Ziarah ke Jantung Bartok

12-08-2019 19:12

Art Music Today


Art Music Today Image

 

 

Oleh: Gardika Gigih

Dulu hanya membayangkan, sekarang jadi kenyataan.

  •  

Di hadapan jendela kamar, sambil memandangi lampu-lampu yang berkelap-kelip dari kejauhan di bukit Buda, saya mendengarkan “Magyar képek” atau “Hungarian Pictures” karya seorang komponis favorit saya dari Hungaria, Bartok Bela. Komposisi untuk orkestra ini selesai ditulis Bartok Bela pada tahun 1931. Awalnya, komposisi ini dibuat Bartok untuk instrumen piano dalam kurun perjalanannya ke berbagai wilayah di Hungaria dan Rumania untuk merekam, menranskrip dan meneliti lagu-lagu dan musik rakyat. “Magyar képek” terdiri dari lima bagian, bagian pertama “Este a székelyeknél” (“Evening in The Village) dibuka dengan melodi klarinet pentatonis yang begitu mengawang dan damai, diikuti dengan melodi flute yang lincah dan iringan pizzicato yang ringan pada instrumen strings. Bagian yang begitu manis dan indah ini saya dengarkan berulang-ulang, sembari melemparkan pandangan pada kerlap-kerlip lampu dari rumah-rumah dan sesekali lampu-lampu mobil yang melintasi jalanan membelah bukit Buda yang damai. Malam ini di Budapest, musik Bartok terasa begitu hidup dan menggetarkan.

Lamunan saya terbang. Tidak jauh dari kamar saya[1], kurang dari tujuh kilometer ke arah Barat Laut, di sanalah rumah Bartok Bela, tepatnya di Jalan Csalán 29, 1025, Budapest. Kurang dari dua minggu lalu, pada hari minggu siang tanggal 28 Juli 2019 saya menyempatkan diri untuk mengunjunginya. Rumah yang menjadi kediaman Bartok Bela pada tahun 1932-1940 ini sejak tahun 1981 telah menjadi Bartók Béla Emlékház atau Bela Bartok Memorial House atas prakarsa dari putra Bartok.

Kunjungan ini terasa seperti sebuah peziarahan, sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Perjalanan saya dimulai dengan naik villamos, tram nomor 61 dari Alsohegy Utca[2] ke arah Holvosegy Utca. Kemudian saya berhenti di Zuhatag sor, perhentian yang paling dekat dengan rumah Bartok Bela. Untuk menuju Bela Bartok Memorial House saya musti berjalan sejauh kurang lebih 600 meter menyusuri jalanan kecil dan gang-gang di sela-sela perumahan. Rumah-rumah penduduk banyak dihiasi dengan taman-taman kecil dan bunga-bunga. Suasana daerah ini begitu tenang dan asri. Jauh lebih tenang dibandingkan dengan pusat keramaian di tepian sungai Danube yang seringkali padat dengan wisatawan itu.

Setelah beberapa saat berjalan, sampailah saya di sebuah persimpangan. Di seberang jalan, di situlah tampak Bela Bartok Memorial House. Setelah membunyikan bel dan mengutarakan tujuan kunjungan saya melalui mesin pesan suara, pintu pagar besi dengan sistem kuncian otomatis itu dibukakan oleh petugas yang ada di dalam dan saya dipersilakan masuk.

Saya musti mengatakan betapa bahagia dan mengharukan ketika menjejakkan kaki menyusuri halaman rumah Bartok Bela, komponis yang banyak menginspirasi saya ini. Sewaktu saya belajar mengenai penelitian Bartok tentang musik dan lagu-lagu rakyat, saya hanya bisa membayang-bayangkannya di rumah kontrakan saya di Yogyakarta, nun jauh di Indonesia, ribuan kilometer dari sini. Melamun sambil memandangi lembar demi lembar buku-buku referensi itu. Kini, saya berkesempatan bertamu ke rumah Bartok.

Setelah membayar tiket seharga 1400 forint (kira-kira hampir Rp. 70.000,-), peziarahan saya dimulai. Seorang staf memandu kami dalam kunjungan ini. Saat itu saya bersama satu keluarga yang datang dari Belanda, dan ada beberapa pengunjung lokal sebelum kedatangan kami. Staf tersebut menjelaskan bahwa rumah ini terdiri dari tiga lantai dengan fungsinya masing-masing dan kami akan dipandu sepenuhnya selama beberapa waktu ke depan. 

Kami menyusuri tangga menuju lantai dua. Lantai dua ini adalah sebuah tempat konser mini yang bisa menampung beberapa puluh audiens. Di dinding sepanjang ruangan ini, terpajang foto-foto Bartok, baik saat ia melakukan perjalanan penelitian, saat ia bersama keluarga dan anaknya, saat ia bermusik, dan masih banyak lagi. Beberapa foto ini, yang juga merupakan foto-foto mengenai Bartok yang amat terkenal dan sering muncul di berbagai literatur, diambil di rumah ini. Kenyataan ini membuat saya merinding. Oh ya, sebelumnya saya minta maaf karena tidak bisa menyampaikan foto-foto di dalam ruangan, karena pengunjung hanya diperbolehkan memotret di luar ruangan.

Kemudian, kami melangkah menuju ke lantai tiga, tempat dimana berbagai koleksi etnografi Bartok selama penelitian etnomusikologinya dipajang rapih. Mulai dari furnitur tradisional, dari almari, kursi, meja, kemudian beberapa instrumen tradisi dari berbagai daerah di Hungaria dan Rumania (saya lupa mencatat namanya, mohon maaf), hingga beberapa koleksi tanaman dan serangga yang diawetkan, dan di sebelahnya terdapat partitur salah satu mahakarya Bartok, “Mikrokosmos”. Dari koleksi-koleksi inilah saya bisa membayangkan dan merasakan betapa Bartok sangat mencurahkan energi dan rasa cintanya untuk meneliti lagu-lagu dan musik rakyat, sebuah identitas yang tak pernah bisa dipisahkan dari nama besarnya sebagai seorang komponis. Di ruangan ini pula terpajang mantel dan kasut Bartok yang merupakan pakaian favoritnya saat meneliti menyusuri desa-desa, juga sebuah bekas puntung rokok yang ditemukan dalam grand piano di ruang kerjanya.

Ruang kerja Bartok juga berada di lantai tiga ini. Di ruang kerjanya terdapat sebuah grand piano Bossendorfer dan di meja kerjanya terdapat sebuah mesin ketik, sebuah alat perekam dan gramaphone dan sebuah headphone. Kata pemandu, di masa itu peralatan audio ini sudah begitu canggih.

Saya hampir menitikkan air mata saat berdiri di hadapan ruang kerja Bartok.

Sebuah pengalaman yang begitu berharga, sebab di sinilah Bartok biasanya menranskrip hasil-hasil rekaman nyanyian rakyat yang ditelitinya di berbagai daerah. Di sini pula, Bartok banyak menulis karya-karyanya. Selama kurun tahun 1932-1940 di rumah ini, Bartok menulis beberapa mahakaryanya, seperti “Mikrokosmos”, sebuah seri karya piano yang didedikasikan untuk putranya Peter yang mulai belajar piano, kemudian “Music for Celesta, String and Percussion”, “String Quartet No. 5”, “String Quartet No. 6”, “Hungarian Folk Songs”, “Hungarian Dances”.

Setelah merasa cukup memandangi berbagai artefak di lantai tiga ini, kami melangkah turun. Sebelum perjalanan berakhir, pemandu menunjukkan kepada kami tiga buah kain berwarna merah, putih dan hijau, yang digantung memanjang dari atap hingga lantai satu, tepat berada di tengah-tengah lorong tangga itu. Merah, putih, hijau, warna bendera Hungaria. Pada kain inilah tercetak sketsa partitur karya terakhir Bartók, “Konserto Piano Nomor 3” yang ia dedikasikan untuk istrinya, Ditta Pásztory-Bartók. Rencananya karya ini akan menjadi hadiah kejutan untuk ulang tahun Ditta yang jatuh pada tanggal 31 Oktober. Namun karena kondisi kesehatan yang kian menurun akibat penyakit leukimia yang dideritanya, Bartok tidak mampu menyelesaikan karya ini. Di lembar terakhir, ia menuliskan “vége”, dalam bahasa Hungaria artinya selesai. Karya ini ditulis Bartok bukan di Hungaria, melainkan di New York, Amerika Serikat pada 1945.

Ya, sayang sekali, akibat gejolak politik dan situasi keamanan yang semakin tidak pasti akibat Perang Dunia II, Bartok Bela mesti meninggalkan negeri yang begitu dicintainya ini menuju Amerika Serikat pada 1940. Keyakinan Bartok akan politik anti-fasisme telah membuat posisinya dan keluarganya kian tidak aman. Ia kemudian tidak pernah dapat kembali lagi ke negeri yang amat dicintainya hingga hari kematiannya pada 26 September 1945, di New York. Rumah ini terus menjadi saksi akan ikatan hati dan jiwa Bartok dengan negerinya.

Malam ini, di hadapan bukit Buda ini, tidak jauh dari kediaman di mana Bartok Bela pernah menghasilkan berbagai mahakaryanya, saya kian tenggelam dalam alunan “Magyar képek”. Musik Bartok Bela yang banyak diilhami oleh nyanyian-nyanyian dan musik rakyat akan terus hidup dalam denyut nadi negeri ini. Terus hidup bagai aliran sungai Duna[3] yang indah. 

 

Kamis, 9 Agustus 2019.

Menjelang tengah malam di Budapest, Hungaria.

Foto2: Gardika Gigih/Editor: Erie Setiawan


[1]Saya tinggal di asrama Balassi Intezet, Budapest

[2] Dalam bahasa Hungaria, Utca berarti jalan

[3]Panggilan masyarakat Hungarian untuk sungai Danube

 

201 x dilihat

Prev Next

Login Member

forgot password?
Kabar Berita
PERJALANAN BUNYI YUDANE

2047 x dilihat

9 Tahun Art Music Today

648 x dilihat