Semua Artikel

Eksplorasi pemikiran, kritik, dan berita terbaru seputar dunia seni dan musik hari ini.

Art Music Today di Kampung Buku Jogja 2017
29 Sep 2017 Redaksi 2.178 Views

Art Music Today di Kampung Buku Jogja 2017

Penerbit Laras, Art Music Today, dan Garudhawaca adalah tiga penerbit indie yang baru bergabung ke Kampung Buku Jogja pada 2017. Perwakilan ketiga penerbit ini hadir dalam Technical Meeting Penerbit Indie di Kendi, Senin (18/09). Adapun ketiganya sama-sama menyepakati bahwa event KBJ sangat penting sebagai ajang silaturahmi dan kumpul-kumpul penerbit indie. Jali dari penerbit Garudhawaca mengatakan bahwa pada penyelenggaraan pertama KBJ, penerbitnya belum ikut serta karena belum tahu perihal mekanismenya. “Nah ini yang ketiga akhirnya ada kesempatan untuk ikut serta, pastinya berterima kasih sekali bisa terlibat,”ujar Jali. Berdiri sejak 2010, penerbit Garudhawaca sudah mengahasilkan seratusan terbitan. Sementara Michael dari penerbit Laras pun mengalami kendaa perihal informasi mekanisme keikutsertaan di KBJ tahun-tahun sebelumnya. “Terus kemarin ketemu mas Tio dari Pojok Cerpen baru tahu mekanismenya, baru bisa ikut tahun ini,” ungkap Michael. Erie Setiawan dari penerbit Art Music Today pun mengatakan hal serupa. Lebih khusus lagi menurut Erie, event seperti KBJ amat penting untuk mengenalkan buku-buku dengan konten yang unik dan spesifik, salah satunya musik, yang diterbitkan penerbit Art Music Today. “ Saya tertarik ikut yang tahun ini karena tertarik dengan konten-kontenyanya yang memang unik-unik. Apalagi buku-buku indie itukan sangat spesifik ya. Beda dari trend pasar yang ada,” tambah Erie. (Sumber: kampungbuku.com/eka)    

SAAT
28 Nov 2025 Redaksi 271 Views

SAAT "LUKISAN BERBUNYI": EKSPLORASI GRAPHIC SCORE DALAM PAMERAN YANAL DESMOND

  Oleh: Betrand Angelius Zai Bayangkan kita berada di sebuah galeri seni dan berdiri di depan sebuah karya lukisan. Bukannya kita hanya melihat sebuah lukisan yang utuh, tetapi di samping karya lukisan tersebut ada sebuah lembaran kertas yang penuh dengan coretan dan simbol-simbol aneh. Pada 19 April 2025 di Galeri Kiniko Art Yogyakarta, seniman Rupa Yanal Desmond Zendrato menyelenggarakan pameran tunggal yang berjudul "TITIK TUBUH", berkolaborasi dengan VorMarka Ensemble yang mereka singkat sebagai MondMarka (Desmond VorMarka). Pameran ini berlangsung dari 19 April hingga 11 Mei 2025. VorMarka Ensemble adalah sekelompok musisi eksperimental Yogyakarta yang beranggotakan empat personil yaitu Rangga Purnama Aji, Dhewantara Manurung, Welderahmat, dan Betrand Angelius Zai. Dipimpin oleh Rangga Purnama Aji seorang komposer musik yang juga terlibat dalam proses pembuatan karya musik di projek kolaborasi MondMarka. Tidak seperti pameran karya lukis seperti biasa nya, di pameran tersebut mencuri perhatian orang yang ada disana, karena di samping beberapa lukisan dipajang selembar kertas yang berisi seperti coretan dan simbol-simbol aneh yang di sebut Graphics Score (notasi grafik). Apa itu Graphic Score? Rangga Purnama Aji menjelaskan bahwa dalam musik kontemporer dan avant-garde ada istilah namanya Graphic Score atau Notasi Grafis dimana ada keterlibatan grafik digunakan sebagai aspek terpenting dalam instruksi permainan musik. Lebih tepatnya Graphic Score adalah notasi musik yang menggunakan simbol-simbol dan elemen visual di luar notasi musik barat tradisional atau not balok, notasi ini terkenal pada tahun 1950-an. Biasanya musik yang dihasilkan sangat aneh ketika didengar, maka dari itu musik dari Graphics Score sangat cocok untuk lukisan Yanal Desmond yang surealis dan gelap. Dari beberapa karya yang dipamerkan ada lima karya lukisan yang direspon dan dijadikan sebuah karya musik. Di sesi bincang-bincang seni yang diadakan di hari terakhir pameran Rangga menjelaskan proses pembuatan karya musiknya. Ia mengatakan upaya interpretasi itu tidak hanya sekadar melihat lukisan lalu menerka-nerka musiknya seperti apa, melainkan harus memperhatikan setiap unsur-unsur yang ada di lukisan nya seperti garis, karakteristik, tekstur, wujud dan bentuk-bentuk yang ada, jadi konsekuensi musik itu muncul berakar pada lukisan itu sendiri. Ini adalah suatu terobosan baru di bidang seni terkhusus musik yang mana Graphics Score mengajak kita untuk menikmati musik melalui bahasa visual. Musik bukan lagi tentang "memainkan apa yang tertulis," tetapi tentang menginterpretasikan apa yang dilihat. Semua jenis seni sangatlah berhubungan, dari karya lukisan bisa menciptakan karya musik baru. Di balik itu kita juga bisa menikmati karya seni dengan jangkauan yang lebih luas jika dikolaborasikan.  

Sederet Gitaris Indonesia Memboyong Gelar Juara di Negeri Sakura
28 Jun 2018 Redaksi 2.941 Views

Sederet Gitaris Indonesia Memboyong Gelar Juara di Negeri Sakura

Catatan:  Artikel ini adalah sebuah liputan yang ditulis oleh Dian Yuliastuti (Redaktur Koran Tempo) dan telah dimuat pada 28 Juni 2018. Diberitakan kembali di artmusictoday.org dengan segala harapan baik.  * Ensambel gitar Indonesia bersaing ketat dalam kompetisi gitar klasik di Tokyo. Mengalahkan tuan rumah.  Tiada yang lebih membanggakan ketika nama mereka disebut saat pengumuman peme- nang. Para gitaris kla- sik muda Indonesia dari Yogyakarta itu memborong gelar juara dalam Japan International Ensemble Guitar Festival (JIEGF) ke- 30 di Tokyo pada 24 Juni lalu. Duo Rocky ditetapkan sebagai juara pertama dan duo terbaik. Lalu Nocturnal Guitar Quartet dinobatkan sebagai juara ketiga dan merebut Harumi Award—piala bagi peserta yang tampil istimewa untuk bagian sesi gitar modern. Sedangkan Nabita Guitar Duo merebut Best Student Award. Ada empat kelompok gitaris yang mewakili Indonesia untuk pertama kalinya sejak 30 tahun penyelenggaraan JIEGF ini. Mereka adalah Duo Rocky, Nocturnal Guitar Quartet, Nabita Guitar Duo, dan Duo Anantara. Keempat kelompok ensambel itu tergabung dalam komunitas Indonesia Classical Guitar Collective, asosiasi baru untuk mempromosi- kan gitaris muda Indonesia di ranah internasional. Mereka adalah para gitaris berprestasi dan sudah tampil di berbagai kompetisi di tingkat nasional ataupun regional. Vaizal Andrians, salah seorang anggota Nocturnal, mengatakan cukup bangga bisa meraih prestasi di fes-tival ini. Menurut dia, para gitaris Indonesia dalam tiga dekade ini memang tertinggal. Tidak banyak yang ikut serta dalam berbagai festival atau kompe- tisi di luar negeri karena berbagai faktor. Menurut Vaizal, para juri mengatakan karya yang mereka bawakan sangat menantang dan mempunyai tingkat kesulitan tinggi. “Karya Uarekena memang diciptakan khu- sus untuk format kuartet gitar,” ujar Vaizal kepa- da Tempo melalui apli- kasi WhatsApp. Mereka juga tidak menyangka akan memboyong Harumi Award. “Penghargaan itu langsung dari AndrewYork, salah satu komponis dan pemain gitar terbaik.” Vaizal juga menuturkan para gitaris tuan rumah merupakan pesaing terberat. Menurut dia, perkembangan musik gitar klasik dan ensambel gitar di sana sangat maju di kawasan Asia. Kemenangan para gitaris muda ini mendapat sambutan dari musikus dan pengelola Art Music Today, Erie Setiawan. “Mereka ini hebat dan aset bangsa. Nah, untuk festival di Jepang ini, mereka punya persiapan yang sangat matang,” tutur Erie, yang juga memberi pelatihan kepada tim ensembel, kepada Tempo, Selasa lalu. Festival ini merupakan salah satu acara tahunan yang diselenggarakan Asosiasi Ensambel Gitar Jepang dengan mengundang grup gitar ensambel dari berbagai negara. Festival tersebut menjadi tolok ukur perkembangan musik klasik di tingkat Asia dan menjadi kejuara- an bergengsi bagi kelompok gitaris. Menurut Erie, gitaris Indonesia jarang mengikuti festival dalam ensambel atau kelompok. Yang lebih sering diikuti adalah kompetisi tunggal. Mereka menyiapkan diri sejak enam bulan lalu dengan skema latih- an mingguan dan konser uji coba. Konser uji coba pertama dilakukan di The Japan Foundation, Jakarta, pada April lalu dan uji coba kedua digelar di Universitas Sebelas Maret Surakarta pada Mei lalu. Menurut Erie, persiapan itu merupakan proses kolektivitas. Mereka mena- warkan perubahan penting dari pola pikir pada masa lalu dengan memaknai persaingan, baik antarin- dividu maupun kelompok, sebagai persahabatan. “Yang menarik, mereka tidak cuma berlatih terpisah (per kelompok/ensambel), tapi juga sering membikin latihan bersama dan saling berdiskusi.” Nocturnal, menurut Erie, sering menyabet gelar juara di mancanegara, seperti di Italia dan Malaysia. Mereka dimentori oleh sejumlah musikus, salah satunya komposer Bakti Setiaji. Sedangkan Rahmat Raharjo menjadi guru bagi gitaris muda. Erie kebagian menajamkan sisi musikalitas dan performativitas. Selepas acara di festival ini, mereka tampil dalam acara konser kebudayaan dalam rangka 60 tahun hubungan bilateral Indonesia-Jepang di National Graduate Institute for Policy Studies di Tokyo pada 27 Juni. Setelah itu, mereka bersiap menggelar konser di Yogyakarta pada 18 Juli mendatang. Nocturnal, kata Vaizal, juga akan berkonsentrasi menyiapkan rekaman album mereka sepulang dari kompetisi di Jepang ini. NB: Album Nocturnal akan diproduseri oleh Art Music Today Publisher yang sejauh ini konsisten mendukung talenta musik klasik dan kontemporer di Indonesia. Foto: Roby Handoyo.             

Tentang Seni Mendengarkan Musik Qin
27 Nov 2019 Redaksi 3.709 Views

Tentang Seni Mendengarkan Musik Qin

  Oleh Nurul Hanafi *   I Dalam lima bulan ini, ini saya mendengarkan musik guqin (baca: gu - chin - siter Cina kuno bersenar tujuh, atau biasa cukup disebut 'qin' saja) dan merasa cukup terkesan dengan suasana yang ditimbulkannya. Qin dimainkan secara solo instrumental, dan kadang kesannya seperti mendengar musik gitar. Kalau kita mendengarkan erhu dan dizi, melodinya bisa mudah kita tangkap dan tirukan, tapi tidak demikian halnya dengan qin. Melodi qin bersifat fragmental, discontinue, dan rasanya seolah tidak ada perulangan melodi. Tempo permainan terus menerus datar dari awal sampai akhir sehingga strukturnya sukar ditangkap. Efek lainnya adalah bahwa satu karya dengan karya lain jadi sangat sulit dibedakan.  Tapi secara keseluruhan saya merasa nyaman dan betah karena suasana musiknya hangat. Musik qin memang kontemplatif, tapi dalam artian tenang dan ringan. Sebagai perbandingan, musik shakuhachi bersifat kontemplatif juga, tapi lebih murung dan menekan. Saya harus menemukan suasana hati khusus untuk bisa nyaman mendengarkan shakuhachi dalam waktu lama, tapi tidak demikian halnya dengan musik qin. Jika hendak kita maknai secara simbolis, permainan qin menggambarkan hidup seseorang yang menjauhi hiruk pikuk dunia, tak lagi mempunyai keterlibatan, tapi masih mengalami persinggungan dengannya. Sedangkan dalam permainan shakuhachi, kita merasakan hidup seseorang yang telah sepenuhnya mengasingkan diri.   I I Selama lebih dari dua ribu tahun, qin menjadi instrumen musik yang identik dengan kaum terpelajar dan sastrawan di Tiongkok, sebagai media pengembangan jiwa. Alat musik ini dimainkan pula oleh Konfusius, penyair Li Bai, dan Bai Juyi dari dinasti Tang, bahkan Kaisar Huizong dari dinasti Sung. Suaranya yang lembut (senar dari benang-benang sutera yang dipilin) menghasilkan efek subtil dan suasana tenang. Sebagai sebuah instrumen musik pengembangan jiwa, qin lebih berorientasi pada pemain daripada pendengar. Karya-karya untuk alat musik ini memang tidak diniatkan untuk dipergelarkan di hadapan publik, tapi cocok dimainkan untuk menjamu beberapa orang tamu yang juga adalah teman dekat di sebuah ruang sempit, dan seperti itulah tradisinya. Ada pula kebiasaan memainkannya di hadapan panorama indah. Sebagai alat musik kuno yang sukar dimainkan, kerumitannya menciptakan identitas eksklusif di tengah masyarakat, dan itu terus dipertahankan hingga dinasti terakhir. Ada teori menarik tentang pemertahanan identitas terpelajar sehubungan dengan alat musik ini. Pada zaman dinasti Tang (618-907), Chang'an dan Luoyang telah menjadi kota kosmopolit, melting pot bagi berbagai macam bangsa dan budaya luar. Buddhism mulai berkembang, juga Zoroaster, Islam, dan Kristenitas, bahkan menciptakan sinkretisme. Maka sifat eksklusif di balik identitas terpelajar itu menjadi semacam benteng yang kemudian diperketat untuk menunjukkan keaslian budaya, yang tentu saja sarat dengan faham Taoism. Entah benar atau tidak, ini sebuah teori yang menarik. Seorang peneliti Barat, James Watt, menulis: bisa dibilang, ikatan kuat antara kaum sastrawan dengan qin telah memastikan lestarinya alat musik ini sampai zaman dinasti Qing, tapi menurunnya kehidupan sastra juga berarti menurunnya seni bermain qin.   III Kadang qin terdengar seperti piano, di saat lain ia bisa terdengar seperti gitar ; tapi lebih sering tidak mirip keduanya. Tenang dan pelan dalam membeberkan diri, musik qin menciptakan lanskap tanpa cerita, sementara kesan sentuhnya di telinga lembut lagi hangat, namun di saat bersamaan ia tidak emosional dan tanpa sentimentalitas. Tidak ada jenis musik lain yang menampung ketujuh karakteristik itu - atau bahkan lebih, jika saya lebih peka lagi. Secara struktur, musik qin tidak mempunyai desain yang baku, tanpa arah tertentu, mengambang dengan lena dalam kenyamanan akan diri sendiri. Musik ini termasuk musik elegan (adiluhung), namun atmosfer yang ditimbulkannya lebih merupakan posisi tengah antara kekhidmatan dan relaksasi. Ia memang mempunyai semacam kekhidmatan, tapi tidak mengundang kita untuk memusatkan perhatian penuh padanya. Ia mempunyai pula semacam sifat relaksasi, namun nuansa keseluruhannya penuh pengendalian diri (tanpa menunjukkan kesadaran bahwa pengendalian diri itu ada). Melodi qin bersifat spasial,  dalam arti bahwa mereka tidak memusatkan diri pada titik tertentu dalam sebuah lanskap musikal. Itu bisa dipahami pula sebagai alasan kenapa musik ini nyaris tanpa alur naratif atau perkembangan dramatik, kecuali dalam beberapa karya tertentu saja. John Thompson, musikolog Amerika yang merupakan pakar musik ini, sepakat dengan ungkapan Robert Van Gulik (diplomat-seniman) bahwa timbre adalah sesuatu yang paling penting dalam musik ini, dan ada sangat banyak kemungkinan modifikasi warna/timbre bisa muncul dari sebuah nada, tergantung pada bagaimana cara atau posisi jari tangan saat menyentuh senar.     Menepi beberapa saat untuk merenungkan ungkapan itu, saya pikir jika timbre atau warna nada adalah sesuatu yang utama dalam sejarah musik qin yang telah berusia lebih dari dua ribu tahun ini, di saat bersamaan saya dapati betapa timbre itu pulalah sesuatu yang tidak dimiliki oleh musik klasik Barat. Dan ketika akhirnya musik klasik Barat 'punya' seorang komponis yang karya-karyanya menitikberatkan pada timbre, ternyata penyumbang kemajuan itu adalah seorang komponis Timur bernama Takemitsu Toru.   IV Kini, setelah menyimak musik ini secara intens selama lima bulan, saya rasa memang yang membikin musik qin menarik bagi saya adalah bahwa ia mengedepankan suasana dan tidak bersifat naratif. Suasana ini bukanlah murni suasana hati, namun merupakan keseimbangan antara suasana hati dan suasana fisik. Pemain mengendalikan suasana hatinya, sehingga suasana fisik masuk ke dalam jiwa, dan suasana psikis pun tinggal menjadi bagian saja yang tidak berkuasa penuh dan dayanya teredam. Tapi di saat bersamaan, ia tidak merasakan dirinya teredam, karena nyaman dengan kekangan itu, dan bisa berbuat banyak di dalamnya tanpa adanya ironi. Ia terkekang, namun mempunyai wilayah yang sekaligus pula sangat luas. Karena terkendalinya suasana hati, bagi pendengar terasa adanya jarak antara dirinya dengan musik atau antara musik dengan perasaan dalam dirinya. Namun jarak itu pun juga tidak jauh, malah sebaliknya. Jarak itu dekat namun tak sepenuhnya dekat. Musik qin bukanlah tentang isi pikiran. Atau mungkin lebih tepatnya ia tidak menganggap penting isi pikirannya sendiri. Atau, kalau pun ia tentang memikirkan sesuatu, musik ini lebih bersifat menyimpan sesuatu itu ketimbang menyampaikannya. Tak ada sesuatu yang dimintanya agar kita ingat (melodi). Tak ada sesuatu yang dimintanya agar kita perhatikan. Ia tidak merasa atau menunjukkan rasa bahwa kehadirannya adalah sesuatu yang penting. Secara keseluruhan, sifat sifat musik ini akrab dengan segala yang saya idealkan dalam seni dan penciptaan seni.   ----- * Nurul Hanafi menulis dan menerjemahkan karya sastra, serta seorang penikmat musik. Tinggal di Bantul, Yogyakarta. Foto: https://events.umich.edu/event/8624 Musisi dalam foto: Shuishan Yu Contoh yang bisa didengarkan: https://www.youtube.com/watch?v=Tlsev6ZepqE

Alfian Emir Adytia Merilis “Decolmuseum” — Album Prog Rock Cello Tentang Bayang-Bayang Kolonialisme
27 Jun 2025 Redaksi 180 Views

Alfian Emir Adytia Merilis “Decolmuseum” — Album Prog Rock Cello Tentang Bayang-Bayang Kolonialisme

  Den Haag, Belanda – Pada tanggal 20 Juni 2025, pemain cello dan vokalis lintas genre Alfian Emir Adytia meluncurkan “Decolmuseum” , sebuah album berkonsep cello prog-rock yang bertema sejarah kolonial, bayang-bayangnya dalam dunia hiper-kapitalistik saat ini, dan pencarian makna sebagai manusia. " Album ini lahir dari sebuah desakan batin dalam diriku. Ketika aku memasuki museum dan ruang-ruang yang masih menyimpan benda peninggalan leluhurku, hatiku terasa tercabik. Kisah di balik setiap benda itu belum diceritakan dan belum didengar. Aku berharap bisa membuat museum yang bisa menceritakan kisah mereka. Museum yang bukan hanya untuk dilihat. Museum yang bisa menggerakkan orang hingga meneteskan air mata maupun tertawa lewat kisah mereka. Aku percaya seni bahwa, terutama musik, adalah salah satu alat paling kuat untuk menggerakkan manusia secara fisik dan spiritual. Ia bisa mengubah ide, menggugah emosi, dan akhirnya." — Alfian Emir Aditia  Karya Mandiri Dengan Dukungan Kolektif Album ini menjadi spesial karena pendekatan independennya yang kuat dan dukungan kolektif dari komunitas. Setelah berbulan-bulan menciptakan, menulis, dan merekam demo album ini pada tahun 2023 dan 2024, Emir menggandeng produser musik asal Turki yang berbasis di Belanda, Kaan Yazici , dan mempercayainya untuk memimpin produksi sonik album ini sejak Juni 2024. Secara paralel, Emir menginisiasi kampanye crowdfunding yang didukung oleh 123 individu, memungkinkan dirinya membiayai produksi sonik dari album berisi 10 lagu ini. Pendekatan ini, meski penuh tantangan sebagai seniman independen, memberi Emir kebebasan berkreasi penuh dalam memproduksi dan menyajikan albumnya.  Dekolonisasi & Dekonstruksi Cello & Penulisan Lagu Album 10 lagu ini mengundang para penggemar musik rock dan metal ke dalam dimensi baru—dan sebaliknya, memperkenalkan para pendengar cello dan musik klasik pada daya tarik baru dalam musik cello. Setelah menyelesaikan studi magister di bidang cello klasik di The Royal Conservatoire of The Hague , Emir kembali ke “rumah musikal”-nya: rock, metal, dan musik tradisional Indonesia. Bersama produser musik Kaan Yazici , mereka bekerja sama menemukan keseimbangan yang pas antara sumber bunyi cello yang otentik dan distorsi yang menyerupai ampli gitar. Mereka menghabiskan banyak waktu menciptakan rantai efek yang menjadi formula khas sonik album ini. Dalam Decolmuseum , Emir merancang struktur lagu yang anti-mainstream—kebanyakan berstruktur linier, bentuk yang jarang digunakan dalam ranah musik non-klasik—menjadi jembatan antara musik klasik dan musik populer.  Menghapus Supremasi Budaya Lewat Musik Keroncong Elemen musik keroncong menjadi bagian integral dari album ini. Emir secara sadar menghadirkan pengalaman masa lalunya di dunia musik Indonesia tersebut dengan pesan yang tegas tentang dekolonisasi budaya sonik. Berabad-abad yang lalu, musik keroncong di Indonesia mengalami segregasi budaya—dianggap sebagai musik "kelas bawah" dibandingkan gamelan keraton atau musik klasik barat. Emir dengan cermat meramu album ini dengan elemen keroncong yang menyatu dengan struktur komposisi klasik, riff metal, dan vokal edgy —menciptakan identitas sonik yang unik.  Lebih Dari Sekadar Musik Selain dirilis secara digital di platform musik arus utama, Emir juga meluncurkan format fisik seperti vinyl edisi terbatas , kaset dengan bonus track , dan sebuah buku foto-esai . Buku ini menampilkan karya fotografi kolaboratif dari etnografer visual asal Italia, Andrea De Angelis , serta seri collage art dan esai Emir yang membahas kisah di balik setiap lagu dalam album ini. Rilisan dari tiap format fisik akan dirilis secara bertahap, dimulai dengan vinyl pada hari perilisan resmi, buku pada bulan Agustus, dan kaset menyusul di bulan Oktober.  Dengarkan / Bagikan / Ikuti  Spotify: https://open.spotify.com/album/13bmWzMvuYIqJPNKbZJH0I?si=-98qhHw-S26GqFrx2JREdw  Bandcamp: https://emircello.bandcamp.com/album/decolmuseum  Instagram: https://www.instagram.com/emir.cello/    Permintaan Media / Wawancara / Undangan Media Budaya Kontak: alfianadytia@gmail.com Situs web: https://emircello.com/   Kit Pers: https://drive.google.com/drive/folders/1AvwiF5WJNgx2xveTWNTrAMkc1MQGdk0-?usp=drive_link Lirik: https://drive.google.com/drive/folders/1FLQdm7elhN70Li2PUJBvNZInM0hqgz_F?usp=drive_link     Youtube Konser  

Literasi Musik Sehari di Surabaya
27 May 2018 Redaksi 3.065 Views

Literasi Musik Sehari di Surabaya

  Pertemuan Musik di Surabaya kembali menyelenggarakan agenda musik, dan kali ini mereka mengusung tema LITERASI MUSIK SEHARI. Agenda ini akan diselenggarakan Senin (28/5) di Qubicle Center, Surabaya, mulai jam 15.00 WIB. Secara ringkas, disampaikan dalam rilis mereka, kegiatan ini berangkat dari keinginan sederhana, yaitu mengapresiasi karya-karya literatur musik yang terbit di Indonesia. Apa yang dimaksud dengan Literatur Musik? Adalah segala sumber informasi musik yang tertulis/dituliskan. Informasi tersebut dapat berupa sejarah, teori, riwayat/biografi tokoh, kamus, ensiklopedi, score/partitur/notasi musik, dan lain sebagainya. Kegiatan menulis segala informasi musik memang belum menjadi kebiasaan (habit) di Indonesia, terlebih budaya. Sangat berbeda dengan dunia sastra—yang memang literer, tertulis.  Meski demikian, kita bisa menemukan jejak-jejak yang jelas dari pertumbuhan literatur musik di Indonesia, khususnya sejak paruh kedua Abad ke-20. Literatur musik memang telah dituliskan dan keberadaannya memang terus ada hingga hari ini. Lebih jauh, Gema Swaratyagita, Direktur Pertemuan Musik, menjelaskan bahwa tujuan kegiatan ini antara lain untuk memetakan pertumbuhan literatur musik dari masa ke masa, menjadi pemicu bagi produktivitas penuilsan literatur musik, khususnya bagi generasi muda, "dan kami juga perlu membudayakan memahami musik tidak hanya melalui tontonan/mendengarkan, melainkan juga menyerap informasi/bacaan," ujarnya.  Selain MEMAMERKAN beberapa koleksi literatur musik yang terbit di Indonesia dalam rentang 7 dekade, sejak 1950an hingga 2010-an, kegiatan ini juga di-isi dengan DISKUSI yang membahas beberapa terbitan literatur musik khususnya dari dekade terkini. Narasumber yang dihadirkan dalam sesi diskusi ini adalah Musafir Isfanhari (Surabaya), Erie Setiawan (Yogyakarta), dan Ayos Purwoaji (Surabaya). Yang tidak kalah menarik adalah agenda PERTUNJUKAN MUSIK yang bervariasi untuk melengkapi alur acara. Acara ini terbuka untuk umum dan gratis. Informasi acara: Siska (08175174696)    

ALBUM GATRA - NOCTURNAL GUITAR QUARTET AKAN DIRILIS
25 Nov 2019 Redaksi 2.007 Views

ALBUM GATRA - NOCTURNAL GUITAR QUARTET AKAN DIRILIS

  Dengan senang hati kami mengundang semua rekan-rekan untuk hadir pada acara peluncuran album GATRA - Nocturnal Guitar Quartet. Mari bersama-sama menjadi bagian paling intim untuk kelahiran album perdana kami ini. Rabu, 27 November 2019 19.00 WIB | Noma Cafe Yogyakarta GRATIS Silakan reservasi tempat: 089675711546 Album ini didukung sepenuhnya oleh: Art Music Today, Seruni Audio, DS Records Rekambergerak, Noma Cafe Memulai karir di Yogyakarta, Indonesia, pada 2014, Nocturnal Guitar Quartet (NGQ) telah tumbuh pesat sebagai ansambel yang memiliki reputasi internasional. NGQ berpengalaman memainkan karya-karya moderen dan kontemporer dari berbagai komponis lintas benua, tak terkecuali karya-karya komponis Indonesia. Anggota NGQ, Robi Handoyo, Adi Suprayogi, Vaizal Andrians, dan Gita Puspita Asri—telah saling kenal dan bekerja bersama-sama jauh sebelum NGQ berdiri. Kwartet ini adalah kwartet yang membawa nilai persahabatan yang tinggi. “GATRA” adalah album perdana NGQ, menandai lima tahun perjalanan mereka. PENGHARGAAN: - 1st Prize Mixed Chamber Category, Concorso Musicale Di Filadelfia, Italy, 2016. - 1st Prize Ensemble Category, Tarrega Malaysia International Guitar Festival, Kuala Lumpur, Malaysia 2017. - 2nd runner up Japan International Guitar Festival, Tokyo, Japan 2018.  

Tony Prabowo dan Otto Sidharta Berkisah Tentang Suka Hardjana
25 Apr 2018 Redaksi 3.573 Views

Tony Prabowo dan Otto Sidharta Berkisah Tentang Suka Hardjana

Beberapa waktu lalu Art Music Today mewawancarai komponis Otto Sidharta dan Tony Prabowo via telepon untuk menanyakan komentar-komentar beliau mengenai mendiang Suka Hardjana, pemikir musik yang wafat 7 April lalu. Bagi Tony, Suka adalah sosok pengayom yang membuat generasinya segan. Dan bagi Otto, Suka sosok kritis namun realistis, ia teguh membela dan tidak membiarkan murid-muridnya dipenjara oleh keterbatasan kreativitas bermusik. Simak laporan naratifnya berikut ini. Pada sekitar 1980-an, Tony Prabowo dan karib seangkatannya, Otto Sidharta, berdemonstrasi di Kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Mereka memprotes kebijakan Suka Hardjana yang waktu itu menjabat sebagai Ketua Jurusan Musik di sana. Apa pasal? Menurut cerita Tony, protes yang dilakukannya itu lantaran Suka Hardjana sebagai pejabat dinilai sulit untuk memberi ijin pemakaian alat-alat musik koleksi IKJ. “Alat-alat sulit keluar, sampai berdebu, bahkan rusak dimakan rayap, maka kami berdemo,” ujar Tony mengisahkan. “Kami berdua waktu itu memang mbeling,” tambah Otto sambil terkekeh. Akibatnya, selama sekian tahun hubungan mereka cuma anget-anget tai ayam.  Tony Prabowo khususnya, kembali “mesra” pada tahun 1992. Pada waktu itu Suka Hardjana menulis ulasan mengenai pergelaran Suita 92 yang ketika itu diikuti oleh antara lain Tony Prabowo, Otto Sidharta, dan Marusya Nainggolan. Bagi Tony, ulasan itu menggugah simpatinya. “Awalnya saya berpikir Pak Suka hanya berminat pada musik-musik klasik, tetapi ternyata dugaan saya meleset. Bahkan ia yang pertama kali menyebut formasi musik yang saya tampilkan sebagai ‘ansambel campuran’/mix-ensemble, dimana saya sendiri pada waktu itu belum ingin menyebutnya dengan istilah itu,” kata Tony. Begitupun Otto, paska aksi demo-demo itu hubungan keduanya kembali baik, terutama ketika Otto menjabat di Dewan Kesenian Jakarta (setelah lulus dari Belanda) dan mengajak kembali Suka Hardjana untuk mengaktifkan Pekan Komponis Muda yang sekian lama vakum. Otto makin mengenal Suka Hardjana secara personal.   Dulu Memang Beda dengan Sekarang 1978 adalah tahun permulaan karir yang penting bagi Otto Sidharta, juga pertama kali ia mengenal Suka Hardjana. Ia mendaftar di IKJ Jurusan Komposisi Musik. Pada waktu itu penguji untuk seleksi masuk adalah Suka Hardjana, Frans Haryadi, dan Iravati Sudiarso. Lolos masuk di Jurusan Komposisi Musik IKJ pada waktu itu dikenal sulit. Namun demikian, Suka Hardjana adalah orang yang jeli dalam melihat potensi calon mahasiswanya. Begitupun dengan talenta yang dimiliki Otto Sidharta ini. Singkat cerita, pada waktu seleksi penerimaan mahasiswa itu Suka Hardjana menguji kemampuan Otto dengan cara yang pada waktu itu tergolong tidak biasa. Tiba-tiba Pak Suka main piano seakan ngawur saja, dan meminta Otto  mendengarkannya dengan cermat. Setelah selesai, Pak Suka meminta Otto menuliskan notasinya di papan. “Saya jelas bingung,” kilah Otto. “Tapi saya nekat saja, saya tuliskan notasi grafis, dan jelas tidak mungkin menuliskan notasi baloknya,” ungkap Otto. Semenjak itu, Suka Hardjana menaruh perhatian pada Otto, dan ia termasuk yang mempertahankan Otto Sidharta agar diterima kuliah. Sementara itu, pada sisi lain memang tengah terjadi perdebatan serius khususnya antara Frans Haryadi dan Suka Hardjana, soal pro dan kontra masalah kreativitas musik kontemporer. Suka (dan juga Slamet A. Sjukur) membela segala kebaruan kreativitas yang terjadi, dan Frans Haryadi sebaliknya, tidak setuju dengan adanya “kurikulum musik kontemporer.” Setahun berikutnya Suka Hardjana menginisiasi Pekan Komponis Muda yang mampu berjalan 6 tahun (1979 – 1985) dan kemudian vakum untuk beberapa lama karena tidak ada yang mengurus. Otto “membangunkannya” kembali dengan semangat yang baru. Pada dekade khsuusnya 1970an hingga 1980-an pertumbuhan kreativitas berkomposisi musik dan dialektikanya memang bisa dikatakan bersemi dan tumbuh subur. Setiap orang hanya berkemungkinan berkarya, bertatap muka langsung, dan membangun misi bersama. Ulasan-ulasan di koran menjadi tolok-ukur signifikan dan prestisius. Suka Hardjana orang yang tlaten menjadi jembatan apresiatif bagi masyarakat. “Cita-cita Pak Suka memang seperti itu, agar tumbuh bakat baru, tunas muda,” kenang Otto. “Kini zaman memang bergeser, dan kita melihat sendiri faktanya. Berkomunikasi tanpa harus bertemu langsung, segalanya sedang terpisah-pisah, juga rentan prasangka, egoisme, dan lain-lain,” kata Otto. “Melalui Pekan Komponis tahun ini, dimana saya juga terlibat, saya ingin meneruskan kembali semangat Pak Suka, yang mampu mempertemukan dan membangun dialog bersama untuk kemudian bekerja nyata,” tambah Otto.   Suka Sosok Pengayom Tony Prabowo menilai bahwa Suka Hardjana adalah sosok pengayom. “Memang sulit mencari semacam Pak Suka (juga seperti almarhum Mas Slamet Sjukur). Bukan mencari pengganti, tapi yang tekun, berdedikasi dan mau mengayomi. Saya belum melihat tanda-tanda itu di generasi saya. Saya juga belum mampu,” kata Tony yang pada 2006 karya Operanya “The King’s Witch” diulas panjang lebar oleh Suka Hardjana di Kompas. Terhadap ulasan-ulasan Suka Hardjana di koran-koran maupun dalam pengalaman berdiskusi langsung, baik Tony maupun Otto memiliki penilaian yang sama, yaitu seimbang dalam bobot. “Suka Hardjana mampu mengulas musik dalam ukuran-ukuran teknis-teoretis karena beliau juga musikus dan bikin musik, juga mampu mengulas hal-hal lebih umum dalam kepentingan apresiasi khalayak luas,” kata Tony. “Pemikirannya tajam, meski ia sangat keras kepala,” tambah Otto.   Pewawancara dan Penulis: Erie Setiawan Foto: Thomas Y. Anggoro (Suka Hardjana memutar musik melalui telefunke koleksinya) Baca juga: https://tirto.id/di-tangan-suka-hardjana-musik-menjelma-ilmu-pengetahuan-cH6u

Telah Terbit Buku Notasi Musik Abad 20 dan 21 (Cetakan Terbatas)
25 Apr 2018 Redaksi 3.784 Views

Telah Terbit Buku Notasi Musik Abad 20 dan 21 (Cetakan Terbatas)

  Penulis: Septian Dwi Cahyo  Editor: Erie Setiawan, Dieter Mack  Desain Sampul: Gaga  Tata Letak: Dwi Pratomo Penerbit: Art Music Today  Cetakan: Pertama, Maret 2018  Tebal: 212 hlm. “Notasi terus ber-evolusi, dan ia juga merupakan bentuk (ekspresi) pikiran manusia dalam menerjemahkan ide dan imajinasi kreatif ke dalam teks maupun simbol tertulis. Sampai pada kondisi terkininya, dan dalam skena musik kontemporer yang sangat kompleks saat ini, buku ini diperlukan sebagai referensi utama mengenai metode penulisan notasi musik, sekaligus membuka wawasan terhadap segala perluasan bentuk penotasian di luar notasi konvensional yang telah mapan.” Untuk sementara waktu buku ini hanya bisa didapatkan di Penerbit AMT. Harga: Rp. 75.000,- (dengan lampiran CD Audio) Jl. Tirtodipuran Gg. Mawar 35 – Mantrijeron, Yogyakarta Email: infobukuamt@gmail.com WA/SMS: 0895341875712  

SEJARAH MUSIK KLASIK BARAT DI LEMBAR SURAT KABAR HINDIA BELANDA
25 Feb 2020 Redaksi 4.848 Views

SEJARAH MUSIK KLASIK BARAT DI LEMBAR SURAT KABAR HINDIA BELANDA

    Aniarani Andita, Kandidat Doktor di Departemen Musik, Royal Holloway, Universitas London, Inggris, tengah menggelar pameran langka di beberapa kota di Indonesia. Pameran pertama digelar di Jakarta, pada Jumat, 21 Februari 2020, di Lobi Gedung Usmar Ismail, bertepatan dengan konser Tchaikovsky Night oleh Jakarta Concert Orchestra. Ania mengetengahkan beberapa kliping koran yang menunjukkan bagaimana mula-mula musik klasik Barat mulai disemaikan di Tanah Air, khususnya melalui kegiatan konser. Kliping tersebut didesain khusus dengan teknik bongkar-pasang dan instalasi yang menarik demi memudahkan penyajian. "Ini mengapa kubuat begini juga agar praktis ketika akan kubawa lagi untuk pameran di lain kota," ujar Ania. Melalui penelusurannya, pertunjukan musik klasik Barat untuk publik telah hadir sejak tahun 1830an di Batavia. Bertempat di Schouwburg (sekarang Gedung Kesenian Jakarta) oleh grup-grup opera dari Italia dan Perancis. Setelah menyinggahi Batavia, pertunjukan kemudian meluas ke kota-kota lainnya seperti Bandung, Jogjakarta, Semarang, dan Surabaya. Pertunjukan-pertunjukan musik klasik Barat pada umumnya diperuntukkan hanya bagi orang Belanda dan Eropa yang tinggal di kota-kota tersebut. Lebih jauh, pameran ini ia maksudkan untuk memberikan wawasan mengenai sejarah musik klasik Barat di Indonesia; juga memungkinkan terbukanya diskusi mengenai bagaimana sejarah ini mempengaruhi cara kita memahami dan mempraktekkan musik klasik Barat di Indonesia saat ini. "Saya sedang sangat intens dengan jejak sejarah musik klasik Barat di Indonesia, khususnya mulai awal abad ke-19 hingga awal abad ke-20," tegasnya (AMT/ES). Desain instalasi: Nara Nugroho. Catatan: Jika Anda, atau lembaga Anda, tertarik untuk memfasilitasi pameran ini silakan menghubungi langsung saudari Aniarani di alamat surel: aniarani.andita.2018@live.rhul.ac.uk. Pameran disarankan untuk digelar bersamaan dengan konser musik klasik.      

LEMPAR MUSIK SEMBUNYI PIKIRAN
24 Oct 2017 Redaksi 4.213 Views

LEMPAR MUSIK SEMBUNYI PIKIRAN

Oleh: Erie Setiawan Semacam lempar batu sembunyi tangan. Kita sedang tak tahu apa yang dilakukan oleh seniman kebanyakan, kreator kebanyakan, musisi, komponis, dan lain-lain. Kita sedang blank sengeblank-ngeblanknya. Akibatnya, kita juga tak punya jawaban pasti, apakah kita sekarang sedang maju atau malah mundur seribu langkah?   Apa yang diasumsikan oleh Karlina Supelli dalam ceramahnya berjudul “Ancaman Terhadap Ilmu Pengetahuan” (2017) terasa benar adanya. Ia menyoroti gejala anti-kritik yang terjadi belakangan ini. Setiap orang makin enggan berinteraksi demi pengetahuan, terlebih memberikan silang-kritik demi kemajuan bersama. Ini pantas diwaspadai. “Tanpa proses intersubyektif, tidak mungkin ada kritik. Tanpa kritik, tidak ada ilmu pengetahuan,” ujar Karlina (Hal. 5). Kita sesungguhnya sedang memperjuangkan apa melalui musik?   Perut? Ah, rasanya kok naif. Kekayaan Budaya Indonesia? Sudah berlimpah dari rahim dan tak mungkin hilang. Eksistensi? Lebih eksis “kids jaman now” Identitas Budaya? Masak gak rampung-rampung ngurusin identitas? Generasi? Generasi sekarang gampang-gampang susah, loh? Menghibur? Sudah terlalu umum… Edukasi, Kemanusiaan? Itu semua kan kuncinya dedikasi, yuk dihitung, berapa persen yang (mau) berkorban? Pengetahuannya? Kalau ini saya pribadi tidak percaya, banyak data soal kelemahan-kelemahannya. Sudah riset dan jadi buku.    Kepentingan Orang Banyak? Yang pribadi aja belum selesai… Kepentingan Pribadi? Ini memang paling gampang, dan semua bisa.   Pertanyaan reflektif di atas menggiring kita untuk kembali sejenak pada pemikiran Yunani Kono, zaman Thales, Plato, maupun Aristoteles, mengenai salah-satu kaidah falsafah ilmu, yaitu ontologis. Ontologis mempertanyakan hakikatnya, mengusut tidak hanya pada urusan jasmani, tapi juga rohani, pada semua yang “ada”, yang real, bahkan ultimate reality. Mengilhami fatwa Rene Descartes: “Aku berpikir maka aku ada.” Namun sungguh, sejujurnya kita terlampau sulit menjawab pertanyaan singkat di atas: “Kita memperjuangkan apa melalui musik? Apanya yang kita perjuangkan?” Jangan-jangan kita memang sedang tidak setia pada nurani kita masing-masing, tidak bertanya secara mendalam pada dimensi rohani kita. Kita mungkin memang sedang kesulitan untuk menerka-nerka, terutama antara ketulusan dan batas nasib. Alfred North Whitehead, seorang matematikawan Inggris sekaligus filsuf yang produktif pada peralihan Abad ke-19 menuju modern sudah mengingatkan kita tentang pentingnya “mawas diri”. Ia dikenal sebagai perintis “filsafat proses”. Salah-satu yang menarik dari penjelasan Whitehead adalah soal unikum, keunikan setiap orang dan potensinya untuk mengembangkan diri secara berbeda dengan yang lain. Bagi Whitehead, nilai yang penting dalam kehidupan adalah dimana setiap individu dengan segala kekhasan dan kebebasannya sanggup menegaskan “siapa dirinya”. Dua kata kunci pokok: khas dan bebas (Sudarminta, 1991: 92). Tapi agaknya kita sekarang makin malu-malu untuk menunjukkan unikum itu “kepada dunia”—ya, “kepada dunia”, layaknya pidato Bung Karno soal “Ganyang Malaysia”. Kita makin menjadi kerdil karena setiap orang tak mampu memahami kita sebagai pribadi, individu, atau kekuatan permanen dan otonom dari yang disebut “manusia” ini, yang dibedakan dengan hewan karena kita memiliki “pengalaman” dan “pengetahuan”. Apa sebab kita makin kerdil? Karena kita sendiri terlampau sulit mengenali diri sendiri. Terlebih soal dimensi kreatif, soal musik dan segala sebab-akibatnya, soal kenapa musik harus ada di dunia ini? Kenapa musik harus ada dan kita ketiban nasib untuk seolah-olah ikut menjaganya?   Musik dan Organisasi Pikiran Manusia Saat ini saya sedang berusaha untuk menyelesaikan buku berjudul “Organising Music: Theory, Practice, Performance” (Cambridge University Press, 2015). Buku ini, setidaknya bagi saya, membukakan pikiran mengenai pemahaman baru soal bagaimana mengorganisasi musik. Dan yang menarik, pengorganisasian musik menurut yang saya tangkap di buku ini bukan semata urusan teknis (pengelolaan pertunjukan, penjualan tiket, sponsorhip, dll), melainkan pengorganisasian pikiran-pikiran manusia yang berkecimpung di dunia musik. Bagaimana mengorganisasi pikiran musisi, komponis, direktur musik, dan seterusnya. Pikiran manusia menjadi subjeknya, bukan identitasnya, bukan siapa aku siapa kamu, bukan kamu ngapain aku ngapain. Ambil contoh, ketika kita mengamati kondisi terkini di dunia musik—dan mungkin seni pada umumnya: ramai festival, poster dengan desain selalu menarik, pergeseran segmen audiens, tren indie, vlog, foto selfie, hubungan sosial tanpa hirarki, dan yang seterusnya itu—lalu bagaimana cara kita membangun persepsi? Gampangnya: apakah itu benar suatu kemajuan? Tentu saja bukan soal objek (musik) yang menjadi perhatian paling utama. Bandingkan dulu sebelum abad visual saat ini. Musik nyaris hanya soal telinga dan berita di koran. Bagaimana cara menakar pikiran-pikiran manusia berdasarkan simpul ekses nyata dari teknologi informasi itu dan realitas visual terkini itu? Umberto sudah membicarakan soal “pencitraan” secara mendalam di dalam bukunya yang sangat terkenal: “Travels in Hyper-Reality” (1987). Dalam salah-satu bab mengenai foto ia menulis:   “Bagi sebuah peradaban yang sudah terbiasa berpikir dalam bentuk image, foto bukan lagi mendiskripsikan sebuah peristiwa tunggal (dan sebenarnya, tidak menjadi persoalan mengenai siapa sebenarnya orang di dalam foto tersebut, maupun informasi apa yang diberikan di dalam foto untuk mengidentifikasi orang tersebut); ia hanya sebuah argumen. Dan nyatanya, argumen itu berfungsi”   Secara hemat kata, makna yang bisa kita petik dari pernyataan itu adalah—hubungannya dengan abad visual-pencitraan saat ini, kita makin jauh dari realitas itu sendiri, untuk mengenali apa yang sudah diingatkan Karlina Supelli di atas: intersubyektif, antar-personal.   Mungkin saja bahwa kita memang sedang benar-benar terpisah dari realitas. Kita sedang mengalami “fana”—kekosongan pada pikiran yang menggerakkan tubuh dan rohani. Tak ada yang benar-benar “ada” sesuai dengan pandangan ontologis. Kalau boleh jujur, kita tak pernah mampu mengukur semua fakta-fakta yang terjadi pada dunia musik saat ini sebagai kemajuan atau kemunduran, karena kita sendiri tidak pernah melakukan riset secara seksama dan sistematik. Sampai di sini kita (kembali) mempertanyakan secara mendalam: “Apa itu Musik dan apa yang sesungguhnya sedang kita perjuangkan?” Pada sebuah kesempatan di kelas musikologi yang saya kelola secara non-formal, saya bercerita kepada murid-murid mengenai “ping-pong energi” di antara musisi dan audiens—dalam konteks studi mengenai interpretasi musik. Maka benar adanya, bahwa ada perbedaan jelas antara “pemain musik/penyaji musik” (player, performer), dan “penafsir” (interpreter). Murid-murid saya bingung semua, karena selama ini (ternyata) mereka hanya memainkan musik, dan belum sampai ke tahapan menjadi interpreter.   “…..You will then have become an interpreter, not merely a performer” Alfred Cortot (1937: 16).                 Menginterpretasikan suatu karya musik adalah perjuangan keras untuk membubuhkan “nyawa-nyawa” pada bunyi—sekaligus transfer energi berbentuk zig-zag tak karuan kepada seluruh benda yang ada di sekitar bunyi yang berlangsung, termasuk badan manusia sebagai salah-satu unsurnya. Maka akustik ruangan dalam konteks psiko-akustika akan bisa berkembang tidak hanya dalam kadar material, melainkan sebagai “senyawa aktif” yang turut mempengaruhi pikiran manusia. Dari sinilah, organisasi musik yang saya singgung sepintas di atas, menjadi lebih kelihatan gamblang. Suatu pementasan musik yang dikerjakan dengan manajemen sebagus apapun apabila pikiran manusia (tokoh di atas panggung) sedang tidak tuning dalam segala hal, maka hasilnya adalah sia-sia. Momen yang bersejarah adalah momen yang mampu menggugah batin, memberikan energi positif yang awet sepanjang masa. Lempar musik sembunyi pikiran, seperti judul tulisan ini, adalah sebuah opini bebas untuk melawan yang serba “anti-kritik”, agar kita lebih bertanggung-jawab dan tidak cari aman saja. Kita berkesempatan menggugah semangat banyak orang untuk mengenali dampak-dampak signifikan yang terjadi sesudah karya musik dibuat, direkam, atau dipentaskan. Apa yang akan terjadi pada dunia musik di esok hari, bulan depan, dan di masa mendatang akan sangat bergantung kepada pikiran kita sendiri, tentang bagaimana kita tlaten atau sabar untuk mengelola pikiran yang serba terbatas tetapi “khas” dan “bebas” ini. 

MENILIK SOUNDSCAPE & METODE SOUNDWALK
23 Jul 2020 Redaksi 8.278 Views

MENILIK SOUNDSCAPE & METODE SOUNDWALK

Oleh Rangga Purnama Aji (Komponis, Manajer Program October Meeting 2020)  Artikel ini dibuat dalam rangka menyongsong program OCTOBER MEETING: SOUNDWALK PROJECT 2020, dengan fungsi sebagai pengenalan awal terhadap pemahaman mengenai soundscape dan praktik metode soundwalk. Artikel ini juga merupakan bagian dari tujuan October Meeting – Contemporary Music & Musicians untuk pengembangan pemirsa (audience development) dalam kajian sound studies. . Abstrak Di zaman yang penuh akan kebisingan ini, kehadiran studi mengenai soundscape menjadi sangat penting dalam mengantisipasi hilangnya kepekaan dan kepedulian terhadap peristiwa bunyi yang terjadi di lingkungan sekitar kita (konteks Indonesia). Edukasi mengenai pendengaran dan soundscape yang cukup langka mengakibatkan kurang tajamnya pendengaran manusia terhadap penelaahan dari keseluruhan konten bunyi yang ada; dari aspek perseptual maupun aspek wujud fisik dari bunyi itu sendiri (audio). Beberapa contoh penelaahan yang dimaksud seperti kesadaran akan kebutuhan desibel yang aman bagi telinga, pemahaman mengenai bahaya dampak dari polusi bunyi yang disebabkan oleh manusia terhadap lingkungan, pengenalan terhadap keunikan bunyi-bunyi dari lokasi tertentu, hingga pembangunan ruang bunyi yang sehat bagi ekosistem. Sebagai pendukung, salah satu metode edukasi dan studi mengenai soundscape adalah dengan melakukan metode soundwalk. Metode ini berperan sebagai salah satu metode terbuka yang sangat cair, dimana praktik dari metode ini dapat menggunakan instruksi tertentu atau improvisasi dan memungkingkan untuk dilakukan secara perorangan, duet, maupun berkelompok.   Soundscape, Lingkungan dan Pendengaran Seorang peneliti ekologi manusia dari Indonesia yang bernama Rusli Cahyadi (Kandidat doktor School of Earth and Environmental Sciences di The University of Queensland, Australia) memaparkan banyak contoh kecil dari isu mengenai kurangnya kepekaan dan kepedulian terhadap peristiwa bunyi di dalam artikelnya: “Cobalah berdiri dipinggir jalan (manapun) di Jakarta, maka kita akan mendengarkan suara yang teramat bising yang berasal dari berbagai sumber. Beberapa sumber yang dengan segera bisa kenali adalah knalpot mobil dan motor (terutama yang telah dimodifikasi atau yang standar untuk lintasan balap), klakson (yang juga bukan lagi standar bawaan kendaraan), sirine (yang tidak hanya terdapat pada mobil ambulan, pemadam kebakaran ataupun mobil patroli polisi; tetapi juga mobil pelat hitam milik “pengawal” menteri, tokoh partai, anggota DPR yang terhormat, mantan pejabat maupun anak-anak mereka serta orang-orang kaya baru. Seakan belum cukup, semuanya masih ditambah lagi dengan teriakan kondektur/kenek angkutan umum, nyanyian maupun teriakan pengamen, pembaca doa hingga panitia pembangunan mesjid maupun pesantren yang kesemuanya tidak lagi merasa cukup dengan suara alami manusia akan tetapi perlu memakai pengeras suara yang bising[1]”. Menurut Jay Afrisando, seorang komponis dan sonic artist dari Indonesia (Kandidat doktor Komposisi Musik di University of Minnesota, Amerika Serikat) berpendapat: “Edukasi mengenai pendengaran dan soundscape juga dapat berguna untuk meningkatkan kesadaran manusia akan ekosistem fauna (dan flora). Dengan meningkatkan kualitas dalam mendengarkan, diharapkan kita bisa menciptakan ruang suara yang lebih baik dan berguna bagi hewan dan vegetasi, yang akhirnya bisa membawa kebaikan bagi manusia. Konsep "menciptakan" ruang suara ini juga cukup penting, karena kemudian dapat menjadi langkah nyata dari peningkatan kualitas mendengarkan, dimulai dari hal sederhana seperti apresiasi suara di sekitar hingga menciptakan kebijakan-kebijakan hukum dan sosial yang memihak pada ruang suara yang sehat”[2]. Soundscape Soundscape adalah bunyi apapun yang berada pada ruang akustik lingkungan tertentu yang dapat ditangkap oleh manusia, melibatkan aspek-aspek persepsi manusia tentang bunyi dan pendengaran. Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Östen Axelsson, Catherine Guastavino dan Sarah R. Payne, berdasarkan publikasi bagian satu dari ISO (International Organizations For Standarization) seri 12913 dituliskan definisi terkait dengan soundscape sebagai “lingkungan akustik yang dirasakan atau dialami dan/atau dipahami oleh seseorang atau masyarakat[3]”. Mereka juga menambahkan fungsi-fungsi soundscape[4] sebagai berikut: Soundscape sebagai penyedia bingkai konseptual beserta uraiannya. Soundscape sebagai pembeda lingkungan akustik. Soundscape sebagai fenomena fisik. Soundscape sebagai susunan perseptual. Dari hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa soundscape memiliki bobot kajian audio dan penelaahan gagasan dibalik apa yang terdengar. Dalam studi mengenai soundscape, terdapat beberapa takaran penilaian umum yang dapat mempengaruhi kualitas dari soundscape yang ditelaah. Nicholas Miller menjelaskan di dalam artikelnya mengenai takaran-takaran nilai pada pengamatan soundscape. Dirinya mengatakan “penilaian terhadap soundscape tergantung atas lokasi spesifik dan wujud visualnya, ragam aktivitas atau kegiatan yang terjadi di lokasi tersebut, ekspektasi dan sejarah personal dari pengamat, konten emosional, budaya dan usia[5]”. Takaran-takaran ini dapat dilihat sebagai bagian dari penilaian terhadap 3 (tiga) objek besar  di dalam studi mengenai soundscape (soundscape ecology) yang dikemukakan oleh Bernie Krause[6]. Tiga objek besar tersebut adalah biophony, geophony, dan anthrophony: Biophony, membahas hasil bunyi-bunyi yang berasal dari organisme hidup. Geophony, membahas hasil bunyi-bunyi yang berasal dari sumber nonbiologis. Anthrophony, membahas hasil bunyi-bunyi yang berasal dari buatan tangan manusia. Ketiga objek besar tersebut menjadi induk dari banyak pendalaman dari studi mengenai soundscape. Hal ini tentunya dilihat dari pola hubungan antara manusia dengan organisme hidup (flora & fauna), serta faktor alam non-biologis. Pola hubungan tersebut dapat dilihat pada Gambar 1.1 sampai 1.3. (.....)  ARTIKEL LENGKAP SILAKAN DIUNDUH DI TAUTAN BERIKUT:  https://ia601403.us.archive.org/16/items/fix-menilik-soundscape-dan-metode-soundwalk/%28FIX%29%20Menilik%20Soundscape%20dan%20Metode%20Soundwalk.pdf WEBSITE RESMI OCTOBER MEETING:  https://omcmm.com/ [1]     Cahyadi, Rusli. “Urban Soundscapes: Suara dan Kuasa di Jalanan”. Pusat Penelitian Kependudukan - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Diakses dari http://kependudukan.lipi.go.id/en/population-study/village-town/132-urban-soundscapes-suara-dan-kuasa-di-jalanan. 29 Mei 2020. [2]     Dikutip dari teks pesan Jay Afrisando dengan Penulis secara daring pada tanggal 1 (satu) Juni 2020. [3]     Axelsson,  Östen. Catherine Guastavino. Sarah R. Payne. “Editorial: Soundscape Assessment”. Frontiers. Diakses dari https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fpsyg.2019.02514/full. 20 Mei 2020. [4]     Ibid. [5]     Miller, Nicholas. 2013. “Understanding Soundscapes”. Buildings. No. 3., hlm. 729. Diakses dari https://res.mdpi.com/d_attachment/buildings/buildings-03-00728/article_deploy/buildings-03-00728.pdf. 20 Mei 2020. [6]     Pijanowski, Bryan C. Luis J. Villanueva-Rivera. Sarah L. Dumyahn. Almo Farina. Bernie L. Krause. Brian M. Napoletano. Stuart H. Gage. Nadia Pieretti. 2011. “Soundscape Ecology: The Science of Sound in the Landscape”. BioScience. Vol. 62, No. 3., hlm. 204. Diakses dari http://www.edc.uri.edu/nrs/classes/nrs534/NRS_534_readings/Sound2.pdf. 20 Mei 2020.