Semua Artikel

Eksplorasi pemikiran, kritik, dan berita terbaru seputar dunia seni dan musik hari ini.

Konser Musik Spasial Lokananta X Art Music Today
22 Jun 2025 Redaksi 327 Views

Konser Musik Spasial Lokananta X Art Music Today

Lokananta X Art Music Today   KONSER MUSIK SPASIAL Echoes of The Displaced (Thelonious Hamel & Jenny Szabo) Wahyu Thoyyib Pambayun & Gamelan Kalatidha   Studio Lokananta Selasa, 24 Juni 2025     Agenda ini adalah kerja sama antara kolektif Art Music Today-Yogyakarta dan Lokananta sebagai kontribusi untuk memperkenalkan sajian konser musik dengan system tata suara spasial, khususnya kepada masyarakat Surakarta. Sistem tata suara spasial dapat menciptakan pengalaman mendengarkan tiga dimensi, menciptakan kesan realistis dan imersif—berbeda dengan system stereo yang hanya sebatas kiri-kanan. Layout speaker dalam system tata suara spasial ditata mengelilingi audiens dengan treatment spesifik berdasarkan ruang dan tipikal karya musik. Audiens dapat menikmati sajian secara mendalam, intim dan imersif. Pengalaman ini akan memberikan sensasi auditif yang berbeda dan baru. Agenda ini akan diawali dengan Artist Talk untuk berbagi konsep, informasi, dan pengalaman teknis kreatif seputar musik spasial dan karya -karya seniman. PROFIL PENAMPIL THELONIOUS HAMEL adalah seorang musisi multidisipliner, komponis, dan seniman pertunjukan asal Austria. Ia telah memiliki banyak pengalaman sebagai komponis musik film, penyelenggaraan festival, serta instalasi seni. Thelonious mengembangkan gaya organik yang mengalir antara elektro akustik, desain suara, permainan klarinet, dan pendekatan musikal eksperimental. Blog: https://thelonioushamel.de/ Instagram: @theloniousmusic Jenny Szabo adalah pemain teater dengan perjalanan artistik di IWANSON International School of Contemporary Dance di Munich, sembari menempuh studi di bidang manajemen media dan komunikasi. Pada tahun 2015, ia memperoleh beasiswa Fulbright yang membawanya ke Binghamton University di Amerika Serikat, memperdalam keterlibatannya dengan isu-isu politik dan sosial. Sekembalinya ke Eropa, ia bekerja sebagai manajer proyek dan penari, menjalani pelatihan akting, dan tampil dalam pementasan Desire Caught by the Tail karya Picasso di Swiss. Pada tahun 2019, ia meraih gelar MA dalam Teater Fisik di Accademia Teatro Dimitri sebagai penerima Beasiswa Keunggulan Pemerintah Swiss, dan pada tahun yang sama, ia menampilkan pertunjukan solonya yang berjudul PITCH! untuk pertama kalinya. Sejak pindah ke Salzburg pada tahun 2020, Jenny aktif mencipta dan tampil dalam berbagai proyek teater dan film, serta memulai debut pertunjukan solo di OFF Theater Salzburg. Ia juga ikut mengorganisasi FACTORY-FREE ART SPACE Festival yang digelar setiap tahun. Jenny telah mengikuti berbagai lokakarya lintas disiplin—mulai dari seni peran dan tari hingga clowning, topeng, teater objek, dan improvisasi—dan dikenal karena karyanya yang menggabungkan pertunjukan fisik dengan seni multimedia. Dalam karyanya, ia berupaya memecah pola konsumsi dan persepsi yang kaku dengan menyisipkan isu-isu sosial melalui pendekatan yang ringan, jenaka, dan puitis. Melalui seni, Jenny tidak hanya mendorong batas-batas konvensi, tetapi juga menginspirasi orang lain untuk mengeksplorasi kekayaan dan keragaman seni dalam segala bentuknya. Wahyu Thoyyib Pambayun adalah seorang komponis, pemusik gamelan, dan pengajar gamelan. Sebagai komponis, ia menyusun komposisi baru dengan dasar pengetahuan dan praktik gamelan tradisi yang kuat. Ia aktif melakukan riset mengenai perluasan bahasa musikal gamelan Jawa serta menggubah musik untuk beragam bentuk pertunjukan, seperti konser, tari, wayang, hingga film. Pada tahun 2016, Wahyu Thoyyib bersama Nanang Bayu Aji mendirikan Gamelan Kalatidha, sebuah kelompok gamelan yang beranggotakan pengrawit multi-instrumen  yang berfokus pada penciptaan dan penyajian komposisi baru. Instagram: @wahyuthoyyib Spotify: Wahyu Thoyyib Pambayun   PROGRAM Sesi 1 Artist Talk 15.30 – 17.00 WIB -- Break   Sesi 2 Concert 19.00 – 21.00 WIB   Acara tidak dipungut biaya/free     INFORMASI Erie (0895341875712)   Didukung oleh:  Rekambergerak, Seruni Audio, Lokonaudio. 

LITERASI MUSIK SEPANJANG RAMADHAN
22 Apr 2021 Redaksi 1.865 Views

LITERASI MUSIK SEPANJANG RAMADHAN

    Dengan penuh rasa syukur dan kegembiraan, Art Music Today mempersembahkan program amal-kolektif LiRamadhan: Literasi Musik Sepanjang Ramadhan.  Di program ini, kamu akan menikmati konten-konten seputar literasi musik yang menarik, informatif, dan inspiratif. Semua disajikan daring di akun-akun media sosial kami:   12 April hingga 6 Mei 2021 Pukul 15.30 dan 20.30 WIB   YouTube: Art Music Today dan Penerbit Art Music Today  Instagram: @artmusictoday @amtpublisher_ Spotify: Semusik Sekata Penerbit Art Music Today   Kamu juga bisa bergabung untuk mengisi secara suka rela konten-konten di LiRamadhan. Rekam audio atau audio-videomu dan kirimkan ke: artmusictoday.surat@gmail.com dan ke infobukuamt@gmail.com.    Kamu bisa membahas buku, membaca artikel, mendongeng, bahkan cuma sekedar curhat tentang musik. Info lebih lanjut silakan DM ke kami.    Official Partner LiRamadhan: @amtpublisher_ @rekambergerak @octobermeeting @perpromi @gagalovesaturday @litererie @snooge.studio @reza.dien @sekarsha   Media Partner LiRamadhan: @jogjapunyaacara @wartajazz @dangdut.studies @yesnowavemusic @warungarsip @jogjafestivals @musikjogja @ruangkerjacreative @brikolase @kiosojokeos   IG: @artmusictoday @amtpublisher_ Youtube: Art Music Today Penerbit Art Music Today Spotify Podcast: Penerbit AMT.   Jangan lupa follow, like & subscribe, komentar dan bagikan manfaatnya!    #LiRamadhan #artmusictoday #amtpublisher #penerbitamt #literasimusik #ramadhan #berkahramadhan #ramadhanfair #vibe #tiktok #puasa #ngabuburit #marhabanyaramadhan #bulanpuasa #musikindonesia #literasi #event #giveaway #islam #podcast #eventjogja #jogjahariini

MEMBACA LAKU EKSPERIMEN LIVE SPATIAL SENTABI
22 Jan 2024 Redaksi 1.523 Views

MEMBACA LAKU EKSPERIMEN LIVE SPATIAL SENTABI

  Artikel keempat ini membahas karya SENTABI "17.00-05.00 Tuwuh". Ditulis oleh Andri Widi Asmara. Selamat menyimak! #SERIARTIKELOMCMM2023 Sentabi menjadi pamungkas di October Meeting 2023. Mereka mengisi slot pertunjukan dalam kategori Live Spatial. Bermain di hari dan di sesi terakhir, seharusnya menjadikan Sentabi mempunyai banyak waktu untuk mengulik spatial sounds, sistem olah bunyi yang digunakan October Meeting 2023 dan menjadi barang baru bagi mereka. Saat itu Sentabi  berformat trio, digawangi oleh Welderahmat, Brema Sembiring, dan Faiz. Brema lebih banyak bermain suling bali, Welderahmat banyak bermain bell, dan Faiz banyak bermain kacapi. Adapun instrumen lain yang digunakan adalah lalove, surdam, dan sedotan. Ia menyajikan komposisi berjudul 17.00-05.00 Tuwuh. Komposisi tersebut bisa dibilang sebagai bentuk olah kreatif ambience music dipadu dengan permainan live instrumen akustik dalam tatanan sistem multikanal. Menurutnya, ambience yang mereka bangun berasal dari rekaman soundscape yang ia ambil adalah keadaan auditif sekitar warung milik Faiz bernama Warkop Tuwuh, terletak di sekitar Sewon. Jika cermat, pendengar saat itu akan bisa memetakan 2 bunyi utama yang mendominasi. Yang pertama adalah layer kontinyu paling terasa yaitu bunyi jangkrik. Secara kesadaran kewilayahan, bunyi ini dipastikan bersumber dari sawah sebrang Warkop Tuwuh yang menghampar ke arah timur. Yang kedua adalah bunyi yang bersifat temporer, datang pergi, seperti bunyi kendaraan motor/mobil yang melintas. Sumber bunyi ini juga bisa dipastikan berasal dari jalan depan Warkop Tuwuh yang berjarak 10 meter. Di luar itu, karya mereka merupakan hasil olah kreatif sinus dan permainan instrumen akustik secara live improvisation. Sentabi bermain cantik di pertunjukannya. Penulis menilai mereka berhasil mendelivery citra olah artistiknya ke pendengar. Jika dianalogikan secara arsitektural, suara jangkrik ini dapat menjadi pondasi untuk menopang bangunan di atasnya. Kontinuitas suara jangkrik yang diproyeksikan ke dalam multikanal menghasilkan dampak perseptual yang bersifat environmental. Jika pendengar saat itu berada di tengah dom ruang bawah, suara jangkrik terkesan tipis mengelilingi. Persis seperti kita berada di tengah sawah saat malam hari. Timbre ini penulis nilai jarang dipakai oleh komposer lain di October Meeting 2023. Sedangkan untuk porsi permainannya, peran mereka bertiga di dalam karya ini adalah membangun pilar-pilar bunyi yang menyangga durasi. Perlu diketahui bahwa Sentabi menyiapkan satu jam performance untuk sesi ini. Idealnya, dalam waktu satu jam dibutuhkan strategi managerial endurance yang baik agar mereka bertiga tidak terkuras energinya. Usaha mereka harus efektif sekaligus estetik, sehingga karyanya tidak terasa kering. Penulis nilai mereka berhasil menjaganya. Walau kenyataannya mereka sangat terbantu oleh ambience yang merentang dari awal hingga akhir karya. Isian permainan mereka lebih banyak menekankan pada pulse harmonic, timpang  tindih dan saling sahut bunyi dari suling, kecapi, dan bells yang berebut momentum secara konsisten. Instrumen-instrumen etnis yang mereka pilih menjadi sangat menguntungkan untuk mengisi karya yang berdurasi panjang. Sehingga mereka dapat berbagi waktu untuk memproduksi bunyi, berpindah instrumen, miking instrumen, dan juga mengatur spasial. Semua itu bersifat eksperimental. Sentabi masih menerka dampak apa yang mereka hasilkan dalam waktu sejam tersebut. Tampak dari komunikasi antar pemain, sepertinya masih menjajaki sejauh mana dampak dan bangunan karyanya tampak. Dalam beberapa saat terdapat kekosongan isian yang terasa, selain mendengarkan suara jangkrik yang stagnan. Dalam pengamatan penulis, strategi Sentabi pada pengolahan spasial masih terbatas. Baik secara teknis maupun gaya artistiknya. Mereka masih berkutat pada setting lokalisasi bunyi yang masih bersifat panning. Sementara October Meeting 2023 seharusnya dapat menjadi wadah bereksperimen Sentabi untuk bisa bermain-main dengan sistem spasial yang masih longgar ruang ekspresinya. Penulis yakin, karyanya akan lebih menarik jika mereka mempunyai strategi setting yang lebih detil.   Akan tetapi, penulis juga mengakui bahwa Sentabi mempunyai gagasan ide yang organik. Mereka berani memilih untuk tetap menyajikan permainan langsung di antara kompleksnya sistem spasial. Tidak banyak di luar sana yang mempunyai nyali seperti Sentabi. Dan penulis lihat, Sentabi mempunyai motivasi yang kuat dalam mempelajari hal-hal baru. Maka sebenarnya masih banyak yang bisa dinantikan dari eksperimen-eksperimen Sentabi berikutnya. 17.00-05.00 Tuwuh dapat menjadi simbol peletakan batu pertama pada proyek-proyek “berbahaya” Sentabi selanjutnya. Congrats! Penulis: Andri Widi Asmara

SUASANA TERKURUNG DALAM AMBIENCE FOR ODGJ (ORANG DENGAN GAJI JOGJA) DAN SPASIALISASI SEBAGAI STORYTELLING DI KARYA MUSICAL INTERPRETATION OF DANCE WORKS “SEMILAH”
20 Dec 2023 Redaksi 1.152 Views

SUASANA TERKURUNG DALAM AMBIENCE FOR ODGJ (ORANG DENGAN GAJI JOGJA) DAN SPASIALISASI SEBAGAI STORYTELLING DI KARYA MUSICAL INTERPRETATION OF DANCE WORKS “SEMILAH”

Artikel kedua ini membahas karya Bahtera, Ambience for ODGJ (Orang Dengan Gaji Jogja), dan karya Muhammad Khoirur Roziqin, Musical Interpretation of Dance Works “Semilah”. Ditulis oleh Florentina Krisanti. Selamat menyimak! #SERIARTIKELOMCMM2023   (1) Suasana Terkurung dalam Ambience for ODGJ (Orang Dengan Gaji Jogja)               October Meeting 2023: Spatiality hari pertama dibuka dengan Ambience for ODGJ (Orang Dengan Gaji Jogja) karya Bahtera. Karya ini bersumber dari data upah minimum regional (UMR) Yogyakarta dari tahun 2016-2023 yang diproses secara multiplikasi lewat aplikasi Pure Data. Hasilnya berupa beberapa frekuensi bunyi yang diproses dengan synthesizer virtual dan disusun menjadi sebuah komposisi dalam aplikasi digital audio workstation (DAW). Karya ini menggunakan 10 kanal untuk teknis audionya; terdiri dari 2 kanal untuk frekuensi bawah, 4 kanal untuk frekuensi tengah, dan 4 kanal frekuensi atas. Ketika dipentaskan, karya ini berdurasi kurang lebih 1 jam.               Mengingat karya ini menggunakan synthesizer, Ambience for ODGJ dipenuhi dengan bunyi-bunyi elektrik yang cenderung seragam tapi tetap ada berbagai macam warna; ada yang halus, ada yang sedikit terdistorsi, ada yang panjang, ada yang pendek-pendek. Selama pentas, Bahtera cenderung menggerakkan tiap kanal secara merata di seluruh speaker, sehingga di manapun kita duduk, kita bisa merasakan hampir semua suara yang ada di dalam karya ini tanpa kehilangan efek spasialnya. Perbedaannya hanya sekadar suara mana yang lebih menonjol; apakah yang panjang atau pendek, yang halus atau yang kasar.               Jika kita tidak terbiasa mendengarkan musik elektronik eksperimental, rasanya kurang betah bagi telinga kita untuk mendengarkan begitu banyak bunyi elektronis dalam waktu lama. Saya mencoba untuk pindah ke titik dengar yang mungkin akan lebih nyaman. Namun, cara Bahtera yang menggerakkan tiap bunyi secara merata membuat kita lagi-lagi mendengar bunyi yang tidak saya suka itu. Saya jadi seperti berputar-putar, mencari tempat yang lebih baik namun tetap saja kena lagi. Selama pentas memang saya banyak jalan-jalan di sekitar lokasi konser.               Spasialisasi pada pentas karya Bahtera seperti memunculkan persepsi ruang dari sebuah karya musik. Ketika Ambience for ODGJ mulai dimainkan, kita seperti masuk dalam sebuah ruangan baru yang tidak kasat mata. Persepsi ruang tersebut diperkuat dengan lokasi pentas yang kebetulan berada di Dome Tempuran Space yang memiliki dua lantai dan beratap kubah. Bentuk ruangan yang sedemikian rupa dengan konten bunyi yang memancing resah membuat kita benar-benar seperti terkurung dalam sangkar burung. Mengingat di lokasi konser speaker tidak hanya berada di dalam dome tetapi juga digantungkan di pohon-pohon di luar dome, rasanya jadi ragu-ragu apakah kita sudah keluar dari kurungan tersebut meski kita tidak berada di dalam dome.               Penerapan spasialisasi dalam karya musik juga terasa seperti memperkuat atau malah menimbulkan makna baru. Isu rendahnya UMR Yogyakarta sering menjadi keluh kesah para pekerja di Yogyakarta, ditambah lagi dengan isu sosial lainnya seperti sandwich generation, kebutuhan memiliki rumah, sulit mencari kerja, dan masih banyak lagi. Begitu banyak warga asli atau pendatang di Yogyakarta yang sulit untuk keluar dari masalah ekonomi. Kita seperti terjebak di dalam kurungan bernama UMR Yogyakarta.               Pertunjukan Ambience for ODGJ cukup berhasil untuk menunjukkan kemungkinan baru yang muncul dari penerapan spasialisasi pada karya musik. Spasialisasi bisa menambah begitu banyak interpretasi baru; uraian interpretasi di atas pun sifatnya subyektif, mungkin ada pendengar lain yang justru nyaman dengan musik dari UMR Yogyakarta. Kebetulan, ketika saya mencoba mendengarkan karya ini dari titik yang berbeda, saya tidak sengaja mendengar pengunjung kafe Tempuran Space yang melewati dome dan berceloteh, “Ambience i lho!”. Semoga maksud mereka adalah Ambience for ODGJ, karena saya juga setuju kalau musik ini meresahkan.   (2) Musical Interpretation of Dance Works “Semilah” dan Spasialisasi sebagai Storytelling               Penerapan spasialisasi yang paling praktis dan mudah dipahami orang awam adalah ketika spasialisasi digunakan untuk mempengaruhi persepsi pendengar. Contohnya adalah ketika kita sedang menonton film di bioskop atau bermain game yang memiliki efek surround. Efek tersebut membuat kita seolah-olah berada di dunia lain, di dunia yang menjadi latar film atau game yang sedang kita nikmati.               Setelah Bahtera, musisi kedua yang mengisi October Meeting 2023 hari kedua adalah Muhammad Khoirur Roziqin dengan karya Musical Interpretation of Dance Works “Semilah”. Karya ini sebenarnya adalah musik kolaborasi dengan tari yang ia kerjakan di tahun 2021, dan kali ini ia proyeksikan ulang dengan spasialisasi. Musiknya ia rekam di Kulonprogo dari beberapa instrumen gamelan, synthesizer, dan voice-over dengan 16 kanal dan menggunakan digital audio workstation (DAW) Ableton.               Setiap penampil berhak memberi perlakuan spasialisasi pada karya mereka sendiri-sendiri sesuai dengan karya mereka, dan perlakuan dari tiap musisi dengan musisi lain sangat berbeda. Ketika musiknya dipentaskan, Roziqin lebih banyak menempatkan bunyi-bunyi yang lebih mudah dicerna awam pada speaker atas, seperti suara burung, suara siter, dan suara gamelan. Sementara suara-suara yang lebih asing dan mencekam seperti voice-over yang merapal “Bismillah” dan obrolan berbahasa Jawa, synthesizer, dan beberapa suara gamelan dikumpulkan di speaker bawah dan tengah.               Speaker atas berada di luar dome dan digantung di batang pohon, sementara speaker tengah dan bawah berada di dalam dome. Memanfaatkan posisi speaker tersebut, Roziqin seperti memancing penasaran tidak hanya penonton konser, tetapi juga para pengunjung kafe. Ketika karya dimainkan, sempat terlihat beberapa pengunjung kafe di dekat dome seperti penasaran; ada yang mencari sumber suara, ada yang cenderung menikmati. Andai mereka lebih peka dan penasaran lagi, mereka bisa menuju ke dome, menemukan bunyi-bunyi yang lebih kaya di dalam situ.               Spasialisasi yang diterapkan pada karya Roziqin memunculkan persepsi ruang yang lebih dinamis. Ketika kita mendengarkan suatu bunyi, bunyi tersebut seperti jadi pemantik dan penarik perhatian kita untuk mengeksplor ke titik lain yang memiliki suasana bunyi yang berbeda. Kurang lebih seperti ketika kita bermain game dengan perspektif first-person; ketika kita mendengar suara gemerisik di belakang, kita jadi penasaran dan akhirnya berbalik ke arah suara gemerisik tersebut, hingga akhirnya kita menemukan sesuatu yang menarik.               Jika suatu karya sudah memiliki narasi, penerapan spasialisasi yang dinamis seperti ini bisa membantu menguatkan narasi tersebut. Sebuah cerita yang menarik umumnya memiliki kronologi yang jelas dan babak-babak penceritaan seperti pengenalan, konflik, klimaks, dan penyelesaian yang kuat. Karya Roziqin secara garis besar diawali dengan bunyi-bunyi yang sederhana dan easy-listening seperti suara burung dan siter, kemudian ditambah dengan suara gamelan, lalu muncul suara synthesizer yang berat dan makin berat, lalu diakhiri dengan tambahan beberapa suara voice-over. Awalnya ringan, lalu semakin berat hingga akhir. Meskipun karya ini tidak mencantumkan sinopsis, bentuk komposisi yang seperti ini dan ditambah dengan spasialisasi membuat kita menduga karya ini mungkin memiliki cerita menarik di baliknya. Roziqin seperti tidak hanya bercerita lewat musik, tetapi juga bercerita lewat audio. Meski audio engineering juga memiliki kreativitas dan selera pribadi dari audio engineer, umumnya pekerjaan produksi rekaman lebih banyak dianggap sebagai pekerjaan teknis yang butuh pemikiran logis. Spasialiasi seperti memberikan kesempatan bagi audio engineer untuk “bercerita”. Storytelling tidak selalu muncul pada sesuatu yang bersifat seni atau hiburan, tapi juga pada lingkup yang lebih saintifik. Roziqin seolah-olah mencoba menarik perhatian banyak orang, terutama selain penonton konser, lewat perlakuan spasialisasinya dalam Musical Interpretation of Dance Works “Semilah”.               Spasialisasi memang memiliki teknik dan peralatan yang sulit dipahami, namun efeknya sebenarnya tidak terlalu asing bagi kita. Penerapan spasialisasi dalam karya Roziqin ini menawarkan penggunaan spasialisasi yang lebih praktis, misalnya untuk instalasi seni interaktif atau untuk wahana hiburan seperti rumah hantu. Efek surround yang biasanya muncul di karya maya seperti game dan film kini bisa dirasakan secara nyata, dan akhirnya membuat pengalaman menikmati karya menjadi lebih kaya. Rasanya spasialisasi semakin perlu diceritakan untuk lebih banyak orang sehingga semakin berkembang dan makin mudah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penulis: Florentina Krisanti | @fkrisanti

Musik Batak dan Masalahnya Saat ini
20 Oct 2017 Redaksi 3.650 Views

Musik Batak dan Masalahnya Saat ini

Oleh: Markus B.T. Sirait Pengantar Redaksi: Rabu (18/10), bertempat di Hotel Aone, Menteng, Jakarta Pusat, diadakan Focus Group Discussion (FGD) oleh Toba Literacy & Art Festival. Kegiatan FGD ini mengumpulkan beberapa pelaku literasi dan seni dari berbagai bidang untuk fokus membahas dan memetakan beberapa permasalahan yang selama ini kurang diamati oleh pelaku industri Pariwisata, Pemerintah dan Pelaku Seni. Untuk sektor musik, pembahasan berfokus pada tiga masalah, yaitu Literasi, Musik Batak dan Opera Batak. Catatan ini ditulis oleh Markus BT Sirait sebagai ringkasan dari hasil FGD tersebut. Selamat membaca. ** Wisata di Danau Toba selama ini hanya berfokus mengandalkan alam, tetapi kurang menyentuh aspek-aspek kultural seperti literasi dan musik. Padahal, aspek kultural juga tidak kalah penting dibangun untuk dapat meningkatkan pariwisata di Sumatera Utara khususnya Danau Toba, sebagai salah satu dari sepuluh destinasi wisata Indonesia yang akan fokus dikembangkan. FGD ini adalah sebuah upaya awal menuju kegiatan puncak yang akan dilaksanakan di Balige & Parapat, Sumatera Utara, sekitar bulan Maret tahun mendatang (2018), sebagai pendukung terselenggaranya program BODT (Badan Otorita Danau Toba).                 Memunculkan potensi kekayaan seni budaya menjadi salah satu misi utama dari TLAF (Toba Literacy & Art Festival) sehingga diharapkan mampu mencetak kaum-kaum muda kreatif di dunia literasi dan seni serta memiliki kemampuan memasarkan produknya secara profesional. Oleh sebab itu, TLAF secara berkala akan mengadakan kegiatan yang saling berkaitan dan melengkapi. Hal tersebut dimulai dengan diadakannya FGD dengan harapan adanya pemetaan, perumusan langkah, perumusan materi workshop hingga melakukan kurasi pertunjukan, pameran dan kegiatan seni budaya. FGD ini terbagi atas 3 fokus pembahasan yaitu Literasi, Musik Batak dan Opera Batak.                 Pada sektor musik, TLAF (Toba Literacy & Art Festival) sebagai lembaga yang menyelenggarakan kegiatan, mengundang beberapa akademisi, seniman, pelaku industri pariwisata dan perwakilan Dirjen Kebudayaan diantaranya adalah Rizaldi Siagian (pemusik, etnomusikolog), Irwansyah Harahap (pemusik, etnomusikolog), Hardoni Sitohang (pemusik), Viky Sianipar (pemusik), Iran Ambarita (pemusik, komponis), Markus B. T. Sirait (pemusik, etnomusikolog), Joyce Sitompul (arsitek, pecinta budaya Batak), Sabar Situmorang (akademisi, pegiat ekonomi kreatif, manager artis), Basar Simanjuntak (Badan Pengelola Otorita Danau Toba), Ratnauli Gultom (pegiat budaya dan eco tourism di Danau Toba), dan Pejabat di Kementrian Pariwisata.                 Kegiatan FGD tersebut diawali dengan membahas beberapa permasalahan yang terjadi selama ini untuk sektor musik di Toba sehingga terdapat pemetaan permasalahan untuk kemudian bersama-sama mencari solusi untuk permasalahan-permasalahan tersebut. Sekitar 2,5 jam diskusi yang dilakukan menghasilkan pemetaan masalah yang dibagi dalam beberapa sektor yaitu: Intangible Heritage as Living Culture. Permasalahan musik sebagai bagian kultur Batak selama ini terjadi karena: Mulai hilangnya konsep ritual/upacara dalam kehidupan masyarakat Toba, padahal masyarakat Toba telah mengenal konsep event dalam kehidupannya sehari-hari sejak dulu. Melalui ritual/upacara tersebut keberadaan seni diakui sebagai bagian penting di masyarakat Toba sebagai pemilik dan pelaku kegiatan tersebut. Lewat ritual/upacara jugalah masyarakat Toba memiliki kemampuan dalam mengelola event secara kolektif. Rizaldi Siagian memaparkan: “Ketika ritual/upacara (bahasa kekinian event) mulai punah maka segala ekspresi, produk tangible maupun intangible beserta pengetahuannya akan turut musnah”. Berdasarkan tanggapan di atas, hal tersebut memang terjadi dan disepakati oleh informan yang hadir di FGD tersebut. Dari beberapa contoh kasus yang dipaparkan seperti pelaksanaan dan pengelolaan Pesta Rakyat Danau Toba selama ini terlihat bahwa masyarakat mulai kehilangan kemampuan mengelola event (ritual/ upacara, kegiatan hiburan) secara kolektif. Selain mulai kehilangan kemampuan tersebut, masyarakat juga mulai tidak merasakan dampak dari event yang diadakan selama ini dan mulai timbulnya kebencian terhadap event. Manusia Batak terlahir dengan kemampuan musikal dan dalam kehidupan sosialnya menempatkan musisi (dalam bahasa Batak Toba disebut pargongsi) dalam status yang sangat tinggi dengan gelar “Batara Guru Humundul”. Masyarakat Batak Toba memiliki keyakinan bahwa musisi adalah penyampai doa (harapan) manusia kepada Debata Mula Jadi Na Bolon (Tuhan). Dalam era sekarang, hal tersebut mulai terlupakan seiring mulai hilangnya ritual/upacara yang diadakan masyarakat Batak Toba. Selama ini, Batak Toba cenderung selalu melihat masalah dari sisi eksternal kulturalnya dan membandingkannya dengan kebudayaan lain seperti bagaimana musik berhasil di Bali atau Yogyakarta, dsbnya. Oleh sebab itu, sebaiknya seniman mulai memperhatikan internal budaya nya seperti yang disampaikan oleh Irwansyah Harahap, “Masalahnya ada di dalam, bukan di luar kebudayaan kita, oleh sebab itu mari kembali pada akar (roots) Batak”. Karena itu, kegiatan Toba Literacy & Art Festival ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran dan kecintaan masyarakat kembali terhadap event kultural di masyarakat Toba dan menciptakan sense of art yang kembali mengakar pada roots Batak sehingga event menjadi suatu yang hidup, bertumbuh dan penting dalam kegiatan kultural Toba.   Entertainment & Industri Musik. Banyak potensi musikal yang dapat ditemui di Batak Toba, tetapi standar kualitas juga sangat diperlukan untuk dapat memasuki industri musik. Seniman Batak jarang menyadari pentingnya perkembangan dalam dunia industri musik. Dalam era sekarang, kemampuan (skill) musikal juga harus dibarengi dengan kemampuan (skill) untuk menghibur. Memiliki kemampuan musikal tetapi tidak mampu menghibur juga akan ditinggalkan masyarakat. Kemampuan seniman Batak untuk mengemas (packaging) produk yang ditawarkan untuk masuk ke industri musik juga menjadi sorotan penting yang perlu diperhatikan. Menumbuhkan insting ekonomi bagi seniman-senimannya (selama ini dirasa tidak penting oleh seniman sehingga kurang dihargai). Ketika ekonomi seniman sudah mapan, baru senimannya akan ideal untuk beraktifitas seni. Menciptakan aliran dana baru (sponsorship) bagi seniman sehingga dapat fokus berkarya. Kegiatan Toba Literacy & Art Festival diharapkan mampu menjadi jembatan penghubung melalui kegiatan workshop sesama seniman yang akan menambah kemampuan dan pengetahuan mengenai perkembangan dalam menyampaikan produknya jika ingin masuk ke dalam industri musik. Pendidikan. Mengembalikan peran seniman terutama musik untuk menumbuhkan sense of art dalam mengedukasi kaum muda. Hal tersebut dirasakan perlu sehingga kaum muda (generasi millenial) dapat belajar langsung kepada seniman-seniman senior. Adanya gap lintas generasi yang menyebabkan komunikasi yang tidak tepat sasaran selama ini menjadi faktor utama mengapa hal ini dapat terjadi. Semakin berkurangnya seniman senior (karena faktor umur) juga menjadi suatu alasan utama sehingga diperlukan suatu gerakan untuk menurunkan pengetahuan-pengetahuan yang mereka ketahui kepada generasi muda agar tidak punah. Karena itu diperlukan sebuah kegiatan yang dapat mempertemukan seniman senior dengan seniman muda untuk dapat duduk, berkomunikasi, dan belajar bersama (revitalisasi). Perlunya arsip musik Batak. Selain sebagai bukti data sejarah dan data kebudayaan yang hidup juga sebagai media belajar (referensi) bagi seniman muda yang ingin mengetahui musik Batak dan kemudian mengeksplorasinya sesuai dengan ekspresi musikalnya masing-masing.   Produk Seni untuk Pariwisata. Permintaan dalam pariwisata terhadap musik juga ternyata penting sehingga perlu mengembangkan musik untuk kebutuhan pariwisata tetapi tidak menghilangkan rasa dan ekspresi Batak nya. Festival yang memiliki tujuan yang jelas, dapat dirasakan dampaknya langsung oleh masyarakat, masyarakat kembali pada spirit kolektif mengelola kegiatan sehingga tercapai pencerahan bagi masyarakat pemilik sekaligus pelaku festival tersebut. Melalui pariwisata di Danau Toba tercipta arena baru bagi pelaku kreatif sehingga konsentrasi arena pertarungan (selama ini terkonsentrasi pada satu tempat yaitu Jakarta karena seluruh seniman mudanya keluar dari Sumatera Utara; merantau) tidak lagi terkonsentrasi pada satu tempat. Hal ini menyebabkan timbulnya peluang baru agar seniman-seniman mudanya secara bersama-sama mau kembali ke kampung halaman membangun Danau Toba. (Foto: Markus BT Sirait)

TELAH TERBIT BUKU ARSITEKTUR TEORI SENI PETA JALAN FILOSOFIS DARI MIMESIS HINGGA METAVERSE
19 Jan 2026 Redaksi 149 Views

TELAH TERBIT BUKU ARSITEKTUR TEORI SENI PETA JALAN FILOSOFIS DARI MIMESIS HINGGA METAVERSE

 Sinopsis:  Motivasi terbesar di balik penulisan ini adalah keprihatinan mendalam mengenai kelangkaan buku filsafat dan teori seni yang komprehensif dalam bahasa Indonesia. Selama bertahun-tahun, mahasiswa dan penggiat budaya di Indonesia menghadapi kendala akses terhadap pemikiran filosofis global karena literatur kunci sering kali berbahasa asing atau terjemahannya terfragmentasi. Akibatnya, banyak mahasiswa kesulitan menempatkan karya mereka dalam peta diskursus global. Ketiadaan jembatan literatur ini kerap memutus hubungan antara kekayaan praktik di studio, sanggar, dan ruang-ruang kreatif penciptaan seni dengan ketajaman analisis di ruang seminar.Tujuan utama buku ini adalah menghadirkan kerangka berpikir yang sistematis dan kritis bagi siapa saja yang ingin memahami seni sebagai fenomena budaya yang sarat makna. Buku ini berfungsi sebagai “peta jalan” yang membentangkan rute intelektual dari pemikiran klasik hingga futuristik, menyajikan gagasan para filsuf besar dalam bahasa yang lebih mudah dicerna. Segera Terbit Judul BukuArsitektur Teori Seni Peta Jalan Filosofis dari Mimesis hingga MetaversePenulis Bambang SunartoEditorErie SetiawanISBN978-623-89796-7-7DetailUkuran buku 15 x 23 cm; Tebal: vii + 193 hal  Pemesanan bisa dilakukan dengan menghubungi:WhatsApp: 0895341875712Instagram: @amtpublisher_Marketplace: Tokopedia/Penerbit AMT

TELAH TERBIT BUKU METODE SOFRAN SISTEM PEMBELAJARAN BIOLA
19 Jan 2026 Redaksi 185 Views

TELAH TERBIT BUKU METODE SOFRAN SISTEM PEMBELAJARAN BIOLA

Sinopsis:  Buku Metode Sofran Sistem Pembelajaran Biola ini adalah buku mendasar yang disusun secara tersruktur, teratur dan terukur, sehingga akan memudahkan siapapun untuk mempelajari biola secara menyenangkan, tapi tetap sistematik. Buku panduan ini dirancang dalam tahap-tahap pertemuan, dari pertemuan 1 hingga 20, dilengkapi dengan notasi dan instruksi.Tahapan dimulai dari pengenalan fisik instrumen biola, senar dan nada-nada, hingga memainkan lagu-lagu sederhana. Diharapkan buku ini dapat bermanfaat bagi pemula, dan dapat digunakan di sekolah atau kursus biola. Judul Buku Metode Sofran Sistem Pembelajaran BiolaPenulisSopian Loren Sinaga, M.Sn.EditorErie SetiawanISBN978-623-89796-8-4DetailUkuran buku 21 x 29,7 cm; Tebal: v + 71 hal Pemesanan bisa dilakukan dengan menghubungi:WhatsApp: 0895341875712Instagram: @amtpublisher_Marketplace: Tokopedia/Penerbit AMT 

Manusia dan Bunyi yang Telah Kehilangan Martabatnya (Bagian 1)
18 Oct 2017 Redaksi 3.602 Views

Manusia dan Bunyi yang Telah Kehilangan Martabatnya (Bagian 1)

Oleh: Erie Setiawan  Kita berhutang budi pada Gustav Fechner (1801-1887), Pelopor Psikofisika (Psychophysics)—dan kita belum mampu membalasnya sampai hari ini. Psikofisika lantas melahirkan psikoakustik, menyoroti masalah yang kurang-lebih sama: tentang persepsi manusia dalam hubungannya dengan gejala alam yang berkaitan dengan unsur-unsur fisika. Hanya saja, objek psikofisika jauh lebih luas dibanding psikoakustik yang lebih kasuistik dan objektif.   Phytagoras pada abad lampau sudah mencoba mendekatkan fisika dengan matematika, namun belum sampai pada masalah persepsi manusia—terlebih sosial. Studi mengenai psikofisika dan psikoakustik baru benar-benar dikembangkan secara ilmiah setidaknya pada abad ke-19, pelopornya adalah Gustav Fechner, seorang dokter sekaligus ahli fisika dari Jerman. Sebelum fase Fechner, kita bisa menemukan nama-nama seperti Leonardo da Vinci, Galileo Galilei, Robert Hooke, hingga George Simon Ohm—yang sama-sama punya daya tarik terhadap gelombang sebagai sebuah fakta alam yang erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Fechner lebih meyakinkan, karena jasanya memperkuat studi mengenai hubungan fisika dan manusia. Dalam bukunya yang terkenal, The Element of Psychophysic (1860), Fechner menjelaskan bahwa pikiran dan badan adalah dua unsur yang terpisah dari tubuh. Maka dari itu, tubuh (keseluruhan), dan badan (sebagian) bisa bergerak secara jujur, sementara pikiran menipu—atau bisa juga sebaliknya. Pencopet atau ahli hipnotis adalah salah satu contoh yang paling nyata. Fechner jarang disoroti, tetapi penemuannya—yang kebanyakan lahir atas eksperimen-eksperimen—mampu menghasilkan teori mengenai hubungan penginderaan dan kepekaan. Gelombang (suara-bunyi) adalah “zat aktif” yang mampu tertangkap oleh indera dan kemudian menghasilkan rangsangan, sebagai bekal dari kepekaan. Yang paling penting dari jasa Fechner adalah setiap manusia akan belajar mengenai keseimbangan hidup dengan meningkatkan kepekaan atas seluruh gejala alam (nature), dan ia percaya bahwa frekuensi mampu merubah kehidupan. Inilah dasar dari pentingnya kita mempelajari bunyi dalam kodrat dan fungsinya—terlebih musik yang membentuk bunyi menjadi sejuta identitas. Tokoh penting selain Fechner yang mempengaruhi keberlanjutan studi ilmiah mengenai psikofisika dan psikoakustik adalah Hermann von Helmholtz, salah satu tokoh yang juga terpengaruh oleh George Simon Ohm. Buku Helmoltz, On the Sensations of Tone as a Physiological Basis for the Theory of Music (1863), adalah referensi utama dan mula-mula tentang hubungan pendengaran dan persepsi. Penelitian Helmoltz maupun Fechner tentang gejala psikopat telah turut menjadi embrio atas kelahiran terapi musik, yang pada waktu itu masih disebut terapi gelombang. Tentu saja Rudolf Hertz melengkapinya dengan ukuran-ukuran sistematis dalam frekuensi yang kita kenal dengan sebutan Hz (Hertz).   Kaitannya dengan masalah kemanusiaan Saat ini kita tengah menghadapi banyak kekacauan yang tak terkendali. Sebagai manusia, kita sudah hampir tidak memedulikan masalah-masalah inti dalam psikofisika itu. Kita hanya peduli pada yang serba kasat, terutama didominasi oleh mata (visual), tidak lagi oleh (syaraf) telinga (auditif). Padahal, segala sesuatu menurut ukuran fisika, seringkali bersifat tidak kasat—butuh penyelidikan/pengujian. Seperti air yang terlihat bening namun sesungguhnya keruh; seperti udara yang tak kasat mata tapi bisa mengakibatkan influensa; seperti orang diam yang tengah menyampaikan maksud. Kita sungguh tak paham, mana sebetulnya yang sedang kita butuhkan untuk saat ini bagi kondisi psikis kita secara menyeluruh. Memang benar ada dugaan bahwa telinga manusia semakin hari semakin tuli, karena sudah tak mampu membedakan mana bunyi yang dibutuhkan dan mana yang tidak. Setiap orang rasanya “aman-aman saja” terhadap kebisingan di jalan-raya. Hanya macetnya yang dipikirkan, tetapi tidak karena suara yang terdengar di sekitar. Bayangkanlah Anda berada di tengah kemacetan lalu-lintas, tetapi seluruh mesin dari elemen transportasi yang ada tidak menghasilkan suara berisik. Artinya, motor-mobil dan lain-lain didesain ramah telinga. Pasti akan ada dampak yang berbeda. Secara tidak langsung, kita stres di jalanan macet itu bukan hanya disebabkan oleh benda-benda yang mengakibatkan macet, tetapi juga karena adanya suara-suara yang memang tidak dibutuhkan telinga. Kita belum mampu menyeleksi atau melakukan tindakan preventif atas bahaya bagi telinga yang bisa datang kapan saja dan dimana saja. Agaknya kita juga harus ingat, bahwa telinga adalah pintu paling efektif untuk menerima gelombang yang diproses oleh syaraf, dan yang lebih penting dipahami lagi adalah, bahwa tidak semua suara atau bunyi bersifat kasat telinga. Ada bunyi yang memang tidak mampu tertangkap kasat telinga tetapi memberikan pengaruh. Sebab itu ada istilah in-audible sound vibration (bunyi-bunyi yang tak kasat telinga): gamma, betha, alpha, theta (rata-rata di bawah 50Hz sampai 4Hz). Adanya diam (jeda tak berbunyi) di dalam musik juga bukan berarti diam dalam arti yang sesungguhnya. Tidak mengherankan pula bahwa ada fakta tuna rungu juga bisa bermain musik karena ia bisa peka di wilayah-wilayah frekuensi yang tak terjangkau oleh umumnya orang. Kita juga mengenal teknologi ultrasonografi (USG) yang sering digunakan untuk melihat secara langsung kondisi janin di dalam perut berdasarkan tangkapan gelombang bunyi yang didukung cairan khusus. Bunyi yang tertangkap menghasilkan citra visual janin yang mampu terukur sama persis (lingkar kepala, panjang, berat, dll.).       Dalam soal-soal kemanusiaan hari ini, segala yang fisik lebih dianggap penting dibanding yang fisika, apalagi metafisika. Manusia semakin lupa bahwa ada unsur-unsur tak kasat yang sedemikian mempengaruhi laku kehidupan. Sebab itu kita juga pantas bertanya, apakah kita sebetulnya sudah mengoptimalkan seluruh indera yang kita punya untuk menemukan manfaat kehidupan sejati? Jangan-jangan semua itu tidaklah inti, melainkan hanya kosmetika? Bersambung… Ilustrasi: Oscar Artunes

SELAMAT DATANG DI OCTOBER MEETING 2021: DELIVERY MECHANISM!
17 Oct 2021 Redaksi 1.826 Views

SELAMAT DATANG DI OCTOBER MEETING 2021: DELIVERY MECHANISM!

  Seiring dengan kemajuan zaman, kita melihat bahwa seni saat ini semakin luas. Batas-batas dan pakem dalam seni yang dulunya merupakan sesuatu yang mutlak, kini meluruh. Tak jarang kita menemui seorang musisi yang juga ikut andil dalam konsep visual dari musiknya, atau seorang perupa yang menggunakan bunyi sebagai alat dalam mewujudkan ide-idenya. Pandemi COVID-19 yang sedang kita lalui saat ini memaksa kita untuk berkreasi dalam ruang-ruang maya, dan hal ini juga menjadi kesempatan bagi para komponis, musisi, dan seniman lainnya untuk menciptakan karya, tanpa terhalang ruang-ruang dan materi fisik. Fenomena dan kebiasan seperti ini bukanlah sesuatu yang tanpa sebab. Para pelaku seni kini melihat bahwa materi fisik memiliki batasan masing-masing. Hal ini rupanya bisa menghambat mereka untuk menyalurkan ide dan ekspresi mereka. Dunia maya menawarkan suatu ruang tanpa batas sehingga mereka bisa menuangkan gagasan mereka tanpa batas. Berbagai penyesuaian pun dilakukan untuk bisa memanfaatkan ruang tersebut semaksimal mungkin. Tidak hanya bagi seniman; persepsi penonton dan penikmat dalam mengapresiasi karya pun berubah ketika karya-karya nyata berubah menjadi benda maya. Kemajuan teknologi dan perkembangan ekonomi membuat mereka memiliki sikap yang berbeda dalam menikmati suatu karya. Jika kita melihat interaksi antara pelaku seni dan penikmat seni di ruang maya ini, gejala apa saja yang bisa terjadi? Bagaimana komponis dan musisi mengekspresikan dirinya, dan bagaimana pendengar mengapresiasinya di ruang maya? Apakah pesan-pesan dari setiap pihak dapat tersampaikan dengan baik, atau ada distorsi? Fenomena inilah yang diangkat menjadi tema October Meeting: Contemporary Music and Musicians di tahun 2021 ini: Delivery Mechanism. Delivery Mechanism dibawakan dalam bentuk yang baru dan belum pernah dilakukan oleh October Meeting sebelumnya, yaitu melalui continuous broadcast loop dan live streaming. Continuous broadcast loop merupakan tayangan program yang disiarkan secara berulang dalam durasi lama, seperti siaran televisi. Live streaming adalah siarang langsung yang akan diselenggarakan di tengah-tengah laju kegiatan, sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan sebelumnya. Bentuk tayangan ini juga dipilih untuk menyesuaikan tema Delivery Mechanism itu sendiri. Kegiatan OMCMM 2021 akan dilakukan dalam empat jenis, yaitu concert, discussion, lecture, dan archives. Concert, sesuai namanya, merupakan ajang bagi para komponis dan musisi untuk menampilkan karya mereka kepada penonton. Tema Delivery Mechanism memungkinkan para komponis untuk berkarya di berbagai media baru, yang belum ada di October Meeting sebelumnya. Sejumlah komponis dari dalam dan luar negeri akan hadir untuk mengisi segmen ini, yaitu Rani Jambak, Wahyu Thoyyib Pambayun, Kilma (Mesir), Marcioz (Brazil), dan masih banyak lagi. Open Lab, salah satu program laboratorium yang selalu ada di October Meeting, turut menampilkan karyanya di segmen ini. Open Lab tahun ini akan dibawakan oleh October Meeting Ensemble yang berkolaborasi dengan Proyecto MUTAR (Peru). Kegiatan kedua adalah discussion, yang merupakan ajang tukar pendapat dan pengalaman dari para komponis, seniman, pegiat seni, dan pihak-pihak terkait. Perempuan Komponis akan mengadakan sesi Rumpi Meja Bundar untuk membicarakan komposisi media baru dan kaitannya dengan pengalaman kreatif setiap komponis. Dion Nataraja akan membagikan pengalamannya menciptakan alat musik Gender Sandikala dengan proses kreatif dan apa saja yang ia temukan dalam proses tersebut. Ignatia Nilu akan mengisi diskusi post-event yang membahas tentang fenomena Delivery Mechanism saat ini. Lecture, atau kuliah, merupakan ceramah dengan sistem daring yang disampaikan dari beberapa komponis terkemuka. Mereka mungkin akan menceritakan pengalaman musikal dalam mengkompos musiknya,  yang tentu saja menarik untuk dibedah. Terakhir adalah program October Meeting: Contemporary Music and Musicians’ Archives. October Meeting memiliki arsip karya dan ceramah dari sejumlah tokoh musik, salah satunya adalah almarhum Slamet Abdul Sjukur dan Vincent McDermott. Penayangan arsip ini bertujuan untuk mengisi ruang khasanah artistik bunyi yang bisa diakses secara temporer di kanal YouTube milik October Meeting untuk pengembangan audiens. Delivery Mechanism dapat disaksikan di kanal YouTube resmi October Meeting mulai dari tanggal 17-31 Oktober 2021. Continuous broadcast loop akan ditayangkan selama 24 jam sehingga penonton bebas menyaksikan di jam berapapun. Live streaming akan dilakukan pada jam-jam tertentu, yang jadwalnya akan diumumkan dari semua media sosial October Meeting. OMCMM 2021 didukung oleh sejumlah besar pihak, yaitu Art Music Today, Rekam Bergerak, AMT Studio, Snooge Studio, dan OME. Beberapa rekan media turut mendukung pada kegiatan ini, yaitu Musikjogja, Warung Arsip, Radio Buku, Ruang Kerja Creative,dll. YouTube: October Meeting 

JADWAL LENGKAP OCTOBER MEETING 2019!
17 Oct 2019 Redaksi 2.680 Views

JADWAL LENGKAP OCTOBER MEETING 2019!

  October Meeting Contemporary Music and Musicians 2019 “TURNING FORWARD” akan berlangsung lima hari dari tanggal 21 hingga 25 Oktober 2019 di Tembi Rumah Budaya, Yogyakarta. Berikut jadwal lengkapnya:   HARI KE – 1 Senin, 21 Oktober 2019 OPEN LAB: Introduction (Only for Participant) Jonas Engel - Joko Porong- Willyday Onamlay Muslim Rumah Budaya Siliran | 13:00 – 16:00 WIB OPENING CEREMONY CONCERT (Open for Public) Arquinto Caesar & Raja Kirik Tembi Rumah Budaya | 19:30 – 21:30 WIB   HARI KE - 2 Selasa, 22 Oktober 2019 OPEN LAB: Artistic Investigation #1 (Only for Participant) Jonas Engel - Joko Porong- Willyday Onamlay Muslim Rumah Budaya Siliran | 09:00 – 17:15 WIB TALKSHOW (Open for Public) “Southeast Asia – Japan Soundscape” oleh Gardika Gigih Tembi Rumah Budaya | 09:30 – 11:30 WIB DAILY DISCUSSION #1 (Open for Public) “Kegiatan Sebagai Musisi Musik Baru (Kontemporer) di Eropa dan Bagaimana Ia Mempengaruhi Kekaryaan” oleh Alfian Emir Adytia Tembi Rumah Budaya | 13:00 – 15:00 WIB INTERNATIONAL CONCERT (Open for Public) oleh Jonas Engel Tembi Rumah Budaya | 19:30 – 21:30 WIB   HARI KE - 3 Rabu, 23 Oktober 2019 OPEN LAB: Artistic Investigation #2 (Only for Participant) Jonas Engel - Joko Porong- Willyday Onamlay Muslim Rumah Budaya Siliran | 09:00 – 17:15 WIB DAILY DISCUSSION #2 (Open for Public) “Ekstensi Eksistensi Ruang” | Seni Digital dan Seni Generative Sebagai Ekstensi dari Ruang Alam oleh Ignatia Nilu Tembi Rumah Budaya | 09:30 – 11:30 WIB LECTURE CONCERT (Open for Public) “Pembentukan Prosedural Komposisi Baru Sebagai Suatu Upaya Pencarian Musik Masa Kini : Suatu Tinjauan Kritis” oleh Aldy Maulana Tembi Rumah Budaya | 13:00 – 15:00 WIB HIGHLIGHT CONCERT (Open for Public) Jay Afrisando Tembi Rumah Budaya | 19:30 – 21:30 WIB   HARI KE – 4 Kamis, 24 Oktober 2019 OPEN LAB: Artistic Investigation #3 (Only for Participant) Jonas Engel - Joko Porong- Willyday Onamlay Muslim Rumah Budaya Siliran | 09:00 – 17:15 WIB DAILY DISCUSSION #3 (Open for Public) “Silang Sengkarut : Antara Tradisi dan Inovasi” oleh Iqbal H. Saputra Tembi Rumah Budaya | 09:30 – 11:30 WIB YOUNG COMPOSERS SERIES CONCERT  (Open for Public) Tembi Rumah Budaya |19:30 – 22:00 WIB   HARI KE – 5 Jum’at, 25 Oktober 2019 DISKUSI UTAMA “TURNING FORWARD“ (Open for Public) “Turning Forward & Turning For What?” oleh Michael H. B. Raditya Tembi Rumah Budaya |13:00 – 15:00 WIB CLOSING CEREMONY & CONCERT (Open for Public) OPEN LAB CONCERT Tembi Rumah Budaya | 19:00 – 21:30 WIB   TENTANG OCTOBER MEETING: October Meeting adalah pertemuan musik tahunan yang diprakarsai oleh Trace 21 dan Art Music Today. Tahun ini October Meeting telah menginjak tahun keempat, akan diselenggarakan selama lima hari di Yogyakarta, 21-25 Oktober 2019 di Tembi Rumah Budaya. October Meeting kali ini mengusung tema “Turning Forward.” Tema tersebut dimaknai sebagai upaya merespon lalu-lintas sosio-kreatif dalam bidang musik yang tengah riuh belakangan ini. Ada kemajuan-kemajuan pesat yang terasa nyata, namun di sisi lain juga sedang terjadi multi-degradasi baik di aspek sosial (komunal), maupun kreatif. Di antara silang-sengkarut medan kreatifitas saat ini kami terus mencari berbagai celah untuk menemukan peluang-peluang interaktif yang lebih intim dalam komunitas sosial maupun kreatif. Kami percaya bahwa ruang dialog masih menjadi pilihan yang efektif untuk saling mempelajari tantangan yang dihadapi seluruh jaringan yang telah kami bentuk dan akan terus berkembang. Seperti biasa, kami juga mengundang Mitra Akademik dari perguruan tinggi musik di seluruh Indonesia guna melengkapi cakupan dialog dan memperkaya wahana riset yang lebih sistematik dan bermanfaat ke depan. Tahun 2019 ini kami juga akan meluncurkan portal “Spektrum” yang berisi informasi personal para komponis Indonesia lintas generasi. Portal ini akan dikelola secara kolektif oleh komponis di berbagai region sebagai upaya untuk menguatkan interaksi dan produktifitas kekaryaan maupun jaringan. October Meeting, yang sifatnya lebih sebagai ruang pertemuan ketimbang festival/pementasan, adalah sebuah kesempatan jangka panjang untuk saling berdialog secara terbuka, terutama dalam memahami cakupan nilai-nilai artistik-estetik dan berbagai gejala yang mengikutinya.   Narahubung: Endra Djawanai +6281215477807 Instagram: @octobermeeting Website: www.octobermeeting.org

Notasi, Kontemporer, dan Kemerdekaan Bunyi
17 Sep 2018 Redaksi 11.779 Views

Notasi, Kontemporer, dan Kemerdekaan Bunyi

      Oleh: Syarif Maulana   (Ditulis dalam perjalanan di kereta, sebagai suplemen bedah buku _Notasi Musik Abad 20 dan 21_ karya Septian Dwi Cahyo, Sabtu, 25 Agustus 2018 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta)   Buku _Notasi Musik Abad 20 dan 21_ ini sudah lama saya lihat pengumumannya di linimasa media sosial teman-teman saya. Selintas, saya pikir buku ini menarik dan keren karena saya tiba-tiba teringat ucapan Dieter Mack pada sebuah seminar berjudul _Komposer Masa Kini_ di Universitas Pendidikan Indonesia pada 11 Oktober 2016. Begini kira-kira ucapannya, "Meski cara memainkan musik sudah sangat beragam, tapi komposer tetap harus punya cara agar pemain dapat memainkan komposisinya dengan seratus persen sama (dengan apa yang dimaksud)." Lalu Dieter berjalan ke papan tulis dan menggambar notasi yang saya yakin, nyaris sebagian besar audiens tidak mengenalnya.   Bagi saya yang bukan komposer, saya baru mengerti secara yakin: inilah notasi musik "masa kini", yang oleh Septian Dwi Cahyo dikategorikan ke masa abad 20 dan 21. Sebelumnya, saya pernah diperkenalkan secara sekilas oleh seorang kawan, Diecky Kurniawan Indrapradja, berbagai bentuk penulisan partitur kontemporer, dalam sebuah kelas komposisi. Di kesempatan lain, komposer Hery Budiawan juga pernah membuatkan saya sebuah komposisi dengan gaya penulisan yang sangat tidak lazim dengan judul _Naon?_  untuk solo gitar yang hingga sekarang belum sempat saya mainkan (dan saya masih merasa bersalah karenanya).   Artinya, meski tidak secara getol menggeluti dunia penulisan partitur ini (apalagi yang kontemporer), ada beberapa fragmen memori yang melekat, yang bisa jadi landasan untuk saya berbicara dalam forum ini.    Pertama, ini buku yang penting. Sangat penting. Memang Septian sudah sangat hati-hati dengan mengatakan bahwa ini bukanlah upaya standardisasi notasi seolah-olah semuanya mutlak seperti yang ia tuliskan. Bagaimanapun, Dieter sendiri yang mengatakan: bahwa sejak abad ke-20, ekspresi musik para komposer sudah semakin individual dan tidak bisa dikelompokkan dalam suatu gaya yang serupa seperti halnya di zaman-zaman sebelumnya (e.g.: Barok, Klasik, Romantik).    Jadi, Septian telah melakukan sedikit keberanian yang penuh nuansa perjudian: Ia mendokumentasikan sesuatu yang spektrumnya sangat luas dan tidak terbatas. Yang ia sendiri sadari bahwa upaya ini cukup rumit karena komposer tertentu sangat senang bermain mana-suka dengan tanda-tanda dan mungkin hanya dipahami oleh pemain yang pernah bekerjasama dengannya.    Namun kenapa penting? Karena pertama, buku ini bukan untuk diikuti sedemikian rupa tanda-tandanya oleh komposer manapun yang membaca. Tapi untuk memberi inspirasi bahwa notasi merupakan sebentuk kendaraan atas gagasan musik kita dan itu artinya ikatan-ikatannya sebenarnya tidak baku selama musisi bisa paham apa yang diinginkan. Artinya, komposer yang membaca buku ini bisa terbebaskan dan bahkan tercerahkan dari belenggu aturan konvensional dan mungkin segera bisa menuliskan gagasan-gagasan baru yang sudah lama terpendam.    Kedua, ini bukan buku yang mendeskripsikan ragam notasi masa kini saja. Lebih daripada itu, ini adalah buku yang kurang lebih menceritakan tentang situasi musik kontemporer. Membaca ini, saya merasa miskin sekali. Bahwa ternyata musik sudah sejauh ini, estetika sudah sangat jauh beragam dan apa yang saya dengarkan belakangan, ekplorasinya ternyata masih di situ-situ juga.    Perasaan miskin ini mungkin bukan hanya jadi milik saya secara pribadi, tapi juga umumnya komposer, musisi, dan apresiator di kota tempat saya tinggal, Kota Bandung. Panitia menuliskan nama saya sebagai " _founder_ KlabKlassik Bandung" dan itu punya banyak makna bagi saya.    Sejak KlabKlassik Bandung berdiri tahun 2005, saya merasa bahwa komunitas ini mungkin sedikit banyak punya peran dalam mendorong gairah musik klasik di Kota Bandung (dengan kontribusi kelompok lainnya tentu, semisal Classicorp Indonesia dan Bandung Philharmonic). Tapi kami juga sedih karena perkembangan musik klasik di Bandung ini pada titik tertentu menjadi semacam _klangenan_ belaka. Jarang sekali ada satu sikap bermusik yang kuat seperti yang terjadi di Jakarta dan Yogyakarta (atau sekarang mulai berkembang di Pontianak) yang menunjukkan kepekaan terhadap situasi kontemporer. Memang ada komposer garda depan yang baik sekali seperti Iwan Gunawan, Haryo Yose Sujoto, Dedy Satya Hadianda, atau Fauzie Wiriadisastra, tapi lain daripada itu, sangatlah minim. Pernah ada komposer berani sekali, yang sudah saya sebut di paragraf sebelumnya, Diecky. Tapi ia pindah domisili, setelah sebelumnya sukses meracuni sejumlah orang untuk mengikuti "jalan sunyi"-nya (para pengikutnya itu, macam Adrian Benn dan Bilawa Ade Respati, sekarang berkiprah di Eropa).   Memang, Bandung belakangan ini mulai menggeliat "gerakan bunyi" yang diinisiasi salah satunya oleh seorang kawan, namanya Bob Edrian, lulusan Seni Rupa ITB. Dia getol sekali berkampanye tentang _sound art, sonic philosophy_ , dan yang menarik adalah dia ini bukan orang musik, melainkan orang seni rupa. Beberapa komposer musik sempat berang dengan Bob yang secara serampangan mencatut nama Cage dan Xenakis menjadi bagian dari perkembangan seni rupa. Tapi saya pribadi tidak peduli dengan catut mencatut sejarah karena sejarah ya sejarah, tidak ada istilah catut mencatut. Justru Bob (mudah-mudahan) telah membangunkan komposer musik di Bandung dari tidur panjangnya akibat keasyikan memelihara musik klasik sebagai sebuah _klangenan_ belaka. Orang-orang di seni rupa telah memasuki wilayah bunyi sebagai "medium rupa yang baru" dan mungkin banyak diantara mereka sama sekali tidak menguasai (atau tidak merasakan pentingnya) notasi masa kini.    Jadi, kembali lagi ke buku Septian. Buku ini begitu punya banyak arti bagi saya khususnya, dan berharap bagi para pegiat musik di Kota Bandung juga pada umumnya. Kawan saya, Ismet Ruchimat, komposer grup _fusion ethnic_ Sambasunda, titip satu eksemplar buku ini. Lalu sebuah kafe bernama Kaka Café yang sering mengadakan kegiatan filsafat dan kebudayaan, juga minta saya membawa beberapa eksemplar untuk dipajang. Artinya, memang buku ini lebih dari sekadar tentang notasi. Ini buku tentang situasi kekinian yang kerap dilupakan orang. Nigel Spivey pernah mengatakan bahwa memang seni disukai karena membawa kita pada situasi yang tidak realistis. Musik kontemporer sukar untuk disukai, karena mungkin bebunyiannya terlalu mengingatkan kita pada situasi "sekarang" dan itu terasa memilukan karena begitulah fakta yang terhadirkan setiap hari yang dicandrai oleh kita.    Jika (umumnya) publik Kota Bandung tidak bisa langsung dijejali musik kontemporer, maka buku Septian akan menjadi menu pembuka yang asyik. Kita harus senantiasa mendiskusikan dan membicarakannya, agar semakin terbiasalah kita dengan musik masa kini, dan terbebaslah telinga kita dari apa yang disebut Jacques Ranciére sebagai "rezim estetik". Adakah kebebasan yang lebih luhur, dari kebebasan sensori pendengaran?

PARODI RAINER HERSCH ORCHESTRA
17 Jan 2019 Redaksi 5.035 Views

PARODI RAINER HERSCH ORCHESTRA

Rainer Hersch menampilkan musik klasik dengan balutan lelucon yang menghibur. Ia dan orkestra yang dipimpinnya selalu mengundang tawa riuh di setiap kesempatan, seolah menjauhkan dari stigma ratusan tahun bahwa musik klasik adalah musik yang serius. Oleh: Aniarani Andita, mahasiswi S3 Musikologi, tinggal di London. Pada malam tahun baru 2019 lalu, saya pergi nonton konser Rainer Hersch Orchestra di Cadogan Hall di London. Sebelum konser itu, saya tidak pernah mendengar soal Rainer Hersch maupun orkestranya, saya hanya kebetulan nemu konser ini saat saya jelajah dunia maya untuk cari kegiatan di London di malam tahun baru. Sebelum konser itu, karena penasaran, saya sempat googling sedikit tentang Rainer Hersch dan baru tahukalau dia ini bukan hanya pengaba, tapi juga komedian. Begini rangkuman biografinya yang saya kutip dari website resmi Rainer Hersch[1]: Rainer sudah bermain piano sejak kecil, namun ketika dia tidak bermain piano, dia senang nonton acara-acara komedi di televisi. Setelah mendapatkan gelar sarjana ekonomi dari universitas, dia kemudian bekerja di beberapa orkestra, tapi dia juga mulai sering tampil di sirkuit komedi di London. Pada suatu saat ketika dia mengisi acara di Edinburgh Fringe, dia membawakan materi yang berkaitan dengan musik klasik, yang berjudul diantaranya seperti ini: “All Classical Music Explained – A Guide to How to Play Instruments without Practicing” (Penjelasan tentang Musik Klasik – Sebuah Pedoman mengenai Bagaimana Memainkan Alat Musik tanpa Berlatih). Setelah itu barulah ia membentuk Rainer Hersch Orchestra dan mengenyam pendidikan sebagai pengaba. Sejak itu ia sering menerima undangan dari orkestra-orkestra di seluruh dunia yang ingin menggunakan aransemen-aransemen karyanya yang lucu. Setelah membaca biografinya itu, saya jadi makin bersemangat untuk nonton konsernya, karena saya belum pernah melihat konser orkestra yang seperti ini. Saya terbiasa dengan konsep konser orkestra tradisional di negara Barat: i) secara program, biasanya diawali dengan komposisi yang ringan dan cukup singkat, diikuti dengan musik “serius,” biasanya konserto, diikuti interval, dan kemudian dilanjutkan dengan musik “serius” lainnya, biasanya simfoni, ii) pengaba pada umumnya tidak mengucapkan satu kata pun pada penonton, begitu pun dengan musisinya, dan iii) penonton duduk tertib dan diam selama konser, kecuali saat tepuk tangan (pada saat yang tepat). Singkat kata, pergilah saya ke konsernya Rainer. Oya, sebelumnya, waktu nonton konser saya tidak membuat catatan tertulis mengenai apa yang terjadi di konser itu, dan mereka juga tidak memberi buku program, jadi di sini saya menggambarkan dari apa yang bisa saya ingat secara jelas saja. Pertama-tama, saat penonton mulai masuk ke aula konser, di belakang panggung ada layar yang sangat besar, yang menampilkan slide show lelucon-lelucon dan gambar-gambar lucu. Kadang-kadang saya tidak mengerti kenapa itu lucu, tapi sepertinya itu karena perbedaan budaya. Kemudian, para musisi memasuki panggung. Musisinya tidak banyak, yang bisa saya lihat (karena saya duduk di balkon di sebelah kiri panggung jadi ada musisi-musisi yang tidak bisa saya lihat), adalah 6 pemain biola, 2 pemain viola, 1 pemain french horn, 1 pemain klarinet, 1 pianis, dan saya juga bisa mendengar 1 pemain timpani dan minimal 1 pemain perkusi. Kemudian orkestra memainkan sebuah lagu, dan tidak lama kemudian, Rainer muncul, sambil berjoget. Dia kemudian bicara kepada penonton, atau lebih tepatnya, menyampaikan set komedinya. Setelah itu berbagai segmen musik ditampilkan oleh Rainer dan orkestranya, semuanya tentu saja dengan bumbu komedi dan seringkali melibatkan partisipasi penonton. Beberapa yang saya ingat betul: James Oldfield, penyanyi bas-bariton, muncul di panggung, kemudian Rainer ingin dia menyanyikan beberapa lagu untuk “audisi.” Lagu-lagu itu diantaranya adalah Staying Alive oleh Bee Gees dan Barbie Girl oleh Aqua. James Oldfield kemudian menyanyikan lagu-lagu itu, diiringi orkestra, dan dengan suara klasiknya yang terlatih. Jujur, memang lucu sih. Yang membuat lucu, kalau saya pikir-pikir, adalah jukstaposisinya. Oldfield, dengan tuksedo panjang yang formal, suara operanya yang menggelegar, dan ekspresinya yang serius, menyanyikan lagu-lagu yang mengandung lirik seperti “I’m a Barbie girl.” Pada segmen yang lain, Oldfield menyanyikan dengan serius dan lengkap lagu/aria Largo Al Factotum (Figaro) dari opera The Barber of Seville karya Gioachino Rossini. Lirik aria ini adalah dalam Bahasa Italia, dan Rainer berkata bahwa penonton tidak perlu khawatir, karena arti liriknya akan ditampilkan di layar. Ya, memang benar ada yang ditampilkan di layar, namun bukan arti dari lirik tersebut, tapi kata-kata ngawur bikinan Rainer (dalam Bahasa Inggris) yang kedengarannya hampir mirip dengan kata-kata dalam Bahasa Italia yang dinyanyikan Oldfield. Contoh segmen lainnya adalah ketika Rainer membagi penonton ke dalam tiga bagian, dan meminta masing-masing bagian membuat ritme tertentu dengan tepukan tangan maupun nyanyian. Rupanya, yang dia minta kami lakukan adalah ritme dari Bolero karya Ravel. Saya baru ngeh ketika orkestranya bermain bergabung dengan tepukan tangan dan nyanyian kami. Masih banyak lagi aksi Rainer malam itu, tapi saya akan berhenti di sini. Satu hal yang saya ingat mengenai kesan saya waktu itu adalah, saya merasa terhibur, namun di sisi lain saya juga merasa sedikit terusik. Saya sadar bahwa saya terusik karena saya begitu terbiasa dengan konser orkestra tradisional seperti saya bahas sedikit di atas, dan saya juga harus mengakui bahwa, sebagai pemain dan penggemar musik klasik, saya menemukan sedikit rasa sebal (kzl) karena saya jadi tidak bisa menikmati komposisi seperti Largo Al Factotum, misalnya, dengan lengkap dan khidmat. Di situ saya sadar, bahwa memang ada aroma arogansi dan elitisme bersama musik klasik. Dan sebagai pemain dan penggemar musik klasik, saya juga jadi mengadopsi aroma itu. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa di manapun musik klasik Barat dipraktekkan dan dikonsumsi, ia cenderung elitis. Elitisme ini terbentuk di Eropa kira-kira sejak awal abad ke-19. Sejarahnya panjang, dan saya tidak akan bahas di sini saat ini. Namun, yang jelas, mengenai elitisme ini sudah lama dan banyak didiskusikan, terutama di negara-negara Eropa dan di Amerika Serikat. Mereka setuju bahwa musik ini elitis, dalam artian musik ini hanya menarik untuk dan bisa dinikmati oleh kalangan-kalangan tertentu saja. Pada studi di tahun 2001, misalnya, Bonita M. Kolb, seorang akademisi yang banyak meneliti mengenai audiens musik klasik, mengatakan bahwa penonton musik klasik di Inggris dan Amerika Serikat adalah golongan elit; mereka pada umumnya berpendidikan tinggi, berusia tua, dan berkulit putih.[2] Walaupun demikian, negara-negara ini secara umum juga percaya bahwa musik klasik itu baik dan bernilai tinggi, dan mereka ingin agar musik klasik dapat dinikmati dan dipraktekkan oleh lebih banyak orang. Selain itu, beberapa tahun belakangan, orkestra-orkestra di Amerika Serikat mengalami penurunan jumlah penonton yang signifikan[3], sehingga mereka harus menarik lebih banyak penonton agar bisa bertahan. Salah satu strateginya adalah dengan mempopulerkan musik klasik, agar lebih banyak orang yang tertarik untuk mendengarkan dan mempelajarinya. Contohnya, pada tahun 2013 The Detroit Symphony tidak hanya menampilkan musik klasik tetapi juga pop, jazz, dan musik untuk anak-anak.[4] Yang lebih terkini, pada tahun 2017 New York Philharmonic menawarkan seri konser berjudul “Off the Grid” yang ditujukan untuk milenial. Konser di seri ini diadakan di, misalnya, sebuah bar dan toko buku.[5] Sedangkan New World Symphony menawarkan seri konser “Pulse” yang menyuguhkan musik klasik bersama set DJ dengan setting seperti di klub malam.[6] Namun, upaya-upaya mempopulerkan musik klasik ini juga sudah sejak lama menimbulkan kegelisahan di kalangan penggemar “serius” musik klasik. Seperti yang kritikus musik Will Cructhfield tulis di surat kabar The New York Timespada tahun 1985: Kegelisahan ini timbul terutama ketika sebuah orkestra dengan hambar memainkan (…) komposisi semi-klasik atau musik-musik untuk musim liburan (holiday music).  Atau ketika seorang penyanyi terkenal menyanyikan aria-aria favorit seakan-akan aria ini tidak mengandung makna apapun (…) Tapi bukankah penampilan semacam ini menafikan kesempatan untuk jiwa-jiwa penonton untuk mendapatkan inspirasi dari suatu penampilan yang berkomitmen dan dari musik yang hebat?[7] Seorang kritikus musik lainnya, Edward Rothstein, menulis pada tahun 1993 bahwa orkestra-orkestra di Amerika Serikat didorong untuk menoleh ke pop dengan tujuan untuk menarik penonton.[8] Orkestra-orkestra ini, menurut Rothstein, tidak lagi “setia” pada kualitas musik dan orkestra. Dengan nada yang sama, kritikus musik Philip Kennicott menulis di tahun 2013 bahwa upaya-upaya orkestra di Amerika Serikat untuk meragamkan musik yang mereka mainkan berpotensi untuk menurunkan keistimewaan orkestra sebagai suatu bentuk pertunjukkan musik “serius.”[9] Singkatnya, menurut para kritikus ini, “kemurnian” musik klasik, atau lebih tepatnya musik “serius” perlu dijaga, dan popularisasi musik klasik beresiko mengganggu “kemurnian” ini. Di sini tentunya lagi-lagi tercium aroma elitisme dan arogansi; bahwa musik yang baik itu adalah musik “serius” seperti musik klasik, dan musik seperti ini juga perlu dinikmati dengan cara-cara yang “serius.” Bagaimana dengan di Indonesia? Industri musik klasik di Indonesia jauh lebih kecil dari industri musik klasik di Eropa dan Amerika Serikat, dan saya tidak memaksudkan ini sebagai sesuatu yang buruk. Namun, dari lingkaran kecil musik klasik di Indonesia, sepertinya jejak-jejak elitisme musik klasik masih bisa dilihat, dan bahkan mungkin sengaja dipelihara. Misalnya, konser-konser musik klasik umumnya digelar di gedung-gedung pertunjukkan megah, atau hotel berbintang, atau di institusi budaya milik negara asing yang ada di kota-kota besar. Namun, di sisi lain, upaya-upaya popularisasi musik klasik seperti yang kerap diperlihatkan oleh Twilite Orchestra, misalnya, juga rasanya hampir tidak pernah mendapat kritik pedas seperti yang ditulis oleh para kritikus Amerika Serikat. Saya tidak berniat membuat tulisan ini untuk mencapai suatu solusi atau kesimpulan, bukan karena saya tidak mau, tapi karena saya tidak punya solusi atau kesimpulan. Tapi saya akan mengakhiri tulisan ini dengan beberapa pertanyaan, yang mungkin bisa menjadi bahan diskusi kita lebih lanjut: bagaimanakah persepsi kita terhadap musik klasik? Perlukah kita mengkritisi persepsi itu? Dan bagaimana sebaiknya kita menyikapi (dan mengembangkan?) musik klasik di Indonesia? [1]Laman resmi Rainer Hersch, https://www.rainerhersch.com/about/   [2]Bonita M. Kolb, “The Effect of Generational Change on Classical Music Concert Attendance and Orchestras: Responses in the UK and US,” Cultural Trends, vol.11/no. 41, 2001. [3]Jesse Rosen, “Orchestra Facts: 2006-2014,”Symphony Winter 2017. [4] Philip Kennicott, “America’s Orchestras Are in Crisis,” The New Republic 26 Agustus 2013. [5] Jeremy Reynolds, “#Hashtag Orchestra,” Symphony Winter 2017. [6] Ibid. [7]Will Crutchfield, “Elitism vs. Popularization in Classical Music,” The New York Times 10 Januari 1985. [8] Edward Rothstein, “Classical View; Be Smart as a Lemming, Orchestras Are Told,” The New York Times 11 Juli 1993. [9] Kennicott, “America’s Orchestras Are in Crisis.” Foto: www.rainerhersch.com