Kategori: Event & Festival

Eksplorasi pemikiran, kritik, dan berita terbaru seputar dunia seni dan musik hari ini.

OCTOBER MEETING  KEMBALI DIGELAR DI 2019
31 Jul 2019 Redaksi 2.064 Views

OCTOBER MEETING KEMBALI DIGELAR DI 2019

    October Meeting adalah pertemuan musik tahunan yang diprakarsai oleh Trace 21 dan Art Music Today. Tahun ini October Meeting telah menginjak tahun keempat, akan diselenggarakan selama lima hari di Yogyakarta, 21-25 Oktober 2019 di Tembi Rumah Budaya. October Meeting kali ini mengusung tema “Turning Forward.” Tema tersebut dimaknai sebagai upaya merespon lalu-lintas sosio-kreatif dalam bidang musik yang tengah riuh belakangan ini. Ada kemajuan-kemajuan pesat yang terasa nyata, namun di sisi lain juga sedang terjadi multi-degradasi baik di aspek sosial (komunal), maupun kreatif. Di antara silang-sengkarut medan kreatifitas saat ini kami terus mencari berbagai celah untuk menemukan peluang-peluang interaktif yang lebih intim dalam komunitas sosial maupun kreatif. Kami percaya bahwa ruang dialog masih menjadi pilihan yang efektif untuk saling mempelajari tantangan yang dihadapi seluruh jaringan yang telah kami bentuk dan akan terus berkembang. Seperti biasa, kami juga mengundang Mitra Akademik dari perguruan tinggi musik di seluruh Indonesia guna melengkapi cakupan dialog dan memperkaya wahana riset yang lebih sistematik dan bermanfaat ke depan. Tahun 2019 ini kami juga akan meluncurkan portal “Spektrum” yang berisi informasi personal para komponis Indonesia lintas generasi. Portal ini akan dikelola secara kolektif oleh komponis di berbagai region sebagai upaya untuk menguatkan interaksi dan produktifitas kekaryaan maupun jaringan. October Meeting, yang sifatnya lebih sebagai ruang pertemuan ketimbang festival/pementasan, adalah sebuah kesempatan jangka panjang untuk saling berdialog secara terbuka, terutama dalam memahami cakupan nilai-nilai artistik-estetik dan berbagai gejala yang mengikutinya.   *Info lengkap program akan disusulkan kemudian.        

Pendaftaran Partisipan Open Lab/Laboratorium Terbuka October Meeting 2019
30 Jul 2019 Redaksi 1.791 Views

Pendaftaran Partisipan Open Lab/Laboratorium Terbuka October Meeting 2019

Pendaftaran Partisipan Open Lab/Laboratorium Terbuka (Untuk Umum, Gratis)     . Komite Kurasi October Meeting - CMM akan memilih 10 (sepuluh) Partisipan untuk mengikuti lokakarya/workshop selama 5 (lima) hari; 21 s.d. 25 Oktober 2019, di Rumah Budaya Siliran, Yogyakarta. . Hasil lokakarya berupa sejumlah karya kolaborasi akan ditampilkan pada Open Lab Concert, 25 Oktober 2019, di Museum Tembi, Yogyakarta. . Transportasi dari kota asal ke Yogyakarta ditanggung sendiri oleh masing-masing Partisipan. . Akomodasi dan Konsumsi selama 5 (lima) hari akan ditanggung oleh Komite October Meeting - CMM. . Kirimkan data diri (CV), foto terbaru, 1 (satu) karya musik yg pernah dibuat, dan sinopsis karya ke: octobermeetingcmm@gmail.com (Subject: Open Lab) . Registrasi dibuka s.d. 20 September 2019 . Tunggu apa lagi, ayo segera daftar!

Bergabunglah Menjadi MITRA AKADEMIK di October Meeting 2019!
30 Jul 2019 Redaksi 1.778 Views

Bergabunglah Menjadi MITRA AKADEMIK di October Meeting 2019!

    Kepada Yth. Rekan-rekan Akademisi Musik. Dengan hormat, Sehubungan akan diselenggarakan kembali program tahunan Art Music Today-Trace 21 October Meeting: Contemporary Music and Musicians, yang pada tahun 2019 ini mengambil tema “TURNING FORWARD”, dan akan diselenggarakan pada: Hari/Tanggal: Senin - Kamis, 21 - 25 Oktober 2019 Tempat: Tembi Rumah Budaya Yogyakarta   Maka dengan rendah hati kami kembali memohon kesediaan Bapak/Ibu/Saudara-saudari untuk berkenan menjadi Mitra Akademik untuk seluruh rangkaian acara tersebut. Mitra akademik  boleh atas-nama perorangan, maupun perwakilan dari afiliasi/institusi pendidikan. Info selengkapnya mohon bisa diunduh di tautan berikut: bit.ly/mitraakademik   Info mengenai kegiatan-kegiatan October Meeting sebelumnya (2016-2018) bisa dilihat di:   YouTube: October Meeting Website: www.octobermeeting.org   Untuk pertanyaan silakan menghubungi narahubung: Erie Setiawan di nomor WA (0895341875712). Salam, dan terimakasih banyak. Kami tunggu kehadiran Anda.     Arviana Ingridha Direktur Tata Kelola OM-CMM 2019   . #OctoberMeeting #TurningForward #PertemuanOktober #Yogyakarta #Mitra #Akademik #MitraAkademik #Contemporary #Music #Musicians #AcademicPartners #Pertemuan #Oktober #AMT #Trace21 #OMCMM

Kunjungan Direktur CTM Festival Jerman ke Art Music Today
29 Sep 2017 Redaksi 1.602 Views

Kunjungan Direktur CTM Festival Jerman ke Art Music Today

Jan Rohlf, Direktur CTM Festival, Jerman, baru-baru ini (22/8) berkunjung ke Art Music Today atas rekomendasi WokTheRock dari Mes 56. CTM Festival adalah festival musik elektronik dan visual art yang telah berumur panjang. Mulai diselenggarakan sejak 1999, festival yang berbasis di Berlin ini menjadi sebuah festival garda depan yang menawarkan gagasan-gagasan kontemporer. Jan Rohlf banyak bercerita mengenai pengelolaan festival dan harapan yang mereka capai. Kami juga banyak membahas mengenai potensi kreatif di Indonesia khususnya, dan jaringan Asia Tenggara pada umumnya. Ditemani Rully Shabara, Gardika Gigih, dan beberapa kawan Jan Rohlf, obrolan siang itu berlangsung hangat dan sarat wawasan. AMT dan CTM Festival sepakat untuk membina komunikasi demi keperluan masa depan. (amt/es)

Art Music Today Kembali Menggelar October Meeting
29 Sep 2017 Redaksi 1.587 Views

Art Music Today Kembali Menggelar October Meeting

Tahun 2017 ini Art Music Today (AMT) kembali menggelar October Meeting, sebuah pertemuan musik tahunan yang secara spesifik dipersembahkan untuk musisi dan musik kontemporer. Agenda ini adalah kerjasama antara AMT - Yogyakarta dan Trace 21 - Belanda, didukung Tembi Rumah Budaya, Forum Musik Tembi, Rekambergerak, Yayasan Kajian Musik Laras, Rumah Budaya Siliran, dan Total Perkusi. Selain konser yang akan menampilkan karya-karya terkini para komponis, agenda ini juga merupakan agenda edukatif yang berisi ceramah, pemutaran karya, dan diskusi musik lintas topik demi menjangkau dimensi apresiasi audiens terhadap musik kontemporer, khususnya yang berkembang di Indonesia. Agenda yang akan dipusatkan penyelenggaraannya di Museum Tembi Rumah Budaya pada 5-6 Oktober mendatang ini bisa dihadiri oleh siapa saja, dan gratis. Tahun ini October Meeting secara resmi juga mengundang Mitra Akademik dari berbagai perguruan tinggi musik yang ada di Indonesia sebagai langkah awal untuk membentuk October Meeting Academy dan October Meeting Education and Audience Development.  Diharapkan sinergi tersebut dapat bermanfaat untuk saling mengenali potensi dan peluang kreatif masing-masing dan menjalin kerjasama lebih intensif demi mendukung penguatan di aspek keilmuan, kekaryaan, edukasi, dan pengembangan audiens musik kontemporer di Indonesia. "Singkatnya, ini sebuah ekosistem musik kontemporer yang harus mulai dibangun lebih sinergis. Pengembangan audiens menjadi bagian penting dari misi kita bersama, dan agenda ini tidak sekadar jangka pendek," ujar Erie Setiawan mewakili Art Music Today. "Kontra-Akustika" adalah tema besar untuk October Meeting 2017, yaitu sebuah rupaya untuk mempelajari gejala-gejala terkini di wilayah musik kontemporer, khususnya kecenderungan yang terjadi dalam proses penciptaan musik. "Musisi dan komponis Abad ke-21 saya kira penting untuk mempelajari dimensi kreatif individu mereka masing-masing. Sumber bunyi maupun cara-cara yang bisa dipakai untuk keperluan penciptaan musik sudah semakin luas, kita bisa pakai apa saja, baik sumber-sumber akustik maupun dari media elektronik dan digital. Tapi apakah kita menyadari sepenuhnya atas pilihan-pilihan itu? Kita akan menjadi pengguna saja atau bisa lebih dari itu? Kontra-Akustika adalah sebuah tantangan untuk telinga kita saat ini, demi mengurai makna dari perluasan-perluasan itu," kata Gatot Sulistiyanto selaku Direktur Artistik. Rilis acara lebih detail akan menyusul kemudian, namun bagi Anda yang membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai October Meeting 2017 bisa menghubungi Saudari Dida (081332843296).

Art Music Today di Kampung Buku Jogja 2017
29 Sep 2017 Redaksi 2.176 Views

Art Music Today di Kampung Buku Jogja 2017

Penerbit Laras, Art Music Today, dan Garudhawaca adalah tiga penerbit indie yang baru bergabung ke Kampung Buku Jogja pada 2017. Perwakilan ketiga penerbit ini hadir dalam Technical Meeting Penerbit Indie di Kendi, Senin (18/09). Adapun ketiganya sama-sama menyepakati bahwa event KBJ sangat penting sebagai ajang silaturahmi dan kumpul-kumpul penerbit indie. Jali dari penerbit Garudhawaca mengatakan bahwa pada penyelenggaraan pertama KBJ, penerbitnya belum ikut serta karena belum tahu perihal mekanismenya. “Nah ini yang ketiga akhirnya ada kesempatan untuk ikut serta, pastinya berterima kasih sekali bisa terlibat,”ujar Jali. Berdiri sejak 2010, penerbit Garudhawaca sudah mengahasilkan seratusan terbitan. Sementara Michael dari penerbit Laras pun mengalami kendaa perihal informasi mekanisme keikutsertaan di KBJ tahun-tahun sebelumnya. “Terus kemarin ketemu mas Tio dari Pojok Cerpen baru tahu mekanismenya, baru bisa ikut tahun ini,” ungkap Michael. Erie Setiawan dari penerbit Art Music Today pun mengatakan hal serupa. Lebih khusus lagi menurut Erie, event seperti KBJ amat penting untuk mengenalkan buku-buku dengan konten yang unik dan spesifik, salah satunya musik, yang diterbitkan penerbit Art Music Today. “ Saya tertarik ikut yang tahun ini karena tertarik dengan konten-kontenyanya yang memang unik-unik. Apalagi buku-buku indie itukan sangat spesifik ya. Beda dari trend pasar yang ada,” tambah Erie. (Sumber: kampungbuku.com/eka)    

SAAT
28 Nov 2025 Redaksi 266 Views

SAAT "LUKISAN BERBUNYI": EKSPLORASI GRAPHIC SCORE DALAM PAMERAN YANAL DESMOND

  Oleh: Betrand Angelius Zai Bayangkan kita berada di sebuah galeri seni dan berdiri di depan sebuah karya lukisan. Bukannya kita hanya melihat sebuah lukisan yang utuh, tetapi di samping karya lukisan tersebut ada sebuah lembaran kertas yang penuh dengan coretan dan simbol-simbol aneh. Pada 19 April 2025 di Galeri Kiniko Art Yogyakarta, seniman Rupa Yanal Desmond Zendrato menyelenggarakan pameran tunggal yang berjudul "TITIK TUBUH", berkolaborasi dengan VorMarka Ensemble yang mereka singkat sebagai MondMarka (Desmond VorMarka). Pameran ini berlangsung dari 19 April hingga 11 Mei 2025. VorMarka Ensemble adalah sekelompok musisi eksperimental Yogyakarta yang beranggotakan empat personil yaitu Rangga Purnama Aji, Dhewantara Manurung, Welderahmat, dan Betrand Angelius Zai. Dipimpin oleh Rangga Purnama Aji seorang komposer musik yang juga terlibat dalam proses pembuatan karya musik di projek kolaborasi MondMarka. Tidak seperti pameran karya lukis seperti biasa nya, di pameran tersebut mencuri perhatian orang yang ada disana, karena di samping beberapa lukisan dipajang selembar kertas yang berisi seperti coretan dan simbol-simbol aneh yang di sebut Graphics Score (notasi grafik). Apa itu Graphic Score? Rangga Purnama Aji menjelaskan bahwa dalam musik kontemporer dan avant-garde ada istilah namanya Graphic Score atau Notasi Grafis dimana ada keterlibatan grafik digunakan sebagai aspek terpenting dalam instruksi permainan musik. Lebih tepatnya Graphic Score adalah notasi musik yang menggunakan simbol-simbol dan elemen visual di luar notasi musik barat tradisional atau not balok, notasi ini terkenal pada tahun 1950-an. Biasanya musik yang dihasilkan sangat aneh ketika didengar, maka dari itu musik dari Graphics Score sangat cocok untuk lukisan Yanal Desmond yang surealis dan gelap. Dari beberapa karya yang dipamerkan ada lima karya lukisan yang direspon dan dijadikan sebuah karya musik. Di sesi bincang-bincang seni yang diadakan di hari terakhir pameran Rangga menjelaskan proses pembuatan karya musiknya. Ia mengatakan upaya interpretasi itu tidak hanya sekadar melihat lukisan lalu menerka-nerka musiknya seperti apa, melainkan harus memperhatikan setiap unsur-unsur yang ada di lukisan nya seperti garis, karakteristik, tekstur, wujud dan bentuk-bentuk yang ada, jadi konsekuensi musik itu muncul berakar pada lukisan itu sendiri. Ini adalah suatu terobosan baru di bidang seni terkhusus musik yang mana Graphics Score mengajak kita untuk menikmati musik melalui bahasa visual. Musik bukan lagi tentang "memainkan apa yang tertulis," tetapi tentang menginterpretasikan apa yang dilihat. Semua jenis seni sangatlah berhubungan, dari karya lukisan bisa menciptakan karya musik baru. Di balik itu kita juga bisa menikmati karya seni dengan jangkauan yang lebih luas jika dikolaborasikan.  

Konser Musik Spasial Lokananta X Art Music Today
22 Jun 2025 Redaksi 323 Views

Konser Musik Spasial Lokananta X Art Music Today

Lokananta X Art Music Today   KONSER MUSIK SPASIAL Echoes of The Displaced (Thelonious Hamel & Jenny Szabo) Wahyu Thoyyib Pambayun & Gamelan Kalatidha   Studio Lokananta Selasa, 24 Juni 2025     Agenda ini adalah kerja sama antara kolektif Art Music Today-Yogyakarta dan Lokananta sebagai kontribusi untuk memperkenalkan sajian konser musik dengan system tata suara spasial, khususnya kepada masyarakat Surakarta. Sistem tata suara spasial dapat menciptakan pengalaman mendengarkan tiga dimensi, menciptakan kesan realistis dan imersif—berbeda dengan system stereo yang hanya sebatas kiri-kanan. Layout speaker dalam system tata suara spasial ditata mengelilingi audiens dengan treatment spesifik berdasarkan ruang dan tipikal karya musik. Audiens dapat menikmati sajian secara mendalam, intim dan imersif. Pengalaman ini akan memberikan sensasi auditif yang berbeda dan baru. Agenda ini akan diawali dengan Artist Talk untuk berbagi konsep, informasi, dan pengalaman teknis kreatif seputar musik spasial dan karya -karya seniman. PROFIL PENAMPIL THELONIOUS HAMEL adalah seorang musisi multidisipliner, komponis, dan seniman pertunjukan asal Austria. Ia telah memiliki banyak pengalaman sebagai komponis musik film, penyelenggaraan festival, serta instalasi seni. Thelonious mengembangkan gaya organik yang mengalir antara elektro akustik, desain suara, permainan klarinet, dan pendekatan musikal eksperimental. Blog: https://thelonioushamel.de/ Instagram: @theloniousmusic Jenny Szabo adalah pemain teater dengan perjalanan artistik di IWANSON International School of Contemporary Dance di Munich, sembari menempuh studi di bidang manajemen media dan komunikasi. Pada tahun 2015, ia memperoleh beasiswa Fulbright yang membawanya ke Binghamton University di Amerika Serikat, memperdalam keterlibatannya dengan isu-isu politik dan sosial. Sekembalinya ke Eropa, ia bekerja sebagai manajer proyek dan penari, menjalani pelatihan akting, dan tampil dalam pementasan Desire Caught by the Tail karya Picasso di Swiss. Pada tahun 2019, ia meraih gelar MA dalam Teater Fisik di Accademia Teatro Dimitri sebagai penerima Beasiswa Keunggulan Pemerintah Swiss, dan pada tahun yang sama, ia menampilkan pertunjukan solonya yang berjudul PITCH! untuk pertama kalinya. Sejak pindah ke Salzburg pada tahun 2020, Jenny aktif mencipta dan tampil dalam berbagai proyek teater dan film, serta memulai debut pertunjukan solo di OFF Theater Salzburg. Ia juga ikut mengorganisasi FACTORY-FREE ART SPACE Festival yang digelar setiap tahun. Jenny telah mengikuti berbagai lokakarya lintas disiplin—mulai dari seni peran dan tari hingga clowning, topeng, teater objek, dan improvisasi—dan dikenal karena karyanya yang menggabungkan pertunjukan fisik dengan seni multimedia. Dalam karyanya, ia berupaya memecah pola konsumsi dan persepsi yang kaku dengan menyisipkan isu-isu sosial melalui pendekatan yang ringan, jenaka, dan puitis. Melalui seni, Jenny tidak hanya mendorong batas-batas konvensi, tetapi juga menginspirasi orang lain untuk mengeksplorasi kekayaan dan keragaman seni dalam segala bentuknya. Wahyu Thoyyib Pambayun adalah seorang komponis, pemusik gamelan, dan pengajar gamelan. Sebagai komponis, ia menyusun komposisi baru dengan dasar pengetahuan dan praktik gamelan tradisi yang kuat. Ia aktif melakukan riset mengenai perluasan bahasa musikal gamelan Jawa serta menggubah musik untuk beragam bentuk pertunjukan, seperti konser, tari, wayang, hingga film. Pada tahun 2016, Wahyu Thoyyib bersama Nanang Bayu Aji mendirikan Gamelan Kalatidha, sebuah kelompok gamelan yang beranggotakan pengrawit multi-instrumen  yang berfokus pada penciptaan dan penyajian komposisi baru. Instagram: @wahyuthoyyib Spotify: Wahyu Thoyyib Pambayun   PROGRAM Sesi 1 Artist Talk 15.30 – 17.00 WIB -- Break   Sesi 2 Concert 19.00 – 21.00 WIB   Acara tidak dipungut biaya/free     INFORMASI Erie (0895341875712)   Didukung oleh:  Rekambergerak, Seruni Audio, Lokonaudio. 

MEMBACA LAKU EKSPERIMEN LIVE SPATIAL SENTABI
22 Jan 2024 Redaksi 1.521 Views

MEMBACA LAKU EKSPERIMEN LIVE SPATIAL SENTABI

  Artikel keempat ini membahas karya SENTABI "17.00-05.00 Tuwuh". Ditulis oleh Andri Widi Asmara. Selamat menyimak! #SERIARTIKELOMCMM2023 Sentabi menjadi pamungkas di October Meeting 2023. Mereka mengisi slot pertunjukan dalam kategori Live Spatial. Bermain di hari dan di sesi terakhir, seharusnya menjadikan Sentabi mempunyai banyak waktu untuk mengulik spatial sounds, sistem olah bunyi yang digunakan October Meeting 2023 dan menjadi barang baru bagi mereka. Saat itu Sentabi  berformat trio, digawangi oleh Welderahmat, Brema Sembiring, dan Faiz. Brema lebih banyak bermain suling bali, Welderahmat banyak bermain bell, dan Faiz banyak bermain kacapi. Adapun instrumen lain yang digunakan adalah lalove, surdam, dan sedotan. Ia menyajikan komposisi berjudul 17.00-05.00 Tuwuh. Komposisi tersebut bisa dibilang sebagai bentuk olah kreatif ambience music dipadu dengan permainan live instrumen akustik dalam tatanan sistem multikanal. Menurutnya, ambience yang mereka bangun berasal dari rekaman soundscape yang ia ambil adalah keadaan auditif sekitar warung milik Faiz bernama Warkop Tuwuh, terletak di sekitar Sewon. Jika cermat, pendengar saat itu akan bisa memetakan 2 bunyi utama yang mendominasi. Yang pertama adalah layer kontinyu paling terasa yaitu bunyi jangkrik. Secara kesadaran kewilayahan, bunyi ini dipastikan bersumber dari sawah sebrang Warkop Tuwuh yang menghampar ke arah timur. Yang kedua adalah bunyi yang bersifat temporer, datang pergi, seperti bunyi kendaraan motor/mobil yang melintas. Sumber bunyi ini juga bisa dipastikan berasal dari jalan depan Warkop Tuwuh yang berjarak 10 meter. Di luar itu, karya mereka merupakan hasil olah kreatif sinus dan permainan instrumen akustik secara live improvisation. Sentabi bermain cantik di pertunjukannya. Penulis menilai mereka berhasil mendelivery citra olah artistiknya ke pendengar. Jika dianalogikan secara arsitektural, suara jangkrik ini dapat menjadi pondasi untuk menopang bangunan di atasnya. Kontinuitas suara jangkrik yang diproyeksikan ke dalam multikanal menghasilkan dampak perseptual yang bersifat environmental. Jika pendengar saat itu berada di tengah dom ruang bawah, suara jangkrik terkesan tipis mengelilingi. Persis seperti kita berada di tengah sawah saat malam hari. Timbre ini penulis nilai jarang dipakai oleh komposer lain di October Meeting 2023. Sedangkan untuk porsi permainannya, peran mereka bertiga di dalam karya ini adalah membangun pilar-pilar bunyi yang menyangga durasi. Perlu diketahui bahwa Sentabi menyiapkan satu jam performance untuk sesi ini. Idealnya, dalam waktu satu jam dibutuhkan strategi managerial endurance yang baik agar mereka bertiga tidak terkuras energinya. Usaha mereka harus efektif sekaligus estetik, sehingga karyanya tidak terasa kering. Penulis nilai mereka berhasil menjaganya. Walau kenyataannya mereka sangat terbantu oleh ambience yang merentang dari awal hingga akhir karya. Isian permainan mereka lebih banyak menekankan pada pulse harmonic, timpang  tindih dan saling sahut bunyi dari suling, kecapi, dan bells yang berebut momentum secara konsisten. Instrumen-instrumen etnis yang mereka pilih menjadi sangat menguntungkan untuk mengisi karya yang berdurasi panjang. Sehingga mereka dapat berbagi waktu untuk memproduksi bunyi, berpindah instrumen, miking instrumen, dan juga mengatur spasial. Semua itu bersifat eksperimental. Sentabi masih menerka dampak apa yang mereka hasilkan dalam waktu sejam tersebut. Tampak dari komunikasi antar pemain, sepertinya masih menjajaki sejauh mana dampak dan bangunan karyanya tampak. Dalam beberapa saat terdapat kekosongan isian yang terasa, selain mendengarkan suara jangkrik yang stagnan. Dalam pengamatan penulis, strategi Sentabi pada pengolahan spasial masih terbatas. Baik secara teknis maupun gaya artistiknya. Mereka masih berkutat pada setting lokalisasi bunyi yang masih bersifat panning. Sementara October Meeting 2023 seharusnya dapat menjadi wadah bereksperimen Sentabi untuk bisa bermain-main dengan sistem spasial yang masih longgar ruang ekspresinya. Penulis yakin, karyanya akan lebih menarik jika mereka mempunyai strategi setting yang lebih detil.   Akan tetapi, penulis juga mengakui bahwa Sentabi mempunyai gagasan ide yang organik. Mereka berani memilih untuk tetap menyajikan permainan langsung di antara kompleksnya sistem spasial. Tidak banyak di luar sana yang mempunyai nyali seperti Sentabi. Dan penulis lihat, Sentabi mempunyai motivasi yang kuat dalam mempelajari hal-hal baru. Maka sebenarnya masih banyak yang bisa dinantikan dari eksperimen-eksperimen Sentabi berikutnya. 17.00-05.00 Tuwuh dapat menjadi simbol peletakan batu pertama pada proyek-proyek “berbahaya” Sentabi selanjutnya. Congrats! Penulis: Andri Widi Asmara

SELAMAT DATANG DI OCTOBER MEETING 2021: DELIVERY MECHANISM!
17 Oct 2021 Redaksi 1.824 Views

SELAMAT DATANG DI OCTOBER MEETING 2021: DELIVERY MECHANISM!

  Seiring dengan kemajuan zaman, kita melihat bahwa seni saat ini semakin luas. Batas-batas dan pakem dalam seni yang dulunya merupakan sesuatu yang mutlak, kini meluruh. Tak jarang kita menemui seorang musisi yang juga ikut andil dalam konsep visual dari musiknya, atau seorang perupa yang menggunakan bunyi sebagai alat dalam mewujudkan ide-idenya. Pandemi COVID-19 yang sedang kita lalui saat ini memaksa kita untuk berkreasi dalam ruang-ruang maya, dan hal ini juga menjadi kesempatan bagi para komponis, musisi, dan seniman lainnya untuk menciptakan karya, tanpa terhalang ruang-ruang dan materi fisik. Fenomena dan kebiasan seperti ini bukanlah sesuatu yang tanpa sebab. Para pelaku seni kini melihat bahwa materi fisik memiliki batasan masing-masing. Hal ini rupanya bisa menghambat mereka untuk menyalurkan ide dan ekspresi mereka. Dunia maya menawarkan suatu ruang tanpa batas sehingga mereka bisa menuangkan gagasan mereka tanpa batas. Berbagai penyesuaian pun dilakukan untuk bisa memanfaatkan ruang tersebut semaksimal mungkin. Tidak hanya bagi seniman; persepsi penonton dan penikmat dalam mengapresiasi karya pun berubah ketika karya-karya nyata berubah menjadi benda maya. Kemajuan teknologi dan perkembangan ekonomi membuat mereka memiliki sikap yang berbeda dalam menikmati suatu karya. Jika kita melihat interaksi antara pelaku seni dan penikmat seni di ruang maya ini, gejala apa saja yang bisa terjadi? Bagaimana komponis dan musisi mengekspresikan dirinya, dan bagaimana pendengar mengapresiasinya di ruang maya? Apakah pesan-pesan dari setiap pihak dapat tersampaikan dengan baik, atau ada distorsi? Fenomena inilah yang diangkat menjadi tema October Meeting: Contemporary Music and Musicians di tahun 2021 ini: Delivery Mechanism. Delivery Mechanism dibawakan dalam bentuk yang baru dan belum pernah dilakukan oleh October Meeting sebelumnya, yaitu melalui continuous broadcast loop dan live streaming. Continuous broadcast loop merupakan tayangan program yang disiarkan secara berulang dalam durasi lama, seperti siaran televisi. Live streaming adalah siarang langsung yang akan diselenggarakan di tengah-tengah laju kegiatan, sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan sebelumnya. Bentuk tayangan ini juga dipilih untuk menyesuaikan tema Delivery Mechanism itu sendiri. Kegiatan OMCMM 2021 akan dilakukan dalam empat jenis, yaitu concert, discussion, lecture, dan archives. Concert, sesuai namanya, merupakan ajang bagi para komponis dan musisi untuk menampilkan karya mereka kepada penonton. Tema Delivery Mechanism memungkinkan para komponis untuk berkarya di berbagai media baru, yang belum ada di October Meeting sebelumnya. Sejumlah komponis dari dalam dan luar negeri akan hadir untuk mengisi segmen ini, yaitu Rani Jambak, Wahyu Thoyyib Pambayun, Kilma (Mesir), Marcioz (Brazil), dan masih banyak lagi. Open Lab, salah satu program laboratorium yang selalu ada di October Meeting, turut menampilkan karyanya di segmen ini. Open Lab tahun ini akan dibawakan oleh October Meeting Ensemble yang berkolaborasi dengan Proyecto MUTAR (Peru). Kegiatan kedua adalah discussion, yang merupakan ajang tukar pendapat dan pengalaman dari para komponis, seniman, pegiat seni, dan pihak-pihak terkait. Perempuan Komponis akan mengadakan sesi Rumpi Meja Bundar untuk membicarakan komposisi media baru dan kaitannya dengan pengalaman kreatif setiap komponis. Dion Nataraja akan membagikan pengalamannya menciptakan alat musik Gender Sandikala dengan proses kreatif dan apa saja yang ia temukan dalam proses tersebut. Ignatia Nilu akan mengisi diskusi post-event yang membahas tentang fenomena Delivery Mechanism saat ini. Lecture, atau kuliah, merupakan ceramah dengan sistem daring yang disampaikan dari beberapa komponis terkemuka. Mereka mungkin akan menceritakan pengalaman musikal dalam mengkompos musiknya,  yang tentu saja menarik untuk dibedah. Terakhir adalah program October Meeting: Contemporary Music and Musicians’ Archives. October Meeting memiliki arsip karya dan ceramah dari sejumlah tokoh musik, salah satunya adalah almarhum Slamet Abdul Sjukur dan Vincent McDermott. Penayangan arsip ini bertujuan untuk mengisi ruang khasanah artistik bunyi yang bisa diakses secara temporer di kanal YouTube milik October Meeting untuk pengembangan audiens. Delivery Mechanism dapat disaksikan di kanal YouTube resmi October Meeting mulai dari tanggal 17-31 Oktober 2021. Continuous broadcast loop akan ditayangkan selama 24 jam sehingga penonton bebas menyaksikan di jam berapapun. Live streaming akan dilakukan pada jam-jam tertentu, yang jadwalnya akan diumumkan dari semua media sosial October Meeting. OMCMM 2021 didukung oleh sejumlah besar pihak, yaitu Art Music Today, Rekam Bergerak, AMT Studio, Snooge Studio, dan OME. Beberapa rekan media turut mendukung pada kegiatan ini, yaitu Musikjogja, Warung Arsip, Radio Buku, Ruang Kerja Creative,dll. YouTube: October Meeting 

JADWAL LENGKAP OCTOBER MEETING 2019!
17 Oct 2019 Redaksi 2.678 Views

JADWAL LENGKAP OCTOBER MEETING 2019!

  October Meeting Contemporary Music and Musicians 2019 “TURNING FORWARD” akan berlangsung lima hari dari tanggal 21 hingga 25 Oktober 2019 di Tembi Rumah Budaya, Yogyakarta. Berikut jadwal lengkapnya:   HARI KE – 1 Senin, 21 Oktober 2019 OPEN LAB: Introduction (Only for Participant) Jonas Engel - Joko Porong- Willyday Onamlay Muslim Rumah Budaya Siliran | 13:00 – 16:00 WIB OPENING CEREMONY CONCERT (Open for Public) Arquinto Caesar & Raja Kirik Tembi Rumah Budaya | 19:30 – 21:30 WIB   HARI KE - 2 Selasa, 22 Oktober 2019 OPEN LAB: Artistic Investigation #1 (Only for Participant) Jonas Engel - Joko Porong- Willyday Onamlay Muslim Rumah Budaya Siliran | 09:00 – 17:15 WIB TALKSHOW (Open for Public) “Southeast Asia – Japan Soundscape” oleh Gardika Gigih Tembi Rumah Budaya | 09:30 – 11:30 WIB DAILY DISCUSSION #1 (Open for Public) “Kegiatan Sebagai Musisi Musik Baru (Kontemporer) di Eropa dan Bagaimana Ia Mempengaruhi Kekaryaan” oleh Alfian Emir Adytia Tembi Rumah Budaya | 13:00 – 15:00 WIB INTERNATIONAL CONCERT (Open for Public) oleh Jonas Engel Tembi Rumah Budaya | 19:30 – 21:30 WIB   HARI KE - 3 Rabu, 23 Oktober 2019 OPEN LAB: Artistic Investigation #2 (Only for Participant) Jonas Engel - Joko Porong- Willyday Onamlay Muslim Rumah Budaya Siliran | 09:00 – 17:15 WIB DAILY DISCUSSION #2 (Open for Public) “Ekstensi Eksistensi Ruang” | Seni Digital dan Seni Generative Sebagai Ekstensi dari Ruang Alam oleh Ignatia Nilu Tembi Rumah Budaya | 09:30 – 11:30 WIB LECTURE CONCERT (Open for Public) “Pembentukan Prosedural Komposisi Baru Sebagai Suatu Upaya Pencarian Musik Masa Kini : Suatu Tinjauan Kritis” oleh Aldy Maulana Tembi Rumah Budaya | 13:00 – 15:00 WIB HIGHLIGHT CONCERT (Open for Public) Jay Afrisando Tembi Rumah Budaya | 19:30 – 21:30 WIB   HARI KE – 4 Kamis, 24 Oktober 2019 OPEN LAB: Artistic Investigation #3 (Only for Participant) Jonas Engel - Joko Porong- Willyday Onamlay Muslim Rumah Budaya Siliran | 09:00 – 17:15 WIB DAILY DISCUSSION #3 (Open for Public) “Silang Sengkarut : Antara Tradisi dan Inovasi” oleh Iqbal H. Saputra Tembi Rumah Budaya | 09:30 – 11:30 WIB YOUNG COMPOSERS SERIES CONCERT  (Open for Public) Tembi Rumah Budaya |19:30 – 22:00 WIB   HARI KE – 5 Jum’at, 25 Oktober 2019 DISKUSI UTAMA “TURNING FORWARD“ (Open for Public) “Turning Forward & Turning For What?” oleh Michael H. B. Raditya Tembi Rumah Budaya |13:00 – 15:00 WIB CLOSING CEREMONY & CONCERT (Open for Public) OPEN LAB CONCERT Tembi Rumah Budaya | 19:00 – 21:30 WIB   TENTANG OCTOBER MEETING: October Meeting adalah pertemuan musik tahunan yang diprakarsai oleh Trace 21 dan Art Music Today. Tahun ini October Meeting telah menginjak tahun keempat, akan diselenggarakan selama lima hari di Yogyakarta, 21-25 Oktober 2019 di Tembi Rumah Budaya. October Meeting kali ini mengusung tema “Turning Forward.” Tema tersebut dimaknai sebagai upaya merespon lalu-lintas sosio-kreatif dalam bidang musik yang tengah riuh belakangan ini. Ada kemajuan-kemajuan pesat yang terasa nyata, namun di sisi lain juga sedang terjadi multi-degradasi baik di aspek sosial (komunal), maupun kreatif. Di antara silang-sengkarut medan kreatifitas saat ini kami terus mencari berbagai celah untuk menemukan peluang-peluang interaktif yang lebih intim dalam komunitas sosial maupun kreatif. Kami percaya bahwa ruang dialog masih menjadi pilihan yang efektif untuk saling mempelajari tantangan yang dihadapi seluruh jaringan yang telah kami bentuk dan akan terus berkembang. Seperti biasa, kami juga mengundang Mitra Akademik dari perguruan tinggi musik di seluruh Indonesia guna melengkapi cakupan dialog dan memperkaya wahana riset yang lebih sistematik dan bermanfaat ke depan. Tahun 2019 ini kami juga akan meluncurkan portal “Spektrum” yang berisi informasi personal para komponis Indonesia lintas generasi. Portal ini akan dikelola secara kolektif oleh komponis di berbagai region sebagai upaya untuk menguatkan interaksi dan produktifitas kekaryaan maupun jaringan. October Meeting, yang sifatnya lebih sebagai ruang pertemuan ketimbang festival/pementasan, adalah sebuah kesempatan jangka panjang untuk saling berdialog secara terbuka, terutama dalam memahami cakupan nilai-nilai artistik-estetik dan berbagai gejala yang mengikutinya.   Narahubung: Endra Djawanai +6281215477807 Instagram: @octobermeeting Website: www.octobermeeting.org

GEMA TABUHAN SOUND INSTALLATION AND SITE SPESIFIC PERFORMANCE
16 Dec 2024 Redaksi 877 Views

GEMA TABUHAN SOUND INSTALLATION AND SITE SPESIFIC PERFORMANCE

Gema Tabuhan Sound Installation & Site Specific Performace   Curator: Ignatia Nilu Music Director: Gatot Danar S  Composer: Elisabeth Schimana (AT)   Artis Collaborator:  Daniel Caesar Sandikala Ensamble Dion Nataraja (Vokal) Yusti Paradigma (Gender Barung) Roni Driyastoto (Rebab) Suseno Setyo (Gender Panerus)  Mustika Garis (Rebab) Muhammad Erdifadillah (Perkusi) Ali Azca (Elektronik)   Minggu, 08 Desember 2024  Goa Tabuhan Pacitan, Jawa Timur   didukung oleh: Kementrian Kebudayaan  Pemerintah Kabupaten Pacitan Art Music Today Rekambergerak SAAB! Production   #GoaTabuhanPacitan #gematabuhan  #festivalpacitanian #elektroakustik #soundinstallation #artmusictoday