Kategori: Event & Festival

Eksplorasi pemikiran, kritik, dan berita terbaru seputar dunia seni dan musik hari ini.

OCTOBER MEETING CONTEMPORARY MUSIC AND MUSICIANS 2023: SPATIAL
14 Oct 2023 Redaksi 1.050 Views

OCTOBER MEETING CONTEMPORARY MUSIC AND MUSICIANS 2023: SPATIAL

  October Meeting Contemporary  Music and Musicians 2023: "Spatial".   -Sound Spatiality Discourse -Multi-channel Spatial Audio Music Performance   Jadilah bagian dari kami dan para komponis dalam bereksperimen di wilayah sistem bunyi spasial dan yang multikanal!   16-19 Oktober 2023 Tempat: @tempuran.space Jl. Plataran 9 Sembungan Bantul YK Pukul: 15.00-17.30 WIB Free! CP: 085729809236   Support by: @tempuran.space @artmusictoday @rekambergerak @amtpublisher_   #octobermeeting #spatial #contemporary #music #musicians #artmusictoday #musikmasakini #experimentalmusic #electronicmusic #contemporarymusic #indonesiancontemporarymusic #spatialaudio #spatialsound

SPASIAL: KIPRAH ARTISTIK DALAM EKSPANSI RUANG AKUSTIK
13 Dec 2023 Redaksi 1.884 Views

SPASIAL: KIPRAH ARTISTIK DALAM EKSPANSI RUANG AKUSTIK

SPASIAL: KIPRAH ARTISTIK DALAM EKSPANSI RUANG AKUSTIK October Meeting: Contemporary Music and Musicians 2023 telah mempraktikkan seni bunyi spasial untuk mewujudkan citra dengar yang meruang dan natural, namun sekaligus kompleks dalam hal teknis, sistem, maupun pre-knowledgenya. Mulai hari ini, seminggu sekali, kami akan menampilkan seri artikel yang membahas peristiwa ini. Artikel pertama ini ditulis oleh Andri Widi Asmara, bersumber dari data transkripsi audio rekaman Artist Talk dan Diskusi: Praktik Artistik dalam Ekspansi Ruang Akustik dengan narasumber Gatot Danar Sulistiyanto. Selamat menyimak! Pengantar Spatial audio/spasial adalah contoh hasil olah kreatif manusia dalam memanfaatkan ruang dengan bunyi sebagai episentrumnya. Pada perkembangannya, spasial sudah digunakan oleh industri film, game, gadget, dan selluler untuk mengembangkan citra dengar perseptual pada produk-produknya. Namun di ranah medan ekspresi artistik, kami melihat masih banyak yang belum memanfaatkannya sebagai piranti yang asyik untuk diimplementasikan.  Maka pada October Meeting yang dilaksanakan  tanggal 16-19 Oktober 2023 di Tempuran Space ini kami mengeksperimen spasial pada wilayah kerja rekayasa artistik dari 5 seniman bunyi memanfaatkan 20 speaker. Seniman bunyi tersebut mencoba sistem multikanal, realtime spatial, dan live spatial. Ketiga percobaan tersebut mungkin masih belum banyak konsensusnya di hari ini. Sehingga kami menduga akan ada banyak penyesuaian cara dengarnya, cara kerjanya, dan mungkin cara delivery mekanismenya. Maka sifat dari performance ini adalah eksperimentatif, dan membebaskan para seniman bunyi dan pendengar untuk mengeksplor lebih jauh tentang spasialitas. Memahami Seni Bunyi Spasial Seni bunyi spasial kami tafsir sebagai wahana bertemu dan bereksplorasi bersama dari para audio engineer, acoustical engineer, computer scientist, audio production, dan tentu saja seniman yang berbasis proyeksi bunyi. Sistemnya mempadukan kinerja intelektual, kinerja astistik, dan kinerja teknikal. Mereka saling bertaut kebutuhan secara hybrid. Seni bunyi spasial tidak hanya menawarkan ruang yang lain untuk mereka, namun juga untuk pendengar. Bentuk pertunjukan yang menggunakan citra ruang depan-belakang, atau istilahnya frontal sistem-kontras antara penyaji dan pendengar yang hanya berhadapan, bertransformasi menjadi ruang dengar seutuhnya. Untuk memahami seni spasial, baiknya wajib mempunyai pre-knowledge. Diantaranya: telah memahami kinerja Digital Signal Processing (DSP) dan seni computer music. Mengetahui kinerja DAW (Digital Audio Workstation) saja sebenarnya sudah cukup. Namun lebih afdol lagi jika ditambah pengetahuan DSP (Digital Signal Processing). Tanpa itu sebenarnya bisa-bisa saja. Namun, tanpa modal tersebut, spasial hanya terbatas dimaknai pada perseptual bunyinya. Tidak keliru, namun kurang lengkap. Karena memasuki sistem spasial, akan menemui banyak perbedaan jika dibandingkan dengan sistem stereo. Sistem stereo hanya memproyeksikan suara ke dalam amplitude panning-kanan dan kiri. Hanya sebatas perbesaran dan perbedaan amplitudo antara kanan dan kiri.  Bedanya dengan stereo? Perbedaan pertama antara sistem spasial dan sistem stereo adalah adanya efek dopler. Efek dopler merupakan khas efek spasial. Contoh: ketika ambulance melintas, jalan dari kanan ke kiri, tanpa mencermatipun kita merasakan bahwa ada penurunan pitch dan intonasi pada sirenenya. Sederhananya, hal semacam itu bisa disebut sebagai efek dopler.  Jika kita lihat di dalam metadata, dopler ini disebut  sound localization, sumber di mana informasi datang dan diterima. Keberadaan dopler merupakan medan penting sekaligus medan poin baru. Dalam penyajiannya dapat menjadi point of interest. Itu yang nanti akan membedakan dari sistem stereo. Karena sistem stereo berkarakter pada depthness dan wideness saja, maka metadatanya berbeda dengan spasial. Unsur pembeda kedua adalah redaman udara. Redaman udara ini di sistem stereo tidak berlaku/tidak diprioritaskan. Redaman udara/absorbing air, adalah dampak dimana suara itu seperti diserap. Di dalam sistem spasial, redaman udara digunakan untuk processing.  Sehingga terdapat perubahan spektrum dan perubahan citra bunyi. Perubahan ini tidak hanya pada warna bunyinya saja, melainkan kualitasnya. Jika dibedah, dampak redaman udara pada sistem spasial mengakibatkan percampuran antara filter, face, dengan time delay. Kemudian ketiganya tersebut diakumulasikan menjadi satu. Sedangkan di sistem stereo hanya mewakili delay dan reverb saja. Unsur pembeda ketiga adalah proses reverberasi/gema. Reverberasi  di spatial system tidak hanya mengaitkan dua speaker saja, namun mengaitkan jaringan loudspeaker. Maka amplitudo reverbnya bukan pada stereo reverb, melainkan convolution reverb. Ini dapat menjadi salah satu mata baca artistik di dalam olahan spatial audio. Sehingga, selain sound localization, artistic awarenessnya adalah reverberasi. Jika di dalam sistem stereo karakter reverberasinya bisa dikatakan “memperdalam”, di spatial audio berbeda. Sistem ini membuat sebuah virtualisasi atau artificial reverbration. Tidak hanya merekatkan suara satu dengan yang lainnya, namun membuat sebuah layer gema setara 360 derajat. Unsur pembeda yang keempat adalah modul konfigurasi panning. Ini yang membedakan dengan amplitude panning khas stereo sistem. Modul konfigurasi panning ada banyak, di antaranya ada A dan B, X dan Y, MS, VAB, dll. Contoh lainnya adalah Factor Amplitude Base, sampai ke ambisonic, binaural dan wave field synthesis. Ini merupakan proses akustifikasi dari seluruhnya sinyal input menuju ke panning sistem. Sehingga, sistem proyeksinya itu yang menentukan apa konfigurasi panningnya. Ini sebenarnya adalah logika organologis. Pada sistem stereo, kita tidak menjumpai decoding dan transcoding. Karena di stereo tidak dibutuhkan persesuaian metadata, hanya menggiring data menuju ke amplitude. Ini merupakan unsur pembeda kelima. Di sistem spatial dibutuhkan enkripsi menjadi decoding atau transcoding. Sehingga modul konfigurasi transcodingnya menjadi bermacam-macam. Ada model transaural, ada ambisonic, dll. Lebih jelasnya, proses transcoding dan decoding secara teknis adalah pekerjaan matematika dan pekerjaan computer sains. Namun, secara praktis, kita bisa menyederhanakan itu menjadi mengalihformatkan atau mixing format dari seluruh proses sinyal. Atau istilahnya mix-basednya. Tanpa  hal tersebut, seluruh metadata tak dapat diproyeksikan ke sinyal. Karena itu adalah final dari mix-based. Decoding dan encoding banyak digunakan dalam ambisonic system. Karena basicnya adalah A format menuju ke B format, dst. Sistem ini memiliki format-format khusus, karena ada channel based sistem. Sistem pengolahan data ini jika ingin bisa dibunyikan/dimapping harus di “B” formatkan sehingga ini dapat masuk ke dalam sistem metadata. Sedangkan transcoding ini untuk format realtime spatial. Maka bisa dibedakan menjadi on-site rendering sama non-realtime. Unsur pembeda yang terkahir adalah output. Seni bunyi spasial adalah adalah sistem berbasis multikanal. Maka outputnya juga harus multichannel, alias mandiri per-kanal. Misalnya, Jika outputnya 16 kanal, ya harus 16 speaker. Tidak dapat dipararel bergabung menjadi satu sinyal. Maka sebetulnya sistem spasial ini bukan low maintenance tools, melainkan high maintenance. Maka ada mekanisme produksi yang ceritanya akan berbeda. Bagaimana merancang spasial? Merancang sistem spasial dapat menggunakan 3 jenis maqam. Yang pertama adalah Perceptual Model. Di dalam model ini masih menggunakan sistem berbasis amplitude panning. Kita dapat memulainya dengan teknik panning, kemudian beralih ke sistem stereo. Pada sistem stereo ini kita bisa mengembangkannya menjadi sistem surround. Yang nantinya ini semua akan bermuara di virtualiasi sound source yang berbasis VBAP (vector base amplitude panning). Model ini dikenal modern sehingga sering dipakai oleh industri film, game, seluler, dan gadget untuk mengembangkan produknya (dolby atmos, dll.). Mengapa istilahnya perseptual? Karena mengalami persepsialisasi citra dengar yang bersifat environmental. Contohnya: seolah-olah kita berada di tengah lautan, tengah hutan, di antara kereta lewat, dll. Untuk yang kedua adalah Signal Model. Bisa dikatakan, spasial yang dirancang sedari bahan mentahnya. Karakter arah tangkap/arah dengarnya itu menjadi satu titik episentrum orientasi artistik. Sehingga muara yang dituju adalah binaural/transaural. Salah satu alatnya: dummy head – model kepala manusia yang dipasang mikrofon di di beberapa titik untuk merekam model-model sinyal dari arah tangkap yang berbeda. Hasilnya memang terbukti berbeda antara depan, belakang, samping, atas, bawah, dll. Ada ukuran tersendiri. Sistem ini hanya membutuhkan dua channel, namun dengan catatan, sebelumnya sudah mengalami proses olah media. Untuk yang ketiga adalah Physical Model. Phsycal model ini berorientasi pada proses-proses akustifikasi, tidak lagi berbasis manusia yang diorientasikan perspektif dengarnya, tetapi pendengar masuk ke dalam realitas fisik kondisi ruang bunyi. Maka yang ditata adalah proses sintesis dari ruang bunyi itu. Istilahnya Soundfield Synthesis. Contoh: dari physical model itu kita bisa membuat refleksi spesifik persis seperti gedung Taman Budaya Yogyakarta. Nanti yang muncul adalah data-data laporan yang  saintifik (tingginya berapa, serapannya berapa, pantulannya berapa, dll). Ini yang menjadi epicentrum dari wave field synthesis dan ambisonic. Teknis 5 seniman bunyi di October Meeting 2023 menggunakan 3 jenis sistem, yaitu Multichannel Projection/Proyeksi Mutikanal, Realtime Spatial, dan Live Spatial. Pada hari pertama adalah Bahtera, ia menggunakan proyeksi multikanal untuk mengekspos karyanya yang berjudul Ambience for ODGJ. Kemudian hari kedua adalah Muhammad Roziqin dengan karyanya berjudul Musical Interpretation of Dance Works “Semilah” dan Rangga Purnama Aji dengan karyanya berjudul Suppressed Fantasia. Mereka berdua menggunakan sistem realtime spatial. Pada hari terakhir, pendengar disuguhkan live spatial performance dari Gatot Danar Sulistiyanto dengan karyanya yang berjudul Meruang. Gatot berkolaborasi dengan instrumentalis Prasiddha Iwang pada clarinet dan Tony Maryana pada perkusi. Disusul oleh kelompok Sentabi yang beranggotakan 3 orang membawakan karya berjudul 17.00-05.00 Tuwuh. Gambaran teknis yang mereka pakai dalam kegiatan ini adalah sebagai berikut: Salin dan klik tautan berikut untuk melihat gambar 1:  https://archive.org/details/picture-1-artikel-andri Jika kita cermati, ada fitur yang khas, yaitu panoramix. Panoramix ini bisa menghantarkan data bunyi ke dalam beberapa power amp dan subwoofer yang tersedia. Sebelum menuju panoramix, seniman bunyi harus mendiferensiasi input mereka dulu, apakah DAW based ataukah analog based. Sistem ini menyediakan sampai 24 channel. Untuk sistem penataan output speaker, kami menyusun 20 speaker ke dalam 3 jenis ruang: Salin dan klik tautan berikut untuk melihat gambar 2: https://archive.org/details/picture-2-artikel-andri Pertama, ruang di indoor yang terdapat di lantai bawah dom lingkaran. Pada ruang ini terdapat 8 speaker yang mengelilingi ruang berdinding kaca dan beralaskan semen dan batu. Ditata secara melingkar serta ditambah subwoofer. Pada ruang ini pendengar sangat bisa merasakan frekuensi rendah dan larinya suara dari bawah ke atas, berputar, dan memantul.  Serta bisa berinteraksi dengan seniman bunyi yang sedang meramu. Di sini pendengar bisa duduk maupun berdiri.  Salin dan klik tautan berikut untuk melihat gambar 3: https://archive.org/details/picture-3-artikel-andri Lalu kemudian di outdoor ruang atas. Untuk bisa mengaksesnya, pendengar bisa menaiki tangga yang terdapat di tengah-tengah stage bawah atau melewati luar ruangan. Di sini pendengar bisa menikmati lebih sound lokalisasi yang lebih terasa netral. Bunyi-bunyi yang dilempar ke atas dari ruang bawah sedikit demi sedikit menerobos lubang tangga. Namun pendengar lebih fokus ke laju larinya bunyi dari speaker ke speaker yang terasa hidup. Di sini pendengar jauh lebih santai menghayati sambil rebahan di bantal yang tersedia. Salin dan klik tautan berikut untuk melihat gambar 4: https://archive.org/details/picture-4artikelandri  Terakhir adalah formasi speaker pohon di sekitar Dom/Ruang Gendol. Penempatan ini juga sifatnya eksperimental, karena mencoba seberapa kompleks spektrum yang dipendarkan jika dari sisi atas terpasang speaker. Dalam praktiknya, speaker pohon ini sering mengundang rasa penasaran pendengar pasif yang memang tidak berencana untuk mendengarnya. Karena posisinya relatif bisa memancarkan suara untuk jarak yang sedikit jauh, maka penggunaan speaker pohon menambah kompleksitas formasi spasial. Kesimpulan October Meeting telah mempraktikkan seni bunyi spasial pada tatanan sistem proyeksi multikanal, realtime spatial, dan juga live spatial secara eksperimentatif dari 5 seniman bunyi. Adapun hasil-hasil yang di dapat dari percobaan tersebut adalah: Adanya persesuaian dan pengalaman baru antara pendengar dan penyaji musik, di mana mereka bisa menjelajah dua ruang yang tersedia di Tempuran Space yaitu ruang gendol/dom lantai bawah dan lantai atas. Ditambah dengan persesuaian pendengar pasif yang berada di luar dom, dipancing dengan speaker yang tertanam di pohon. Ini mungkin menjadi pembeda dengan pertunjukan dengar yang lainnya, dimana stage penyaji dan penonton saling berhadapan. Sedangkan pada eksperimen ini, ruang penyaji berekspansi menjadi ruang dengar seutuhnya. Adanya penyesuaian dari seniman bunyi dengan sistem yang jarang mereka temui sebelumnya, dimana mereka diharuskan memahami sisi panoramix yang menjadi kunci untuk mentransformasi input sampai ke output yang jumlahnya tidak seperti lazimnya frontal stage. Ini merupakan bertemunya skill intelektual, teknikal, dan kiprah pengembangan artistik dalam satu waktu. Peluang Performance Values: Open standart/kolaboratif/Integratif/memungkinkan untuk menampung banyak ekspresi artistik Antitesis kultur dengar, dari simple to complex Multi perspektif dalam menerima pesan yang terdelivery. Alternatif/modus operandi/delivery mechanism yang bisa ditawarkan Pengalaman baru/unik dalam ruang pertunjukan dengar Mengeksplorasi pendengaran, yaitu pasif to active listener Enty level to advanced listeners. Pengalaman fisik yang berbeda dari biasanya. Technological Values: Sistem tata suara audio spatial Visual interface/object geometry Adaptif terhadap berbagai kondisi ruang Loudspeaker treatment/placement/instalasi Live mixing spatial/on site rendering Multilayer profesi audio (studio dan nonstudio) Multidimensional object based mixing Interface/controller   Penulis: Andri Widi Asmara Narasumber: Gatot Danar Sulistiyanto Tulisan ini bersumber dari data transkrip audio rekaman Artist Talk dan Diskusi  Praktik Artistik dalam Ekspansi Ruang Akustik – Visi dan Problematika yang berlangsung pada Senin 16 Oktober 2023 di Tempuran Space dengan pengembangan konteks dari penulis.          

KALSEL dan BATAM Merintis Jejaring Baru di October Meeting 2018 (Laporan Mitra Akademik)
12 Oct 2018 Redaksi 1.880 Views

KALSEL dan BATAM Merintis Jejaring Baru di October Meeting 2018 (Laporan Mitra Akademik)

Mulai penyelenggaraan di tahun 2017, October Meeting merintis jaringan baru dengan perahu navigasi yang disebut MITRA AKADEMIK. Mereka adalah para akademisi dari perguruan tinggi maupun perwakilan dari berbagai kota di Indonesia yang kami undang secara khusus untuk melengkapi dimensi jaringan. Mereka melakukan pembacaan atas October Meeting melalui perspektif masing-masing yang sangat beragam. Selain berjejaring, tujuan utamanya adalah melengkapi kazanah silang-pemikiran demi pengembangan potensi musik dan sumber daya di masing-masing domisili atau wilayah kerja Mitra Akademik. Untuk October Meeting kali ini yang berkesempatan hadir adalah Novyandi Saputra (Banjarbaru), Clemens Felix Setiyawan (Jakarta), Tanaka Manalu (Batam-Medan), dan Isaak Dachi (Batam). Novyandi Saputra menjelaskan pentingnya October Meeting ini sebagai perintisan jejaring baru yang menghubungkan Kalimantan Selatan dengan ekosistem di kota lain. Kalimantan Selatan, yang baru akan memulai pertemuan komposer pada November mendatang, merupakan gairah baru yang melengkapi pertumbuhan-pertumbuhan yang sudah sudah terjadi di kota lainnya. "Terus terang kami sangat memerlukan akses jaringan yang bisa terjadi seperti di October Meeting ini, terutama untuk membekali banyak hal, baik secara manajerial, konten acara, dan pe-meta-an sumber daya yang ada," ujarnya. Ia juga menulis secara padat dan ringkas dari hasil pembacaannya atas program OPEN LAB yang menjadi salah satu menu dari program October Meeting kali ini: "OPEN LAB menghadirkan ide melalui bunyi-bunyi yang mereka anggap mampu merepresentasikan apa yang mereka gagas.Pada presentasi ini saya dapat melihat bagaimana musik bukan lagi persoalan estetika-artistik semata namun musik sudah mampu melampaui apa yang dimaknai kebanyakan orang terhadapnya (post-music). Secara harfiah para komposer menantang dirinya sendiri untuk mengompos sebuah peristiwa yang terjadi disekitarnya menjadi sebuah peristiwa musikal. Kemungkinan-kemungkinan bunyi dihadirkan agar penonton dibawa pada persepsi baru terhadap bunyi. Saya kira inilah kemudian sebuah penanda musik era kontemporer yang juga diselubungi post-truth. Gagasan dan konsep platform yang membungkus bebunyian tersebut. Pada open lab ini yang juga menandai berakhirnya October meeting saya menarik sebuah kesimpulan bahwa reconnect bukan hanya persoalan jaringan dan ekosistem namun bagaimana juga akhirnya musik berkoneksi dengan hal-hal yg baru dan lintas media. Musik era baru adalah musik yg berada pada tataran konseptual yg bereaksi karena segala hal di sekitar kreatornya." Pada sisi lain, Tanaka Manalu, dosen di Universitas Universal Batam yang juga turut hadir selama lima hari acara, menganggap ruang October Meeting merupakan pemicu semangat bagi perintisan di wilayah kerja Tanaka, antara lain Batam dan Medan. "Saya sedang terus mencari cara, bagaimana Batam ikut menciptakan semangat seperti ini, dan khususnya di Medan, yang sangat bersejarah bagi karir saya, bisa bergairah kembali setelah ditinggalkan almarhum Ben Pasaribu," ujarnya (es/amt/foto: Jtenno Ryo).            

Pertemuan Penuh Semangat di October Meeting 2018!
10 Oct 2018 Redaksi 2.059 Views

Pertemuan Penuh Semangat di October Meeting 2018!

  October Meeting 2018 “Reconnect” yang berlangsung lima hari penuh dari tanggal 7-11 Oktober adalah pertemuan-pertemuan yang penuh semangat. Dengan dipimpin oleh Halida Bunga Fisandra (22) sebagai Direktur Tata Kelola untuk tahun ini, penyelenggaraan October Meeting melibatkan sedikitnya 40 orang anggota tim dengan sebaran tugas-tugas yang terkoordinasi dengan baik. Sebagai hajatan tahunan, October Meeting yang di-inisiasi oleh Art Music Today dan Trace 21 ini bukan berorientasi pada panggung pertunjukan yang bersifat sementara, melainkan lebih kepada pengelolaan ruang kreasi, pertemuan, dan jaringan dalam musik kontemporer—yang sifatnya lebih jangka panjang. “Ini tantangan besar bagi kami untuk mewujudkan ruang dialog, silaturahmi, mengelola jaringan, menghubungkan antar stakeholder untuk saling memahami potensi satu sama lain dan sama-sama mengembangkan apa yang ada,” ujar Halida. October Meeting kali ini mengundang komponis-komponis muda yang datang dari berbagai kota, antara lain Jakarta, Jogja, Bandung, Padang Panjang, Pontianak, dan Papua. Para komponis akan menampilkan karya-karya mereka yang akan dimainkan oleh October Meeting Ensemble pada 10 Oktober malam di Tembi Rumah Budaya—dan pada malam penutupan (11/10) juga akan tampil teman-teman dari Open Lab yang juga datang dari berbagai kota (ary/amt/foto: Tania).

Pertemuan Ketiga OPEN LAB: Eksplorasi dan Eksekusi
10 Oct 2018 Redaksi 2.004 Views

Pertemuan Ketiga OPEN LAB: Eksplorasi dan Eksekusi

Kelompok 0 Km Mengumpulkan data soundscape di 0 Km dengan metode masing-masing di titik kordinat yang berbeda. Hasil data tersebut kemudian merujuk pada bentuk. Bagian pertama dengan computer processing data soundscape. Bagian kedua interaksi antar kordinat. Bagian ketiga mengolah projeksi bunyi dan sudut dengar antar kordinat. Kelompok Sound and Expressions Eksplorasi dengan beberapa makanan dengan tekstur yang sama dengan bakpia. Mencari kemungkinan dalam mengekspresikan kegiatan makan secara visual (raut wajah) maupun auditori (membuka mulut 25%, 50%,75%,100%). Secara dramaturgi akan menggunakan komparasi aktif dan pasif, satu pelaku berekspresi aktif kemudian satu pelaku yang lain berekspresi pasif. Kelompok Active Silent Terdiri dari 3 tahap. Tahap 1 terinspirasi drama radio, dengan memainkan dinamika dari dialog yang sudah direkam sebelumnya. Tahap 2 akan merespon suara apapun yang timbul selama pertunjukan. Tahap 3 dengan memainkan processing dari instrument perkusi bersuara besar (kjg/amt/foto: Icha).

Pertemuan Kedua OPEN LAB: Temuan Observasi
09 Oct 2018 Redaksi 1.893 Views

Pertemuan Kedua OPEN LAB: Temuan Observasi

Pada pertemuan kedua OPEN LAB October Meeting 2018 "Reconnect" sudah terbentuk kelompok-kelompok yang akan meneruskan ide/konsep mereka untuk berkreativitas bersama. Mereka menghasilkan temuan-temuan dalam observasi yang telah mereka lakukan. Kelompok 1: 0 KM Dari 4 individu yang memiliki karakter masing-masing, mengambil idiom 4 arah mata angin yang berjalan menuju pada satu titik Nol. Titik Nol sebagai objek utama yang kemudian akan dicerna ulang oleh masing-masing individu. Eksplorasi atas 0 KM yang merupakan persimpangan banyak peristiwa interkoneksi spasial ini. Kelompok 2: Active Silent Berangkat dari fenomena “diam yang aktif”. Mengingat di zaman kini dimana masyarakat selalu berbicara. Menilik ulang keramaian positif yang merupakan hasil pengendapan dari ”Diam yang Aktif”. Dalam penurunan konsepnya, akan mengintegrasikan aspek-aspek panca indera. Kelompok 3: Sound and Expressions Fenomena musikal dari Jogja yaitu dialek Jogja. Terinspirasi dari seorang ibu-ibu berbicara dengan dialek jogja sambil makan bakpia dimana merupakan makanan khas Jogja pula. Menangkap fenomena tersebut sebagai peristiwa musikal yang menarik. Tahapan sudah sampai pada inventaris bebunyian. Tantangan selanjutnya adalah transformasi gagasan ke dalam bentuk artistik dengan menggunakan tools yang tepat. Setelah pencarian tools maka ada proses investigasi pada pemirsa. Sistem umpan balik antara komposer dengan pemirsa menjadi aspek motoris yang membuat temuan komposer menjadi cair, memadat dan mencair lagi. Diharapkan temuan-temuan dalam OpenLab ini bukan merupakan barang jadi, tetapi menjadi sesuatu yang bisa dikaji ulang dalam periode tertentu setelah peristiwa eksplorasi. (kjg/amt/foto: Asy)

Disonnant dan Anggarayesta  Membuka October Meeting 2018!
08 Oct 2018 Redaksi 1.976 Views

Disonnant dan Anggarayesta Membuka October Meeting 2018!

  Hari pertama penyelenggaraan October Meeting 2018 “Reconnect” (7/10) telah berlangsung lancar dan turut dihadiri pula oleh Direktur Goethe-Institut wilayah Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru, Dr. Heinrich Blömeke. Mengambil venue di Pendhapa Art Space, penampilan hari pertama diisi oleh Disonnant (Jogja), dan Anggarayesta (Bandung). Kedua kelompok yang sama-sama berformat duo dan mengusung musik elektronik tersebut diapresiasi positif oleh audiens yang datang dari berbagai kalangan, baik tamu-tamu seniman lokal, mancanegara (yang sebagian merupakan partisipan Nusasonic Festival yang sedang berada di Jogja)—dan audiens umum. Anggarayesta mengaku senang diundang tampil ke October Meeting kali ini. Evan, salah satu anggotanya, juga bercerita mengenai konsep musik yang mereka usung. “Kami mencintai musik tradisional Nusantara, namun kami tidak bisa memainkannya, makanya kami memilih bereksperimen dengan media elektronik dengan mengambil sample-sample idiom musik Nusantara yang kami rekam dan olah,” ujarnya. Duo Disonnant yang menjadi penampil kedua lebih mengolah harmoni-harmoni yang diwakili piano dan mempertemukannya dengan bunyi-bunyi elektronik, noise, dan ambient-ambient yang tidak terikat pada konsep spesifik. Meskipun merupakan duo yang belum lama berdiri, Disonnant telah telah memiliki 3 album, yaitu Dissonant (2017), Journey (2018), dan So Far, Need Home - So Close, It’s Home (2018). Dalam sambutan di pembukaan, Dr. Heinrich Blömeke menceritakan secara singkat hubungan dan potensi baik yang telah terkelola selama ini antara Goethe-Institut dan seniman musik Indonesia. Ia berharap potensi musik Indonesia yang kaya bisa terus diolah dan diapresiasikan, juga mempertahankan hubungan baik yang telah terbina selama ini. “Selamat menikmati seluruh rangkain acara,” ujarnya menutup sambutan. Pada prakata lain, Gatot Sulistiyanto selaku Direktur Artistik menjelaskan pentingnya ruang interaksi antar ekosistem musik yang harus dikelola dengan baik ke depan. “October Meeting adalah sarana dialog artistik yang menghubungkan siapa saja, baik musisi, komponis, patron, dan lain-lain untuk terlibat intensif demi mencapai target-target membangun kebudayan musikal,” tegasnya. Sampai berjumpa kembali di hari kedua! (es/amt/foto: Denada).

Doa dan Kerja Keras Panitia: Catatan Produksi October Meeting #1
08 Oct 2018 Redaksi 2.033 Views

Doa dan Kerja Keras Panitia: Catatan Produksi October Meeting #1

Pada hari pertama penyelenggaraan October Meeting (7/10), para panitia dengan kerjakeras mempersiapkan segala keperluan sejak pagi harinya, mulai dari dekorasi, konsumsi, perlengkapan, kru, susunan acara, tata cahaya, dan tata suara. Iqbal Firdaussalam dan Halida Fisandra sebagai koordinator sudah sibuk menghubungi teman-teman panitia untuk segera datang ke Pendhapa Art Space, melalui grup WA. Satu-persatu panitia berdatangan, juga teman-teman dari Rekambergerak yang dipimpin Gatot Sulistiyanto. Secara profesional, mereka sudah tahu apa yang harus disiapkan untuk karya yang akan tampil, karena data-data atau keperluan sudah diketahui jauh sebelumnya. Seperti input kabel untuk masing-masing instrumen atau alat. Bahkan ketika ada alat yang rusak, dengan sigap segera diperbaiki dan berhasil. Pada sisi lain, panitia lainnya sibuk mengambil alat-alat, seperti piano yang akan digunakan oleh penampil. Maka ketika penampil datang, mereka hanya mengatur alat-alat yang digunakan, dan memerintahkan panitia untuk membantu menempatkannya di panggung. Kuncinya adalah para penampil sudah memberikan denah pementasan dan keperluan meja yang digunakan. Itu sebabnya, persiapan ketika cek suara berjalan dengan cepat. Sebelum acara dimulai, para panitia bersama-sama memakan tumpeng sebagai wujud syukur dan doa untuk kelancaran acara pada malam itu. Menurut Gatot, tumpeng tidak boleh dipotong di ujungnya, namun dipotong di bagian pinggir. “Ini merupakan simbol yang akan mengarahkan harapan kita kepada Tuhan ke atas,” ujarnya. Dengan semangat semua panitia menyantap tumpeng hingga habis. Maka selain kerja keras, ada sebuah “doa” yang akan membantu kita melakukan segala hal yang di luar kemampuan manusia. Setelah itu, para panitia bersiap untuk melakukan tugas masing-masing. Pada usai acara, para panitia berkumpul untuk mambahas acara besok harinya yang tak kalah penting dan menariknya (ary/amt/foto: Denada).

Pertemuan Pertama OPEN LAB: Investigasi Artistik
08 Oct 2018 Redaksi 2.244 Views

Pertemuan Pertama OPEN LAB: Investigasi Artistik

OPEN LAB atau Laboratorium Terbuka adalah salah satu program October Meeting 2018. Program ini membuka kesempatan bagi antar individu untuk berinteraksi bersama, bertukar dan menemukan ide, dan kemudian akan dipentaskan pada 11 Oktober sebagai konser penutup. Secara singkat, OPEN LAB merupakan proses investigasi artistik yang sebelumnya tidak dipersiapkan. Semua peserta berangkat dari nol dengan bekal skill dan wawasan masing-masing, mereka menjalani proses semacam karantina yang dipandu para Mentor. Peserta OPEN LAB datang dari berbagai kota, latar belakang, dari pengajar, komposer, pemusik, pegiat musik film, instrument builder, dll. Formasi ini akan berpotensi meluaskan cakupan artistik yang akan dicapai terutama dalam hal kekayaan ide. Tidak ada target yang ditentukan oleh Mentor, misalnya keharusan membuat bentuk-bentuk musik tertentu dalam eksplorasi selama OPEN LAB. Kemungkinan penciptaan bunyi bisa dari mana saja. Misalnya kondisi politis (seperti pada karya Ikbal Lubys “Undertable Payment”), atau dari background komposer yang blur (contoh: karya-karya Gatot Sulistiyanto dimana selain seorang komponis juga seorang teknisi). Rute proses dari OPEN LAB ini adalah berimprovisasi yang kemudian direkam dan dipilah bagian mana yang akan dipresentasikan. Selanjutnya bagian-bagian itu ditulis, barulah masuk tahap rehearsal (kjg/amt). 

UNDANGAN MENULIS MUSIK UNTUK CELLO DAN PIANO
05 Apr 2020 Redaksi 2.623 Views

UNDANGAN MENULIS MUSIK UNTUK CELLO DAN PIANO

  Dear komponis, Di waktu seperti ini seni berbisik lebih keras dibanding pidato politisi. Portal Musik menyerukan panggilan untuk karya baru untuk cello dan piano. Karya yang kami terima akan kami persembahkan dan direkam di sebuah konser yang akan kami selenggarakan ketika pandemi ini berakhir. Batas dan ketentuan: - pengiriman karya dalam bentuk pdf ke portalmusik17@gmail.com - tidak dipungut biaya - tidak ada batas umur/kewarganegaraan - hanya mengirim satu buah karya - durasi karya tidak melebihi 2 menit - batas akhir pengiriman: 30 Mei 2020 Hormat kami untuk para kreator dan komponis.   Selamat berkarya, Portal Musik (Alfian Emir Adytia & Kanako Abe)

SUPPRESSED FANTASIA: ANTARA KEBEBASAN DAN KETERIKATAN
05 Jan 2024 Redaksi 958 Views

SUPPRESSED FANTASIA: ANTARA KEBEBASAN DAN KETERIKATAN

  Artikel ketiga ini membahas karya Rangga Purnama Aji "Suppressed Fantasia". Ditulis oleh Maria Maya Aristya. Selamat menyimak! #SERIARTIKELOMCMM2023   Bulan Oktober 2023, telah berlangsung sebuah pertunjukan musik spasialisasi yang diselenggarakan oleh October Meeting di salah satu ruang di Tempuran Space, Yogyakarta. Pertunjukan bertajuk OMCMM 2023: Spatial tersebut menggagas eksperimentasi dalam penyajian spasialisasi musik dengan format reproduksi audio multikanal. Sejumlah speaker diletakkan secara strategis mengelilingi ruangan dan pengoperasiannya menggunakan perangkat lunak Ircam Panoramix yang dihubungkan ke sistem pengeras suara. Format proyeksi ini dipilih untuk menciptakan pengalaman dengar audiens melebihi dari audio stereo konvensional. Pertunjukan ini menampilkan 5 penampil yang terbagi dalam beberapa sesi dan berlangsung selama 3 hari. Rangga Purnama Aji atau akrab disapa sebagai Rangga, adalah artis yang tampil sekaligus menutup sesi pertunjukan hari kedua. Ia membawakan karya  berjudul Supressed Fantasia dengan menggunakan perangkat lunak live coding bernama TidalCycles. Berangkat dari gagasan bebas dan terikat, karya ini mengaplikasikan bentuk komposisi musik Fantasia[1] yang terdiri dari 4 movement, yaitu: I) Subjugation, II) Shifting, III) Suspension, dan IV) Distraction. Berdasarkan penamaan pada tiap movement, karya ini adalah sebagai interpretasi karaktersitik 4 kata pada bagian-bagian karya yang dimainkan. Fungsi penamaan ini untuk menentukan bagaimana tendesi sifat dari nama yang dipakai dalam movement tersebut sebagai gagasan dari komposisi musik yang dibangun. Karya ini terdiri dari 8 track rekaman audio mono yang secara menyeluruh diproyeksikan ke 3 ruangan: ruang lantai bawah, ruang lantai atas, dan luar ruangan dengan speaker yang digantungkan di beberapa pohon. Secara teknis, 1 track rekaman audio dengan format mono itu kemudian dijadikan 1 kanal dan dimasukkan ke  dalam program Panoramix.  Delapan kanal itu  menjadi 8 objek bunyi, yang bisa disesuai jarak bunyinya dan diproyeksikan secara spasial oleh Rangga. Selain berkeliling menikmati hasil jalinan bebunyian yang dimainkan, saya menyempatkan diri untuk mengamati apa yang dilakukan Rangga. Keterikatan yang disampaikan rangga terwakili dari bagaimana ia harus membagi fokus yang merespons tempat itu dengan proses realtime (live) coding music dan realtime audio processing. Live coding itu sendiri adalah kegiatan yang rumit. Live coding adalah penciptaan karya seni secara langsung dengan melibatkan aktivitas seseorang untuk menyusun deretan kode dan memanipulasi bagian-bagian dari suatu program saat program tersebut dijalankan. Pada pertunjukannya, aktivitas itu akan terlihat dari para pemain (biasa disebut live coder) yang mengendalikan sebuah sistem di perangkat lunak dengan menggunakan bahasa pemrograman untuk membangun dan menyajikan musik dalam waktu nyata. Perlu diketahui bahwa kesalahan dalam aktivitas live coding seperti pada penulisan karakter atau menyusun sintaksis, akan menimbulkan konsekuensi dalam pertunjukannya. Oleh sebab itu pemain perlu memahami logika dasar penyusunan sintaksis serta ketelitian. Proses aktivitas coding ini tentu sudah cukup menuntut konsentrasi tinggi pemainnya, terlebih Rangga secara simultan harus memikirkan dan beralih di antara 2 perangkat lunak yang dikontrol secara bergantian.   Suppressed Fantasia menawarkan pendengar untuk mendalami peristiwa yang memiliki karakteristik-karakteristik bunyi yang unik. Dimulai dari bagian pertama yang sukses menyita perhatian saya, bagian ini diisi dengan 2 bunyi yang kontras; satu bunyi mendesing –  yang terdengar seperti sumber yang berasal dari jarak yang agak jauh. Sementara yang kedua, terasa padat dengan bunyi yang terdengar seperti bunyi klakson, bulat dan panjang (ini hanyalah impresi awal saya, karena sulit untuk mengenali ragam material bunyi yang telah dimanipulasi kian rupa). Proyeksi dari kedua rekaman audio dengan warna bunyi yang bertolak belakang di bagian awal ini membangkitkan kesan yang kuat dan provokatif. Pengaturan jarak dan lingkungan ruang pertunjukan yang dilakukan Rangga meningkatkan kesan yang saya alami di awal. Ditambah pula dengan persepsi saya mencocok-cocokkan suasana tempat, waktu, dan apa yang saya imajinasikan saat saya mengelilingi bagian dalam dan luar ruangan. Dari apa yang saya dengar di awal, tercipta atmosfir seperti saat berada di pelabuhan, atau mungkin berada di suatu tempat yang memancarkan nuansa gelap. Namun musik yang diwujudkan oleh Rangga sungguhlah merdeka dari narasi kontekstual yang sengaja saya bangun di dalam kepala. Meski makna Fantasia itu bersifat bebas dan imajinatif, saya berupaya agar rangkaian karya Rangga terlepas dari bunyi “subjektif” yang membatasi pengalaman dengar saya. Dalam spasialisasi bunyi, peletakan speaker dapat dimanfaatkan untuk memberikan efek dramatis atau bunyi yang menggemparkan dari berbagai arah, namun pergerakan tiap movement dalam karya Rangga terasa halus dan mengalir. Bisa dibilang, tidak ada bunyi-bunyi keras yang hadir tiba-tiba dan sengaja membuat saya terkejut yang datang dari satu sisi speaker tertentu. Sebaliknya, peristiwa bergeraknya bunyi-bunyi yang dikontrol menyatu dengan alur musik secara keseluruhan. Setelah menyelami perjalanan bunyi pada bagian awal, terdengar bunyi dengan durasi waktu yang terhampar panjang, serta sentuhan bunyi gemretak (crackling) yang menambahkan karakteristik dengan corak yang kasar. Kemudian, terdengar interaksi bunyi yang tersuspensi dengan interval yang dimanipulasi naik-turun. Bagian terakhir ditutup dengan variasi dengan beragam jangkauan: bunyi frekuensi rendah yang membentuk gemuruh, nada-nada berdengung dengan hentakan pada bagian ujungnya, serta pertautan antarnada yang memiliki pola-pola yang bersilangan. Pertunjukan OMCMM 2023 yang mengaplikasikan teknik spasialisasi bunyi dengan format reproduksi audio multikanal tidak sekedar bentuk penyajian sebuah karya seni dari para seniman, melainkan suatu eksplorasi yang mendalam akan potensi dimensi ruang dan besaran bunyi yang dirasakan pendengar, baik bagi audiens dan seniman itu sendiri. Jika biasanya kita harus bergeser maju agar dapat mendengarkan dengan jelas, atau mencari posisi lain agar dapat menemukan titik dengar yang nyaman, pertunjukan spasialisasi ini memungkinkan audiens untuk merasakan pengendalian fenomena akustik ruang dan bunyi yang dirancang langsung dengan cermat oleh si seniman. Sebagai salah satu eksplorasi dalam perjalanan eksperimentasi musik dan teknologi, penerapan teknik spasialisasi dalam Supressed Fantasia karya Rangga ini memperluas batasan-batasan dalam pengalaman mendengarkan bunyinya bunyi; untuk merasakan secara intensif akan perisitwa bunyi itu sendiri melalui manipulasi perubahan warna bunyi, serta pergerakan jarak dan dimensi ruang yang diatur secara realtime. Pertunjukan spasialisasi ini memberikan kesempatan untuk menikmati dan mengamati kompleksitas bunyi dengan lebih intim, dalam relasi antara karya seni dengan pendengar.   [1] Sebuah komposisi yang bebas atau tidak terikat oleh bentuk yang ketat, berakar pada improvisasi. Selengkapnya https://www.classical-music.com/articles/what-is-a-fantasia    

Musik, Seni, dan Kode - Pagelaran Algorave Indonesia #1
04 May 2021 Redaksi 3.200 Views

Musik, Seni, dan Kode - Pagelaran Algorave Indonesia #1

Oleh Rangga Purnama Aji (Komponis, Video Artist, Live Coder, Direktur Program di October Meeting - Contemporary Music & Musicians) Pada 22 April 2021 yang lalu telah berlangsung sebuah pertunjukan musik & audio-visual yang diselenggarakan oleh Paguyuban Algorave Indonesia. Pertunjukan tersebut bertajuk Pagelaran Algorave Indonesia #1. Biar langsung ngeh, silakan kalian by pass dengan klik link ini untuk menyaksikan dokumentasinya: https://www.youtube.com/watch?v=JUjgZQaRvq4&t=1957s. Acara tersebut menampilkan 13 musisi & seniman dengan tampilan pertunjukan yang cukup beragam. Hal menarik yang cukup kuat terlihat dari pertunjukan tersebut adalah rata-rata penampilan yang disajikan menghadirkan kode dan algoritma yang disusun secara langsung maupun telah dipersiapkan sebelumnya. Pertunjukan tersebut mungkin masih terasa asing dan baru, namun pertunjukan yang seperti ini sejatinya sudah memiliki namanya sendiri, yaitu Algorave.   Sekilas Algorave Algorave merupakan sebuah acara di mana orang-orang menari dengan iringan musik maupun visual yang dihasilkan dari implementasi algoritma pada komputer, seringkali menggunakan teknik live coding pada pertunjukannya oleh para musisi (biasa disebut live coder) di atas panggung[1]. Istilah ini dikemukakan oleh Alex McLean dan Nick Collins pada tahun 2011, di mana acara pertama dengan istilah tersebut diselenggarakan di London, Inggris. Acara pertunjukan Algorave mungkin masih bisa dibilang cukup muda, namun pertunjukan musik berbasis live coding sendiri sejatinya sudah dimulai sejak tahun 1985 oleh Ron Kuivila yang menampilkan karya berjudul Water Surface di STEIM, Amsterdam. Menurut Riccardo Ancona (seorang creative coder dan sound designer), “live coding adalah sebuah bentuk improvisasi yang melibatkan penulisan kode secara langsung, dimana hal tersebut dapat diaplikasikan pada beberapa bentuk media seperti suara, gambar, puisi, mesin, dsb”[2]. Karena lekatnya hal ini dengan komputer, penulisan/penyusunan kode secara langsung tersebut diperuntukkan pada sebuah program/mesin yang sedang dijalankan. Seringkali pada praktiknya, aktivitas penyusunan kode yang dilakukan secara langsung tersebut dapat berangkat dari tidak ada kode sama sekali (from scratch) atau dari mengembangkan susunan kode yang sudah dipersiapkan sebelumnya (half-prepared).   Sederet Penampil Penampilan pertama dari acara Pagelaran Algorave Indonesia #1 dibuka oleh Kharisma & Yuri yang berasal dari Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Menampilkan sebuah pertunjukan network live coding music menggunakan sebuah perangkat lunak live coding bernama FoxDot dan Flok untuk aktivitas penyusunan kode secara bersama-sama dalam sebuah jaringan. Musik yang dihadirkan terasa minimalis dengan hentakan beat techno yang sangat khas menjaga konsistensi tempo, ditambah dengan ornamen-ornamen bunyi yang sedikit demi sedikit dihadirkan dan kemudian diolah membentuk tekstur poliponi yang cukup ramah dan menyenangkan di telinga pendengar. Musiknya disusun menggunakan teknik live coding from scratch yang membuat kita dapat merasakan tiap-tiap perubahan konten musikal yang dihadirkan dalam tiap momentum-momentum yang ada. Disamping itu, pertunjukan duo tersebut juga menampilkan animasi yang diulang-ulang dan cukup memberikan kesan futuristik sehingga antara karakteristik musik dengan visualnya terasa saling menguatkan. Penampilan kedua dilanjutkan oleh Jay Afrisando yang menampilkan proses manipulasi pada sampel audio potongan track lagu Baby Shark Dance yang merupakan aransemen dari sebuah lagu anak-anak tradisional oleh Pinkfong (Smart Study Co., Ltd.), KizCastle. Menggunakan teknik live coding, granulasi, modulasi, serta manipulasi sinyal lainnya dengan sebuah perangkat lunak sintesis audio berbasis script bernama Super Collider untuk membuat varian hasil bunyi-bunyian yang sangat beragam. Hal tersebut Ia lakukan dengan mengembangkan serta merubah susunan kode yang telah dipersiapkan sebelumnya. Pada penampilan ini, pendengar dapat merasakan varian bunyi-bunyian yang diolah dari sampel potongan track tersebut hingga pada takaran mutasi yang unik dan menarik. Penampilan ketiga diisi oleh bahtera.rar yang menampilkan sesi live coding music menggunakan perangkat lunak bernama TidalCycles yang bisa dibilang cukup populer di dalam ranah Algorave serta pertunjukan live coding music. Musik yang disajikan sangat memberikan kesan minimal, hangat, serta repetitif dengan memanfaatkan kombinasi-kombinasi dari banyak bunyi-bunyian yang diolah secara musikal. Dengan tempo yang bisa terbilang “pas” untuk membawa pendengar dengan santai menikmati alunan melodi, harmoni, serta ritme yang dirasa stabil. Dalam pertunjukan ini bahtera.rar terlebih dahulu mempersiapkan susunan kode yang kemudian dikembangkan secara langsung dan bertahap. Penampilan yang keempat diisi oleh Fahmi Mursyid yang menampilkan dua sesi pertunjukan live coding music menggunakan perangkat lunak bernama Sonic Pi yang diintegrasikan dengan perangkat keras synthesizer dan synthesizer modular. Musik yang dihadirkan pada sesi pertama sangatlah minimalis, kontemplatif, repetitif, dengan tekstur timbre yang ramah dan hangat di telinga pendengar. Memanfaatkan gelombang sinus dan gelombang bunyi buatan lain yang diolah sedemikian rupa beserta ornamen-ornamen bunyi tambahan lainnya untuk mencapai kesan musik latar yang cukup berkesan menenangkan. Pada sesi kedua, musik yang dihadirkan berbeda dengan sebelumnya, dimana pola ritme hentakan sampel audio drum, tepuk tangan, hi-hat, dan suara synthesizer pendek-sedang yang membentuk akor dibunyikan secara hampir bersamaan dengan pola yang cukup unik. Sangat terasa bagaimana implementasi sistem generatif dan algoritma pengacakan benar-benar diterapkan pada pengaturan momentum pola ritmenya. Penampilan kelima dilanjutkan oleh invinixity bersama BASASAE yang menampilkan pertunjukan live coding visual menggunakan perangkat lunak bernama KodeLife yang dimana konten-konten visual yang dihadirkan secara reaktif dipengaruhi oleh informasi sinyal dari karya live coding music ciptaan duo BASASAE berjudul Humble Saturation (2020). Animasi visual yang dihadirkan dalam pertunjukan ini sangatlah menarik dan variatif. Perpaduan serta kontras warna hitam putih dengan warna-warna yang dirasa memiliki kesan “psychedelic” benar-benar memperkuat bentuk-bentuk dan pola transformasi visual yang beragam. Ditambah dengan suasana musik yang berkesan ringan serta ramah oleh BASASAE, dimana mereka berupaya untuk menyematkan gagasan musik tradisional dan jazz pada karya mereka tersebut. Pada pertunjukan ini sangatlah terasa bahwa visual dan audio menjadi dua hal yang berbeda namun tetap lekat tak terpisahkan. Penampilan yang keenam diisi oleh Maria Maya Aristya, yang secara solo menampilkan pertunjukan live coding music from scratch dengan perangkat lunak TidalCycles. Perlu diketahui bahwa bagi sebagian live coder, pertunjukan live coding secara from scratch dapat terbilang cukup menantang dikarenakan terdapat resiko dimana mesin/perangkat lunak yang digunakan sewaktu-waktu bisa berhenti bekerja dikarenakan adanya error akibat penyusunan sintaks yang tidak tepat. Dapat terlihat bagaimana Maria sangat berhati-hati terhadap kode yang disusunnya agar bunyi-bunyian yang disajikan dapat terbangun dengan baik. Mengenai musik yang dihadirkan sangat terasa kesan minimalis, repetitif, meditatif, serta kontemplatif berdasarkan pemanfaatan dentingan-dentingan bunyi lembut-tajam-tinggi yang amat beragam dan berpadu dengan varian pola musikal yang lainnya. Pada penampilan ini, proses penyusunan kode secara langsung serta pola-pola musikal yang hadir sangatlah terasa dan semakin menambah keunikan performatifnya sendiri. Penampilan ketujuh diisi oleh t1mpuk yang menampilkan pertunjukan live coding music menggunakan perangkat lunak TidalCycles yang diintegrasikan dengan perangkat keras synthesizer modular. Musik yang dihadirkan terasa sangat repetitif, minimalis, dan unik dimana area frekuensi yang cukup rendah dikondisikan menjadi sangat dominan berpadu dengan beat techno serta ornamen-ornamen bunyi lain yang membuatnya semakin kuat dan kokoh. Hal menarik lain yang dirasa cukup menantang dari penampilan ini adalah aktivitas live coding dan kontrol synthesizer modular yang hampir dilakukan secara bersamaan. Sangat terlihat bagaimana proses yang kompleks dari kedua aktivitas tersebut ditambah dengan intensitas musik yang disajikan terasa begitu menyatu dan tidak terpisahkan. Penampilan kedelapan menampilkan pertunjukan dari Kursi Ketik Ensemble bersama Gigih Alfajar yang menghadirkan penampilan network live coding music menggunakan perangkat lunak bernama Estuary dengan bahasa pemrograman untuk live coding yang bernama MiniTidal. Penampilan ini dilakukan secara remote, dimana Kursi Ketik Ensemble yang berada di Yogyakarta dan Gigih Alfajar yang berada di Pontianak melakukan aktivitas live coding from scratch secara bersama-sama dalam satu jaringan. Musik yang dihadirkan memiliki kesan minimalis, repetitif, dengan nuansa beat rock pada drum yang terasa cukup kuat. Dapat terlihat dan terdengar pula bagaimana perpaduan ornamen-ornamen bunyi lain dari pemrosesan sampel audio tabla, drone saksofon, suara lengkingan manusia, suara rekaman prajurit modern, suara bayi, serta suara perempuan yang mengucapkan angka dalam bahasa inggris menambah keberagaman serta keunikan dari atraksi audio yang dihadirkan. Penampilan yang kesembilan diisi oleh Rifal Taufani, menampilkan pertunjukan live coding music secara solo menggunakan perangkat lunak Sonic Pi. Memadukan teknik half-prepared live coding dan live coding from scratch, dirinya terlihat berupaya untuk membangun sebuah musik yang minimalis, meditatif, kontemplatif, serta memberikan nuansa yang menenangkan pada pendengar. Perpaduan sampel audio dari rekaman akor gitar, tabla, hi-hat, suara built-in synthesizer bernama “chipbass” serta beberapa bunyi lain yang disusun serta diproses dengan sedemikian rupa, membuat penampilan yang tersajikan ini menjadi terasa lebih intim. Penampilan kesepuluh diisi oleh manticore yang menampilkan sebuah pertunjukan audio-visual, dengan memperlihatkan tampilan grafik candle chart dalam perangkat lunak trading yang datanya disonifikasi dan dipadukan dengan manipulasi gaung pada suara sampel audio vokal perempuan. Hasil sonifikasi dari data trading tersebut terdengar seperti hasil sintesis gelombang bunyi dengan teknik bernama amplitude modulation berfrekuensi rendah yang statis namun sewaktu-waktu dapat berubah. Hal menarik yang bisa ditangkap dari penampilan ini adalah bagaimana data trading yang selalu berubah-ubah tersebut dimanfaatkan dengan sedemikian rupa sehingga menghasilkan varian bunyi yang minimal, kuat, dan musikal. Penampilan kesebelas dilanjutkan oleh Patrick Hartono, menampilkan sebuah pertunjukan audio-visual yang terasa sekali menghadirkan persepsi visual serta audio yang berada di antara karakteristik organik dan sintetis. Animasi yang dihadirkan terlihat seperti kobaran api yang bergejolak dan mengambang dikelilingi oleh latar suasana langit malam serta awan buatan yang bergerak mengitarinya. Animasi tersebut nampak disusun dari serpihan-serpihan pixel warna yang sangat banyak hingga dapat dirasakan sejenak bagaimana cair dan organiknya pergerakan animasi tersebut. Musik yang dihadirkan pun benar-benar memperkuat atraksi visual yang dihadirkan dengan varian manipulasi sinyal yang sedemikian rupa memberikan kesan persepsi audio yang berada pada takaran karakter organik, sintetik, dan diantara keduanya. Penampilan yang keduabelas diisi oleh Tomy Herseta, menampilkan sebuah pertunjukan live coding music dan visual menggunakan perangkat lunak Sonic Pi dan Hydra. Penampilannya dibuka dengan pembangunan atmosfir musikal yang menjadi latar, sebelum kemudian gemuruh petir sintetis dibunyikan untuk memberikan kontras pada kondisi meditatif yang terbangun. Bunyi petir sintetis tersebut kemudian dibunyikan kembali dengan jangka waktu yang cukup padat bersamaan dengan varian-varian bunyi yang direpetisi sehingga kondisi meditatif tersebut semakin kuat terasa. Nantinya seluruh perpaduan ini berkembang menjadi semakin padat dan intens hingga klimaks dari tangga dramatik yang terbangun menjadi dapat terasakan, sebelum diakhiri dengan mengurangi dan melonggarkan kepadatan serta intensitas musikal tersebut. Visual yang dihadirkan pun juga turut menambah kuat perkembangan tangga dramatik yang dibangun. Dengan pola-pola dan bentuk yang bervarian, serta pengaturan reaktif pada Hydra yang merespon informasi sinyal dari Sonic Pi benar-benar membuat kedua aspek audio dan visual melekat tidak dapat terpisahkan. Penampilan ketigabelas sebagai penutup, diisi oleh Rangga Purnama Aji yang menampilkan pertunjukan live coding music menggunakan perangkat lunak TidalCycles. Dalam pertunjukan tersebut, Rangga menghadirkan dua sesi penampilan dengan mengkombinasikan teknik live coding from scratch dan half-prepared. Penampilan pertama dibuka dengan membunyikan sampel audio sebuah tembang macapat sebanyak 32 kali yang tiap pembunyiannya diberikan jeda sekitar 1/32 detik. Kemudian belum selesai bagian tersebut berakhir, secara berangsur-angsur ditambahkan sebuah pola musikal yang penuh akan manipulasi sinyal untuk turut mendampingi atraksi audionya. Momen tersebut menjadi awal dari aktivitas pengembangan kode-kode yang telah disusun dengan menerapkan teknik live coding from scratch dan half-prepared. Pada sesi kedua, menampilkan sebuah karya berjudul Goyah (2020) yang diawali dengan bunyi denyutan-denyutan gelombang bunyi sintetis yang padat, panjang, serta saling bersaut-sautan antara satu dengan yang lain. Kemudian dilanjutkan dengan ditambahkannya ornamen-ornamen musikal seperti bunyi glitch yang acak beserta pola beat bertempo sedang-cepat yang saling berpadu membangun sebuah kesan kontemplatif. Sesi kedua tersebut diakhiri dengan kemunculan bunyi-bunyi gelombang bunyi sintetis yang telah mengalami granulasi, modulasi pitch, serta manipulasi sinyal lainnya yang menjadi kontras dengan apa yang telah dibangun sebelumnya.   Dukung Paguyuban Algorave Indonesia! Dari apa yang telah disajikan oleh ke-13 penampil dalam agenda Pagelaran Algorave Indonesia #1 ini, meskipun tidak semuanya menggunakan teknik live coding, tidaklah menjadi sebuah masalah selama terdapat kode dan algoritma yang dilibatkan dalam tiap penampilannya. Hal ini juga dianggap tidak menjadi masalah agar agenda ruang pertunjukan yang diinisiasi oleh Paguyuban Algorave Indonesia tetap dapat terbuka bagi siapapun yang tertarik dan berminat. Mengenai komunitas tersebut, Paguyuban Algorave Indonesia merupakan sebuah komunitas non-profit terbuka yang dibentuk untuk merangkul para pelaku live coding dan yang berelasi di Indonesia. Komunitas ini berorientasi sebagai ruang terbuka untuk berjejaring, edukasi, serta informasi terkait hal-hal yang terintegrasi dengan praktik live coding baik itu pertunjukan, workshop, diskursus, kajian, dan sejenisnya. Komunitas ini diinisiasi oleh Rangga Purnama Aji bersama Maria Maya Aristya, Mohammad Ali Azca Atmaditia, Muhammad Khoirur Roziqin, dan Bagaskoro Saputro. Berawal dari keinginan untuk membuka serta berbagi wawasan dan pengetahuan pada konteks seni pertunjukan atau apapun yang berhubungan dengan praktik live coding. Berdasarkan apa yang menjadi orientasi dari Paguyuban Algorave Indonesia tersebut, upaya untuk berbagi pengetahuan serta hal apapun mengenai live coding dan yang berelasi sudah perlu untuk dibuka dan telah dianggap penting untuk tidak menjadi eksklusif.     Beberapa referensi lain: https://algorave.com/ https://toplap.org/ https://www.instagram.com/paguyubanalgorave.id/ *Thumbnail didesain oleh Mohammad Ali Azca Atmaditia [1] Disadur dan ditranslasi dari https://en.wikipedia.org/wiki/Algorave. [2] Berdasarkan apa yang Riccardo Ancona sampaikan di dalam sebuah workshop virtual mengenai live coding, yang diselenggarakan oleh WeSA (https://www.wesa.kr/) bekerja sama dengan Umanesimo Artificiale (https://www.instagram.com/umanesimo.artificiale/) pada tahun 2020.