Kategori: Profil & Obituari

Eksplorasi pemikiran, kritik, dan berita terbaru seputar dunia seni dan musik hari ini.

Tony Prabowo dan Otto Sidharta Berkisah Tentang Suka Hardjana
25 Apr 2018 Redaksi 3.571 Views

Tony Prabowo dan Otto Sidharta Berkisah Tentang Suka Hardjana

Beberapa waktu lalu Art Music Today mewawancarai komponis Otto Sidharta dan Tony Prabowo via telepon untuk menanyakan komentar-komentar beliau mengenai mendiang Suka Hardjana, pemikir musik yang wafat 7 April lalu. Bagi Tony, Suka adalah sosok pengayom yang membuat generasinya segan. Dan bagi Otto, Suka sosok kritis namun realistis, ia teguh membela dan tidak membiarkan murid-muridnya dipenjara oleh keterbatasan kreativitas bermusik. Simak laporan naratifnya berikut ini. Pada sekitar 1980-an, Tony Prabowo dan karib seangkatannya, Otto Sidharta, berdemonstrasi di Kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Mereka memprotes kebijakan Suka Hardjana yang waktu itu menjabat sebagai Ketua Jurusan Musik di sana. Apa pasal? Menurut cerita Tony, protes yang dilakukannya itu lantaran Suka Hardjana sebagai pejabat dinilai sulit untuk memberi ijin pemakaian alat-alat musik koleksi IKJ. “Alat-alat sulit keluar, sampai berdebu, bahkan rusak dimakan rayap, maka kami berdemo,” ujar Tony mengisahkan. “Kami berdua waktu itu memang mbeling,” tambah Otto sambil terkekeh. Akibatnya, selama sekian tahun hubungan mereka cuma anget-anget tai ayam.  Tony Prabowo khususnya, kembali “mesra” pada tahun 1992. Pada waktu itu Suka Hardjana menulis ulasan mengenai pergelaran Suita 92 yang ketika itu diikuti oleh antara lain Tony Prabowo, Otto Sidharta, dan Marusya Nainggolan. Bagi Tony, ulasan itu menggugah simpatinya. “Awalnya saya berpikir Pak Suka hanya berminat pada musik-musik klasik, tetapi ternyata dugaan saya meleset. Bahkan ia yang pertama kali menyebut formasi musik yang saya tampilkan sebagai ‘ansambel campuran’/mix-ensemble, dimana saya sendiri pada waktu itu belum ingin menyebutnya dengan istilah itu,” kata Tony. Begitupun Otto, paska aksi demo-demo itu hubungan keduanya kembali baik, terutama ketika Otto menjabat di Dewan Kesenian Jakarta (setelah lulus dari Belanda) dan mengajak kembali Suka Hardjana untuk mengaktifkan Pekan Komponis Muda yang sekian lama vakum. Otto makin mengenal Suka Hardjana secara personal.   Dulu Memang Beda dengan Sekarang 1978 adalah tahun permulaan karir yang penting bagi Otto Sidharta, juga pertama kali ia mengenal Suka Hardjana. Ia mendaftar di IKJ Jurusan Komposisi Musik. Pada waktu itu penguji untuk seleksi masuk adalah Suka Hardjana, Frans Haryadi, dan Iravati Sudiarso. Lolos masuk di Jurusan Komposisi Musik IKJ pada waktu itu dikenal sulit. Namun demikian, Suka Hardjana adalah orang yang jeli dalam melihat potensi calon mahasiswanya. Begitupun dengan talenta yang dimiliki Otto Sidharta ini. Singkat cerita, pada waktu seleksi penerimaan mahasiswa itu Suka Hardjana menguji kemampuan Otto dengan cara yang pada waktu itu tergolong tidak biasa. Tiba-tiba Pak Suka main piano seakan ngawur saja, dan meminta Otto  mendengarkannya dengan cermat. Setelah selesai, Pak Suka meminta Otto menuliskan notasinya di papan. “Saya jelas bingung,” kilah Otto. “Tapi saya nekat saja, saya tuliskan notasi grafis, dan jelas tidak mungkin menuliskan notasi baloknya,” ungkap Otto. Semenjak itu, Suka Hardjana menaruh perhatian pada Otto, dan ia termasuk yang mempertahankan Otto Sidharta agar diterima kuliah. Sementara itu, pada sisi lain memang tengah terjadi perdebatan serius khususnya antara Frans Haryadi dan Suka Hardjana, soal pro dan kontra masalah kreativitas musik kontemporer. Suka (dan juga Slamet A. Sjukur) membela segala kebaruan kreativitas yang terjadi, dan Frans Haryadi sebaliknya, tidak setuju dengan adanya “kurikulum musik kontemporer.” Setahun berikutnya Suka Hardjana menginisiasi Pekan Komponis Muda yang mampu berjalan 6 tahun (1979 – 1985) dan kemudian vakum untuk beberapa lama karena tidak ada yang mengurus. Otto “membangunkannya” kembali dengan semangat yang baru. Pada dekade khsuusnya 1970an hingga 1980-an pertumbuhan kreativitas berkomposisi musik dan dialektikanya memang bisa dikatakan bersemi dan tumbuh subur. Setiap orang hanya berkemungkinan berkarya, bertatap muka langsung, dan membangun misi bersama. Ulasan-ulasan di koran menjadi tolok-ukur signifikan dan prestisius. Suka Hardjana orang yang tlaten menjadi jembatan apresiatif bagi masyarakat. “Cita-cita Pak Suka memang seperti itu, agar tumbuh bakat baru, tunas muda,” kenang Otto. “Kini zaman memang bergeser, dan kita melihat sendiri faktanya. Berkomunikasi tanpa harus bertemu langsung, segalanya sedang terpisah-pisah, juga rentan prasangka, egoisme, dan lain-lain,” kata Otto. “Melalui Pekan Komponis tahun ini, dimana saya juga terlibat, saya ingin meneruskan kembali semangat Pak Suka, yang mampu mempertemukan dan membangun dialog bersama untuk kemudian bekerja nyata,” tambah Otto.   Suka Sosok Pengayom Tony Prabowo menilai bahwa Suka Hardjana adalah sosok pengayom. “Memang sulit mencari semacam Pak Suka (juga seperti almarhum Mas Slamet Sjukur). Bukan mencari pengganti, tapi yang tekun, berdedikasi dan mau mengayomi. Saya belum melihat tanda-tanda itu di generasi saya. Saya juga belum mampu,” kata Tony yang pada 2006 karya Operanya “The King’s Witch” diulas panjang lebar oleh Suka Hardjana di Kompas. Terhadap ulasan-ulasan Suka Hardjana di koran-koran maupun dalam pengalaman berdiskusi langsung, baik Tony maupun Otto memiliki penilaian yang sama, yaitu seimbang dalam bobot. “Suka Hardjana mampu mengulas musik dalam ukuran-ukuran teknis-teoretis karena beliau juga musikus dan bikin musik, juga mampu mengulas hal-hal lebih umum dalam kepentingan apresiasi khalayak luas,” kata Tony. “Pemikirannya tajam, meski ia sangat keras kepala,” tambah Otto.   Pewawancara dan Penulis: Erie Setiawan Foto: Thomas Y. Anggoro (Suka Hardjana memutar musik melalui telefunke koleksinya) Baca juga: https://tirto.id/di-tangan-suka-hardjana-musik-menjelma-ilmu-pengetahuan-cH6u

SELAMAT JALAN, KOMPONIS PAUL GOETAMA SOEGIJO
08 Jan 2019 Redaksi 7.413 Views

SELAMAT JALAN, KOMPONIS PAUL GOETAMA SOEGIJO

  Oleh: Septian Dwi Cahyo Pada pagi hari tanggal 8 Januari 2019 penulis menerima kabar dari seorang pianis kenamaan Indonesia Aisha Sudiarso Pletscher melalui Whatsapp. Kabar tersebut tentunya berhubungan dengan musik, namun bukan kabar tentang konser, lokakarya dan lain sebagainya, tetapi kabar duka atas kepulangan Paul Gutama Soegijo salah satu komponis Indonesia generasi 60an yang menghabiskan masa tuanya di Jerman. Kepergiannya menambah deretan kehilangan atas tokoh-tokoh musik hebat dari Indonesia setelah sebelumnya Indonesia ditinggal pergi oleh Slamet Abdul Sjukur dan Suka Hardjana. Mungkin tidak banyak yang tau siapa itu Paul Gutama Soegijo, khususnya generasi milenial dikarenakan satu dan lain hal selain selama akhir dari hidupnya beliau menetap di Jerman dan jarang bersentuhan dengan generasi muda. Paul Gutama Soegijo lahir di Yogyakarta pada tahun 1934. Dia memperoleh diploma untuk violin dan musik teori dari Amserdam Conservatory, serta belajar komposisi dengan Boris Blacher di Hochschule für Musik in Berlin. Dan membentuk grup gamelan yang diberi nama Banjargruppe sekitar tahun 1973 di Jerman. Dikarenakan pada waktu itu sulit untuk mengumpulkan orang untuk memainkan musik yang masih “asing” di telinga mereka (informasi ini penulis dapat dari perbincangan penulis dengan muridnya yang bernama Thomas Zunk melalui surat elektronik, Thomas Zunk juga tercatat sebagai salah satu anggota dari Banjargruppe) lalu Gutama memasang iklan pada sebuah majalah budaya lokal untuk menarik minat orang-orang untuk bergabung. Pada fase bersama Banjargruppe ini juga Paul Gutama mulai menawarkan konsep karya yang iya beri nama “Musik der neuen Ursprünglichkeit ( dalam bahasa Jerman)”, ”New Source Music ( dalam bahasa Inggris)” atau dalam bahasa Indonesia dia menyebutnya sebagai Musik Leluhur Baru. Sebagai komponis dari generasi milenial, penulis mempunyai pengalaman yang unik yang berhubungan dengan karya-karya dari Paul Gutama Soegijo. Pada tahun 2018 yang lalu penulis sempat mendapatkan hibah untuk mengikuti studi singkat di University of Music and Performing Arts Graz, di bawah bimbingan Prof. Beat Furrer. Selama studi di sana penulis juga mengikuti kelas dari Prof. Georg Friedrich Haas, dan pada satu hari terjadi perbincangan penulis dengan Prof. Georg Friedrich Haas dimana dia ingin sekali mendengarkan karya-karya musik dari komponis “kontemporer” Indonesia dan dia menunjuk penulis untuk mempresentasikan tentang itu. Dan dari sinilah petualangan menjelajahi karya-karya dari komponis Indonesia dulu dan kini dimulai termasuk mencari tahu karya-karya dari Paul Gutama Soegijo. Saat itu penulis hanya mempunyai daftar-daftar nama para komponis Indonesia dari buku-buku-buku yang membahas tentang para komponis Indonesia seperi dari buku Dieter Mack yang berjudul “Zeitgenössische Musik In Indonesien, Zwischen lokalen Traditionen, nationalen Verpflichtungen und internationalen Einflussen”. Dari situ penulis menemukan nama Paul Gutama Soegijo laggi yang sebelumnya penulis hanya tau dari buku-buku Suka Hardjana. Singat cerita penulis mulai berburu dokumentasi audio dari karya Paul Gutama Soegijo, namun penulis hanya bisa menemukan satu karya di YouTube yang berjudul “Klavierstudie” untuk piano tunggal, sungguh sulit sekali mencari dokumentasi karya-karya beliau. Namun, perburuan terus berlanjut yang mempertemukan penulis dengan piringan hitam dari tahun 1972 di perpustakaan University of Music and Performing Arts Graz yang berisikan karyanya yang berjudul “Landschaften” untuk ansambel campuran dan koor. Kedua karya ini dekat dengan model kekaryaan komponis-komponis Eropa pada waktu itu. Selain dari itu, dari buku Dieter Mack penulis menemukan konsep New Music Source atau Musik Leluhur Baru yang Paul Gutama Soegijo tawarkan (pada saat itu penulis belum mendengar contoh karyanya dari fase ini). Pada bukunya Dieter mengkutip pernyataan Paul Gutama Soegijo yang menjelaskan tentang konsepnya ini, berikut adalah kutipan tersebut: “I am practicing deconstruction. A further step in the innovative process is made when structural concept are freed from their ethnographic context and taken as abstract, emerge as objects of compositional speculation. From an ethnographic point of view, Imbalan is the sign of a new section in a Gending, from instrumental and compositional point of view Imbalan is a practical method of achieving fast figuration on heavy percussion instrumens. To the gamelan instruments I later added percussion from other countries and culture. Here also, before using them innovatively in a composition, first of all I made a through investigation of indigenious structure and instrumental techniques. For me, this is imperative. The reason that I want my innovation, always through the use of inner resources and the process of self-renewal, to burst forth from the innermost heart of autochthonous. This is in short New Source Music.“. Beberapa bulan kemudian (setelah presentasi tentang musik “kontemporer” Indonesia telah penulis lakukan), penulis bertemu dengan Thomas Zunk salah satu murid Gutama yang juga pernah bergabung bersama Banjargruppe di Facebook. Dari sini terjadi perbincangan panjang yang pada akhirnya kami saling bertukar koleksi karya dari Paul Gutama Soegijo. Pada saat itu penulis mengirimkan karya yang penulis temukan di Graz yang berjudul “Landschaften” dan Thomas Zunk mengirim 2 karya Gutama “Kotekan I” dan “Bidadari Tampil” dari periode bersama Banjargruppe dan sekaligus dari periode Musik Leluhur Baru, dari kedua periode (periode sebelum Musik Leluhur Baru yang diwakili oleh karya “Landschaften” dan “Klavierstudie” serta karya-karya dari periode Musik Leluhur Baru “Kotekan I” dan “Bidadari Tampil”) ini saja penulis menemukan bahwa Gutama pernah mengalami pergeseran gaya kekaryaan!, sungguh menarik. Selain itu Thomas Zunk juga memberikan tulisan singkat mengenai perjalanan musik Paul Gutama Soegijo, informasi tersebut meliputi tentang sejarah bagaimana Banjargruppe terbentuk, pergaulan Gutama dengan Gruppe Neue Musik Berlin, dan lain sebagainya. Mungkin banyak orang berkata apa pentingnya memainkan karya-karya mereka apalagi sampai menjelajahi dan mendengarkan karya-karya mereka juga mempelajarinya?. Ya mungkin tidak penting, tapi dari pengalaman diatas penulis mendapatkan banyak hal seperti mengetahui sejarah panjang komposisi musik di Indonesia dan akhirnya bertemu dengan karya-karya dari Paul Gutama Soegijo. Dari situ penulis juga pada akhirnya mengenali diri melalui kesejarahan panjang yang telah terjadi pada dunia komposisi Indonesia. Hal ini menjadi media refleksi dimana posisi penulis berada dan berasal dan akan kemana selanjutnya?. Selamat jalan pak Paul Gutama Soegijo, meskipun penulis belum pernah bertemu langsung dengannya, tapi karya-karya dan pemikirannya telah membuka sedikit gerbang untuk generasi selanjutnya. Dan tulisan ini saya persembahkan sebagai penghormatan terakhir untuk beliau. Citayam, 8 Januari 2019. SEPTIAN DWI CAHYO foto: © Anne Soegijo (diakses dari: http://www.jakarta-berlin.de/en/a_bios/kbio.php?p=kb_banjar) Link 1 karya untuk didengarkan: https://www.youtube.com/watch?v=FKoL0xrZmj4