Semua Artikel

Eksplorasi pemikiran, kritik, dan berita terbaru seputar dunia seni dan musik hari ini.

Pertemuan Penuh Semangat di October Meeting 2018!
10 Oct 2018 Redaksi 2.059 Views

Pertemuan Penuh Semangat di October Meeting 2018!

  October Meeting 2018 “Reconnect” yang berlangsung lima hari penuh dari tanggal 7-11 Oktober adalah pertemuan-pertemuan yang penuh semangat. Dengan dipimpin oleh Halida Bunga Fisandra (22) sebagai Direktur Tata Kelola untuk tahun ini, penyelenggaraan October Meeting melibatkan sedikitnya 40 orang anggota tim dengan sebaran tugas-tugas yang terkoordinasi dengan baik. Sebagai hajatan tahunan, October Meeting yang di-inisiasi oleh Art Music Today dan Trace 21 ini bukan berorientasi pada panggung pertunjukan yang bersifat sementara, melainkan lebih kepada pengelolaan ruang kreasi, pertemuan, dan jaringan dalam musik kontemporer—yang sifatnya lebih jangka panjang. “Ini tantangan besar bagi kami untuk mewujudkan ruang dialog, silaturahmi, mengelola jaringan, menghubungkan antar stakeholder untuk saling memahami potensi satu sama lain dan sama-sama mengembangkan apa yang ada,” ujar Halida. October Meeting kali ini mengundang komponis-komponis muda yang datang dari berbagai kota, antara lain Jakarta, Jogja, Bandung, Padang Panjang, Pontianak, dan Papua. Para komponis akan menampilkan karya-karya mereka yang akan dimainkan oleh October Meeting Ensemble pada 10 Oktober malam di Tembi Rumah Budaya—dan pada malam penutupan (11/10) juga akan tampil teman-teman dari Open Lab yang juga datang dari berbagai kota (ary/amt/foto: Tania).

Pertemuan Ketiga OPEN LAB: Eksplorasi dan Eksekusi
10 Oct 2018 Redaksi 2.004 Views

Pertemuan Ketiga OPEN LAB: Eksplorasi dan Eksekusi

Kelompok 0 Km Mengumpulkan data soundscape di 0 Km dengan metode masing-masing di titik kordinat yang berbeda. Hasil data tersebut kemudian merujuk pada bentuk. Bagian pertama dengan computer processing data soundscape. Bagian kedua interaksi antar kordinat. Bagian ketiga mengolah projeksi bunyi dan sudut dengar antar kordinat. Kelompok Sound and Expressions Eksplorasi dengan beberapa makanan dengan tekstur yang sama dengan bakpia. Mencari kemungkinan dalam mengekspresikan kegiatan makan secara visual (raut wajah) maupun auditori (membuka mulut 25%, 50%,75%,100%). Secara dramaturgi akan menggunakan komparasi aktif dan pasif, satu pelaku berekspresi aktif kemudian satu pelaku yang lain berekspresi pasif. Kelompok Active Silent Terdiri dari 3 tahap. Tahap 1 terinspirasi drama radio, dengan memainkan dinamika dari dialog yang sudah direkam sebelumnya. Tahap 2 akan merespon suara apapun yang timbul selama pertunjukan. Tahap 3 dengan memainkan processing dari instrument perkusi bersuara besar (kjg/amt/foto: Icha).

Harmoni Duo Jazz  Jeko Fauzy dan Pramono Abdi
10 Oct 2018 Redaksi 2.448 Views

Harmoni Duo Jazz Jeko Fauzy dan Pramono Abdi

  Turut hadir secara khusus duo musisi jazz Jeko Fauzy (gitar), dan Pramono Abdi (saxophone) dalam rangkaian October Meeting 2018 "Reconnect" hari ke-3 di Komunitas Gayam 16 (9/10). Mereka yang kini bermukim di Bali telah sama-sama bermain jazz sejak 15 tahun silam. Pada kesempatan lecture concert ini mereka membawakan sedikitnya 4 karya (nomor 1 - 4) dan memberi penjelasan spesifik tentang karya-karya yang dimainkan. Turut hadir dalam sesi ini musisi jazz Agung Prasetyo, Merry Sajuto, Arie Kusumah, dan beberapa audiens musisi jazz maupun komponis. Dalam sesi yang berlangsung 2 jam penuh ini audiens terlihat sangat mencermati materi yang disampaikan oleh Jeko maupun Pram. "Bermain duo, terutama antara gitar dan saxophone, bukanlah soal mudah, memiliki sistem dan tantangan tersendiri," kata Jeko. "Biasanya hanya para maestro yang sanggup membawakan format seperti ini," tambahnya. Masalah utama adalah membagi peran secara seimbang. Mengingat, sebagai instrumen melodi, saxophone justru ditantang menjadi "pengiring" ketika gitar berimprovisasi. "Sebab itu butuh trick yang jitu untuk membuat keduanya sinkron dalam merajut demi menjaga kesatuan ensembleshipnya," jelas Jeko. Jazz, musik yang telah menjadi perhatian besar di seluruh dunia, telah mengalami evolusi panjang mulai awal abad ke-20. Jeko bercerita mengenai beberapa evolusi penting dalam improvisasi dari era Bebob hingga Modern. Ia mencontohkan bagaimana setiap musisi jazz dunia bekerja dengan susah payah untuk menyebarluaskan jazz dan mengembangkan berbagai teknik yang ada. "Tapi kini zaman sudah lain, setiap orang ingin instan. Tidak mengherankan kalau banyak yang nge-hits di medsos namun dalam realitanya mereka belum benar-benar memahami jazz," kata Jeko.  Tiga unsur penting yang harus dikuasai oleh musisi jazz, terutama bagi amatir yang beranjak untuk profesional adalah pemahaman yang lengkap antara melodi, harmoni, dan ritem. Ketiga unsur ini mutlak dan tidak bisa ditawar. “Back to basic tetap penting untuk mengasah itu semua,” kata Pramono. “Kebetulan kami berdua suka bereksperimen, terutama menantang kreativitas dan skill kami masing-masing, dan ini tak pernah ada habisnya dipelajari. Kami tetap berangkat dari sistem-sistem tradisional meskipun eksplorasi kami bisa lebih jauh dari itu,” tambahnya. Banyak pertanyaan mengalir dari audiens yang datang pada sesi tersebut. Misalnya soal komunikasi, improvisasi, ide dan karakteristik dalam permainan duo ini, hingga keterbukaan menghadapi fenomena musik yang semakin beragam, misalnya soal kolaborasi dengan musik tradisional. Jeko dan Pram mengaku senang bisa turut berbagi ilmu di October Meeting kali ini, dan mereka mengaku siap untuk diajak berkolaborasi di berbagai kesempatan lain (es/amt/foto: Akrom).                

Segera Terbit Buku Erotisisme dalam Kengerian Analisis Sajian Erotisisme dalam Film Horor Indonesia
10 May 2024 Redaksi 1.329 Views

Segera Terbit Buku Erotisisme dalam Kengerian Analisis Sajian Erotisisme dalam Film Horor Indonesia

  COMING SOON  Judul Buku:  Erotisisme dalam Kengerian – Analisis Sajian Erotisisme dalam Film Horor Indonesia    Penulis: Clement Felix Setiyawan  ISBN: Dalam proses Harga: Rp. 120.000,-  Detail: Ukuran buku 15 x 23 cm; Tebal 138 hal; Full color.   Sinopsis:  Buku ini adalah karya Clement Felix Setiyawan, dosen di Universitas Multimedia Nusantara, sekaligus musisi dan pegiat film. Buku ini didasarkan dari hasil penelitian tesis di mana Felix mengkaji erotis(is)me film horor indonesia dengan rentang waktu produksi antara tahun 2003 sampai tahun 2013. Pada rentang tahun tersebut sebagian besar film horor yang diproduksi mengandung unsur erotik, dan hal ini menyiratkan dua sisi: menakutkan tapi mengasyikkan, layaknya di dalam proses berkesenian yang selalu membutuhkan tantangan baru yang kadang menakutkan tapi juga mengasyikkan.   Pemesanan bisa dilakukan dengan menghubungi: WhatsApp: 0895341875712 Instagram: @amtpublisher_ Marketplace: Tokopedia/Penerbit AMT  

Air dan Bunyi untuk Kemanusiaan
09 Oct 2018 Redaksi 2.611 Views

Air dan Bunyi untuk Kemanusiaan

October Meeting 2018 “Reconnect” hari kedua (8/10) menyelenggarakan sebuah talkshow dengan tema yang sangat jarang dibahas: Terapi Bunyi dan Terapi Air. Menghadirkan dua narasumber, Mbah Koko.CR dan H.J. Endra J., diskusi ini menyoroti hubungan manusia dengan bunyi dan air yang sangat berpotensi untuk kesehatan, keselarasan, dan keseimbangan hidup. Talkshow ini diselenggarakan di KITASUKA Kitchen dan dipandu Erie Setiawan dari Art Music Today. Dalam presentasinya Mbah Koko menjelaskan dengan sangat detail frekuensi-frekuensi bunyi yang mampu menyelamatkan hidup manusia, sekaligus frekuensi yang bisa menghancurkan pelan-pelan. “Ibarat makanan, bunyi pun sama, kita perlu memilih, mana yang perlu mana yang tidak, mana yang kita butuhkan dan mana yang harus kita hindari,” ujarnya. Tapi bagaimana mungkin manusia modern, khususnya yang hidup di perkotaan yang bising punya kesempatan menyeleksi bunyi untuk telinganya? “Inilah yang sebetulnya ingin kita bangun, dimulai dengan kesadaran bahwa semua bunyi yang ada tidak seluruhnya produktif. Harus dibuat jadwal yang tegas, harus rutin menyepi untuk perimbangan hidup,” tambahnya. Dampak serius yang diakibatkan oleh “bunyi-bunyi jahat” yang menyerang otak (melalui telinga), sudah banyak terbukti. Sampai pada akibat yang paling fatal adalah manusia bisa kehilangan pendengaran, misalnya berada di pinggir jalan raya dan terus-menerus mendengar desibel yang tinggi. Banyak gejala yang bisa kita alami sehari-hari akibat kebisingan. Misalnya pusing, mual, kehilangan konsentrasi, panik, mudah emosi—itu tidak selalu diakibatkan kondisi biologis, melainkan juga fisiologis. Pada presentasi lain, Endra menjelaskan kaitan dari terapi bunyi dan terapi air. Air bisa menjadi media penyembuhan; udara sebagai penghantar bunyi dan suara juga mampu menyembuhkan. Manusia terhubung dengan semua itu, unsur alam yang sebaiknya kita maknai secara mendalam. Contoh praktik nyata adalah ketika kita berada di kolam namun bukan untuk berenang. “Berjalanlah saja, gerakkan tubuh secara teratur, ini menciptakan keteraturan bagi mekanisme tubuh dan memperbaharuhi sistem-sistem yang tidak produktif,” jelas Endra.  Talkshow dari Mbah Koko dan H.J. Endra J yang tergabung dalam Epiphyllum Relaxing Live Music ini memberi wawasan komprehensif mengenai bunyi sebagai unsur terapi bagi kehidupan manusia; dan air, yang jarang kita duga memiliki gelombang-gelombang bunyi yang positif, juga menjadi bagian dari kebijaksanaan kita memposisikan bunyi dan menggunakannya demi keselarasan hidup. Mulailah bijaksana untuk memposisikan bunyi dan air sebagai bagian penting dari kesehatan manusia, yang bisa menggantikan obat generik yang berjuta-juta harganya. (es/amt/foto: Tania).  

Pertemuan Kedua OPEN LAB: Temuan Observasi
09 Oct 2018 Redaksi 1.893 Views

Pertemuan Kedua OPEN LAB: Temuan Observasi

Pada pertemuan kedua OPEN LAB October Meeting 2018 "Reconnect" sudah terbentuk kelompok-kelompok yang akan meneruskan ide/konsep mereka untuk berkreativitas bersama. Mereka menghasilkan temuan-temuan dalam observasi yang telah mereka lakukan. Kelompok 1: 0 KM Dari 4 individu yang memiliki karakter masing-masing, mengambil idiom 4 arah mata angin yang berjalan menuju pada satu titik Nol. Titik Nol sebagai objek utama yang kemudian akan dicerna ulang oleh masing-masing individu. Eksplorasi atas 0 KM yang merupakan persimpangan banyak peristiwa interkoneksi spasial ini. Kelompok 2: Active Silent Berangkat dari fenomena “diam yang aktif”. Mengingat di zaman kini dimana masyarakat selalu berbicara. Menilik ulang keramaian positif yang merupakan hasil pengendapan dari ”Diam yang Aktif”. Dalam penurunan konsepnya, akan mengintegrasikan aspek-aspek panca indera. Kelompok 3: Sound and Expressions Fenomena musikal dari Jogja yaitu dialek Jogja. Terinspirasi dari seorang ibu-ibu berbicara dengan dialek jogja sambil makan bakpia dimana merupakan makanan khas Jogja pula. Menangkap fenomena tersebut sebagai peristiwa musikal yang menarik. Tahapan sudah sampai pada inventaris bebunyian. Tantangan selanjutnya adalah transformasi gagasan ke dalam bentuk artistik dengan menggunakan tools yang tepat. Setelah pencarian tools maka ada proses investigasi pada pemirsa. Sistem umpan balik antara komposer dengan pemirsa menjadi aspek motoris yang membuat temuan komposer menjadi cair, memadat dan mencair lagi. Diharapkan temuan-temuan dalam OpenLab ini bukan merupakan barang jadi, tetapi menjadi sesuatu yang bisa dikaji ulang dalam periode tertentu setelah peristiwa eksplorasi. (kjg/amt/foto: Asy)

Gamelan Bali Pasca Reformasi
09 Oct 2018 Redaksi 2.383 Views

Gamelan Bali Pasca Reformasi

Hari kedua October Meeting "Reconnect" (9/10) juga diisi dengan sebuah diskusi menarik bertajuk New Music for Gamelan: Representasi Karawitan Bali di Era Kontemporer. Materi ini menghadirkan Ricky Irawan, dosen ISI Denpasar. Ia secara umum umum menjelaskan dualisme perspektif antara sebelum dan sesudah mengenal gamelan Bali lebih dekat. Pandangannya menarik perhatian dan turut mengajak para hadirin untuk menceritakan fenomena musik di masing-masing daerahnya. Diskusi ini dilaksanakan di KITASUKA Kitchen dan dimoderatori oleh Arya Deva Suryanegara dari Bali. Ricky mengawali presentasinya dengan bercerita tentang kondisi Pulau Bali sejak zaman kolonial. Ia mengatakan kebudayaan Bali sejak itu sudah kokoh, hingga Belanda ingin menjadikan kebudayaan Bali dianalogikan sebagai “museum hidup” yang tidak dimodernisasi. Konsep itu baginya masih berkembang sampai beberapa dekade terakhir. Apabila melihat Bali dari luar terkenal dengan daerah pariwisata, dan memiliki kesenian yang adiluhung. Sebagian orang juga mengetahui semaraknya acara-acara di Bali sebagai ikon keseniannya. Namun dugaan Ricky tidak sepenuhnya benar, karena ia melihat masih terdapat jenis-jenis karya atau kreativitas di Bali yang belum merepresentasikan ciri-khas Bali seutuhnya. Misalnya terdapat beberapa kelompok yang ingin mengembangkan gamelan Bali lebih jauh, namun tidak cukup terwadahi, seperti komponis Wayan Gde Yudane, Dewa Alit, Sang Nyoman Arsawijaya, Wayan Sudirana, dan komposer milenial lainnya. Pada akhir presentasi, para hadirin pun ikut menanggapi diskusi dengan berbagai komentar, seperti Andrien L’ Honore Naber dari Belanda yang memandang gamelan Bali perlu dikembangkan lebih jauh lagi. Sejalan yang ia lakukan ialah mencoba membawa gamelan ke ranah digital. Andrien pun akan turut berbagi pengetahuan pada diskusi harian (10/10) di Tembi Rumah Budaya (ary/amt/foto: Tika)

Mengisi Liburan Produktif: Gardika Gigih Menulis Buku Lagi
09 Oct 2017 Redaksi 2.457 Views

Mengisi Liburan Produktif: Gardika Gigih Menulis Buku Lagi

Setelah sukses dengan buku "Merindukan Awajishima" (AMT, 2016), kali ini Gardika Gigih akan meluncurkan buku keduanya, masih seputar catatan pengalaman kreatif. Buku terbarunya ini rencana akan diberi judul "Mendengar di Bali: Sebuah Buku Harian Bunyi", dan akan diterbitkan kembali oleh Art Music Today sebagai kado akhir tahun. Sesuai judulnya, buku ini memang buku harian. Ditulis secara kronologis berdasarkan 31 hari pengalaman berlibur panjang di Bali. Tentu saja bagi Gigih, yang hobi berpetualang sambil belajar ini, liburan panjang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin supaya produktif. Di Bali Gigih mengunjungi banyak tempat, menonton pertunjukan, dan berkenalan dengan banyak seniman.  Diakuinya, ide untuk menulis pengalamannya selama di Pulau Dewata itu juga lahir tiba-tiba, tidak direncana. Ketika tiba hari pertama di Bali ia membaca buku Absolutely on Music yang berisi percakapan Murakami dan Seiji Ozawa tentang seluk beluk proses kreatif bermusik. Dari situlah Gigih terinspirasi. "Rasanya sayang juga kalau pengalaman ini tidak aku tulis, meski aku sebetulnya lebih suka mengarang musik daripada nulis, ha-ha-ha..", ujar Gigih yang juga dosen musik di ISI Yogyakarta dan Universitas Universal Batam ini. Penasaran isinya? Tunggu update selanjutnya, ya! (amt/es). (Foto: koleksi Gardika Gigih)

Disonnant dan Anggarayesta  Membuka October Meeting 2018!
08 Oct 2018 Redaksi 1.976 Views

Disonnant dan Anggarayesta Membuka October Meeting 2018!

  Hari pertama penyelenggaraan October Meeting 2018 “Reconnect” (7/10) telah berlangsung lancar dan turut dihadiri pula oleh Direktur Goethe-Institut wilayah Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru, Dr. Heinrich Blömeke. Mengambil venue di Pendhapa Art Space, penampilan hari pertama diisi oleh Disonnant (Jogja), dan Anggarayesta (Bandung). Kedua kelompok yang sama-sama berformat duo dan mengusung musik elektronik tersebut diapresiasi positif oleh audiens yang datang dari berbagai kalangan, baik tamu-tamu seniman lokal, mancanegara (yang sebagian merupakan partisipan Nusasonic Festival yang sedang berada di Jogja)—dan audiens umum. Anggarayesta mengaku senang diundang tampil ke October Meeting kali ini. Evan, salah satu anggotanya, juga bercerita mengenai konsep musik yang mereka usung. “Kami mencintai musik tradisional Nusantara, namun kami tidak bisa memainkannya, makanya kami memilih bereksperimen dengan media elektronik dengan mengambil sample-sample idiom musik Nusantara yang kami rekam dan olah,” ujarnya. Duo Disonnant yang menjadi penampil kedua lebih mengolah harmoni-harmoni yang diwakili piano dan mempertemukannya dengan bunyi-bunyi elektronik, noise, dan ambient-ambient yang tidak terikat pada konsep spesifik. Meskipun merupakan duo yang belum lama berdiri, Disonnant telah telah memiliki 3 album, yaitu Dissonant (2017), Journey (2018), dan So Far, Need Home - So Close, It’s Home (2018). Dalam sambutan di pembukaan, Dr. Heinrich Blömeke menceritakan secara singkat hubungan dan potensi baik yang telah terkelola selama ini antara Goethe-Institut dan seniman musik Indonesia. Ia berharap potensi musik Indonesia yang kaya bisa terus diolah dan diapresiasikan, juga mempertahankan hubungan baik yang telah terbina selama ini. “Selamat menikmati seluruh rangkain acara,” ujarnya menutup sambutan. Pada prakata lain, Gatot Sulistiyanto selaku Direktur Artistik menjelaskan pentingnya ruang interaksi antar ekosistem musik yang harus dikelola dengan baik ke depan. “October Meeting adalah sarana dialog artistik yang menghubungkan siapa saja, baik musisi, komponis, patron, dan lain-lain untuk terlibat intensif demi mencapai target-target membangun kebudayan musikal,” tegasnya. Sampai berjumpa kembali di hari kedua! (es/amt/foto: Denada).

Doa dan Kerja Keras Panitia: Catatan Produksi October Meeting #1
08 Oct 2018 Redaksi 2.033 Views

Doa dan Kerja Keras Panitia: Catatan Produksi October Meeting #1

Pada hari pertama penyelenggaraan October Meeting (7/10), para panitia dengan kerjakeras mempersiapkan segala keperluan sejak pagi harinya, mulai dari dekorasi, konsumsi, perlengkapan, kru, susunan acara, tata cahaya, dan tata suara. Iqbal Firdaussalam dan Halida Fisandra sebagai koordinator sudah sibuk menghubungi teman-teman panitia untuk segera datang ke Pendhapa Art Space, melalui grup WA. Satu-persatu panitia berdatangan, juga teman-teman dari Rekambergerak yang dipimpin Gatot Sulistiyanto. Secara profesional, mereka sudah tahu apa yang harus disiapkan untuk karya yang akan tampil, karena data-data atau keperluan sudah diketahui jauh sebelumnya. Seperti input kabel untuk masing-masing instrumen atau alat. Bahkan ketika ada alat yang rusak, dengan sigap segera diperbaiki dan berhasil. Pada sisi lain, panitia lainnya sibuk mengambil alat-alat, seperti piano yang akan digunakan oleh penampil. Maka ketika penampil datang, mereka hanya mengatur alat-alat yang digunakan, dan memerintahkan panitia untuk membantu menempatkannya di panggung. Kuncinya adalah para penampil sudah memberikan denah pementasan dan keperluan meja yang digunakan. Itu sebabnya, persiapan ketika cek suara berjalan dengan cepat. Sebelum acara dimulai, para panitia bersama-sama memakan tumpeng sebagai wujud syukur dan doa untuk kelancaran acara pada malam itu. Menurut Gatot, tumpeng tidak boleh dipotong di ujungnya, namun dipotong di bagian pinggir. “Ini merupakan simbol yang akan mengarahkan harapan kita kepada Tuhan ke atas,” ujarnya. Dengan semangat semua panitia menyantap tumpeng hingga habis. Maka selain kerja keras, ada sebuah “doa” yang akan membantu kita melakukan segala hal yang di luar kemampuan manusia. Setelah itu, para panitia bersiap untuk melakukan tugas masing-masing. Pada usai acara, para panitia berkumpul untuk mambahas acara besok harinya yang tak kalah penting dan menariknya (ary/amt/foto: Denada).

Pertemuan Pertama OPEN LAB: Investigasi Artistik
08 Oct 2018 Redaksi 2.244 Views

Pertemuan Pertama OPEN LAB: Investigasi Artistik

OPEN LAB atau Laboratorium Terbuka adalah salah satu program October Meeting 2018. Program ini membuka kesempatan bagi antar individu untuk berinteraksi bersama, bertukar dan menemukan ide, dan kemudian akan dipentaskan pada 11 Oktober sebagai konser penutup. Secara singkat, OPEN LAB merupakan proses investigasi artistik yang sebelumnya tidak dipersiapkan. Semua peserta berangkat dari nol dengan bekal skill dan wawasan masing-masing, mereka menjalani proses semacam karantina yang dipandu para Mentor. Peserta OPEN LAB datang dari berbagai kota, latar belakang, dari pengajar, komposer, pemusik, pegiat musik film, instrument builder, dll. Formasi ini akan berpotensi meluaskan cakupan artistik yang akan dicapai terutama dalam hal kekayaan ide. Tidak ada target yang ditentukan oleh Mentor, misalnya keharusan membuat bentuk-bentuk musik tertentu dalam eksplorasi selama OPEN LAB. Kemungkinan penciptaan bunyi bisa dari mana saja. Misalnya kondisi politis (seperti pada karya Ikbal Lubys “Undertable Payment”), atau dari background komposer yang blur (contoh: karya-karya Gatot Sulistiyanto dimana selain seorang komponis juga seorang teknisi). Rute proses dari OPEN LAB ini adalah berimprovisasi yang kemudian direkam dan dipilah bagian mana yang akan dipresentasikan. Selanjutnya bagian-bagian itu ditulis, barulah masuk tahap rehearsal (kjg/amt).