
13 Dec 2023 Redaksi 1.884 Views

SPASIAL: KIPRAH ARTISTIK DALAM EKSPANSI RUANG AKUSTIK

SPASIAL: KIPRAH ARTISTIK DALAM EKSPANSI RUANG AKUSTIK October Meeting: Contemporary Music and Musicians 2023 telah mempraktikkan seni bunyi spasial untuk mewujudkan citra dengar yang meruang dan natural, namun sekaligus kompleks dalam hal teknis, sistem, maupun pre-knowledgenya. Mulai hari ini, seminggu sekali, kami akan menampilkan seri artikel yang membahas peristiwa ini. Artikel pertama ini ditulis oleh Andri Widi Asmara, bersumber dari data transkripsi audio rekaman Artist Talk dan Diskusi: Praktik Artistik dalam Ekspansi Ruang Akustik dengan narasumber Gatot Danar Sulistiyanto. Selamat menyimak! Pengantar Spatial audio/spasial adalah contoh hasil olah kreatif manusia dalam memanfaatkan ruang dengan bunyi sebagai episentrumnya. Pada perkembangannya, spasial sudah digunakan oleh industri film, game, gadget, dan selluler untuk mengembangkan citra dengar perseptual pada produk-produknya. Namun di ranah medan ekspresi artistik, kami melihat masih banyak yang belum memanfaatkannya sebagai piranti yang asyik untuk diimplementasikan.  Maka pada October Meeting yang dilaksanakan  tanggal 16-19 Oktober 2023 di Tempuran Space ini kami mengeksperimen spasial pada wilayah kerja rekayasa artistik dari 5 seniman bunyi memanfaatkan 20 speaker. Seniman bunyi tersebut mencoba sistem multikanal, realtime spatial, dan live spatial. Ketiga percobaan tersebut mungkin masih belum banyak konsensusnya di hari ini. Sehingga kami menduga akan ada banyak penyesuaian cara dengarnya, cara kerjanya, dan mungkin cara delivery mekanismenya. Maka sifat dari performance ini adalah eksperimentatif, dan membebaskan para seniman bunyi dan pendengar untuk mengeksplor lebih jauh tentang spasialitas. Memahami Seni Bunyi Spasial Seni bunyi spasial kami tafsir sebagai wahana bertemu dan bereksplorasi bersama dari para audio engineer, acoustical engineer, computer scientist, audio production, dan tentu saja seniman yang berbasis proyeksi bunyi. Sistemnya mempadukan kinerja intelektual, kinerja astistik, dan kinerja teknikal. Mereka saling bertaut kebutuhan secara hybrid. Seni bunyi spasial tidak hanya menawarkan ruang yang lain untuk mereka, namun juga untuk pendengar. Bentuk pertunjukan yang menggunakan citra ruang depan-belakang, atau istilahnya frontal sistem-kontras antara penyaji dan pendengar yang hanya berhadapan, bertransformasi menjadi ruang dengar seutuhnya. Untuk memahami seni spasial, baiknya wajib mempunyai pre-knowledge. Diantaranya: telah memahami kinerja Digital Signal Processing (DSP) dan seni computer music. Mengetahui kinerja DAW (Digital Audio Workstation) saja sebenarnya sudah cukup. Namun lebih afdol lagi jika ditambah pengetahuan DSP (Digital Signal Processing). Tanpa itu sebenarnya bisa-bisa saja. Namun, tanpa modal tersebut, spasial hanya terbatas dimaknai pada perseptual bunyinya. Tidak keliru, namun kurang lengkap. Karena memasuki sistem spasial, akan menemui banyak perbedaan jika dibandingkan dengan sistem stereo. Sistem stereo hanya memproyeksikan suara ke dalam amplitude panning-kanan dan kiri. Hanya sebatas perbesaran dan perbedaan amplitudo antara kanan dan kiri.  Bedanya dengan stereo? Perbedaan pertama antara sistem spasial dan sistem stereo adalah adanya efek dopler. Efek dopler merupakan khas efek spasial. Contoh: ketika ambulance melintas, jalan dari kanan ke kiri, tanpa mencermatipun kita merasakan bahwa ada penurunan pitch dan intonasi pada sirenenya. Sederhananya, hal semacam itu bisa disebut sebagai efek dopler.  Jika kita lihat di dalam metadata, dopler ini disebut  sound localization, sumber di mana informasi datang dan diterima. Keberadaan dopler merupakan medan penting sekaligus medan poin baru. Dalam penyajiannya dapat menjadi point of interest. Itu yang nanti akan membedakan dari sistem stereo. Karena sistem stereo berkarakter pada depthness dan wideness saja, maka metadatanya berbeda dengan spasial. Unsur pembeda kedua adalah redaman udara. Redaman udara ini di sistem stereo tidak berlaku/tidak diprioritaskan. Redaman udara/absorbing air, adalah dampak dimana suara itu seperti diserap. Di dalam sistem spasial, redaman udara digunakan untuk processing.  Sehingga terdapat perubahan spektrum dan perubahan citra bunyi. Perubahan ini tidak hanya pada warna bunyinya saja, melainkan kualitasnya. Jika dibedah, dampak redaman udara pada sistem spasial mengakibatkan percampuran antara filter, face, dengan time delay. Kemudian ketiganya tersebut diakumulasikan menjadi satu. Sedangkan di sistem stereo hanya mewakili delay dan reverb saja. Unsur pembeda ketiga adalah proses reverberasi/gema. Reverberasi  di spatial system tidak hanya mengaitkan dua speaker saja, namun mengaitkan jaringan loudspeaker. Maka amplitudo reverbnya bukan pada stereo reverb, melainkan convolution reverb. Ini dapat menjadi salah satu mata baca artistik di dalam olahan spatial audio. Sehingga, selain sound localization, artistic awarenessnya adalah reverberasi. Jika di dalam sistem stereo karakter reverberasinya bisa dikatakan “memperdalam”, di spatial audio berbeda. Sistem ini membuat sebuah virtualisasi atau artificial reverbration. Tidak hanya merekatkan suara satu dengan yang lainnya, namun membuat sebuah layer gema setara 360 derajat. Unsur pembeda yang keempat adalah modul konfigurasi panning. Ini yang membedakan dengan amplitude panning khas stereo sistem. Modul konfigurasi panning ada banyak, di antaranya ada A dan B, X dan Y, MS, VAB, dll. Contoh lainnya adalah Factor Amplitude Base, sampai ke ambisonic, binaural dan wave field synthesis. Ini merupakan proses akustifikasi dari seluruhnya sinyal input menuju ke panning sistem. Sehingga, sistem proyeksinya itu yang menentukan apa konfigurasi panningnya. Ini sebenarnya adalah logika organologis. Pada sistem stereo, kita tidak menjumpai decoding dan transcoding. Karena di stereo tidak dibutuhkan persesuaian metadata, hanya menggiring data menuju ke amplitude. Ini merupakan unsur pembeda kelima. Di sistem spatial dibutuhkan enkripsi menjadi decoding atau transcoding. Sehingga modul konfigurasi transcodingnya menjadi bermacam-macam. Ada model transaural, ada ambisonic, dll. Lebih jelasnya, proses transcoding dan decoding secara teknis adalah pekerjaan matematika dan pekerjaan computer sains. Namun, secara praktis, kita bisa menyederhanakan itu menjadi mengalihformatkan atau mixing format dari seluruh proses sinyal. Atau istilahnya mix-basednya. Tanpa  hal tersebut, seluruh metadata tak dapat diproyeksikan ke sinyal. Karena itu adalah final dari mix-based. Decoding dan encoding banyak digunakan dalam ambisonic system. Karena basicnya adalah A format menuju ke B format, dst. Sistem ini memiliki format-format khusus, karena ada channel based sistem. Sistem pengolahan data ini jika ingin bisa dibunyikan/dimapping harus di “B” formatkan sehingga ini dapat masuk ke dalam sistem metadata. Sedangkan transcoding ini untuk format realtime spatial. Maka bisa dibedakan menjadi on-site rendering sama non-realtime. Unsur pembeda yang terkahir adalah output. Seni bunyi spasial adalah adalah sistem berbasis multikanal. Maka outputnya juga harus multichannel, alias mandiri per-kanal. Misalnya, Jika outputnya 16 kanal, ya harus 16 speaker. Tidak dapat dipararel bergabung menjadi satu sinyal. Maka sebetulnya sistem spasial ini bukan low maintenance tools, melainkan high maintenance. Maka ada mekanisme produksi yang ceritanya akan berbeda. Bagaimana merancang spasial? Merancang sistem spasial dapat menggunakan 3 jenis maqam. Yang pertama adalah Perceptual Model. Di dalam model ini masih menggunakan sistem berbasis amplitude panning. Kita dapat memulainya dengan teknik panning, kemudian beralih ke sistem stereo. Pada sistem stereo ini kita bisa mengembangkannya menjadi sistem surround. Yang nantinya ini semua akan bermuara di virtualiasi sound source yang berbasis VBAP (vector base amplitude panning). Model ini dikenal modern sehingga sering dipakai oleh industri film, game, seluler, dan gadget untuk mengembangkan produknya (dolby atmos, dll.). Mengapa istilahnya perseptual? Karena mengalami persepsialisasi citra dengar yang bersifat environmental. Contohnya: seolah-olah kita berada di tengah lautan, tengah hutan, di antara kereta lewat, dll. Untuk yang kedua adalah Signal Model. Bisa dikatakan, spasial yang dirancang sedari bahan mentahnya. Karakter arah tangkap/arah dengarnya itu menjadi satu titik episentrum orientasi artistik. Sehingga muara yang dituju adalah binaural/transaural. Salah satu alatnya: dummy head – model kepala manusia yang dipasang mikrofon di di beberapa titik untuk merekam model-model sinyal dari arah tangkap yang berbeda. Hasilnya memang terbukti berbeda antara depan, belakang, samping, atas, bawah, dll. Ada ukuran tersendiri. Sistem ini hanya membutuhkan dua channel, namun dengan catatan, sebelumnya sudah mengalami proses olah media. Untuk yang ketiga adalah Physical Model. Phsycal model ini berorientasi pada proses-proses akustifikasi, tidak lagi berbasis manusia yang diorientasikan perspektif dengarnya, tetapi pendengar masuk ke dalam realitas fisik kondisi ruang bunyi. Maka yang ditata adalah proses sintesis dari ruang bunyi itu. Istilahnya Soundfield Synthesis. Contoh: dari physical model itu kita bisa membuat refleksi spesifik persis seperti gedung Taman Budaya Yogyakarta. Nanti yang muncul adalah data-data laporan yang  saintifik (tingginya berapa, serapannya berapa, pantulannya berapa, dll). Ini yang menjadi epicentrum dari wave field synthesis dan ambisonic. Teknis 5 seniman bunyi di October Meeting 2023 menggunakan 3 jenis sistem, yaitu Multichannel Projection/Proyeksi Mutikanal, Realtime Spatial, dan Live Spatial. Pada hari pertama adalah Bahtera, ia menggunakan proyeksi multikanal untuk mengekspos karyanya yang berjudul Ambience for ODGJ. Kemudian hari kedua adalah Muhammad Roziqin dengan karyanya berjudul Musical Interpretation of Dance Works “Semilah” dan Rangga Purnama Aji dengan karyanya berjudul Suppressed Fantasia. Mereka berdua menggunakan sistem realtime spatial. Pada hari terakhir, pendengar disuguhkan live spatial performance dari Gatot Danar Sulistiyanto dengan karyanya yang berjudul Meruang. Gatot berkolaborasi dengan instrumentalis Prasiddha Iwang pada clarinet dan Tony Maryana pada perkusi. Disusul oleh kelompok Sentabi yang beranggotakan 3 orang membawakan karya berjudul 17.00-05.00 Tuwuh. Gambaran teknis yang mereka pakai dalam kegiatan ini adalah sebagai berikut: Salin dan klik tautan berikut untuk melihat gambar 1:  https://archive.org/details/picture-1-artikel-andri Jika kita cermati, ada fitur yang khas, yaitu panoramix. Panoramix ini bisa menghantarkan data bunyi ke dalam beberapa power amp dan subwoofer yang tersedia. Sebelum menuju panoramix, seniman bunyi harus mendiferensiasi input mereka dulu, apakah DAW based ataukah analog based. Sistem ini menyediakan sampai 24 channel. Untuk sistem penataan output speaker, kami menyusun 20 speaker ke dalam 3 jenis ruang: Salin dan klik tautan berikut untuk melihat gambar 2: https://archive.org/details/picture-2-artikel-andri Pertama, ruang di indoor yang terdapat di lantai bawah dom lingkaran. Pada ruang ini terdapat 8 speaker yang mengelilingi ruang berdinding kaca dan beralaskan semen dan batu. Ditata secara melingkar serta ditambah subwoofer. Pada ruang ini pendengar sangat bisa merasakan frekuensi rendah dan larinya suara dari bawah ke atas, berputar, dan memantul.  Serta bisa berinteraksi dengan seniman bunyi yang sedang meramu. Di sini pendengar bisa duduk maupun berdiri.  Salin dan klik tautan berikut untuk melihat gambar 3: https://archive.org/details/picture-3-artikel-andri Lalu kemudian di outdoor ruang atas. Untuk bisa mengaksesnya, pendengar bisa menaiki tangga yang terdapat di tengah-tengah stage bawah atau melewati luar ruangan. Di sini pendengar bisa menikmati lebih sound lokalisasi yang lebih terasa netral. Bunyi-bunyi yang dilempar ke atas dari ruang bawah sedikit demi sedikit menerobos lubang tangga. Namun pendengar lebih fokus ke laju larinya bunyi dari speaker ke speaker yang terasa hidup. Di sini pendengar jauh lebih santai menghayati sambil rebahan di bantal yang tersedia. Salin dan klik tautan berikut untuk melihat gambar 4: https://archive.org/details/picture-4artikelandri  Terakhir adalah formasi speaker pohon di sekitar Dom/Ruang Gendol. Penempatan ini juga sifatnya eksperimental, karena mencoba seberapa kompleks spektrum yang dipendarkan jika dari sisi atas terpasang speaker. Dalam praktiknya, speaker pohon ini sering mengundang rasa penasaran pendengar pasif yang memang tidak berencana untuk mendengarnya. Karena posisinya relatif bisa memancarkan suara untuk jarak yang sedikit jauh, maka penggunaan speaker pohon menambah kompleksitas formasi spasial. Kesimpulan October Meeting telah mempraktikkan seni bunyi spasial pada tatanan sistem proyeksi multikanal, realtime spatial, dan juga live spatial secara eksperimentatif dari 5 seniman bunyi. Adapun hasil-hasil yang di dapat dari percobaan tersebut adalah: Adanya persesuaian dan pengalaman baru antara pendengar dan penyaji musik, di mana mereka bisa menjelajah dua ruang yang tersedia di Tempuran Space yaitu ruang gendol/dom lantai bawah dan lantai atas. Ditambah dengan persesuaian pendengar pasif yang berada di luar dom, dipancing dengan speaker yang tertanam di pohon. Ini mungkin menjadi pembeda dengan pertunjukan dengar yang lainnya, dimana stage penyaji dan penonton saling berhadapan. Sedangkan pada eksperimen ini, ruang penyaji berekspansi menjadi ruang dengar seutuhnya. Adanya penyesuaian dari seniman bunyi dengan sistem yang jarang mereka temui sebelumnya, dimana mereka diharuskan memahami sisi panoramix yang menjadi kunci untuk mentransformasi input sampai ke output yang jumlahnya tidak seperti lazimnya frontal stage. Ini merupakan bertemunya skill intelektual, teknikal, dan kiprah pengembangan artistik dalam satu waktu. Peluang Performance Values: Open standart/kolaboratif/Integratif/memungkinkan untuk menampung banyak ekspresi artistik Antitesis kultur dengar, dari simple to complex Multi perspektif dalam menerima pesan yang terdelivery. Alternatif/modus operandi/delivery mechanism yang bisa ditawarkan Pengalaman baru/unik dalam ruang pertunjukan dengar Mengeksplorasi pendengaran, yaitu pasif to active listener Enty level to advanced listeners. Pengalaman fisik yang berbeda dari biasanya. Technological Values: Sistem tata suara audio spatial Visual interface/object geometry Adaptif terhadap berbagai kondisi ruang Loudspeaker treatment/placement/instalasi Live mixing spatial/on site rendering Multilayer profesi audio (studio dan nonstudio) Multidimensional object based mixing Interface/controller   Penulis: Andri Widi Asmara Narasumber: Gatot Danar Sulistiyanto Tulisan ini bersumber dari data transkrip audio rekaman Artist Talk dan Diskusi  Praktik Artistik dalam Ekspansi Ruang Akustik – Visi dan Problematika yang berlangsung pada Senin 16 Oktober 2023 di Tempuran Space dengan pengembangan konteks dari penulis.          

Menikmati Setiap Kejutan di Buku Mendengar di Bali
13 Dec 2017 Redaksi 2.780 Views

Menikmati Setiap Kejutan di Buku Mendengar di Bali

Oleh: Nurul Hanafi Pertemuan antara Gigih dengan musik Bali—seperti tertuang di buku ini—mirip pertemuan antara Takemitsu dengan musik Jepang tradisional. Takemitsu besar dengan referensi musik Barat yang didengarnya dari tentara Amerika dan cenderung enggan atau malah agak benci dengan musik Jepang sendiri. Baru setelah dekade 1960an Takemitsu tertarik musik tradisional, lalu dibuatlah konserto untuk shakuhachi, biwa, dan orchestra: November Step. Dalam banyak sisi, buku “Mendengar di Bali” yang diterbitkan oleh Art Music Today terasa menarik, terutama karena didukung alur yang runtut, enak dibaca, impresif, berbobot, sekaligus ringan, sehingga pembaca awam pun bahkan akan menikmatinya tanpa banyak berkerut kening. Seperti uraian Erie Setiawan dalam catatan pengantar, bahwa Gigih memang tidak semata-mata hadir di Bali secara pasif. Gigih berusaha sedemikian rupa agar apa yang ia alami juga bisa kita rasakan, kita hayati, dan kita tangkap maknanya. Selama sebulan penuh (31 hari) Gigih bukannya mengurung diri di kamar melainkan membuka diri, menajamkan indera, dan membiarkan berbagai hal yang ada di sekitarnya masuk dalam kesadaran secara utuh dan dalam taraf tertentu mengusik cara pandangnya dan bahkan mempengaruhi. Gigih tidak membawa beban apapun di pundak dan pikirannya. Bebas lepas dan menikmati setiap kejutan yang hadir dengan senang hati. Karena itu, wajar jika catatan-catatan yang ia tuliskan terasa segar dan hangat, baik yang membahas perjalanan wisata sejarah, budaya, maupun yang secara khusus membahas musik. Ia punya bekal musik dan khasanah budaya dalam dirinya, yang berbeda corak dan karakteristik dengan apa yang ia temui di Bali, namun segala corak dan karakteristik yang baru saja diakrabinya itu tidak mendorongnya untuk membanding-bandingkan mana di antara kedua kebudayaan itu (Jawa dan Bali) yang lebih kuat atau orisinal. Terlepas dari banyak sisi menarik di buku setebal 178 ini, Gigih masih sering tampak canggung menampilkan refleksi individu secara lebih mendalam, padahal itu potensial, dan lebih cenderung menyampaikan pengalaman demi pengalaman secara apa adanya. Seperti misalnya saat Gigih membicarakan berbagai versi rekaman Konserto Piano No.3 karya Beethoven, dan merenungi soal interpretasi dalam musik. Sayangnya ia tidak mengungkapkan pendapat pribadinya secara lebih detail, umpamanya bagaimana pengalamannya menyimak berbagai interpretasi atas karya-karya yang ia kagumi. Tentu akan menarik sekali apabila saya bisa mendengar pendapat pribadi Gigih, juga untuk pembaca lainnya. Saya sendiri suka memperhatikan berbagai tafsir La Mer karya Debussy. Pengalaman membandingkan berbagai tafsir akan mempertemukan pendengar terhadap tafsir yang paling ia favoritkan. Kemudian apakah setelah menemukan tafsir favorit ini seorang pendengar akan merasa cukup dan tidak tertarik lagi dengan tafsir sesudahnya? Ini kan subjektif, masing-masing orang punya pengalaman berbeda. Kalau melihat berbagai pilihan tafsir atas satu komposisi, saya akan pilih tafsir yang paling panjang lebih dulu. Resiko kecewa lebih minim. Celakanya kalau misalnya kita dengar: “Eh... Psalm 130 karya Lily Boulanger asik sekali, lho. Menurut saya itu karya terbaiknya,” lalu tanpa tanya lebih lanjut siapa yang memainkannya, kita langsung cari karya itu, misalnya di YouTube, dan kecewa lalu bilang: "ah,  enggak. Menurut saya itu karya biasa saja". Dalam kondisi seperti ini, karya bagus bisa tercoreng gara-gara performernya. Untuk kasus karya kontemporer, yang belum mapan dalam kanon musik, risikonya lebih mengkhawatirkan lagi. Ini kan masalah yang bisa digali Gigih lebih jauh. Catatan dengan judul Tacet (Hari ke-7) dan Rekaman Lagu Mbak Sandrayati Fay (Hari ke-8) tidak menarik minat saya secara pribadi. Bukan berarti itu catatan itu buruk, tapi ketertarikan saya bisa bangkit kalau saya menemukan sesuatu yang melebihi urusan “jadwal kesibukan”, sementara sesuatu itu tidak saya temukan di sana. Oke. Unsur guyub rukun bermusik dengan banyak kalangan bisa disebut memang. Tapi nampaknya saya terlalu berharap Gigih bersedia bicara filosofis tentang keguyub-rukunan itu. Misalnya, toh ia seharusnya bisa bilang bagaimana seandainya pemain  kontrabas tidak jadi hadir, efeknya kira-kira bagaimana. Artinya pembaca akan sangat diperkaya jika mereka mendapatkan sesuatu yang lebih dari sekedar catatan peristiwa. Bisa dikembangkan menjadi esai panjang. Ia cukup menambahkan satu paragraf berisi renungan pendek peristiwa kerjasama musikal yang tertuang di situ. Itu sudah jadi nilai plus. Sederhana saja. Misalnya: setelah rekaman selesai, saya membayangkan seperti apa kesannya jika kami bermain dalam ruangan yang gelap gulita. Beberapa catatan lain yang menurut saya menarik adalah: Internet dan Karya-karya Musik Baru #2 (Hari ke-11). Daftar referensi judul judul karya gamelan baru memperkaya wawasan pembaca; Tentang Siklus Bosan (Hari ke-13) juga bagus. Renungan tentang kekuatan konsentrasi dan nilai pentingnya; Takemitsu, Identitas, dan Musik Antar Bangsa (Hari ke-14) apik juga.  Uraian panjang yang sangat informatif tentang Takemitsu. Bagian itu bagus. Tapi catatan selanjutnya, Melihat Latihan Gamelan di Sanggar Ceraken, saya berharap bahwa di tengah ramai suara gamelan Gigih terkenang dengan musik Takemitsu yang biasa didengarnya dan merasakan efek tertentu. Mungkin sebenarnya ia merasakan itu, tapi tidak dituliskan. Bagaimana pun, uraian tentang efek ini akan memberi kebulatan ide bagi sebuah tulisan. Mendengar Kembali Takemitsu (Hari ke-15) oke juga. Tapi saya tak tahu apakah Gigih menganggap All in Twilight adalah karya puncak Takemitsu ataukah sekadar sangat berselera dengan itu. Bagiku, sukar ditentukan karya puncak Takemitsu. Banyak karya menduduki posisi puncak sekaligus. Suatu saat Gigih agaknya perlu menjelaskan tentang pilihannya atas All In Twilight. Memang kalau dibandingkan komposisi gitar Takemitsu lainnya itu paling hebat. Tapi kalau terhebat secara keseluruhan karya… saya tak menyimpulkan sejauh itu. Bagiku, pandangan Gigih tentang  All in Twilight terlalu general. “Setiap mendengarkan karya ini, saya merasa terbawa pada sebuah dimensi seperti mimpi” (Hal 84). Semua karya terbaik Takemitsu bagiku punya ciri seperti itu. Pada catatan Membuat komposisi untuk Sape, Flute, Cello dan Piano (Hari ke-16)  Gigih begitu terinspirasi dengan Takemitsu, sampai-sampai menggunakan judul yang pernah dipakai pula oleh Takemitsu, Between Tides. Beberapa tulisan menarik lainnya tentang pengalaman visual dan auditif misalnya tentang  Monumen Bajra Sandhi (Hari ke-20) dan Drama Tari Arja (Hari ke-21). Sebenarnya bisa lebih manis lagi seandainya Gigih bersedia menambahkan satu paragraf saja yang isinya adalah abstraksi pengalaman. Misalnya di akhir hlm 105 ditambahkan: emosi lebih kuat daya sentuhnya ketimbang ide filosofis yang meskipun banyak mengandung kebenaran namun diuraikan dengan bahasa rumit, dan seterusnya… Abstraksi itu tidak harus sepenuhnya benar, tapi fungsinya adalah merangsang pembaca untuk berpikir lebih lanjut. Mereka mungkin mendebat. Adanya perdebatan itu justru menarik. Banyak tulisan Gigih yang punya peluang seperti itu. Artinya, bahan yang sudah disusun sejak paragraf awal memungkinkan ia ke arah itu Ending tulisan Goa Gajah, Candi Gunung Kawi, Nekara Bulan Pejeng adalah ending tulisan yang paling menarik dalam buku ini: “Merasakan keheningan bersembahyang adalah bunyi yang indah di dalam sanubari. Jikalau kita bisa menghargai kesunyian, kita akan bisa menghargai suara, menghargai semesta.”  Sebagai komponis dan pengajar di ISI Yogyakarta Gigih punya rencana-rencana jangka panjang dan berbagai impian, namun, di hadapan segala unsur kehidupan di Bali yang menyentuh syaraf-syaraf indera dan pikirannya, Gigih justru menjadi rendah hati dengan segala rencana dan impian itu.   Data Buku:  Judul: Mendengar di Bali – Sebuah Buku Harian Bunyi Penulis: Gardika Gigih Pradipta   Cetakan: I, 2017 Ukuran: 14 x 21 cm Tebal: 178 halaman (Hard Cover) Penerbit: Art Music Today Harga: Rp. 120.000,- Buku ini adalah catatan harian komponis-pianis Gardika Gigih selama 31 hari tinggal di Bali (Juli – Agustus 2017). Setiap hari tanpa henti ia mencatatkan pengalaman kreatifnya, mulai dari mengunjungi sanggar, menonton pertunjukan gamelan, aktifitas rekaman musik, hingga impresi-impresi atas karya musik yang ia dengar dengan dilengkapi data historis yang informatif. Buku ini adalah buku Gardika Gigih yang kedua, setelah Merindukan Awajishima (2016), yang menceritakan proses kreatif bermusik selama di Jepang.  Pembelian: 0895341875712 (WA)   

KALSEL dan BATAM Merintis Jejaring Baru di October Meeting 2018 (Laporan Mitra Akademik)
12 Oct 2018 Redaksi 1.880 Views

KALSEL dan BATAM Merintis Jejaring Baru di October Meeting 2018 (Laporan Mitra Akademik)

Mulai penyelenggaraan di tahun 2017, October Meeting merintis jaringan baru dengan perahu navigasi yang disebut MITRA AKADEMIK. Mereka adalah para akademisi dari perguruan tinggi maupun perwakilan dari berbagai kota di Indonesia yang kami undang secara khusus untuk melengkapi dimensi jaringan. Mereka melakukan pembacaan atas October Meeting melalui perspektif masing-masing yang sangat beragam. Selain berjejaring, tujuan utamanya adalah melengkapi kazanah silang-pemikiran demi pengembangan potensi musik dan sumber daya di masing-masing domisili atau wilayah kerja Mitra Akademik. Untuk October Meeting kali ini yang berkesempatan hadir adalah Novyandi Saputra (Banjarbaru), Clemens Felix Setiyawan (Jakarta), Tanaka Manalu (Batam-Medan), dan Isaak Dachi (Batam). Novyandi Saputra menjelaskan pentingnya October Meeting ini sebagai perintisan jejaring baru yang menghubungkan Kalimantan Selatan dengan ekosistem di kota lain. Kalimantan Selatan, yang baru akan memulai pertemuan komposer pada November mendatang, merupakan gairah baru yang melengkapi pertumbuhan-pertumbuhan yang sudah sudah terjadi di kota lainnya. "Terus terang kami sangat memerlukan akses jaringan yang bisa terjadi seperti di October Meeting ini, terutama untuk membekali banyak hal, baik secara manajerial, konten acara, dan pe-meta-an sumber daya yang ada," ujarnya. Ia juga menulis secara padat dan ringkas dari hasil pembacaannya atas program OPEN LAB yang menjadi salah satu menu dari program October Meeting kali ini: "OPEN LAB menghadirkan ide melalui bunyi-bunyi yang mereka anggap mampu merepresentasikan apa yang mereka gagas.Pada presentasi ini saya dapat melihat bagaimana musik bukan lagi persoalan estetika-artistik semata namun musik sudah mampu melampaui apa yang dimaknai kebanyakan orang terhadapnya (post-music). Secara harfiah para komposer menantang dirinya sendiri untuk mengompos sebuah peristiwa yang terjadi disekitarnya menjadi sebuah peristiwa musikal. Kemungkinan-kemungkinan bunyi dihadirkan agar penonton dibawa pada persepsi baru terhadap bunyi. Saya kira inilah kemudian sebuah penanda musik era kontemporer yang juga diselubungi post-truth. Gagasan dan konsep platform yang membungkus bebunyian tersebut. Pada open lab ini yang juga menandai berakhirnya October meeting saya menarik sebuah kesimpulan bahwa reconnect bukan hanya persoalan jaringan dan ekosistem namun bagaimana juga akhirnya musik berkoneksi dengan hal-hal yg baru dan lintas media. Musik era baru adalah musik yg berada pada tataran konseptual yg bereaksi karena segala hal di sekitar kreatornya." Pada sisi lain, Tanaka Manalu, dosen di Universitas Universal Batam yang juga turut hadir selama lima hari acara, menganggap ruang October Meeting merupakan pemicu semangat bagi perintisan di wilayah kerja Tanaka, antara lain Batam dan Medan. "Saya sedang terus mencari cara, bagaimana Batam ikut menciptakan semangat seperti ini, dan khususnya di Medan, yang sangat bersejarah bagi karir saya, bisa bergairah kembali setelah ditinggalkan almarhum Ben Pasaribu," ujarnya (es/amt/foto: Jtenno Ryo).            

Ziarah ke Jantung Bartok
12 Aug 2019 Redaksi 3.120 Views

Ziarah ke Jantung Bartok

    Oleh: Gardika Gigih Dulu hanya membayangkan, sekarang jadi kenyataan.   Di hadapan jendela kamar, sambil memandangi lampu-lampu yang berkelap-kelip dari kejauhan di bukit Buda, saya mendengarkan “Magyar képek” atau “Hungarian Pictures” karya seorang komponis favorit saya dari Hungaria, Bartok Bela. Komposisi untuk orkestra ini selesai ditulis Bartok Bela pada tahun 1931. Awalnya, komposisi ini dibuat Bartok untuk instrumen piano dalam kurun perjalanannya ke berbagai wilayah di Hungaria dan Rumania untuk merekam, menranskrip dan meneliti lagu-lagu dan musik rakyat. “Magyar képek” terdiri dari lima bagian, bagian pertama “Este a székelyeknél” (“Evening in The Village) dibuka dengan melodi klarinet pentatonis yang begitu mengawang dan damai, diikuti dengan melodi flute yang lincah dan iringan pizzicato yang ringan pada instrumen strings. Bagian yang begitu manis dan indah ini saya dengarkan berulang-ulang, sembari melemparkan pandangan pada kerlap-kerlip lampu dari rumah-rumah dan sesekali lampu-lampu mobil yang melintasi jalanan membelah bukit Buda yang damai. Malam ini di Budapest, musik Bartok terasa begitu hidup dan menggetarkan. Lamunan saya terbang. Tidak jauh dari kamar saya[1], kurang dari tujuh kilometer ke arah Barat Laut, di sanalah rumah Bartok Bela, tepatnya di Jalan Csalán 29, 1025, Budapest. Kurang dari dua minggu lalu, pada hari minggu siang tanggal 28 Juli 2019 saya menyempatkan diri untuk mengunjunginya. Rumah yang menjadi kediaman Bartok Bela pada tahun 1932-1940 ini sejak tahun 1981 telah menjadi Bartók Béla Emlékház atau Bela Bartok Memorial House atas prakarsa dari putra Bartok. Kunjungan ini terasa seperti sebuah peziarahan, sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Perjalanan saya dimulai dengan naik villamos, tram nomor 61 dari Alsohegy Utca[2] ke arah Holvosegy Utca. Kemudian saya berhenti di Zuhatag sor, perhentian yang paling dekat dengan rumah Bartok Bela. Untuk menuju Bela Bartok Memorial House saya musti berjalan sejauh kurang lebih 600 meter menyusuri jalanan kecil dan gang-gang di sela-sela perumahan. Rumah-rumah penduduk banyak dihiasi dengan taman-taman kecil dan bunga-bunga. Suasana daerah ini begitu tenang dan asri. Jauh lebih tenang dibandingkan dengan pusat keramaian di tepian sungai Danube yang seringkali padat dengan wisatawan itu. Setelah beberapa saat berjalan, sampailah saya di sebuah persimpangan. Di seberang jalan, di situlah tampak Bela Bartok Memorial House. Setelah membunyikan bel dan mengutarakan tujuan kunjungan saya melalui mesin pesan suara, pintu pagar besi dengan sistem kuncian otomatis itu dibukakan oleh petugas yang ada di dalam dan saya dipersilakan masuk. Saya musti mengatakan betapa bahagia dan mengharukan ketika menjejakkan kaki menyusuri halaman rumah Bartok Bela, komponis yang banyak menginspirasi saya ini. Sewaktu saya belajar mengenai penelitian Bartok tentang musik dan lagu-lagu rakyat, saya hanya bisa membayang-bayangkannya di rumah kontrakan saya di Yogyakarta, nun jauh di Indonesia, ribuan kilometer dari sini. Melamun sambil memandangi lembar demi lembar buku-buku referensi itu. Kini, saya berkesempatan bertamu ke rumah Bartok. Setelah membayar tiket seharga 1400 forint (kira-kira hampir Rp. 70.000,-), peziarahan saya dimulai. Seorang staf memandu kami dalam kunjungan ini. Saat itu saya bersama satu keluarga yang datang dari Belanda, dan ada beberapa pengunjung lokal sebelum kedatangan kami. Staf tersebut menjelaskan bahwa rumah ini terdiri dari tiga lantai dengan fungsinya masing-masing dan kami akan dipandu sepenuhnya selama beberapa waktu ke depan.  Kami menyusuri tangga menuju lantai dua. Lantai dua ini adalah sebuah tempat konser mini yang bisa menampung beberapa puluh audiens. Di dinding sepanjang ruangan ini, terpajang foto-foto Bartok, baik saat ia melakukan perjalanan penelitian, saat ia bersama keluarga dan anaknya, saat ia bermusik, dan masih banyak lagi. Beberapa foto ini, yang juga merupakan foto-foto mengenai Bartok yang amat terkenal dan sering muncul di berbagai literatur, diambil di rumah ini. Kenyataan ini membuat saya merinding. Oh ya, sebelumnya saya minta maaf karena tidak bisa menyampaikan foto-foto di dalam ruangan, karena pengunjung hanya diperbolehkan memotret di luar ruangan. Kemudian, kami melangkah menuju ke lantai tiga, tempat dimana berbagai koleksi etnografi Bartok selama penelitian etnomusikologinya dipajang rapih. Mulai dari furnitur tradisional, dari almari, kursi, meja, kemudian beberapa instrumen tradisi dari berbagai daerah di Hungaria dan Rumania (saya lupa mencatat namanya, mohon maaf), hingga beberapa koleksi tanaman dan serangga yang diawetkan, dan di sebelahnya terdapat partitur salah satu mahakarya Bartok, “Mikrokosmos”. Dari koleksi-koleksi inilah saya bisa membayangkan dan merasakan betapa Bartok sangat mencurahkan energi dan rasa cintanya untuk meneliti lagu-lagu dan musik rakyat, sebuah identitas yang tak pernah bisa dipisahkan dari nama besarnya sebagai seorang komponis. Di ruangan ini pula terpajang mantel dan kasut Bartok yang merupakan pakaian favoritnya saat meneliti menyusuri desa-desa, juga sebuah bekas puntung rokok yang ditemukan dalam grand piano di ruang kerjanya. Ruang kerja Bartok juga berada di lantai tiga ini. Di ruang kerjanya terdapat sebuah grand piano Bossendorfer dan di meja kerjanya terdapat sebuah mesin ketik, sebuah alat perekam dan gramaphone dan sebuah headphone. Kata pemandu, di masa itu peralatan audio ini sudah begitu canggih. Saya hampir menitikkan air mata saat berdiri di hadapan ruang kerja Bartok. Sebuah pengalaman yang begitu berharga, sebab di sinilah Bartok biasanya menranskrip hasil-hasil rekaman nyanyian rakyat yang ditelitinya di berbagai daerah. Di sini pula, Bartok banyak menulis karya-karyanya. Selama kurun tahun 1932-1940 di rumah ini, Bartok menulis beberapa mahakaryanya, seperti “Mikrokosmos”, sebuah seri karya piano yang didedikasikan untuk putranya Peter yang mulai belajar piano, kemudian “Music for Celesta, String and Percussion”, “String Quartet No. 5”, “String Quartet No. 6”, “Hungarian Folk Songs”, “Hungarian Dances”. Setelah merasa cukup memandangi berbagai artefak di lantai tiga ini, kami melangkah turun. Sebelum perjalanan berakhir, pemandu menunjukkan kepada kami tiga buah kain berwarna merah, putih dan hijau, yang digantung memanjang dari atap hingga lantai satu, tepat berada di tengah-tengah lorong tangga itu. Merah, putih, hijau, warna bendera Hungaria. Pada kain inilah tercetak sketsa partitur karya terakhir Bartók, “Konserto Piano Nomor 3” yang ia dedikasikan untuk istrinya, Ditta Pásztory-Bartók. Rencananya karya ini akan menjadi hadiah kejutan untuk ulang tahun Ditta yang jatuh pada tanggal 31 Oktober. Namun karena kondisi kesehatan yang kian menurun akibat penyakit leukimia yang dideritanya, Bartok tidak mampu menyelesaikan karya ini. Di lembar terakhir, ia menuliskan “vége”, dalam bahasa Hungaria artinya selesai. Karya ini ditulis Bartok bukan di Hungaria, melainkan di New York, Amerika Serikat pada 1945. Ya, sayang sekali, akibat gejolak politik dan situasi keamanan yang semakin tidak pasti akibat Perang Dunia II, Bartok Bela mesti meninggalkan negeri yang begitu dicintainya ini menuju Amerika Serikat pada 1940. Keyakinan Bartok akan politik anti-fasisme telah membuat posisinya dan keluarganya kian tidak aman. Ia kemudian tidak pernah dapat kembali lagi ke negeri yang amat dicintainya hingga hari kematiannya pada 26 September 1945, di New York. Rumah ini terus menjadi saksi akan ikatan hati dan jiwa Bartok dengan negerinya. Malam ini, di hadapan bukit Buda ini, tidak jauh dari kediaman di mana Bartok Bela pernah menghasilkan berbagai mahakaryanya, saya kian tenggelam dalam alunan “Magyar képek”. Musik Bartok Bela yang banyak diilhami oleh nyanyian-nyanyian dan musik rakyat akan terus hidup dalam denyut nadi negeri ini. Terus hidup bagai aliran sungai Duna[3] yang indah.    Kamis, 9 Agustus 2019. Menjelang tengah malam di Budapest, Hungaria. Foto2: Gardika Gigih/Editor: Erie Setiawan [1]Saya tinggal di asrama Balassi Intezet, Budapest [2] Dalam bahasa Hungaria, Utca berarti jalan [3]Panggilan masyarakat Hungarian untuk sungai Danube