Kategori: Berita Komunitas

Eksplorasi pemikiran, kritik, dan berita terbaru seputar dunia seni dan musik hari ini.

Merawat Komunitas Musik Melalui Portal Musik Online
29 Sep 2017 Redaksi 1.824 Views

Merawat Komunitas Musik Melalui Portal Musik Online

AMT didukung Kedai Kebun Forum baru saja menyelenggarakan acara "Introducing Gemusik" (28/9). Acara ini merupakan acara presentasi dan ngobrol santai bersama teman-teman gemusik.com, sebuah platform musik online yang mewadahi ekspresi dan ide-ide musisi Tanah Air. Sebagai platform musik online yang tergolong baru, GeMusik juga menawarkan strategi baru, yaitu merawat komunitas musik melalui sistem yang mereka bangun. "Kami memang berupaya membangun sistem dan pengetahuan terutama untuk keperluan pasca-produksi, merawat komunitasnya. Ini tidak mudah, dan seringkali problem para musisi adalah kesulitan untuk mempromosikan karya-karya mereka", ujar Amanda mewakili GeMusik. Melalui GeMusik, musisi diberi kesempatan menjual dan mempromosikan karya-karya mereka, difasilitasi blog, dan terus mengembangkan karir melalui informasi dan jaringan. Denny MR, wartawan senior Rolling Stone yang malam itu juga hadir turut menyampaikan pengalaman dan pemikirannya. Ia menggarisbawahi pentingnya komunitas sebagai sebuah sistem baru. "Ini berbeda dengan era-era sebelumnya, kekuatan komunitas musik inilah yang penting untuk saat ini. Media mendukung pada sisi akses informasi dan pengetahuannya," jelasnya. Hamzah selaku Direktur Operasional GeMusik juga menambahkan soal niat GeMusik sebagai partner bagi para musisi. "Kami tidak membangun hirarki di GeMusik, kami lebih berkomitmen dan memposisikan diri sebagai partner, sebab itu kami merasa perlu berinteraksi langsung dengan para musisi demi kemajuan bersama," ujarnya. Acara yang dihadiri oleh musisi, penggiat musik, produser, dan pelaku bisnis studio musik di area Yogyakarta ini terkesan intim dan sarat wawasan. Meski hujan deras mengguyur di luar area tak mengurangi minat peserta yang hadir. (amt/es)

9 Tahun Art Music Today
29 Sep 2017 Redaksi 6.217 Views

9 Tahun Art Music Today

Pada Agustus tahun 2017 Art Music Today genap memasuki usia 9 tahun. Meski dalam segala pasang surut perjalanan, AMT tetap setia menjadi mitra bagi siapa saja yang ingin mengabdikan diri di dunia musik dan pengetahuan di sebaliknya, tidak terbatas pada genre atau wilayah tertentu. Kami percaya bahwa musik tidak hanya sekadar sebagai seni hiburan, melainkan sebagai proses produksi ilmu pengetahuan yang dibutuhkan oleh siapa saja. Sepanjang 9 tahun perjalanan ini AMT telah melakukan berbagai rintisan kerja-kerja kebudayaan musik melalui penerbitan buku, pendokumentasian pemikiran dan karya-karya musik, lecture concert, diskusi, program kursus spesifik, memberi konsultasi, dan membina jaringan seluas-luasnya demi masa depan sumber daya manusia itu sendiri. Kami merintis perjalanan ini secara mandiri dan tidak bergantung kepada sumber dana yang besar. Proses bertahan dan terus produktif bukan suatu hal yang niscaya, karena kami dikelilingi oleh orang-orang baik, meliputi dukungan para donatur, stakeholder, dan teman-teman yang dengan suka rela mendukung kerja-kerja yang kami lakukan. Sebab itu terlebih dahulu kami mengucapkan terimakasih kepada siapapun yang memperhatikan perjalanan kami, dari awal hingga kini. Art Music Today juga terus menyadari segala kekurangan yang ada, menerima segala masukan dan kritik yang datang dari siapapun. Tanpa perhatian berwujud kritik, mustahil kami bisa melanjutkan kerja-kerja kami. Sejak 2012, Art Music Today melebar menghasilkan dua sayap niaga, yaitu AMT Publisher dan Rekambergerak, adalah sebuah sistem untuk menjaga keberlangsungan Art Music Today sebagai organisasi nirlaba. AMT Publisher lebih sebagai aset pengetahuan melalui dokumentasi karya dan pemikiran yang diterbitkan. Sedangkan Rekambergerak adalah sebuah laboratorium riset audio yang bergerilya kemana saja untuk mendokumentasikan musik secara keliling dan berdiskusi. Rekambergerak juga telah berkembang dan memiliki aset berbagai perangkat rekam yang standar untuk berbagai keperluan perekaman musik.   Sebagai informasi, tahun ini AMT juga kembali menyelenggarakan program tahunan "October Meeting" untuk kali kedua. October Meeting adalah sebuah pertemuan musik yang secara spesifik mengetengahkan dinamika musik kontemporer Indonesia masa kini berupa pentas dan diskusi. Melalui program tersebut kami juga mengundang sedikitnya 20 perwakilan dari perguruan tinggi musik di seluruh Indonesia untuk menjadi "Mitra Akademik". Ke depan, kami ingin membentuk October Meeting Academy dan October Meeting Education and Audience Development. Diharapkan melalui upaya tersebut kami dapat saling mempelajari potensi kreatif masing-masing dan menjalin kerjasama lebih intensif demi mendukung penguatan di aspek keilmuan, kekaryaan, edukasi, dan pengembangan audiens musik kontemporer di wilayah masing-masing. Pada era teknologi informasi yang pesat dan mampu merubah cara hidup setiap orang ini, AMT justru tertantang untuk memanfaatkannya sebagai sebuah peluang, yaitu dengan terus membina komunitas musik di seluruh jaringan yang ada. Komunitas musik adalah salah satu kekuatan besar bagi dinamika kebudayaan saat ini. Maka dari itu kami terus berjejaring dengan siapa saja untuk melebarkan sayap dan saling berinteraksi demi kebutuhan bersama. Tahun ini juga untuk pertama kalinya AMT bergabung dengan Kampung Buku Jogja. Program pameran dan penjualan buku alternatif/indie yang diselenggarakan tahunan tersebut kami jadikan sebagai modal silaturahmi sekaligus observasi pasar untuk buku-buku musik yang kami terbitkan, yang rata-rata memiliki konten spesifik. Kami juga bekerjasama intensif, misalnya dengan Yayasan Kajian Musik Laras untuk meluaskan sudut pandang dalam memahami dinamika musik dan sosial. Selebihnya kami juga terus mencari cara agar interaksi yang terjadi dalam berbagai unsur ekosistem musikal dapat terbentuk lebih efektif; dan demi upaya itu, teknologi informasi sangatlah mendukung. Tidaklah banyak yang ingin kami sampaikan di angka "9" ini, kecuali rasa terimakasih yang besar kepada seluruh pihak yang terus mendukung kami. Mohon doa dan restunya selalu. Semoga kita berkembang bersama, menemukan manfaat yang baik bagi kehidupan, melalui musik dan pengetahuan di sebaliknya. Musik hanyalah media, yang abadi adalah pengetahuannya. Salam hangat, Erie Setiawan, Direktur.              

Sederet Gitaris Indonesia Memboyong Gelar Juara di Negeri Sakura
28 Jun 2018 Redaksi 2.939 Views

Sederet Gitaris Indonesia Memboyong Gelar Juara di Negeri Sakura

Catatan:  Artikel ini adalah sebuah liputan yang ditulis oleh Dian Yuliastuti (Redaktur Koran Tempo) dan telah dimuat pada 28 Juni 2018. Diberitakan kembali di artmusictoday.org dengan segala harapan baik.  * Ensambel gitar Indonesia bersaing ketat dalam kompetisi gitar klasik di Tokyo. Mengalahkan tuan rumah.  Tiada yang lebih membanggakan ketika nama mereka disebut saat pengumuman peme- nang. Para gitaris kla- sik muda Indonesia dari Yogyakarta itu memborong gelar juara dalam Japan International Ensemble Guitar Festival (JIEGF) ke- 30 di Tokyo pada 24 Juni lalu. Duo Rocky ditetapkan sebagai juara pertama dan duo terbaik. Lalu Nocturnal Guitar Quartet dinobatkan sebagai juara ketiga dan merebut Harumi Award—piala bagi peserta yang tampil istimewa untuk bagian sesi gitar modern. Sedangkan Nabita Guitar Duo merebut Best Student Award. Ada empat kelompok gitaris yang mewakili Indonesia untuk pertama kalinya sejak 30 tahun penyelenggaraan JIEGF ini. Mereka adalah Duo Rocky, Nocturnal Guitar Quartet, Nabita Guitar Duo, dan Duo Anantara. Keempat kelompok ensambel itu tergabung dalam komunitas Indonesia Classical Guitar Collective, asosiasi baru untuk mempromosi- kan gitaris muda Indonesia di ranah internasional. Mereka adalah para gitaris berprestasi dan sudah tampil di berbagai kompetisi di tingkat nasional ataupun regional. Vaizal Andrians, salah seorang anggota Nocturnal, mengatakan cukup bangga bisa meraih prestasi di fes-tival ini. Menurut dia, para gitaris Indonesia dalam tiga dekade ini memang tertinggal. Tidak banyak yang ikut serta dalam berbagai festival atau kompe- tisi di luar negeri karena berbagai faktor. Menurut Vaizal, para juri mengatakan karya yang mereka bawakan sangat menantang dan mempunyai tingkat kesulitan tinggi. “Karya Uarekena memang diciptakan khu- sus untuk format kuartet gitar,” ujar Vaizal kepa- da Tempo melalui apli- kasi WhatsApp. Mereka juga tidak menyangka akan memboyong Harumi Award. “Penghargaan itu langsung dari AndrewYork, salah satu komponis dan pemain gitar terbaik.” Vaizal juga menuturkan para gitaris tuan rumah merupakan pesaing terberat. Menurut dia, perkembangan musik gitar klasik dan ensambel gitar di sana sangat maju di kawasan Asia. Kemenangan para gitaris muda ini mendapat sambutan dari musikus dan pengelola Art Music Today, Erie Setiawan. “Mereka ini hebat dan aset bangsa. Nah, untuk festival di Jepang ini, mereka punya persiapan yang sangat matang,” tutur Erie, yang juga memberi pelatihan kepada tim ensembel, kepada Tempo, Selasa lalu. Festival ini merupakan salah satu acara tahunan yang diselenggarakan Asosiasi Ensambel Gitar Jepang dengan mengundang grup gitar ensambel dari berbagai negara. Festival tersebut menjadi tolok ukur perkembangan musik klasik di tingkat Asia dan menjadi kejuara- an bergengsi bagi kelompok gitaris. Menurut Erie, gitaris Indonesia jarang mengikuti festival dalam ensambel atau kelompok. Yang lebih sering diikuti adalah kompetisi tunggal. Mereka menyiapkan diri sejak enam bulan lalu dengan skema latih- an mingguan dan konser uji coba. Konser uji coba pertama dilakukan di The Japan Foundation, Jakarta, pada April lalu dan uji coba kedua digelar di Universitas Sebelas Maret Surakarta pada Mei lalu. Menurut Erie, persiapan itu merupakan proses kolektivitas. Mereka mena- warkan perubahan penting dari pola pikir pada masa lalu dengan memaknai persaingan, baik antarin- dividu maupun kelompok, sebagai persahabatan. “Yang menarik, mereka tidak cuma berlatih terpisah (per kelompok/ensambel), tapi juga sering membikin latihan bersama dan saling berdiskusi.” Nocturnal, menurut Erie, sering menyabet gelar juara di mancanegara, seperti di Italia dan Malaysia. Mereka dimentori oleh sejumlah musikus, salah satunya komposer Bakti Setiaji. Sedangkan Rahmat Raharjo menjadi guru bagi gitaris muda. Erie kebagian menajamkan sisi musikalitas dan performativitas. Selepas acara di festival ini, mereka tampil dalam acara konser kebudayaan dalam rangka 60 tahun hubungan bilateral Indonesia-Jepang di National Graduate Institute for Policy Studies di Tokyo pada 27 Juni. Setelah itu, mereka bersiap menggelar konser di Yogyakarta pada 18 Juli mendatang. Nocturnal, kata Vaizal, juga akan berkonsentrasi menyiapkan rekaman album mereka sepulang dari kompetisi di Jepang ini. NB: Album Nocturnal akan diproduseri oleh Art Music Today Publisher yang sejauh ini konsisten mendukung talenta musik klasik dan kontemporer di Indonesia. Foto: Roby Handoyo.             

Harmoni Duo Jazz  Jeko Fauzy dan Pramono Abdi
10 Oct 2018 Redaksi 2.446 Views

Harmoni Duo Jazz Jeko Fauzy dan Pramono Abdi

  Turut hadir secara khusus duo musisi jazz Jeko Fauzy (gitar), dan Pramono Abdi (saxophone) dalam rangkaian October Meeting 2018 "Reconnect" hari ke-3 di Komunitas Gayam 16 (9/10). Mereka yang kini bermukim di Bali telah sama-sama bermain jazz sejak 15 tahun silam. Pada kesempatan lecture concert ini mereka membawakan sedikitnya 4 karya (nomor 1 - 4) dan memberi penjelasan spesifik tentang karya-karya yang dimainkan. Turut hadir dalam sesi ini musisi jazz Agung Prasetyo, Merry Sajuto, Arie Kusumah, dan beberapa audiens musisi jazz maupun komponis. Dalam sesi yang berlangsung 2 jam penuh ini audiens terlihat sangat mencermati materi yang disampaikan oleh Jeko maupun Pram. "Bermain duo, terutama antara gitar dan saxophone, bukanlah soal mudah, memiliki sistem dan tantangan tersendiri," kata Jeko. "Biasanya hanya para maestro yang sanggup membawakan format seperti ini," tambahnya. Masalah utama adalah membagi peran secara seimbang. Mengingat, sebagai instrumen melodi, saxophone justru ditantang menjadi "pengiring" ketika gitar berimprovisasi. "Sebab itu butuh trick yang jitu untuk membuat keduanya sinkron dalam merajut demi menjaga kesatuan ensembleshipnya," jelas Jeko. Jazz, musik yang telah menjadi perhatian besar di seluruh dunia, telah mengalami evolusi panjang mulai awal abad ke-20. Jeko bercerita mengenai beberapa evolusi penting dalam improvisasi dari era Bebob hingga Modern. Ia mencontohkan bagaimana setiap musisi jazz dunia bekerja dengan susah payah untuk menyebarluaskan jazz dan mengembangkan berbagai teknik yang ada. "Tapi kini zaman sudah lain, setiap orang ingin instan. Tidak mengherankan kalau banyak yang nge-hits di medsos namun dalam realitanya mereka belum benar-benar memahami jazz," kata Jeko.  Tiga unsur penting yang harus dikuasai oleh musisi jazz, terutama bagi amatir yang beranjak untuk profesional adalah pemahaman yang lengkap antara melodi, harmoni, dan ritem. Ketiga unsur ini mutlak dan tidak bisa ditawar. “Back to basic tetap penting untuk mengasah itu semua,” kata Pramono. “Kebetulan kami berdua suka bereksperimen, terutama menantang kreativitas dan skill kami masing-masing, dan ini tak pernah ada habisnya dipelajari. Kami tetap berangkat dari sistem-sistem tradisional meskipun eksplorasi kami bisa lebih jauh dari itu,” tambahnya. Banyak pertanyaan mengalir dari audiens yang datang pada sesi tersebut. Misalnya soal komunikasi, improvisasi, ide dan karakteristik dalam permainan duo ini, hingga keterbukaan menghadapi fenomena musik yang semakin beragam, misalnya soal kolaborasi dengan musik tradisional. Jeko dan Pram mengaku senang bisa turut berbagi ilmu di October Meeting kali ini, dan mereka mengaku siap untuk diajak berkolaborasi di berbagai kesempatan lain (es/amt/foto: Akrom).