MEMBACA LAKU EKSPERIMEN LIVE SPATIAL SENTABI

22-01-2024 18:04

Art Music Today


Art Music Today Image

 

Artikel keempat ini membahas karya SENTABI "17.00-05.00 Tuwuh". Ditulis oleh Andri Widi Asmara. Selamat menyimak!

#SERIARTIKELOMCMM2023

Sentabi menjadi pamungkas di October Meeting 2023. Mereka mengisi slot pertunjukan dalam kategori Live Spatial. Bermain di hari dan di sesi terakhir, seharusnya menjadikan Sentabi mempunyai banyak waktu untuk mengulik spatial sounds, sistem olah bunyi yang digunakan October Meeting 2023 dan menjadi barang baru bagi mereka. Saat itu Sentabi  berformat trio, digawangi oleh Welderahmat, Brema Sembiring, dan Faiz. Brema lebih banyak bermain suling bali, Welderahmat banyak bermain bell, dan Faiz banyak bermain kacapi. Adapun instrumen lain yang digunakan adalah lalove, surdam, dan sedotan. Ia menyajikan komposisi berjudul 17.00-05.00 Tuwuh. Komposisi tersebut bisa dibilang sebagai bentuk olah kreatif ambience music dipadu dengan permainan live instrumen akustik dalam tatanan sistem multikanal. Menurutnya, ambience yang mereka bangun berasal dari rekaman soundscape yang ia ambil adalah keadaan auditif sekitar warung milik Faiz bernama Warkop Tuwuh, terletak di sekitar Sewon.

Jika cermat, pendengar saat itu akan bisa memetakan 2 bunyi utama yang mendominasi. Yang pertama adalah layer kontinyu paling terasa yaitu bunyi jangkrik. Secara kesadaran kewilayahan, bunyi ini dipastikan bersumber dari sawah sebrang Warkop Tuwuh yang menghampar ke arah timur. Yang kedua adalah bunyi yang bersifat temporer, datang pergi, seperti bunyi kendaraan motor/mobil yang melintas. Sumber bunyi ini juga bisa dipastikan berasal dari jalan depan Warkop Tuwuh yang berjarak 10 meter. Di luar itu, karya mereka merupakan hasil olah kreatif sinus dan permainan instrumen akustik secara live improvisation.

Sentabi bermain cantik di pertunjukannya. Penulis menilai mereka berhasil mendelivery citra olah artistiknya ke pendengar. Jika dianalogikan secara arsitektural, suara jangkrik ini dapat menjadi pondasi untuk menopang bangunan di atasnya. Kontinuitas suara jangkrik yang diproyeksikan ke dalam multikanal menghasilkan dampak perseptual yang bersifat environmental. Jika pendengar saat itu berada di tengah dom ruang bawah, suara jangkrik terkesan tipis mengelilingi. Persis seperti kita berada di tengah sawah saat malam hari. Timbre ini penulis nilai jarang dipakai oleh komposer lain di October Meeting 2023.

Sedangkan untuk porsi permainannya, peran mereka bertiga di dalam karya ini adalah membangun pilar-pilar bunyi yang menyangga durasi. Perlu diketahui bahwa Sentabi menyiapkan satu jam performance untuk sesi ini. Idealnya, dalam waktu satu jam dibutuhkan strategi managerial endurance yang baik agar mereka bertiga tidak terkuras energinya. Usaha mereka harus efektif sekaligus estetik, sehingga karyanya tidak terasa kering. Penulis nilai mereka berhasil menjaganya. Walau kenyataannya mereka sangat terbantu oleh ambience yang merentang dari awal hingga akhir karya.

Isian permainan mereka lebih banyak menekankan pada pulse harmonic, timpang  tindih dan saling sahut bunyi dari suling, kecapi, dan bells yang berebut momentum secara konsisten. Instrumen-instrumen etnis yang mereka pilih menjadi sangat menguntungkan untuk mengisi karya yang berdurasi panjang. Sehingga mereka dapat berbagi waktu untuk memproduksi bunyi, berpindah instrumen, miking instrumen, dan juga mengatur spasial. Semua itu bersifat eksperimental. Sentabi masih menerka dampak apa yang mereka hasilkan dalam waktu sejam tersebut. Tampak dari komunikasi antar pemain, sepertinya masih menjajaki sejauh mana dampak dan bangunan karyanya tampak. Dalam beberapa saat terdapat kekosongan isian yang terasa, selain mendengarkan suara jangkrik yang stagnan.

Dalam pengamatan penulis, strategi Sentabi pada pengolahan spasial masih terbatas. Baik secara teknis maupun gaya artistiknya. Mereka masih berkutat pada setting lokalisasi bunyi yang masih bersifat panning. Sementara October Meeting 2023 seharusnya dapat menjadi wadah bereksperimen Sentabi untuk bisa bermain-main dengan sistem spasial yang masih longgar ruang ekspresinya. Penulis yakin, karyanya akan lebih menarik jika mereka mempunyai strategi setting yang lebih detil.  

Akan tetapi, penulis juga mengakui bahwa Sentabi mempunyai gagasan ide yang organik. Mereka berani memilih untuk tetap menyajikan permainan langsung di antara kompleksnya sistem spasial. Tidak banyak di luar sana yang mempunyai nyali seperti Sentabi. Dan penulis lihat, Sentabi mempunyai motivasi yang kuat dalam mempelajari hal-hal baru. Maka sebenarnya masih banyak yang bisa dinantikan dari eksperimen-eksperimen Sentabi berikutnya. 17.00-05.00 Tuwuh dapat menjadi simbol peletakan batu pertama pada proyek-proyek “berbahaya” Sentabi selanjutnya. Congrats!

Penulis: Andri Widi Asmara

628 x dilihat

Prev Next

Login Member

forgot password?
Kabar Berita
PERJALANAN BUNYI YUDANE

4773 x dilihat

9 Tahun Art Music Today

5950 x dilihat