PERJALANAN BUNYI YUDANE

01-11-2017 18:43

Art Music Today


Art Music Today Image

Oleh: Arya Suryanegara

Melalui daya kreatifnya yang luar biasa, Wayan Gde Yudane tak henti-henti mengajak saya tamasya jauh menyusuri bunyi-bunyi baru. Yudane menggugah semangat, menginspirasi generasi muda untuk berani menatap jauh ke depan, dengan tetap menghargai yang silam.

Contoh konkritnya, pada usianya yang nyaris senja, Yudane masih bersemangat menginisiasi program “Komponis Kini”, yang difasilitasi Bentara Budaya Bali. Program itu mewadahi karya-karya komponis kontemporer, khususnya yang bermukim di Bali. Meski sempat terhenti sejenak, program itu kini hadir kembali. Pada Senin malam (30/10), Yudane mementaskan karya-karya terbarunya dengan tajuk “Journey”.  

Ada empat karya yang dipentaskan malam itu: Spring, Aquifers, Ephemeral, dan Journey. Karya-karya itu merupakan respon kreatif dari puisi Ketut Yuliarsa yang direpresentasikan oleh Yudane pada Gamelan Semara Dana, dan dimainkan dengan baik oleh Sekaa Gamelan Wrdhi Cwaram. Selain itu juga dipentaskan karya Tari Legong Semarandana sebagai pembuka.  

Yang memikat dari Yudane

Pada malam itu Yudane melakukan eksperimen yang menarik dalam penyajian karyanya, baik secara autidif maupun visual, walaupun terkadang visual dalam karya musik tidak memiliki porsi yang dominan. Tidak hanya fokus pada mendengarkan, audiens juga dapat melihat bagaimana Yudane menempatkan instrumen di panggung terbuka Bentara Budaya Bali. Yudane membuat susunan yang berbeda, yakni ada gamelan yang ditempatkan di bagian tengah panggung, ada juga yang ditempatkan di kanan dan kiri, yang memiliki posisi lebih tinggi. Ini bagi saya menarik sebagai total performance, sebagai seni pertunjukan yang tergarap secara utuh.

Yudane dalam pementasan itu berhasil mengelabuhi pikiran saya. Pertama, ketika saya melihat (visual) penempatan gamelan yang dilakukan, saya mengagumi tata panggung, meskipun hal itu sering dikatakan tidak penting. Kedua, ketika saya telah mendengar karya musiknya (auditif), menghantarkan perspektif  saya  untuk menyimak berbagai macam cara kerja yang ada di dalamnya. Dari sudut yang berbeda dapat memperjelas audiens dalam mendengarkan pergabungan motif-motif yang ada di sebelah kanan, tengah, dan kiri. Alhasil, Yudane dalam pementasan karya ini menurut saya tidak semata-mata memanjakan mata audiens dalam melihat tata panggungnya, tapi juga telah melakukan pengolahan bunyi dengan mempertimbangkan aspek ruang.

Sejauh ini Yudane memang dikenal sebagai ujung tombak dalam perkembangan musik baru untuk gamelan Bali. Karya-karyanya dikenal luas tidak hanya di Bali, tapi juga di berbagai negara lain. Bentara Budaya Bali, melalui websitenya, menulis sebuah penjelasan sekaligus ajakan untuk mengapresiasi karya Yudane kali ini:

“Konsep pertunjukan ini berangkat dari elastisitas, yakni perenggangan waktu dan tempo serta kespontanan di dalam kesetiaan juga kebersamaan, merespon ombak (vibrato) pada gamelan Semara Dana guna menciptakan ruang meditatif dimana nada-nada melodi terhubung secara imajinatif di dalam benak para pendengar.”

Dapat diartikan Yudane dalam karyanya kali ini berusaha melakukan pengolahan teknik vibrato dalam gamelan yang digunakan. Perlu diketahui, vibrato yang diartikan itu adalah Ngumbang dan Ngisep/Umbang dan Isep. Ngumbang dan Ngisep merupakan ciri khas pada gamelan Bali, yang dalam konsepnya terdapat interval yang berbeda pada nada yang sama. Apabila nada tersebut dimainkan bersamaan akan menimbulkan ombak atau gelombang. Secara kreatif Yudane mengolah unsur tersebut dalam karyanya.

Unsur itu terdengar jelas dalam karyanya yang bertajuk Spring. Yudane menggunakan instrumen melodis pada Gamelan Semara Dana dan juga dimainkan menggunakan alat pukul lembut (berisi karet). Juga pada karya itu terdapat banyak ruang kosong dan hanya memperdengarkan getaran instrumen. Ruang kosong dalam memperdengarkan getaran tersebut saya cermati hampir 15 sampai 20 detik, dan sepertinya Yudane ingin menunjukan getaran instrumen tersebut dari mulai dipukul hingga getaran itu berhenti. Serta pada karya itu, Yudane tidak hanya memainkan nada yang sama secara bersamaan, namun ia juga membuat harmoni melalui nada yang berbeda. Hal itu menghasilkan pilihan bunyi, di antaranya gelombang dengan nada yang sama dan gelombang dengan nada yang berbeda.

Selain itu dalam karyanya bertajuk Ephemeral, Yudane hanya menggunakan instrumen ber-pencon saja, antara lain seperti instrumen tawa-tawa dan kajar. Yudane dalam karya ini menurut pengamatan saya melakukan permainan ritme melalui karakter bunyi yang dihasilkan oleh instrumen ber-pencon ini. Hasilnya akan berbeda apabila dimainkan oleh instrumen ber-bilah. Saya menangkap, Yudane juga ingin menunjukan karakter gelombang dan bunyi dari instrumen pencon tersebut.

Lain lagi karyanya yang bertajuk Aquifers dan Journey, yang menggunakan hampir seluruh instrumen pada Gamelan Semara Dana. Karya itu merupakan karya besar Yudane, karena durasi yang panjang dan banyaknya jenis instrumen. Menurut pengamatan saya, karya itu memiliki banyak pengolahan motif berdasarkan cara kerja pada gamelan Bali. Misalnya kotekan, ukuran lagu per-gatra, harmoni, fungsional instrumen, pengolahan melodi, pengolahan ritme, dan lain-lain. Dalam mendengar karya ini, telinga saya memang mengasumsikannya secara baru, dan saya hanya mengetahui bahwa karakter bunyi dari instrumen yang digunakan adalah gamelan Bali. Namun, dalam teknik permainannya merupakan pengembangan dari teknik permainan gamelan Bali, dan mungkin juga terdapat pengaruh dari latar belakang berbagai jenis musik yang mengilhami Yudane.

Apresiasi

Prof. I Made Bandem yang malam itu hadir juga turut menyampaikan apresiasi untuk karya Yudane. Bandem mengatakan: “Yudane telah mempelajari musik Barat dan ia juga sering berteman hingga berkolaborasi dengan musisi di luar gamelan. Sehingga Yudane sudah memahami betul teknik dari musik Barat dan musik-musik lintas budaya lainnya.” Sebab itulah, bagi saya, karya Yudane memberikan penyegaran baru. Bandem juga mengatakan bahwa Yudane sudah tidak lagi menggunakan teknik permainan gamelan bali secara regular, namun Yudane memainkan secara iregular. Artinya Yudane sudah memainkan gamelan secara tidak biasa.

Berbagai jenis cara kerja seperti itu memang perlu diinformasikan ke masyarakat. Harapannya adalah memberi wawasan mengenai inovasi, juga yang dilakukan oleh Yudane yang telah berusaha sedemikian rupa mengembangkan karya-karya gamelan Bali.  Umumnya memang masih banyak yang kurang mengerti mengenai “dapur kreatif” seperti itu.

Hal yang bisa saya pahami dalam mendengar karya tersebut adalah tekniknya menarik dan asing di telinga penabuh gamelan, dan menambah wawasan audiens dalam mengetahui perkembangan karya-karya baru untuk gamelan. Terus terang, khususnya bagi generasi muda seperti saya, sangat memerlukan wawasan sejarah, sebagai penghubung untuk mengenal yang lama dan yang baru. Dan melalui karya Yudane saya terbuka atas wawasan itu, mengajak saya berada dalam sebuah jembatan yang menunjukan ke jalan baru, untuk melihat arah gamelan Bali pada masa mendatang.

Selain itu, dalam mendengarkan karyanya yang bertajuk Aquifers dan Journey ini, mengingatkan saya dengan Simfoni Mozart. Bukan berarti karya Yudane sama dengan karya Mozart, namun lebih pada peristiwa bunyinya saja. Saya mendengar adanya perpindahan bagian dari karya ini yang dilakukan secara tiba-tiba dan dilanjutkan dengan karakter bunyi yang berbeda atau instrumen yang berbeda. Misalnya, ketika sebuah bagian sudah mencapai klimaks, akan disambung secara tiba-tiba dengan instrumen dan tempo yang berbeda. Seolah-olah karya tersebut sudah selesai, namun ternyata belum, layaknya penggalan-penggalan dalam karya Simfoni.

Sayangnya dalam acara itu tidak terdapat diskusi dan penjelasan komponis  tentang karyanya, sehingga akan membuat audiens bertanya-tanya tentang apa yang telah terjadi malam itu. Di sisi lain itu bagus juga, karena kita bisa berfokus mendengarkan musiknya terlebih dahulu sebelum ke informasi di sebaliknya.

Namun saya juga berharap dalam lain kesempatan, Yudane bisa menjelaskan tentang apa yang terjadi dalam karyanya itu, semata-mata ingin mengarahkan pemahaman atau opini audiens yang tertarik dengan karyanya. Itu dikarenakan komponis adalah yang paling mengetahui segala proses kreatifnya.

Sebagai informasi, pada Desember mendatang Yudane dan Sekaa Gamelan Wrdhi Cwaram akan melakukan pementasan gamelan di Paris dalam acara Europalia. Yudane merupakan salah satu komponis  yang mewakili Indonesia dalam ajang yang bergengsi itu. Saya sangat berbangga karena Yudane telah berhasil membawa gamelan ke ajang internasional. Inilah hal yang saya kagumi dari Yudane, ia tetap dengan gamelannya serta akan terus berjalan menemukan bunyi baru untuk gamelan.

PR kita bersama

Kepedulian dan semangat Yudane dalam mengembangkan gamelan Bali dapat menjadi pemantik untuk memahami ilmu pengetahuan tentang gamelan itu sendiri. Ia membuat gamelan menjadi tetap hidup dan menemui jalan barunya, tidak hanya jalan di tempat. Semangatnya saya kira perlu dijadikan pijakan bagi komponis muda Bali, dan tidak menutup diri dari perkembangan-perkembangan yang lain. Segala perubahan yang terjadi memang harus kita terima sebagai konsekuensi zaman dan perkembangan pikiran manusia. Rasanya tak ada gunanya lagi meributkan yang tradisi dan yang kontemporer secara terus-menerus. 

Tautan terkait:

https://europalia.eu/en/article/i-wayan-gde-yudane-gamelan-wrdhi-swaram_1238.html

Foto oleh: Rudi Waisnawa | Editor: Erie Setiawan

 

1107 x dilihat

Prev Next