Semua Artikel

Eksplorasi pemikiran, kritik, dan berita terbaru seputar dunia seni dan musik hari ini.

MUSIK-ROH-MANTIQ (Pengantar Mengenali Musik dalam Dimensi Kasat dan Misterius)
08 Jun 2020 Redaksi 3.602 Views

MUSIK-ROH-MANTIQ (Pengantar Mengenali Musik dalam Dimensi Kasat dan Misterius)

Oleh: Reza Zulianda   Manusia mampu memaknai musik melalui dua dimensi, dzahir dan bathin. Dzahir adalah yang serba fisik dan tampak jelas, misalnya mendengar lalu otomatis bergoyang. Bathin adalah yang serba metafisik dan abstrak (mendengar lalu menangis). Dalam bentangan dua kutub yang selalu tarik-menarik itu, musik akan menemui maknanya bagi kehidupan manusia. Jika kita lihat bentuk-bentuk aktivitas manusia dalam kebudayaan tradisional, maka musik sering muncul sebagai jembatan untuk menuju gerbang-gerbang spiritual. Dalam ritual adat maupun keagamaan misalnya, seringkali kita menemui musik turut dilibatkan di sana, baik secara utuh maupun samar-samar. Sebagai contoh di Kepulauan Riau ada sebuah “pusaka” terkenal bernama Gurindam 12. Pusaka dalam bentuk sastra Melayu lama hasil karya Raja Ali Haji ini terdiri dari 12 pasal. Setiap pasal memiliki makna sesuai dengan kadar makrifah tertentu, dimulai pada asas-asas yang fundamental (dzahir) hingga berangsur ke sesuatu yang ghaib-tersembunyi (bathin). Teks dalam gurindam, apabila dilantukan dengan kebiasaannya, dapat dicerna sebagai sesuatu yang dzahir, dan bisa dimengerti dengan logika (mantiq), walaupun pada tiap-tiap letupan bunyi-kata yang diucapkan serta gerak melodinya memiliki daya pikat yang sebenarnya sangat bersifat abstrak. Fenomena ini pula yang terjadi pada beberapa kelompok sufi, yang percaya pada ajaran “sauti sarmad”, yaitu adanya suara di tataran abstrak. Hanya mereka yang terpilih (Nabi), yang  dapat mendengarnya. Pernahkah kita menangis saat mendengar musik? Atau tersinggung lalu risih dan marah jika mendengar musik? Terlepas dari musik yang kita dengar menggunakan lirik atau tidak, atau apapun pengalaman kita ketika mendengar musik, itu petanda bahwa indra pendengaran kita berfungsi dengan baik dan perlu disyukuri.   Indikator dari hal tersebut adalah, kita sadar bahwa telinga telah menjadi gerbang utama yang menerima bunyi yang telah lebih dulu merambat di udara, lalu menggetarkan gendang telinga, hingga tersebar ke seluruh bagian tubuh, baik dzahir maupun bathin. Otak adalah contoh bagian tubuh yang dzahir, yang dapat bergetar oleh fenomena akustik, di sana juga bersemayam sesuatu yang bathin (akal), yang kemudian dapat mengelola hasil getaran tersebut untuk membentuk makna sesuai pengalaman setiap manusia.   Hati juga memiliki dua sisi. Contohnya terdapat fakta bahwa ada penyakit kanker hati dan “penyakit” iri hati. Artinya terdapat hati secara fisik yang dapat menawar racun, maupun hati yang bathin, di dalamnya bersemayam nafsu maupun perasaan. Kembali kepada relasi musik dan spiritual. Aktivitas sholawatan bagi pemeluk agama Islam juga menjadi contoh yang relevan. Sholawatan adalah ungkapan rindu dan kecintaan kepada Nabi Besar Rasulullah SAW, caranya adalah dengan berkumpul melantunkan pujian. Ada keindahan dari perpaduan syair dan rebana maupun tarbangan. Semua itu mampu membikin hati gembira hingga meneteskan air mata. Ada beberapa pertanyaan: Bagaimana mungkin musik mampu membuat hati orang gembira sedemikian rupa? Bukankah musik itu hanya bersandarkan suara maupun bunyi, yang di dalam fisika hanyalah berupa gelombang atau hasil dari getaran? Bagaimana mungkin orang-orang menangisi sesuatu yang tak tampak di pelupuk matanya? Pertanyaan itu kemungkinan besar tak akan mampu dijelaskan dengan akal utuh, sebab akal itu sendiri bersemayam di bawah sesuatu yang ghaib lainnya, yaitu Ruh. Ruh sendiri merupakan penggerak bathin manusia. Orang-orang bijak sering berkata kurang lebih demikian: “Bahwa perasaan hatimu tidak akan pernah bisa berbohong, sementara lidahmu bisa. Setiap sesuatu yang fitrah juga akan mampu menggetarkan kefitrahan yang lain (simpatetik).” Musik dalam dimensi spiritual tidak hanya hadir sebagai sebuah praktik yang lahiriah, namun lebih daripada itu, menyentuh yang bathin, yang ghaib. Musik mampu memberikan warna kepada perasaan dan emosi seseorang ketika mendengarnya. Itu adalah kebenaran yang tidak bisa kita tolak, meskipun rasa sangat bersifat subjektif. [] *Penulis adalah musikus dan komponis, tinggal di Pontianak. Musik untuk didengarkan:  https://www.youtube.com/watch?v=eJwSZIajEvI&feature=share&fbclid=IwAR0OFsdIa0Up5HzjgERlTrZEytfBWkXjRwn9tdWOm7oVn8FK6t3-tDLFLEU Foto: Tangkapan layar dari video Dhafer Youssef Editor: Erie Setiawan     

SELAMAT JALAN, KOMPONIS PAUL GOETAMA SOEGIJO
08 Jan 2019 Redaksi 7.417 Views

SELAMAT JALAN, KOMPONIS PAUL GOETAMA SOEGIJO

  Oleh: Septian Dwi Cahyo Pada pagi hari tanggal 8 Januari 2019 penulis menerima kabar dari seorang pianis kenamaan Indonesia Aisha Sudiarso Pletscher melalui Whatsapp. Kabar tersebut tentunya berhubungan dengan musik, namun bukan kabar tentang konser, lokakarya dan lain sebagainya, tetapi kabar duka atas kepulangan Paul Gutama Soegijo salah satu komponis Indonesia generasi 60an yang menghabiskan masa tuanya di Jerman. Kepergiannya menambah deretan kehilangan atas tokoh-tokoh musik hebat dari Indonesia setelah sebelumnya Indonesia ditinggal pergi oleh Slamet Abdul Sjukur dan Suka Hardjana. Mungkin tidak banyak yang tau siapa itu Paul Gutama Soegijo, khususnya generasi milenial dikarenakan satu dan lain hal selain selama akhir dari hidupnya beliau menetap di Jerman dan jarang bersentuhan dengan generasi muda. Paul Gutama Soegijo lahir di Yogyakarta pada tahun 1934. Dia memperoleh diploma untuk violin dan musik teori dari Amserdam Conservatory, serta belajar komposisi dengan Boris Blacher di Hochschule für Musik in Berlin. Dan membentuk grup gamelan yang diberi nama Banjargruppe sekitar tahun 1973 di Jerman. Dikarenakan pada waktu itu sulit untuk mengumpulkan orang untuk memainkan musik yang masih “asing” di telinga mereka (informasi ini penulis dapat dari perbincangan penulis dengan muridnya yang bernama Thomas Zunk melalui surat elektronik, Thomas Zunk juga tercatat sebagai salah satu anggota dari Banjargruppe) lalu Gutama memasang iklan pada sebuah majalah budaya lokal untuk menarik minat orang-orang untuk bergabung. Pada fase bersama Banjargruppe ini juga Paul Gutama mulai menawarkan konsep karya yang iya beri nama “Musik der neuen Ursprünglichkeit ( dalam bahasa Jerman)”, ”New Source Music ( dalam bahasa Inggris)” atau dalam bahasa Indonesia dia menyebutnya sebagai Musik Leluhur Baru. Sebagai komponis dari generasi milenial, penulis mempunyai pengalaman yang unik yang berhubungan dengan karya-karya dari Paul Gutama Soegijo. Pada tahun 2018 yang lalu penulis sempat mendapatkan hibah untuk mengikuti studi singkat di University of Music and Performing Arts Graz, di bawah bimbingan Prof. Beat Furrer. Selama studi di sana penulis juga mengikuti kelas dari Prof. Georg Friedrich Haas, dan pada satu hari terjadi perbincangan penulis dengan Prof. Georg Friedrich Haas dimana dia ingin sekali mendengarkan karya-karya musik dari komponis “kontemporer” Indonesia dan dia menunjuk penulis untuk mempresentasikan tentang itu. Dan dari sinilah petualangan menjelajahi karya-karya dari komponis Indonesia dulu dan kini dimulai termasuk mencari tahu karya-karya dari Paul Gutama Soegijo. Saat itu penulis hanya mempunyai daftar-daftar nama para komponis Indonesia dari buku-buku-buku yang membahas tentang para komponis Indonesia seperi dari buku Dieter Mack yang berjudul “Zeitgenössische Musik In Indonesien, Zwischen lokalen Traditionen, nationalen Verpflichtungen und internationalen Einflussen”. Dari situ penulis menemukan nama Paul Gutama Soegijo laggi yang sebelumnya penulis hanya tau dari buku-buku Suka Hardjana. Singat cerita penulis mulai berburu dokumentasi audio dari karya Paul Gutama Soegijo, namun penulis hanya bisa menemukan satu karya di YouTube yang berjudul “Klavierstudie” untuk piano tunggal, sungguh sulit sekali mencari dokumentasi karya-karya beliau. Namun, perburuan terus berlanjut yang mempertemukan penulis dengan piringan hitam dari tahun 1972 di perpustakaan University of Music and Performing Arts Graz yang berisikan karyanya yang berjudul “Landschaften” untuk ansambel campuran dan koor. Kedua karya ini dekat dengan model kekaryaan komponis-komponis Eropa pada waktu itu. Selain dari itu, dari buku Dieter Mack penulis menemukan konsep New Music Source atau Musik Leluhur Baru yang Paul Gutama Soegijo tawarkan (pada saat itu penulis belum mendengar contoh karyanya dari fase ini). Pada bukunya Dieter mengkutip pernyataan Paul Gutama Soegijo yang menjelaskan tentang konsepnya ini, berikut adalah kutipan tersebut: “I am practicing deconstruction. A further step in the innovative process is made when structural concept are freed from their ethnographic context and taken as abstract, emerge as objects of compositional speculation. From an ethnographic point of view, Imbalan is the sign of a new section in a Gending, from instrumental and compositional point of view Imbalan is a practical method of achieving fast figuration on heavy percussion instrumens. To the gamelan instruments I later added percussion from other countries and culture. Here also, before using them innovatively in a composition, first of all I made a through investigation of indigenious structure and instrumental techniques. For me, this is imperative. The reason that I want my innovation, always through the use of inner resources and the process of self-renewal, to burst forth from the innermost heart of autochthonous. This is in short New Source Music.“. Beberapa bulan kemudian (setelah presentasi tentang musik “kontemporer” Indonesia telah penulis lakukan), penulis bertemu dengan Thomas Zunk salah satu murid Gutama yang juga pernah bergabung bersama Banjargruppe di Facebook. Dari sini terjadi perbincangan panjang yang pada akhirnya kami saling bertukar koleksi karya dari Paul Gutama Soegijo. Pada saat itu penulis mengirimkan karya yang penulis temukan di Graz yang berjudul “Landschaften” dan Thomas Zunk mengirim 2 karya Gutama “Kotekan I” dan “Bidadari Tampil” dari periode bersama Banjargruppe dan sekaligus dari periode Musik Leluhur Baru, dari kedua periode (periode sebelum Musik Leluhur Baru yang diwakili oleh karya “Landschaften” dan “Klavierstudie” serta karya-karya dari periode Musik Leluhur Baru “Kotekan I” dan “Bidadari Tampil”) ini saja penulis menemukan bahwa Gutama pernah mengalami pergeseran gaya kekaryaan!, sungguh menarik. Selain itu Thomas Zunk juga memberikan tulisan singkat mengenai perjalanan musik Paul Gutama Soegijo, informasi tersebut meliputi tentang sejarah bagaimana Banjargruppe terbentuk, pergaulan Gutama dengan Gruppe Neue Musik Berlin, dan lain sebagainya. Mungkin banyak orang berkata apa pentingnya memainkan karya-karya mereka apalagi sampai menjelajahi dan mendengarkan karya-karya mereka juga mempelajarinya?. Ya mungkin tidak penting, tapi dari pengalaman diatas penulis mendapatkan banyak hal seperti mengetahui sejarah panjang komposisi musik di Indonesia dan akhirnya bertemu dengan karya-karya dari Paul Gutama Soegijo. Dari situ penulis juga pada akhirnya mengenali diri melalui kesejarahan panjang yang telah terjadi pada dunia komposisi Indonesia. Hal ini menjadi media refleksi dimana posisi penulis berada dan berasal dan akan kemana selanjutnya?. Selamat jalan pak Paul Gutama Soegijo, meskipun penulis belum pernah bertemu langsung dengannya, tapi karya-karya dan pemikirannya telah membuka sedikit gerbang untuk generasi selanjutnya. Dan tulisan ini saya persembahkan sebagai penghormatan terakhir untuk beliau. Citayam, 8 Januari 2019. SEPTIAN DWI CAHYO foto: © Anne Soegijo (diakses dari: http://www.jakarta-berlin.de/en/a_bios/kbio.php?p=kb_banjar) Link 1 karya untuk didengarkan: https://www.youtube.com/watch?v=FKoL0xrZmj4

SIM, SURAT IZIN MENGOVER (LAGU), PERLUKAH?
07 Apr 2022 Redaksi 1.704 Views

SIM, SURAT IZIN MENGOVER (LAGU), PERLUKAH?

  Oleh: Panakajaya Hidayatullah Artikel pendek ini mencoba mengurai sekaligus memahami perasaan musisi hajatan atas pernyataan musikus Ahmad Dhani terkait perizinan dan royalti atas karya-karyanya. Lumayan pelik fakta ini, tapi asik juga kalau kita iseng nguda rasa (curhat) terkait kegelisahan musisi hajatan. Guna mengamankan musisi liar dan ngeyelan macam teman-teman yang saya ceritakan ini, mungkin negara perlu mendirikan Satuan Korps Polisi Musik yang siap menindak dan menilang para musisi hajatan yang kedapatan membawa lagu tanpa SIM (Surat Izin Mengover). Saya akan membuka tulisan ini dengan memberikan ilustrasi percakapan seorang penyumbang lagu dengan perwakilan dari grup band pengiring di sebuah pernikahan. Pak Rudi: “Mas, tolong iringi saya nyanyi lagu ‘Kangen’ Dewa 19, ya…” Pemain Band: “Waduh saya belum punya izinnya pak, lagu lain aja, ya, pak, saya takut kena denda…” Pak Rudi: “Kalau gitu lagu nasional saja gimana? Ya kan gak perlu izin ke komposernya, lha wong di sekolah aja diajari…” Pemain Band: “Waduh jangan pak, ini kan bukan Kodim, saya bisa dikomplain juragan” Pak Rudi: “Lha gimana dong, mas? Saya kan pengen tampil menyumbang. Masa nyumbang aja ruwet…” Pemain Band: “Gimana kalau solawat badar saja pak? Kalau itu nabi gak akan komplain. Saya sudah kirimi fateha semalam”   Walhasil, merekapun bernyanyi solawat badar, sembari mengiringi para undangan melahap sate kambing dan gule sapi.*** Gambaran ilustrasi di atas memang tampaknya konyol dan mungkin imajinatif bagi anda-anda yang hidup di kota-kota besar dan daerah urban, tapi sebenarnya ia benar-benar hadir dalam mental dan pikiran musisi Madura di kampung halaman saya di Situbondo. Kemarin, tak lama setelah video Ahmad Dhani ramai di Facebook, teman saya yang berprofesi sebagai tukang elekton dangdut dan spesialis hajatan di Situbondo tiba-tiba menelpon. Sebut saja namanya Cak Arifin. Tampaknya dia ingin bertanya sesuatu hal penting dan genting kepada saya. Kira-kira begini percakapannya. “Bro, membawakan lagu orang di parlo (hajatan orang Madura) itu kan berarti gak perlu minta izin dulu, kan?”, dia bertanya penasaran. Tampaknya dia terpancing dengan pernyataan musikus kepala pelontos itu. Lalu saya jawab: “Tergantung lah, bro, kalau pertunjukan itu komersil dan artinya ada perputaran uang yang besar di sana, ya, berarti perlu izin”, jawab saya sambil senyum-senyum culas. “Wah gawat kalau begitu, soalnya kalau saya pentas hajatan kan banyak yang nyawer bro, orang yang nyumbang lagu itu pasti nyawer, belum lagi kalau permintaan dari ibu-ibu sinoman di dapur dibawakan, bisa panen saweran, ini berarti juga komersil ya?”, dia bertanya lagi dengan perasaan tidak nyaman. “Waduh, kayaknya iya bro, kamu perlu izin dulu kalau begitu sama yang punya lagu”, saya jawab sambil memancing emosi. “Misal saya membawa lagu yang penciptanya sudah meninggal gimana? Berarti gak perlu izin-izinan lagi kan?”, dia bertanya lagi ngeyel. “Kalau meninggalnya 100 tahun boleh dibawain, tapi kalau masih belum, berarti kamu harus izin pada keluarganya”, saya kembali memancing emosi. “Waduh mana ada lagu dangdut setua itu? Rhoma Irama yang mbahnya dangdut aja belum meninggal kok, eh tapi misal gak ketahuan kan berarti gak papa ya?”, dia kembali ngeyel. “Di jaman sekarang mana bisa kamu ngumpet?, lha wong hajatan itu pasti direkam, masuk youtube dan tersebar, kalau ketahuan empunya lagu, bisa dituntut kamu”, saya kembali membalas ngeyel. Hehe… “Lagian ngapain, ya, para artis-artis kaya itu ngotot-ngotot begitu, tingkahnya sudah seperti pak kades yang sok jual mahal, apa-apa kudu izin, minta tanda-tangan, ujung-ujungnya uang kan? Padahal sudah untung lagunya dipromosikan, harusnya dia yang berhutang budi pada musisi”, dia mulai tidak puas dengan jawaban saya. “Lha makanya kamu juga buat lagu dong, biar bisa seperti mereka!”, saya juga mulai emosi. “Lho, saya juga sudah buat lagu, bro. Tapi masalahnya kalau saya bawa lagu sendiri, gak ada yang mau nanggap”, dia menjawab dengan nada yang melembut pesimis. Mendengar jawaban dramatis itu, saya terdiam sejenak, menghela napas panjang sembari membayangkan bagaimana kecamuk perasaan ketakutan dan pesimis menguasai kepalanya. Mungkin beban yang mengendap di benak kepalanya tak sesederhana seperti apa yang saya bayangkan. Mungkin saja dalam pertanyaan polosnya tersembunyi gambaran anak perempuan yang merengek minta sepatu sekolah. Mungkin juga ada harapan ibu tua renta yang menghabiskan waktunya dengan berbaring seharian di ranjang reyot. Entahlah. Dalam pikirannya memang tak pernah terlintas soal royalti besar yang sanggup menyejahterakan. Di Situbondo, pencipta lagu dangdut Madura terbiasa menjual lagu dengan sistem jual lepas, sama seperti menjual sayur dan tempe. Bayar di awal, selebihnya tak ada royalti-royaltian. Anda perlu tahu bahwa profesi musisi hajatan dangdut di Situbondo itu sungguh pekerjaan yang paling mengharukan. Mereka bermain dari jam tujuh pagi tet, hingga pukul sembilan malam tet. Jam kerjanya 14 jam, dengan upah tiap musikus sekitar 50-150 ribu tergantung jumlah sawerannya. Anda berminat? Saya bisa mencarikan job kalau mau. Dalam satu kali hajatan mereka umumnya membawa 30-40 judul lagu dangdut. Jadi, jika mereka harus meminta izin dan membayar kepada pencipta lagu seperti yang mereka bayangkan, itu artinya mereka sedang ingin mati syahid di jalan kemuliaan musik. Sungguh mulia sekali. *** Ya, saya tentu paham bahwa regulasi itu tak akan berlaku untuk musisi kelas bawah seperti teman saya di kampung, saya tentu tahu itu. Tapi, mendengar kecemasan mereka, saya jadi ingin membayangkan bagaimana rasanya menjadi mereka. Saya jadi benar-benar berimajinasi bagaimana jika regulasi semacam ini benar-benar diterapkan sampai level bawah.   *** Guna mengamankan musisi liar dan ngeyelan macam teman-teman saya, mungkin negara perlu mendirikan Satuan Korps Polisi Musik yang siap menindak dan menilang para musisi hajatan yang kedapatan membawa lagu tanpa SIM (Surat Izin Mengover). Di jalanan, kita akan mendapati pemandangan menarik melihat musisi berlarian tunggang langgang sambil menggotong gitar, kendang, speaker dan kabel-kabel karena berkejaran dengan polisi musik akibat kedapatan terciduk tak memiliki SIM. Lalu, akan muncul profesi baru seperti calo SIM yang sebagian besar dijalankan oleh orang dalam pemerintahan. Mereka ini yang memfasilitasi musisi berkompetensi minim, yang tak punya daya saing, namun punya banyak uang dan relasi untuk menyogok aparat. Sudah dipastikan, negara juga akan membutuhkan banyak penjara musik untuk mendisiplinkan para musisi hajatan yang tak mampu membayar uang denda dengan jumlah ratusan juta. Karena jumlah mereka ribuan orang, bahkan semakin tahun semakin membengkak populasinya. Celakalah, bagi musisi macam teman saya, pasti dia akan terbiasa dengan aktivtitas wajib lapor setiap minggu. Dia pasti bosan dengan hukuman menguras bak mandi dan menyedot WC kantor polisi setiap pagi. Selain itu, negara juga perlu membentuk Satgas Pol PP (Pemberantasan Penjiplakan) untuk memberantas musisi yang berusaha memodifikasi lirik atau notasi musik demi mengelabuhi izin musik. Satgas ini juga bisa dimanfaatkan untuk melakukan patroli blusukan dan pemantauan ke hajatan-hajatan kampung. Mereka siap menggrebek musisi hajatan yang tetep ngeyel bermain musik tanpa izin seperti teman saya tadi. Akhirnya, jika usaha pendisiplinan militeristik tak sanggup memberantas, maka negara akan mengerahkan peran para kiyai musik, ustadz musik dan para penceramah musik yang siap memperbaiki akhlak-akhlak musisi hajatan yang bengal ini. Para musisi hajatan mungkin bisa berkelit membawa solawat nabi (seperti ilustrasi awal) di hajatan supaya lolos dari jerat para polisi musik.   Tapi, siapa yang bisa menjamin jika nanti di akhirat para musisi hajatan ini justru dituntut oleh anak-cucu nabi sekian generasi? Apa gak tambah ribet? Hahaha…  

UNDANGAN MENULIS MUSIK UNTUK CELLO DAN PIANO
05 Apr 2020 Redaksi 2.623 Views

UNDANGAN MENULIS MUSIK UNTUK CELLO DAN PIANO

  Dear komponis, Di waktu seperti ini seni berbisik lebih keras dibanding pidato politisi. Portal Musik menyerukan panggilan untuk karya baru untuk cello dan piano. Karya yang kami terima akan kami persembahkan dan direkam di sebuah konser yang akan kami selenggarakan ketika pandemi ini berakhir. Batas dan ketentuan: - pengiriman karya dalam bentuk pdf ke portalmusik17@gmail.com - tidak dipungut biaya - tidak ada batas umur/kewarganegaraan - hanya mengirim satu buah karya - durasi karya tidak melebihi 2 menit - batas akhir pengiriman: 30 Mei 2020 Hormat kami untuk para kreator dan komponis.   Selamat berkarya, Portal Musik (Alfian Emir Adytia & Kanako Abe)

SUPPRESSED FANTASIA: ANTARA KEBEBASAN DAN KETERIKATAN
05 Jan 2024 Redaksi 958 Views

SUPPRESSED FANTASIA: ANTARA KEBEBASAN DAN KETERIKATAN

  Artikel ketiga ini membahas karya Rangga Purnama Aji "Suppressed Fantasia". Ditulis oleh Maria Maya Aristya. Selamat menyimak! #SERIARTIKELOMCMM2023   Bulan Oktober 2023, telah berlangsung sebuah pertunjukan musik spasialisasi yang diselenggarakan oleh October Meeting di salah satu ruang di Tempuran Space, Yogyakarta. Pertunjukan bertajuk OMCMM 2023: Spatial tersebut menggagas eksperimentasi dalam penyajian spasialisasi musik dengan format reproduksi audio multikanal. Sejumlah speaker diletakkan secara strategis mengelilingi ruangan dan pengoperasiannya menggunakan perangkat lunak Ircam Panoramix yang dihubungkan ke sistem pengeras suara. Format proyeksi ini dipilih untuk menciptakan pengalaman dengar audiens melebihi dari audio stereo konvensional. Pertunjukan ini menampilkan 5 penampil yang terbagi dalam beberapa sesi dan berlangsung selama 3 hari. Rangga Purnama Aji atau akrab disapa sebagai Rangga, adalah artis yang tampil sekaligus menutup sesi pertunjukan hari kedua. Ia membawakan karya  berjudul Supressed Fantasia dengan menggunakan perangkat lunak live coding bernama TidalCycles. Berangkat dari gagasan bebas dan terikat, karya ini mengaplikasikan bentuk komposisi musik Fantasia[1] yang terdiri dari 4 movement, yaitu: I) Subjugation, II) Shifting, III) Suspension, dan IV) Distraction. Berdasarkan penamaan pada tiap movement, karya ini adalah sebagai interpretasi karaktersitik 4 kata pada bagian-bagian karya yang dimainkan. Fungsi penamaan ini untuk menentukan bagaimana tendesi sifat dari nama yang dipakai dalam movement tersebut sebagai gagasan dari komposisi musik yang dibangun. Karya ini terdiri dari 8 track rekaman audio mono yang secara menyeluruh diproyeksikan ke 3 ruangan: ruang lantai bawah, ruang lantai atas, dan luar ruangan dengan speaker yang digantungkan di beberapa pohon. Secara teknis, 1 track rekaman audio dengan format mono itu kemudian dijadikan 1 kanal dan dimasukkan ke  dalam program Panoramix.  Delapan kanal itu  menjadi 8 objek bunyi, yang bisa disesuai jarak bunyinya dan diproyeksikan secara spasial oleh Rangga. Selain berkeliling menikmati hasil jalinan bebunyian yang dimainkan, saya menyempatkan diri untuk mengamati apa yang dilakukan Rangga. Keterikatan yang disampaikan rangga terwakili dari bagaimana ia harus membagi fokus yang merespons tempat itu dengan proses realtime (live) coding music dan realtime audio processing. Live coding itu sendiri adalah kegiatan yang rumit. Live coding adalah penciptaan karya seni secara langsung dengan melibatkan aktivitas seseorang untuk menyusun deretan kode dan memanipulasi bagian-bagian dari suatu program saat program tersebut dijalankan. Pada pertunjukannya, aktivitas itu akan terlihat dari para pemain (biasa disebut live coder) yang mengendalikan sebuah sistem di perangkat lunak dengan menggunakan bahasa pemrograman untuk membangun dan menyajikan musik dalam waktu nyata. Perlu diketahui bahwa kesalahan dalam aktivitas live coding seperti pada penulisan karakter atau menyusun sintaksis, akan menimbulkan konsekuensi dalam pertunjukannya. Oleh sebab itu pemain perlu memahami logika dasar penyusunan sintaksis serta ketelitian. Proses aktivitas coding ini tentu sudah cukup menuntut konsentrasi tinggi pemainnya, terlebih Rangga secara simultan harus memikirkan dan beralih di antara 2 perangkat lunak yang dikontrol secara bergantian.   Suppressed Fantasia menawarkan pendengar untuk mendalami peristiwa yang memiliki karakteristik-karakteristik bunyi yang unik. Dimulai dari bagian pertama yang sukses menyita perhatian saya, bagian ini diisi dengan 2 bunyi yang kontras; satu bunyi mendesing –  yang terdengar seperti sumber yang berasal dari jarak yang agak jauh. Sementara yang kedua, terasa padat dengan bunyi yang terdengar seperti bunyi klakson, bulat dan panjang (ini hanyalah impresi awal saya, karena sulit untuk mengenali ragam material bunyi yang telah dimanipulasi kian rupa). Proyeksi dari kedua rekaman audio dengan warna bunyi yang bertolak belakang di bagian awal ini membangkitkan kesan yang kuat dan provokatif. Pengaturan jarak dan lingkungan ruang pertunjukan yang dilakukan Rangga meningkatkan kesan yang saya alami di awal. Ditambah pula dengan persepsi saya mencocok-cocokkan suasana tempat, waktu, dan apa yang saya imajinasikan saat saya mengelilingi bagian dalam dan luar ruangan. Dari apa yang saya dengar di awal, tercipta atmosfir seperti saat berada di pelabuhan, atau mungkin berada di suatu tempat yang memancarkan nuansa gelap. Namun musik yang diwujudkan oleh Rangga sungguhlah merdeka dari narasi kontekstual yang sengaja saya bangun di dalam kepala. Meski makna Fantasia itu bersifat bebas dan imajinatif, saya berupaya agar rangkaian karya Rangga terlepas dari bunyi “subjektif” yang membatasi pengalaman dengar saya. Dalam spasialisasi bunyi, peletakan speaker dapat dimanfaatkan untuk memberikan efek dramatis atau bunyi yang menggemparkan dari berbagai arah, namun pergerakan tiap movement dalam karya Rangga terasa halus dan mengalir. Bisa dibilang, tidak ada bunyi-bunyi keras yang hadir tiba-tiba dan sengaja membuat saya terkejut yang datang dari satu sisi speaker tertentu. Sebaliknya, peristiwa bergeraknya bunyi-bunyi yang dikontrol menyatu dengan alur musik secara keseluruhan. Setelah menyelami perjalanan bunyi pada bagian awal, terdengar bunyi dengan durasi waktu yang terhampar panjang, serta sentuhan bunyi gemretak (crackling) yang menambahkan karakteristik dengan corak yang kasar. Kemudian, terdengar interaksi bunyi yang tersuspensi dengan interval yang dimanipulasi naik-turun. Bagian terakhir ditutup dengan variasi dengan beragam jangkauan: bunyi frekuensi rendah yang membentuk gemuruh, nada-nada berdengung dengan hentakan pada bagian ujungnya, serta pertautan antarnada yang memiliki pola-pola yang bersilangan. Pertunjukan OMCMM 2023 yang mengaplikasikan teknik spasialisasi bunyi dengan format reproduksi audio multikanal tidak sekedar bentuk penyajian sebuah karya seni dari para seniman, melainkan suatu eksplorasi yang mendalam akan potensi dimensi ruang dan besaran bunyi yang dirasakan pendengar, baik bagi audiens dan seniman itu sendiri. Jika biasanya kita harus bergeser maju agar dapat mendengarkan dengan jelas, atau mencari posisi lain agar dapat menemukan titik dengar yang nyaman, pertunjukan spasialisasi ini memungkinkan audiens untuk merasakan pengendalian fenomena akustik ruang dan bunyi yang dirancang langsung dengan cermat oleh si seniman. Sebagai salah satu eksplorasi dalam perjalanan eksperimentasi musik dan teknologi, penerapan teknik spasialisasi dalam Supressed Fantasia karya Rangga ini memperluas batasan-batasan dalam pengalaman mendengarkan bunyinya bunyi; untuk merasakan secara intensif akan perisitwa bunyi itu sendiri melalui manipulasi perubahan warna bunyi, serta pergerakan jarak dan dimensi ruang yang diatur secara realtime. Pertunjukan spasialisasi ini memberikan kesempatan untuk menikmati dan mengamati kompleksitas bunyi dengan lebih intim, dalam relasi antara karya seni dengan pendengar.   [1] Sebuah komposisi yang bebas atau tidak terikat oleh bentuk yang ketat, berakar pada improvisasi. Selengkapnya https://www.classical-music.com/articles/what-is-a-fantasia    

Musik, Seni, dan Kode - Pagelaran Algorave Indonesia #1
04 May 2021 Redaksi 3.200 Views

Musik, Seni, dan Kode - Pagelaran Algorave Indonesia #1

Oleh Rangga Purnama Aji (Komponis, Video Artist, Live Coder, Direktur Program di October Meeting - Contemporary Music & Musicians) Pada 22 April 2021 yang lalu telah berlangsung sebuah pertunjukan musik & audio-visual yang diselenggarakan oleh Paguyuban Algorave Indonesia. Pertunjukan tersebut bertajuk Pagelaran Algorave Indonesia #1. Biar langsung ngeh, silakan kalian by pass dengan klik link ini untuk menyaksikan dokumentasinya: https://www.youtube.com/watch?v=JUjgZQaRvq4&t=1957s. Acara tersebut menampilkan 13 musisi & seniman dengan tampilan pertunjukan yang cukup beragam. Hal menarik yang cukup kuat terlihat dari pertunjukan tersebut adalah rata-rata penampilan yang disajikan menghadirkan kode dan algoritma yang disusun secara langsung maupun telah dipersiapkan sebelumnya. Pertunjukan tersebut mungkin masih terasa asing dan baru, namun pertunjukan yang seperti ini sejatinya sudah memiliki namanya sendiri, yaitu Algorave.   Sekilas Algorave Algorave merupakan sebuah acara di mana orang-orang menari dengan iringan musik maupun visual yang dihasilkan dari implementasi algoritma pada komputer, seringkali menggunakan teknik live coding pada pertunjukannya oleh para musisi (biasa disebut live coder) di atas panggung[1]. Istilah ini dikemukakan oleh Alex McLean dan Nick Collins pada tahun 2011, di mana acara pertama dengan istilah tersebut diselenggarakan di London, Inggris. Acara pertunjukan Algorave mungkin masih bisa dibilang cukup muda, namun pertunjukan musik berbasis live coding sendiri sejatinya sudah dimulai sejak tahun 1985 oleh Ron Kuivila yang menampilkan karya berjudul Water Surface di STEIM, Amsterdam. Menurut Riccardo Ancona (seorang creative coder dan sound designer), “live coding adalah sebuah bentuk improvisasi yang melibatkan penulisan kode secara langsung, dimana hal tersebut dapat diaplikasikan pada beberapa bentuk media seperti suara, gambar, puisi, mesin, dsb”[2]. Karena lekatnya hal ini dengan komputer, penulisan/penyusunan kode secara langsung tersebut diperuntukkan pada sebuah program/mesin yang sedang dijalankan. Seringkali pada praktiknya, aktivitas penyusunan kode yang dilakukan secara langsung tersebut dapat berangkat dari tidak ada kode sama sekali (from scratch) atau dari mengembangkan susunan kode yang sudah dipersiapkan sebelumnya (half-prepared).   Sederet Penampil Penampilan pertama dari acara Pagelaran Algorave Indonesia #1 dibuka oleh Kharisma & Yuri yang berasal dari Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Menampilkan sebuah pertunjukan network live coding music menggunakan sebuah perangkat lunak live coding bernama FoxDot dan Flok untuk aktivitas penyusunan kode secara bersama-sama dalam sebuah jaringan. Musik yang dihadirkan terasa minimalis dengan hentakan beat techno yang sangat khas menjaga konsistensi tempo, ditambah dengan ornamen-ornamen bunyi yang sedikit demi sedikit dihadirkan dan kemudian diolah membentuk tekstur poliponi yang cukup ramah dan menyenangkan di telinga pendengar. Musiknya disusun menggunakan teknik live coding from scratch yang membuat kita dapat merasakan tiap-tiap perubahan konten musikal yang dihadirkan dalam tiap momentum-momentum yang ada. Disamping itu, pertunjukan duo tersebut juga menampilkan animasi yang diulang-ulang dan cukup memberikan kesan futuristik sehingga antara karakteristik musik dengan visualnya terasa saling menguatkan. Penampilan kedua dilanjutkan oleh Jay Afrisando yang menampilkan proses manipulasi pada sampel audio potongan track lagu Baby Shark Dance yang merupakan aransemen dari sebuah lagu anak-anak tradisional oleh Pinkfong (Smart Study Co., Ltd.), KizCastle. Menggunakan teknik live coding, granulasi, modulasi, serta manipulasi sinyal lainnya dengan sebuah perangkat lunak sintesis audio berbasis script bernama Super Collider untuk membuat varian hasil bunyi-bunyian yang sangat beragam. Hal tersebut Ia lakukan dengan mengembangkan serta merubah susunan kode yang telah dipersiapkan sebelumnya. Pada penampilan ini, pendengar dapat merasakan varian bunyi-bunyian yang diolah dari sampel potongan track tersebut hingga pada takaran mutasi yang unik dan menarik. Penampilan ketiga diisi oleh bahtera.rar yang menampilkan sesi live coding music menggunakan perangkat lunak bernama TidalCycles yang bisa dibilang cukup populer di dalam ranah Algorave serta pertunjukan live coding music. Musik yang disajikan sangat memberikan kesan minimal, hangat, serta repetitif dengan memanfaatkan kombinasi-kombinasi dari banyak bunyi-bunyian yang diolah secara musikal. Dengan tempo yang bisa terbilang “pas” untuk membawa pendengar dengan santai menikmati alunan melodi, harmoni, serta ritme yang dirasa stabil. Dalam pertunjukan ini bahtera.rar terlebih dahulu mempersiapkan susunan kode yang kemudian dikembangkan secara langsung dan bertahap. Penampilan yang keempat diisi oleh Fahmi Mursyid yang menampilkan dua sesi pertunjukan live coding music menggunakan perangkat lunak bernama Sonic Pi yang diintegrasikan dengan perangkat keras synthesizer dan synthesizer modular. Musik yang dihadirkan pada sesi pertama sangatlah minimalis, kontemplatif, repetitif, dengan tekstur timbre yang ramah dan hangat di telinga pendengar. Memanfaatkan gelombang sinus dan gelombang bunyi buatan lain yang diolah sedemikian rupa beserta ornamen-ornamen bunyi tambahan lainnya untuk mencapai kesan musik latar yang cukup berkesan menenangkan. Pada sesi kedua, musik yang dihadirkan berbeda dengan sebelumnya, dimana pola ritme hentakan sampel audio drum, tepuk tangan, hi-hat, dan suara synthesizer pendek-sedang yang membentuk akor dibunyikan secara hampir bersamaan dengan pola yang cukup unik. Sangat terasa bagaimana implementasi sistem generatif dan algoritma pengacakan benar-benar diterapkan pada pengaturan momentum pola ritmenya. Penampilan kelima dilanjutkan oleh invinixity bersama BASASAE yang menampilkan pertunjukan live coding visual menggunakan perangkat lunak bernama KodeLife yang dimana konten-konten visual yang dihadirkan secara reaktif dipengaruhi oleh informasi sinyal dari karya live coding music ciptaan duo BASASAE berjudul Humble Saturation (2020). Animasi visual yang dihadirkan dalam pertunjukan ini sangatlah menarik dan variatif. Perpaduan serta kontras warna hitam putih dengan warna-warna yang dirasa memiliki kesan “psychedelic” benar-benar memperkuat bentuk-bentuk dan pola transformasi visual yang beragam. Ditambah dengan suasana musik yang berkesan ringan serta ramah oleh BASASAE, dimana mereka berupaya untuk menyematkan gagasan musik tradisional dan jazz pada karya mereka tersebut. Pada pertunjukan ini sangatlah terasa bahwa visual dan audio menjadi dua hal yang berbeda namun tetap lekat tak terpisahkan. Penampilan yang keenam diisi oleh Maria Maya Aristya, yang secara solo menampilkan pertunjukan live coding music from scratch dengan perangkat lunak TidalCycles. Perlu diketahui bahwa bagi sebagian live coder, pertunjukan live coding secara from scratch dapat terbilang cukup menantang dikarenakan terdapat resiko dimana mesin/perangkat lunak yang digunakan sewaktu-waktu bisa berhenti bekerja dikarenakan adanya error akibat penyusunan sintaks yang tidak tepat. Dapat terlihat bagaimana Maria sangat berhati-hati terhadap kode yang disusunnya agar bunyi-bunyian yang disajikan dapat terbangun dengan baik. Mengenai musik yang dihadirkan sangat terasa kesan minimalis, repetitif, meditatif, serta kontemplatif berdasarkan pemanfaatan dentingan-dentingan bunyi lembut-tajam-tinggi yang amat beragam dan berpadu dengan varian pola musikal yang lainnya. Pada penampilan ini, proses penyusunan kode secara langsung serta pola-pola musikal yang hadir sangatlah terasa dan semakin menambah keunikan performatifnya sendiri. Penampilan ketujuh diisi oleh t1mpuk yang menampilkan pertunjukan live coding music menggunakan perangkat lunak TidalCycles yang diintegrasikan dengan perangkat keras synthesizer modular. Musik yang dihadirkan terasa sangat repetitif, minimalis, dan unik dimana area frekuensi yang cukup rendah dikondisikan menjadi sangat dominan berpadu dengan beat techno serta ornamen-ornamen bunyi lain yang membuatnya semakin kuat dan kokoh. Hal menarik lain yang dirasa cukup menantang dari penampilan ini adalah aktivitas live coding dan kontrol synthesizer modular yang hampir dilakukan secara bersamaan. Sangat terlihat bagaimana proses yang kompleks dari kedua aktivitas tersebut ditambah dengan intensitas musik yang disajikan terasa begitu menyatu dan tidak terpisahkan. Penampilan kedelapan menampilkan pertunjukan dari Kursi Ketik Ensemble bersama Gigih Alfajar yang menghadirkan penampilan network live coding music menggunakan perangkat lunak bernama Estuary dengan bahasa pemrograman untuk live coding yang bernama MiniTidal. Penampilan ini dilakukan secara remote, dimana Kursi Ketik Ensemble yang berada di Yogyakarta dan Gigih Alfajar yang berada di Pontianak melakukan aktivitas live coding from scratch secara bersama-sama dalam satu jaringan. Musik yang dihadirkan memiliki kesan minimalis, repetitif, dengan nuansa beat rock pada drum yang terasa cukup kuat. Dapat terlihat dan terdengar pula bagaimana perpaduan ornamen-ornamen bunyi lain dari pemrosesan sampel audio tabla, drone saksofon, suara lengkingan manusia, suara rekaman prajurit modern, suara bayi, serta suara perempuan yang mengucapkan angka dalam bahasa inggris menambah keberagaman serta keunikan dari atraksi audio yang dihadirkan. Penampilan yang kesembilan diisi oleh Rifal Taufani, menampilkan pertunjukan live coding music secara solo menggunakan perangkat lunak Sonic Pi. Memadukan teknik half-prepared live coding dan live coding from scratch, dirinya terlihat berupaya untuk membangun sebuah musik yang minimalis, meditatif, kontemplatif, serta memberikan nuansa yang menenangkan pada pendengar. Perpaduan sampel audio dari rekaman akor gitar, tabla, hi-hat, suara built-in synthesizer bernama “chipbass” serta beberapa bunyi lain yang disusun serta diproses dengan sedemikian rupa, membuat penampilan yang tersajikan ini menjadi terasa lebih intim. Penampilan kesepuluh diisi oleh manticore yang menampilkan sebuah pertunjukan audio-visual, dengan memperlihatkan tampilan grafik candle chart dalam perangkat lunak trading yang datanya disonifikasi dan dipadukan dengan manipulasi gaung pada suara sampel audio vokal perempuan. Hasil sonifikasi dari data trading tersebut terdengar seperti hasil sintesis gelombang bunyi dengan teknik bernama amplitude modulation berfrekuensi rendah yang statis namun sewaktu-waktu dapat berubah. Hal menarik yang bisa ditangkap dari penampilan ini adalah bagaimana data trading yang selalu berubah-ubah tersebut dimanfaatkan dengan sedemikian rupa sehingga menghasilkan varian bunyi yang minimal, kuat, dan musikal. Penampilan kesebelas dilanjutkan oleh Patrick Hartono, menampilkan sebuah pertunjukan audio-visual yang terasa sekali menghadirkan persepsi visual serta audio yang berada di antara karakteristik organik dan sintetis. Animasi yang dihadirkan terlihat seperti kobaran api yang bergejolak dan mengambang dikelilingi oleh latar suasana langit malam serta awan buatan yang bergerak mengitarinya. Animasi tersebut nampak disusun dari serpihan-serpihan pixel warna yang sangat banyak hingga dapat dirasakan sejenak bagaimana cair dan organiknya pergerakan animasi tersebut. Musik yang dihadirkan pun benar-benar memperkuat atraksi visual yang dihadirkan dengan varian manipulasi sinyal yang sedemikian rupa memberikan kesan persepsi audio yang berada pada takaran karakter organik, sintetik, dan diantara keduanya. Penampilan yang keduabelas diisi oleh Tomy Herseta, menampilkan sebuah pertunjukan live coding music dan visual menggunakan perangkat lunak Sonic Pi dan Hydra. Penampilannya dibuka dengan pembangunan atmosfir musikal yang menjadi latar, sebelum kemudian gemuruh petir sintetis dibunyikan untuk memberikan kontras pada kondisi meditatif yang terbangun. Bunyi petir sintetis tersebut kemudian dibunyikan kembali dengan jangka waktu yang cukup padat bersamaan dengan varian-varian bunyi yang direpetisi sehingga kondisi meditatif tersebut semakin kuat terasa. Nantinya seluruh perpaduan ini berkembang menjadi semakin padat dan intens hingga klimaks dari tangga dramatik yang terbangun menjadi dapat terasakan, sebelum diakhiri dengan mengurangi dan melonggarkan kepadatan serta intensitas musikal tersebut. Visual yang dihadirkan pun juga turut menambah kuat perkembangan tangga dramatik yang dibangun. Dengan pola-pola dan bentuk yang bervarian, serta pengaturan reaktif pada Hydra yang merespon informasi sinyal dari Sonic Pi benar-benar membuat kedua aspek audio dan visual melekat tidak dapat terpisahkan. Penampilan ketigabelas sebagai penutup, diisi oleh Rangga Purnama Aji yang menampilkan pertunjukan live coding music menggunakan perangkat lunak TidalCycles. Dalam pertunjukan tersebut, Rangga menghadirkan dua sesi penampilan dengan mengkombinasikan teknik live coding from scratch dan half-prepared. Penampilan pertama dibuka dengan membunyikan sampel audio sebuah tembang macapat sebanyak 32 kali yang tiap pembunyiannya diberikan jeda sekitar 1/32 detik. Kemudian belum selesai bagian tersebut berakhir, secara berangsur-angsur ditambahkan sebuah pola musikal yang penuh akan manipulasi sinyal untuk turut mendampingi atraksi audionya. Momen tersebut menjadi awal dari aktivitas pengembangan kode-kode yang telah disusun dengan menerapkan teknik live coding from scratch dan half-prepared. Pada sesi kedua, menampilkan sebuah karya berjudul Goyah (2020) yang diawali dengan bunyi denyutan-denyutan gelombang bunyi sintetis yang padat, panjang, serta saling bersaut-sautan antara satu dengan yang lain. Kemudian dilanjutkan dengan ditambahkannya ornamen-ornamen musikal seperti bunyi glitch yang acak beserta pola beat bertempo sedang-cepat yang saling berpadu membangun sebuah kesan kontemplatif. Sesi kedua tersebut diakhiri dengan kemunculan bunyi-bunyi gelombang bunyi sintetis yang telah mengalami granulasi, modulasi pitch, serta manipulasi sinyal lainnya yang menjadi kontras dengan apa yang telah dibangun sebelumnya.   Dukung Paguyuban Algorave Indonesia! Dari apa yang telah disajikan oleh ke-13 penampil dalam agenda Pagelaran Algorave Indonesia #1 ini, meskipun tidak semuanya menggunakan teknik live coding, tidaklah menjadi sebuah masalah selama terdapat kode dan algoritma yang dilibatkan dalam tiap penampilannya. Hal ini juga dianggap tidak menjadi masalah agar agenda ruang pertunjukan yang diinisiasi oleh Paguyuban Algorave Indonesia tetap dapat terbuka bagi siapapun yang tertarik dan berminat. Mengenai komunitas tersebut, Paguyuban Algorave Indonesia merupakan sebuah komunitas non-profit terbuka yang dibentuk untuk merangkul para pelaku live coding dan yang berelasi di Indonesia. Komunitas ini berorientasi sebagai ruang terbuka untuk berjejaring, edukasi, serta informasi terkait hal-hal yang terintegrasi dengan praktik live coding baik itu pertunjukan, workshop, diskursus, kajian, dan sejenisnya. Komunitas ini diinisiasi oleh Rangga Purnama Aji bersama Maria Maya Aristya, Mohammad Ali Azca Atmaditia, Muhammad Khoirur Roziqin, dan Bagaskoro Saputro. Berawal dari keinginan untuk membuka serta berbagi wawasan dan pengetahuan pada konteks seni pertunjukan atau apapun yang berhubungan dengan praktik live coding. Berdasarkan apa yang menjadi orientasi dari Paguyuban Algorave Indonesia tersebut, upaya untuk berbagi pengetahuan serta hal apapun mengenai live coding dan yang berelasi sudah perlu untuk dibuka dan telah dianggap penting untuk tidak menjadi eksklusif.     Beberapa referensi lain: https://algorave.com/ https://toplap.org/ https://www.instagram.com/paguyubanalgorave.id/ *Thumbnail didesain oleh Mohammad Ali Azca Atmaditia [1] Disadur dan ditranslasi dari https://en.wikipedia.org/wiki/Algorave. [2] Berdasarkan apa yang Riccardo Ancona sampaikan di dalam sebuah workshop virtual mengenai live coding, yang diselenggarakan oleh WeSA (https://www.wesa.kr/) bekerja sama dengan Umanesimo Artificiale (https://www.instagram.com/umanesimo.artificiale/) pada tahun 2020.  

SIARAN PERS OCTOBER MEETING 2018: Contemporary Music and Musicians
03 Oct 2018 Redaksi 4.228 Views

SIARAN PERS OCTOBER MEETING 2018: Contemporary Music and Musicians

    October Meeting adalah pertemuan musik tahunan yang diprakarsai oleh Trace 21 dan Art Music Today. Tahun ini October Meeting telah menginjak tahun ketiga, diselenggarakan selama lima hari di Yogyakarta, 7 – 11 Oktober 2018, dan turut didukung Goethe Institut. Tema Reconnect diusung menjadi tema besar pada tahun ketiga penyelenggaraan October Meeting kali ini. Reconnect dimaknai sebagai upaya menghubungkan (kembali) antara musik dan musisi, komponis, publik, pemikiran, ideologi, dan patron administratif—yang keseluruhannya memiliki benang merah bagi perkembangan musik kontemporer. Kami juga mengundang Mitra Akademik dari perguruan tinggi musik di seluruh Indonesia guna melengkapi cakupan dialog dan riset-riset yang lebih produktif ke depan. Hal ini perlu dihubungkan bukan hanya sebagai jaringan yang semu/sementara, melainkan bersifat jangka panjang. Setiap stakeholder berkesempatan untuk saling berdialog secara terbuka, terutama dalam memahami cakupan nilai-nilai artistik-estetik yang telah sedemikian luas perkembangannya saat ini. Reconnect tidak mewadahi kepentingan politis, eksistensi, atau aspek lain yang tidak ada sangkut-pautnya dengan perkembangan musik. PENAMPILAN MUSIK Dissonant Anggarayesta Royke B. Koapaha Jeko Fauzy & Pramono Abdi Total Perkusi Aldy Maulana Haryo Efenur Juan Arminandi Rangga Purnama Aji Reza Zulianda Septina Rosalina Layan Wendi Jiad Permana Yohanes Kelvin   WORKSHOP,  DISKUSI Mbah koko.CR & H.J. Endra J. Ricky Irawan Tony Maryana Adrien L’ Honore Naber Gema Swaratyagita   PROGRAM Minggu, 7 Oktober 2018 OPENING CEREMONY & CONCERT: Dissonant, Anggarayesta Pendhapa Art Space | 19:00 – 21:30 WIB Senin, 8 Oktober 2018 TALKSHOW “Terapi Bunyi dan Terapi Air” Mbah koko.CR & H.J. Endra J. KITASUKA Kitchen | 13:00 – 14:30 WIB DISKUSI HARIAN #1                                 New Music for Gamelan: Representasi Karawitan Bali di Era Kontemporer Ricky Irawan KITASUKA Kitchen | 15:00 – 16:30 WIB PORTRAIT CONCERT “Promenade #3” Royke B. Koapaha Pendhapa Art Space | 19:00 – 21:30 WIB Selasa, 9 Oktober 2018 DISKUSI HARIAN #2 “Akustik Sintesis Musik Perkusi” Tony Maryana Gayam 16 | 13:00 – 14:30 WIB LECTURE CONCERT Jeko Fauzy & Pramono Abdi Gayam 16 | 15:00 – 16:30 WIB   HIGHLIGHT CONCERT Total Perkusi Pendhapa Art Space | 19:00 – 21:30 WIB   Rabu, 10 Oktober 2018 DISKUSI HARIAN #3 “Digital Gamelan” Adrien L’ Honore Naber Tembi Rumah Budaya | 13:00 – 14:30 WIB   YOUNG COMPOSER SERIES Tembi Rumah Budaya | 19:00 – 21:30 WIB   Kamis, 11 Oktober 2018 PRA-PELUNCURAN WEBSITE “SPEKTRUM” DISKUSI UTAMA “RECONNECT”                                 Gema Swaratyagita Tembi Rumah Budaya | 13:00 – 14:30 WIB   CLOSING CEREMONY & CONCERT OPEN LAB CONCERT                                 Tembi Rumah Budaya | 19:00 – 21:30 WIB   Informasi/Narahubung: Halida Bunga Fisandra (081332843296) Erie Setiawan (0895341875712)   IG: @octobermeeting @artmusictoday

Unduh Aplikasi Buku Program October Meeting 2017!
03 Oct 2017 Redaksi 2.559 Views

Unduh Aplikasi Buku Program October Meeting 2017!

October Meeting 2017 meluaskan penyebaran informasinya dengan membuat Aplikasi Buku Program yang bisa Anda jalankan di ponsel pintar dengan menginstalnya terlebih dahulu. Aplikasi Buku Program ini berisi informasi seluruh kegiatan October Meeting yang akan berlangsung dua hari penuh (5-6 Oktober 2017) di Museum Tembi Rumah Budaya Yogyakarta. Aplikasi ini dikembangkan oleh Bayu Prasetyo dari Rekambergerak. Semoga bermanfaat. Cara mengunduh dan menjalankannya: 1. Buka tautan https://drive.google.com/open?id=0B-t84oZZ_L6cdi10S0ZhZlJqbmM 2. Unduh file dengan ekstensi .apk 3. Install di Android 4. Aplikasi siap dijalankan (Catatan: Aplikasi ini hanya bisa dijalankan di Android, dan tidak bisa dijalankan di WIndows Phone atau iPhone.)        

PERJALANAN BUNYI YUDANE
01 Nov 2017 Redaksi 5.620 Views

PERJALANAN BUNYI YUDANE

Oleh: Arya Suryanegara Melalui daya kreatifnya yang luar biasa, Wayan Gde Yudane tak henti-henti mengajak saya tamasya jauh menyusuri bunyi-bunyi baru. Yudane menggugah semangat, menginspirasi generasi muda untuk berani menatap jauh ke depan, dengan tetap menghargai yang silam. Contoh konkritnya, pada usianya yang nyaris senja, Yudane masih bersemangat menginisiasi program “Komponis Kini”, yang difasilitasi Bentara Budaya Bali. Program itu mewadahi karya-karya komponis kontemporer, khususnya yang bermukim di Bali. Meski sempat terhenti sejenak, program itu kini hadir kembali. Pada Senin malam (30/10), Yudane mementaskan karya-karya terbarunya dengan tajuk “Journey”.   Ada empat karya yang dipentaskan malam itu: Spring, Aquifers, Ephemeral, dan Journey. Karya-karya itu merupakan respon kreatif dari puisi Ketut Yuliarsa yang direpresentasikan oleh Yudane pada Gamelan Semara Dana, dan dimainkan dengan baik oleh Sekaa Gamelan Wrdhi Cwaram. Selain itu juga dipentaskan karya Tari Legong Semarandana sebagai pembuka.   Yang memikat dari Yudane Pada malam itu Yudane melakukan eksperimen yang menarik dalam penyajian karyanya, baik secara autidif maupun visual, walaupun terkadang visual dalam karya musik tidak memiliki porsi yang dominan. Tidak hanya fokus pada mendengarkan, audiens juga dapat melihat bagaimana Yudane menempatkan instrumen di panggung terbuka Bentara Budaya Bali. Yudane membuat susunan yang berbeda, yakni ada gamelan yang ditempatkan di bagian tengah panggung, ada juga yang ditempatkan di kanan dan kiri, yang memiliki posisi lebih tinggi. Ini bagi saya menarik sebagai total performance, sebagai seni pertunjukan yang tergarap secara utuh. Yudane dalam pementasan itu berhasil mengelabuhi pikiran saya. Pertama, ketika saya melihat (visual) penempatan gamelan yang dilakukan, saya mengagumi tata panggung, meskipun hal itu sering dikatakan tidak penting. Kedua, ketika saya telah mendengar karya musiknya (auditif), menghantarkan perspektif  saya  untuk menyimak berbagai macam cara kerja yang ada di dalamnya. Dari sudut yang berbeda dapat memperjelas audiens dalam mendengarkan pergabungan motif-motif yang ada di sebelah kanan, tengah, dan kiri. Alhasil, Yudane dalam pementasan karya ini menurut saya tidak semata-mata memanjakan mata audiens dalam melihat tata panggungnya, tapi juga telah melakukan pengolahan bunyi dengan mempertimbangkan aspek ruang. Sejauh ini Yudane memang dikenal sebagai ujung tombak dalam perkembangan musik baru untuk gamelan Bali. Karya-karyanya dikenal luas tidak hanya di Bali, tapi juga di berbagai negara lain. Bentara Budaya Bali, melalui websitenya, menulis sebuah penjelasan sekaligus ajakan untuk mengapresiasi karya Yudane kali ini: “Konsep pertunjukan ini berangkat dari elastisitas, yakni perenggangan waktu dan tempo serta kespontanan di dalam kesetiaan juga kebersamaan, merespon ombak (vibrato) pada gamelan Semara Dana guna menciptakan ruang meditatif dimana nada-nada melodi terhubung secara imajinatif di dalam benak para pendengar.” Dapat diartikan Yudane dalam karyanya kali ini berusaha melakukan pengolahan teknik vibrato dalam gamelan yang digunakan. Perlu diketahui, vibrato yang diartikan itu adalah Ngumbang dan Ngisep/Umbang dan Isep. Ngumbang dan Ngisep merupakan ciri khas pada gamelan Bali, yang dalam konsepnya terdapat interval yang berbeda pada nada yang sama. Apabila nada tersebut dimainkan bersamaan akan menimbulkan ombak atau gelombang. Secara kreatif Yudane mengolah unsur tersebut dalam karyanya. Unsur itu terdengar jelas dalam karyanya yang bertajuk Spring. Yudane menggunakan instrumen melodis pada Gamelan Semara Dana dan juga dimainkan menggunakan alat pukul lembut (berisi karet). Juga pada karya itu terdapat banyak ruang kosong dan hanya memperdengarkan getaran instrumen. Ruang kosong dalam memperdengarkan getaran tersebut saya cermati hampir 15 sampai 20 detik, dan sepertinya Yudane ingin menunjukan getaran instrumen tersebut dari mulai dipukul hingga getaran itu berhenti. Serta pada karya itu, Yudane tidak hanya memainkan nada yang sama secara bersamaan, namun ia juga membuat harmoni melalui nada yang berbeda. Hal itu menghasilkan pilihan bunyi, di antaranya gelombang dengan nada yang sama dan gelombang dengan nada yang berbeda. Selain itu dalam karyanya bertajuk Ephemeral, Yudane hanya menggunakan instrumen ber-pencon saja, antara lain seperti instrumen tawa-tawa dan kajar. Yudane dalam karya ini menurut pengamatan saya melakukan permainan ritme melalui karakter bunyi yang dihasilkan oleh instrumen ber-pencon ini. Hasilnya akan berbeda apabila dimainkan oleh instrumen ber-bilah. Saya menangkap, Yudane juga ingin menunjukan karakter gelombang dan bunyi dari instrumen pencon tersebut. Lain lagi karyanya yang bertajuk Aquifers dan Journey, yang menggunakan hampir seluruh instrumen pada Gamelan Semara Dana. Karya itu merupakan karya besar Yudane, karena durasi yang panjang dan banyaknya jenis instrumen. Menurut pengamatan saya, karya itu memiliki banyak pengolahan motif berdasarkan cara kerja pada gamelan Bali. Misalnya kotekan, ukuran lagu per-gatra, harmoni, fungsional instrumen, pengolahan melodi, pengolahan ritme, dan lain-lain. Dalam mendengar karya ini, telinga saya memang mengasumsikannya secara baru, dan saya hanya mengetahui bahwa karakter bunyi dari instrumen yang digunakan adalah gamelan Bali. Namun, dalam teknik permainannya merupakan pengembangan dari teknik permainan gamelan Bali, dan mungkin juga terdapat pengaruh dari latar belakang berbagai jenis musik yang mengilhami Yudane. Apresiasi Prof. I Made Bandem yang malam itu hadir juga turut menyampaikan apresiasi untuk karya Yudane. Bandem mengatakan: “Yudane telah mempelajari musik Barat dan ia juga sering berteman hingga berkolaborasi dengan musisi di luar gamelan. Sehingga Yudane sudah memahami betul teknik dari musik Barat dan musik-musik lintas budaya lainnya.” Sebab itulah, bagi saya, karya Yudane memberikan penyegaran baru. Bandem juga mengatakan bahwa Yudane sudah tidak lagi menggunakan teknik permainan gamelan bali secara regular, namun Yudane memainkan secara iregular. Artinya Yudane sudah memainkan gamelan secara tidak biasa. Berbagai jenis cara kerja seperti itu memang perlu diinformasikan ke masyarakat. Harapannya adalah memberi wawasan mengenai inovasi, juga yang dilakukan oleh Yudane yang telah berusaha sedemikian rupa mengembangkan karya-karya gamelan Bali.  Umumnya memang masih banyak yang kurang mengerti mengenai “dapur kreatif” seperti itu. Hal yang bisa saya pahami dalam mendengar karya tersebut adalah tekniknya menarik dan asing di telinga penabuh gamelan, dan menambah wawasan audiens dalam mengetahui perkembangan karya-karya baru untuk gamelan. Terus terang, khususnya bagi generasi muda seperti saya, sangat memerlukan wawasan sejarah, sebagai penghubung untuk mengenal yang lama dan yang baru. Dan melalui karya Yudane saya terbuka atas wawasan itu, mengajak saya berada dalam sebuah jembatan yang menunjukan ke jalan baru, untuk melihat arah gamelan Bali pada masa mendatang. Selain itu, dalam mendengarkan karyanya yang bertajuk Aquifers dan Journey ini, mengingatkan saya dengan Simfoni Mozart. Bukan berarti karya Yudane sama dengan karya Mozart, namun lebih pada peristiwa bunyinya saja. Saya mendengar adanya perpindahan bagian dari karya ini yang dilakukan secara tiba-tiba dan dilanjutkan dengan karakter bunyi yang berbeda atau instrumen yang berbeda. Misalnya, ketika sebuah bagian sudah mencapai klimaks, akan disambung secara tiba-tiba dengan instrumen dan tempo yang berbeda. Seolah-olah karya tersebut sudah selesai, namun ternyata belum, layaknya penggalan-penggalan dalam karya Simfoni. Sayangnya dalam acara itu tidak terdapat diskusi dan penjelasan komponis  tentang karyanya, sehingga akan membuat audiens bertanya-tanya tentang apa yang telah terjadi malam itu. Di sisi lain itu bagus juga, karena kita bisa berfokus mendengarkan musiknya terlebih dahulu sebelum ke informasi di sebaliknya. Namun saya juga berharap dalam lain kesempatan, Yudane bisa menjelaskan tentang apa yang terjadi dalam karyanya itu, semata-mata ingin mengarahkan pemahaman atau opini audiens yang tertarik dengan karyanya. Itu dikarenakan komponis adalah yang paling mengetahui segala proses kreatifnya. Sebagai informasi, pada Desember mendatang Yudane dan Sekaa Gamelan Wrdhi Cwaram akan melakukan pementasan gamelan di Paris dalam acara Europalia. Yudane merupakan salah satu komponis  yang mewakili Indonesia dalam ajang yang bergengsi itu. Saya sangat berbangga karena Yudane telah berhasil membawa gamelan ke ajang internasional. Inilah hal yang saya kagumi dari Yudane, ia tetap dengan gamelannya serta akan terus berjalan menemukan bunyi baru untuk gamelan. PR kita bersama Kepedulian dan semangat Yudane dalam mengembangkan gamelan Bali dapat menjadi pemantik untuk memahami ilmu pengetahuan tentang gamelan itu sendiri. Ia membuat gamelan menjadi tetap hidup dan menemui jalan barunya, tidak hanya jalan di tempat. Semangatnya saya kira perlu dijadikan pijakan bagi komponis muda Bali, dan tidak menutup diri dari perkembangan-perkembangan yang lain. Segala perubahan yang terjadi memang harus kita terima sebagai konsekuensi zaman dan perkembangan pikiran manusia. Rasanya tak ada gunanya lagi meributkan yang tradisi dan yang kontemporer secara terus-menerus.  Tautan terkait: https://europalia.eu/en/article/i-wayan-gde-yudane-gamelan-wrdhi-swaram_1238.html Foto oleh: Rudi Waisnawa | Editor: Erie Setiawan