Musik, Seni, dan Kode - Pagelaran Algorave Indonesia #1

04-05-2021 22:32

Rangga Purnama Aji


Art Music Today Image

Oleh Rangga Purnama Aji

(Komponis, Video Artist, Live Coder, Direktur Program di October Meeting - Contemporary Music & Musicians)

Pada 22 April 2021 yang lalu telah berlangsung sebuah pertunjukan musik & audio-visual yang diselenggarakan oleh Paguyuban Algorave Indonesia. Pertunjukan tersebut bertajuk Pagelaran Algorave Indonesia #1. Biar langsung ngeh, silakan kalian by pass dengan klik link ini untuk menyaksikan dokumentasinya:

https://www.youtube.com/watch?v=JUjgZQaRvq4&t=1957s.

Acara tersebut menampilkan 13 musisi & seniman dengan tampilan pertunjukan yang cukup beragam. Hal menarik yang cukup kuat terlihat dari pertunjukan tersebut adalah rata-rata penampilan yang disajikan menghadirkan kode dan algoritma yang disusun secara langsung maupun telah dipersiapkan sebelumnya. Pertunjukan tersebut mungkin masih terasa asing dan baru, namun pertunjukan yang seperti ini sejatinya sudah memiliki namanya sendiri, yaitu Algorave.

 

Sekilas Algorave

Algorave merupakan sebuah acara di mana orang-orang menari dengan iringan musik maupun visual yang dihasilkan dari implementasi algoritma pada komputer, seringkali menggunakan teknik live coding pada pertunjukannya oleh para musisi (biasa disebut live coder) di atas panggung[1]. Istilah ini dikemukakan oleh Alex McLean dan Nick Collins pada tahun 2011, di mana acara pertama dengan istilah tersebut diselenggarakan di London, Inggris. Acara pertunjukan Algorave mungkin masih bisa dibilang cukup muda, namun pertunjukan musik berbasis live coding sendiri sejatinya sudah dimulai sejak tahun 1985 oleh Ron Kuivila yang menampilkan karya berjudul Water Surface di STEIM, Amsterdam.

Menurut Riccardo Ancona (seorang creative coder dan sound designer), “live coding adalah sebuah bentuk improvisasi yang melibatkan penulisan kode secara langsung, dimana hal tersebut dapat diaplikasikan pada beberapa bentuk media seperti suara, gambar, puisi, mesin, dsb”[2]. Karena lekatnya hal ini dengan komputer, penulisan/penyusunan kode secara langsung tersebut diperuntukkan pada sebuah program/mesin yang sedang dijalankan. Seringkali pada praktiknya, aktivitas penyusunan kode yang dilakukan secara langsung tersebut dapat berangkat dari tidak ada kode sama sekali (from scratch) atau dari mengembangkan susunan kode yang sudah dipersiapkan sebelumnya (half-prepared).

 

Sederet Penampil

Penampilan pertama dari acara Pagelaran Algorave Indonesia #1 dibuka oleh Kharisma & Yuri yang berasal dari Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Menampilkan sebuah pertunjukan network live coding music menggunakan sebuah perangkat lunak live coding bernama FoxDot dan Flok untuk aktivitas penyusunan kode secara bersama-sama dalam sebuah jaringan. Musik yang dihadirkan terasa minimalis dengan hentakan beat techno yang sangat khas menjaga konsistensi tempo, ditambah dengan ornamen-ornamen bunyi yang sedikit demi sedikit dihadirkan dan kemudian diolah membentuk tekstur poliponi yang cukup ramah dan menyenangkan di telinga pendengar. Musiknya disusun menggunakan teknik live coding from scratch yang membuat kita dapat merasakan tiap-tiap perubahan konten musikal yang dihadirkan dalam tiap momentum-momentum yang ada. Disamping itu, pertunjukan duo tersebut juga menampilkan animasi yang diulang-ulang dan cukup memberikan kesan futuristik sehingga antara karakteristik musik dengan visualnya terasa saling menguatkan.

Penampilan kedua dilanjutkan oleh Jay Afrisando yang menampilkan proses manipulasi pada sampel audio potongan track lagu Baby Shark Dance yang merupakan aransemen dari sebuah lagu anak-anak tradisional oleh Pinkfong (Smart Study Co., Ltd.), KizCastle. Menggunakan teknik live coding, granulasi, modulasi, serta manipulasi sinyal lainnya dengan sebuah perangkat lunak sintesis audio berbasis script bernama Super Collider untuk membuat varian hasil bunyi-bunyian yang sangat beragam. Hal tersebut Ia lakukan dengan mengembangkan serta merubah susunan kode yang telah dipersiapkan sebelumnya. Pada penampilan ini, pendengar dapat merasakan varian bunyi-bunyian yang diolah dari sampel potongan track tersebut hingga pada takaran mutasi yang unik dan menarik.

Penampilan ketiga diisi oleh bahtera.rar yang menampilkan sesi live coding music menggunakan perangkat lunak bernama TidalCycles yang bisa dibilang cukup populer di dalam ranah Algorave serta pertunjukan live coding music. Musik yang disajikan sangat memberikan kesan minimal, hangat, serta repetitif dengan memanfaatkan kombinasi-kombinasi dari banyak bunyi-bunyian yang diolah secara musikal. Dengan tempo yang bisa terbilang “pas” untuk membawa pendengar dengan santai menikmati alunan melodi, harmoni, serta ritme yang dirasa stabil. Dalam pertunjukan ini bahtera.rar terlebih dahulu mempersiapkan susunan kode yang kemudian dikembangkan secara langsung dan bertahap.

Penampilan yang keempat diisi oleh Fahmi Mursyid yang menampilkan dua sesi pertunjukan live coding music menggunakan perangkat lunak bernama Sonic Pi yang diintegrasikan dengan perangkat keras synthesizer dan synthesizer modular. Musik yang dihadirkan pada sesi pertama sangatlah minimalis, kontemplatif, repetitif, dengan tekstur timbre yang ramah dan hangat di telinga pendengar. Memanfaatkan gelombang sinus dan gelombang bunyi buatan lain yang diolah sedemikian rupa beserta ornamen-ornamen bunyi tambahan lainnya untuk mencapai kesan musik latar yang cukup berkesan menenangkan. Pada sesi kedua, musik yang dihadirkan berbeda dengan sebelumnya, dimana pola ritme hentakan sampel audio drum, tepuk tangan, hi-hat, dan suara synthesizer pendek-sedang yang membentuk akor dibunyikan secara hampir bersamaan dengan pola yang cukup unik. Sangat terasa bagaimana implementasi sistem generatif dan algoritma pengacakan benar-benar diterapkan pada pengaturan momentum pola ritmenya.

Penampilan kelima dilanjutkan oleh invinixity bersama BASASAE yang menampilkan pertunjukan live coding visual menggunakan perangkat lunak bernama KodeLife yang dimana konten-konten visual yang dihadirkan secara reaktif dipengaruhi oleh informasi sinyal dari karya live coding music ciptaan duo BASASAE berjudul Humble Saturation (2020). Animasi visual yang dihadirkan dalam pertunjukan ini sangatlah menarik dan variatif. Perpaduan serta kontras warna hitam putih dengan warna-warna yang dirasa memiliki kesan “psychedelic” benar-benar memperkuat bentuk-bentuk dan pola transformasi visual yang beragam. Ditambah dengan suasana musik yang berkesan ringan serta ramah oleh BASASAE, dimana mereka berupaya untuk menyematkan gagasan musik tradisional dan jazz pada karya mereka tersebut. Pada pertunjukan ini sangatlah terasa bahwa visual dan audio menjadi dua hal yang berbeda namun tetap lekat tak terpisahkan.

Penampilan yang keenam diisi oleh Maria Maya Aristya, yang secara solo menampilkan pertunjukan live coding music from scratch dengan perangkat lunak TidalCycles. Perlu diketahui bahwa bagi sebagian live coder, pertunjukan live coding secara from scratch dapat terbilang cukup menantang dikarenakan terdapat resiko dimana mesin/perangkat lunak yang digunakan sewaktu-waktu bisa berhenti bekerja dikarenakan adanya error akibat penyusunan sintaks yang tidak tepat. Dapat terlihat bagaimana Maria sangat berhati-hati terhadap kode yang disusunnya agar bunyi-bunyian yang disajikan dapat terbangun dengan baik. Mengenai musik yang dihadirkan sangat terasa kesan minimalis, repetitif, meditatif, serta kontemplatif berdasarkan pemanfaatan dentingan-dentingan bunyi lembut-tajam-tinggi yang amat beragam dan berpadu dengan varian pola musikal yang lainnya. Pada penampilan ini, proses penyusunan kode secara langsung serta pola-pola musikal yang hadir sangatlah terasa dan semakin menambah keunikan performatifnya sendiri.

Penampilan ketujuh diisi oleh t1mpuk yang menampilkan pertunjukan live coding music menggunakan perangkat lunak TidalCycles yang diintegrasikan dengan perangkat keras synthesizer modular. Musik yang dihadirkan terasa sangat repetitif, minimalis, dan unik dimana area frekuensi yang cukup rendah dikondisikan menjadi sangat dominan berpadu dengan beat techno serta ornamen-ornamen bunyi lain yang membuatnya semakin kuat dan kokoh. Hal menarik lain yang dirasa cukup menantang dari penampilan ini adalah aktivitas live coding dan kontrol synthesizer modular yang hampir dilakukan secara bersamaan. Sangat terlihat bagaimana proses yang kompleks dari kedua aktivitas tersebut ditambah dengan intensitas musik yang disajikan terasa begitu menyatu dan tidak terpisahkan.

Penampilan kedelapan menampilkan pertunjukan dari Kursi Ketik Ensemble bersama Gigih Alfajar yang menghadirkan penampilan network live coding music menggunakan perangkat lunak bernama Estuary dengan bahasa pemrograman untuk live coding yang bernama MiniTidal. Penampilan ini dilakukan secara remote, dimana Kursi Ketik Ensemble yang berada di Yogyakarta dan Gigih Alfajar yang berada di Pontianak melakukan aktivitas live coding from scratch secara bersama-sama dalam satu jaringan. Musik yang dihadirkan memiliki kesan minimalis, repetitif, dengan nuansa beat rock pada drum yang terasa cukup kuat. Dapat terlihat dan terdengar pula bagaimana perpaduan ornamen-ornamen bunyi lain dari pemrosesan sampel audio tabla, drone saksofon, suara lengkingan manusia, suara rekaman prajurit modern, suara bayi, serta suara perempuan yang mengucapkan angka dalam bahasa inggris menambah keberagaman serta keunikan dari atraksi audio yang dihadirkan.

Penampilan yang kesembilan diisi oleh Rifal Taufani, menampilkan pertunjukan live coding music secara solo menggunakan perangkat lunak Sonic Pi. Memadukan teknik half-prepared live coding dan live coding from scratch, dirinya terlihat berupaya untuk membangun sebuah musik yang minimalis, meditatif, kontemplatif, serta memberikan nuansa yang menenangkan pada pendengar. Perpaduan sampel audio dari rekaman akor gitar, tabla, hi-hat, suara built-in synthesizer bernama “chipbass” serta beberapa bunyi lain yang disusun serta diproses dengan sedemikian rupa, membuat penampilan yang tersajikan ini menjadi terasa lebih intim.

Penampilan kesepuluh diisi oleh manticore yang menampilkan sebuah pertunjukan audio-visual, dengan memperlihatkan tampilan grafik candle chart dalam perangkat lunak trading yang datanya disonifikasi dan dipadukan dengan manipulasi gaung pada suara sampel audio vokal perempuan. Hasil sonifikasi dari data trading tersebut terdengar seperti hasil sintesis gelombang bunyi dengan teknik bernama amplitude modulation berfrekuensi rendah yang statis namun sewaktu-waktu dapat berubah. Hal menarik yang bisa ditangkap dari penampilan ini adalah bagaimana data trading yang selalu berubah-ubah tersebut dimanfaatkan dengan sedemikian rupa sehingga menghasilkan varian bunyi yang minimal, kuat, dan musikal.

Penampilan kesebelas dilanjutkan oleh Patrick Hartono, menampilkan sebuah pertunjukan audio-visual yang terasa sekali menghadirkan persepsi visual serta audio yang berada di antara karakteristik organik dan sintetis. Animasi yang dihadirkan terlihat seperti kobaran api yang bergejolak dan mengambang dikelilingi oleh latar suasana langit malam serta awan buatan yang bergerak mengitarinya. Animasi tersebut nampak disusun dari serpihan-serpihan pixel warna yang sangat banyak hingga dapat dirasakan sejenak bagaimana cair dan organiknya pergerakan animasi tersebut. Musik yang dihadirkan pun benar-benar memperkuat atraksi visual yang dihadirkan dengan varian manipulasi sinyal yang sedemikian rupa memberikan kesan persepsi audio yang berada pada takaran karakter organik, sintetik, dan diantara keduanya.

Penampilan yang keduabelas diisi oleh Tomy Herseta, menampilkan sebuah pertunjukan live coding music dan visual menggunakan perangkat lunak Sonic Pi dan Hydra. Penampilannya dibuka dengan pembangunan atmosfir musikal yang menjadi latar, sebelum kemudian gemuruh petir sintetis dibunyikan untuk memberikan kontras pada kondisi meditatif yang terbangun. Bunyi petir sintetis tersebut kemudian dibunyikan kembali dengan jangka waktu yang cukup padat bersamaan dengan varian-varian bunyi yang direpetisi sehingga kondisi meditatif tersebut semakin kuat terasa. Nantinya seluruh perpaduan ini berkembang menjadi semakin padat dan intens hingga klimaks dari tangga dramatik yang terbangun menjadi dapat terasakan, sebelum diakhiri dengan mengurangi dan melonggarkan kepadatan serta intensitas musikal tersebut. Visual yang dihadirkan pun juga turut menambah kuat perkembangan tangga dramatik yang dibangun. Dengan pola-pola dan bentuk yang bervarian, serta pengaturan reaktif pada Hydra yang merespon informasi sinyal dari Sonic Pi benar-benar membuat kedua aspek audio dan visual melekat tidak dapat terpisahkan.

Penampilan ketigabelas sebagai penutup, diisi oleh Rangga Purnama Aji yang menampilkan pertunjukan live coding music menggunakan perangkat lunak TidalCycles. Dalam pertunjukan tersebut, Rangga menghadirkan dua sesi penampilan dengan mengkombinasikan teknik live coding from scratch dan half-prepared. Penampilan pertama dibuka dengan membunyikan sampel audio sebuah tembang macapat sebanyak 32 kali yang tiap pembunyiannya diberikan jeda sekitar 1/32 detik. Kemudian belum selesai bagian tersebut berakhir, secara berangsur-angsur ditambahkan sebuah pola musikal yang penuh akan manipulasi sinyal untuk turut mendampingi atraksi audionya. Momen tersebut menjadi awal dari aktivitas pengembangan kode-kode yang telah disusun dengan menerapkan teknik live coding from scratch dan half-prepared. Pada sesi kedua, menampilkan sebuah karya berjudul Goyah (2020) yang diawali dengan bunyi denyutan-denyutan gelombang bunyi sintetis yang padat, panjang, serta saling bersaut-sautan antara satu dengan yang lain. Kemudian dilanjutkan dengan ditambahkannya ornamen-ornamen musikal seperti bunyi glitch yang acak beserta pola beat bertempo sedang-cepat yang saling berpadu membangun sebuah kesan kontemplatif. Sesi kedua tersebut diakhiri dengan kemunculan bunyi-bunyi gelombang bunyi sintetis yang telah mengalami granulasi, modulasi pitch, serta manipulasi sinyal lainnya yang menjadi kontras dengan apa yang telah dibangun sebelumnya.

 

Dukung Paguyuban Algorave Indonesia!

Dari apa yang telah disajikan oleh ke-13 penampil dalam agenda Pagelaran Algorave Indonesia #1 ini, meskipun tidak semuanya menggunakan teknik live coding, tidaklah menjadi sebuah masalah selama terdapat kode dan algoritma yang dilibatkan dalam tiap penampilannya. Hal ini juga dianggap tidak menjadi masalah agar agenda ruang pertunjukan yang diinisiasi oleh Paguyuban Algorave Indonesia tetap dapat terbuka bagi siapapun yang tertarik dan berminat.

Mengenai komunitas tersebut, Paguyuban Algorave Indonesia merupakan sebuah komunitas non-profit terbuka yang dibentuk untuk merangkul para pelaku live coding dan yang berelasi di Indonesia. Komunitas ini berorientasi sebagai ruang terbuka untuk berjejaring, edukasi, serta informasi terkait hal-hal yang terintegrasi dengan praktik live coding baik itu pertunjukan, workshop, diskursus, kajian, dan sejenisnya. Komunitas ini diinisiasi oleh Rangga Purnama Aji bersama Maria Maya Aristya, Mohammad Ali Azca Atmaditia, Muhammad Khoirur Roziqin, dan Bagaskoro Saputro. Berawal dari keinginan untuk membuka serta berbagi wawasan dan pengetahuan pada konteks seni pertunjukan atau apapun yang berhubungan dengan praktik live coding.

Berdasarkan apa yang menjadi orientasi dari Paguyuban Algorave Indonesia tersebut, upaya untuk berbagi pengetahuan serta hal apapun mengenai live coding dan yang berelasi sudah perlu untuk dibuka dan telah dianggap penting untuk tidak menjadi eksklusif.

 

 

Beberapa referensi lain:

  1. https://algorave.com/
  2. https://toplap.org/
  3. https://www.instagram.com/paguyubanalgorave.id/

*Thumbnail didesain oleh Mohammad Ali Azca Atmaditia



[1] Disadur dan ditranslasi dari https://en.wikipedia.org/wiki/Algorave.

[2] Berdasarkan apa yang Riccardo Ancona sampaikan di dalam sebuah workshop virtual mengenai live coding, yang diselenggarakan oleh WeSA (https://www.wesa.kr/) bekerja sama dengan Umanesimo Artificiale (https://www.instagram.com/umanesimo.artificiale/) pada tahun 2020.

 

394 x dilihat

Prev Next

Login Member

forgot password?
Kabar Berita
PERJALANAN BUNYI YUDANE

2998 x dilihat

9 Tahun Art Music Today

4526 x dilihat