Kategori: Esai & Opini

Eksplorasi pemikiran, kritik, dan berita terbaru seputar dunia seni dan musik hari ini.

Ziarah ke Jantung Bartok
12 Aug 2019 Redaksi 3.120 Views

Ziarah ke Jantung Bartok

    Oleh: Gardika Gigih Dulu hanya membayangkan, sekarang jadi kenyataan.   Di hadapan jendela kamar, sambil memandangi lampu-lampu yang berkelap-kelip dari kejauhan di bukit Buda, saya mendengarkan “Magyar képek” atau “Hungarian Pictures” karya seorang komponis favorit saya dari Hungaria, Bartok Bela. Komposisi untuk orkestra ini selesai ditulis Bartok Bela pada tahun 1931. Awalnya, komposisi ini dibuat Bartok untuk instrumen piano dalam kurun perjalanannya ke berbagai wilayah di Hungaria dan Rumania untuk merekam, menranskrip dan meneliti lagu-lagu dan musik rakyat. “Magyar képek” terdiri dari lima bagian, bagian pertama “Este a székelyeknél” (“Evening in The Village) dibuka dengan melodi klarinet pentatonis yang begitu mengawang dan damai, diikuti dengan melodi flute yang lincah dan iringan pizzicato yang ringan pada instrumen strings. Bagian yang begitu manis dan indah ini saya dengarkan berulang-ulang, sembari melemparkan pandangan pada kerlap-kerlip lampu dari rumah-rumah dan sesekali lampu-lampu mobil yang melintasi jalanan membelah bukit Buda yang damai. Malam ini di Budapest, musik Bartok terasa begitu hidup dan menggetarkan. Lamunan saya terbang. Tidak jauh dari kamar saya[1], kurang dari tujuh kilometer ke arah Barat Laut, di sanalah rumah Bartok Bela, tepatnya di Jalan Csalán 29, 1025, Budapest. Kurang dari dua minggu lalu, pada hari minggu siang tanggal 28 Juli 2019 saya menyempatkan diri untuk mengunjunginya. Rumah yang menjadi kediaman Bartok Bela pada tahun 1932-1940 ini sejak tahun 1981 telah menjadi Bartók Béla Emlékház atau Bela Bartok Memorial House atas prakarsa dari putra Bartok. Kunjungan ini terasa seperti sebuah peziarahan, sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Perjalanan saya dimulai dengan naik villamos, tram nomor 61 dari Alsohegy Utca[2] ke arah Holvosegy Utca. Kemudian saya berhenti di Zuhatag sor, perhentian yang paling dekat dengan rumah Bartok Bela. Untuk menuju Bela Bartok Memorial House saya musti berjalan sejauh kurang lebih 600 meter menyusuri jalanan kecil dan gang-gang di sela-sela perumahan. Rumah-rumah penduduk banyak dihiasi dengan taman-taman kecil dan bunga-bunga. Suasana daerah ini begitu tenang dan asri. Jauh lebih tenang dibandingkan dengan pusat keramaian di tepian sungai Danube yang seringkali padat dengan wisatawan itu. Setelah beberapa saat berjalan, sampailah saya di sebuah persimpangan. Di seberang jalan, di situlah tampak Bela Bartok Memorial House. Setelah membunyikan bel dan mengutarakan tujuan kunjungan saya melalui mesin pesan suara, pintu pagar besi dengan sistem kuncian otomatis itu dibukakan oleh petugas yang ada di dalam dan saya dipersilakan masuk. Saya musti mengatakan betapa bahagia dan mengharukan ketika menjejakkan kaki menyusuri halaman rumah Bartok Bela, komponis yang banyak menginspirasi saya ini. Sewaktu saya belajar mengenai penelitian Bartok tentang musik dan lagu-lagu rakyat, saya hanya bisa membayang-bayangkannya di rumah kontrakan saya di Yogyakarta, nun jauh di Indonesia, ribuan kilometer dari sini. Melamun sambil memandangi lembar demi lembar buku-buku referensi itu. Kini, saya berkesempatan bertamu ke rumah Bartok. Setelah membayar tiket seharga 1400 forint (kira-kira hampir Rp. 70.000,-), peziarahan saya dimulai. Seorang staf memandu kami dalam kunjungan ini. Saat itu saya bersama satu keluarga yang datang dari Belanda, dan ada beberapa pengunjung lokal sebelum kedatangan kami. Staf tersebut menjelaskan bahwa rumah ini terdiri dari tiga lantai dengan fungsinya masing-masing dan kami akan dipandu sepenuhnya selama beberapa waktu ke depan.  Kami menyusuri tangga menuju lantai dua. Lantai dua ini adalah sebuah tempat konser mini yang bisa menampung beberapa puluh audiens. Di dinding sepanjang ruangan ini, terpajang foto-foto Bartok, baik saat ia melakukan perjalanan penelitian, saat ia bersama keluarga dan anaknya, saat ia bermusik, dan masih banyak lagi. Beberapa foto ini, yang juga merupakan foto-foto mengenai Bartok yang amat terkenal dan sering muncul di berbagai literatur, diambil di rumah ini. Kenyataan ini membuat saya merinding. Oh ya, sebelumnya saya minta maaf karena tidak bisa menyampaikan foto-foto di dalam ruangan, karena pengunjung hanya diperbolehkan memotret di luar ruangan. Kemudian, kami melangkah menuju ke lantai tiga, tempat dimana berbagai koleksi etnografi Bartok selama penelitian etnomusikologinya dipajang rapih. Mulai dari furnitur tradisional, dari almari, kursi, meja, kemudian beberapa instrumen tradisi dari berbagai daerah di Hungaria dan Rumania (saya lupa mencatat namanya, mohon maaf), hingga beberapa koleksi tanaman dan serangga yang diawetkan, dan di sebelahnya terdapat partitur salah satu mahakarya Bartok, “Mikrokosmos”. Dari koleksi-koleksi inilah saya bisa membayangkan dan merasakan betapa Bartok sangat mencurahkan energi dan rasa cintanya untuk meneliti lagu-lagu dan musik rakyat, sebuah identitas yang tak pernah bisa dipisahkan dari nama besarnya sebagai seorang komponis. Di ruangan ini pula terpajang mantel dan kasut Bartok yang merupakan pakaian favoritnya saat meneliti menyusuri desa-desa, juga sebuah bekas puntung rokok yang ditemukan dalam grand piano di ruang kerjanya. Ruang kerja Bartok juga berada di lantai tiga ini. Di ruang kerjanya terdapat sebuah grand piano Bossendorfer dan di meja kerjanya terdapat sebuah mesin ketik, sebuah alat perekam dan gramaphone dan sebuah headphone. Kata pemandu, di masa itu peralatan audio ini sudah begitu canggih. Saya hampir menitikkan air mata saat berdiri di hadapan ruang kerja Bartok. Sebuah pengalaman yang begitu berharga, sebab di sinilah Bartok biasanya menranskrip hasil-hasil rekaman nyanyian rakyat yang ditelitinya di berbagai daerah. Di sini pula, Bartok banyak menulis karya-karyanya. Selama kurun tahun 1932-1940 di rumah ini, Bartok menulis beberapa mahakaryanya, seperti “Mikrokosmos”, sebuah seri karya piano yang didedikasikan untuk putranya Peter yang mulai belajar piano, kemudian “Music for Celesta, String and Percussion”, “String Quartet No. 5”, “String Quartet No. 6”, “Hungarian Folk Songs”, “Hungarian Dances”. Setelah merasa cukup memandangi berbagai artefak di lantai tiga ini, kami melangkah turun. Sebelum perjalanan berakhir, pemandu menunjukkan kepada kami tiga buah kain berwarna merah, putih dan hijau, yang digantung memanjang dari atap hingga lantai satu, tepat berada di tengah-tengah lorong tangga itu. Merah, putih, hijau, warna bendera Hungaria. Pada kain inilah tercetak sketsa partitur karya terakhir Bartók, “Konserto Piano Nomor 3” yang ia dedikasikan untuk istrinya, Ditta Pásztory-Bartók. Rencananya karya ini akan menjadi hadiah kejutan untuk ulang tahun Ditta yang jatuh pada tanggal 31 Oktober. Namun karena kondisi kesehatan yang kian menurun akibat penyakit leukimia yang dideritanya, Bartok tidak mampu menyelesaikan karya ini. Di lembar terakhir, ia menuliskan “vége”, dalam bahasa Hungaria artinya selesai. Karya ini ditulis Bartok bukan di Hungaria, melainkan di New York, Amerika Serikat pada 1945. Ya, sayang sekali, akibat gejolak politik dan situasi keamanan yang semakin tidak pasti akibat Perang Dunia II, Bartok Bela mesti meninggalkan negeri yang begitu dicintainya ini menuju Amerika Serikat pada 1940. Keyakinan Bartok akan politik anti-fasisme telah membuat posisinya dan keluarganya kian tidak aman. Ia kemudian tidak pernah dapat kembali lagi ke negeri yang amat dicintainya hingga hari kematiannya pada 26 September 1945, di New York. Rumah ini terus menjadi saksi akan ikatan hati dan jiwa Bartok dengan negerinya. Malam ini, di hadapan bukit Buda ini, tidak jauh dari kediaman di mana Bartok Bela pernah menghasilkan berbagai mahakaryanya, saya kian tenggelam dalam alunan “Magyar képek”. Musik Bartok Bela yang banyak diilhami oleh nyanyian-nyanyian dan musik rakyat akan terus hidup dalam denyut nadi negeri ini. Terus hidup bagai aliran sungai Duna[3] yang indah.    Kamis, 9 Agustus 2019. Menjelang tengah malam di Budapest, Hungaria. Foto2: Gardika Gigih/Editor: Erie Setiawan [1]Saya tinggal di asrama Balassi Intezet, Budapest [2] Dalam bahasa Hungaria, Utca berarti jalan [3]Panggilan masyarakat Hungarian untuk sungai Danube  

Air dan Bunyi untuk Kemanusiaan
09 Oct 2018 Redaksi 2.611 Views

Air dan Bunyi untuk Kemanusiaan

October Meeting 2018 “Reconnect” hari kedua (8/10) menyelenggarakan sebuah talkshow dengan tema yang sangat jarang dibahas: Terapi Bunyi dan Terapi Air. Menghadirkan dua narasumber, Mbah Koko.CR dan H.J. Endra J., diskusi ini menyoroti hubungan manusia dengan bunyi dan air yang sangat berpotensi untuk kesehatan, keselarasan, dan keseimbangan hidup. Talkshow ini diselenggarakan di KITASUKA Kitchen dan dipandu Erie Setiawan dari Art Music Today. Dalam presentasinya Mbah Koko menjelaskan dengan sangat detail frekuensi-frekuensi bunyi yang mampu menyelamatkan hidup manusia, sekaligus frekuensi yang bisa menghancurkan pelan-pelan. “Ibarat makanan, bunyi pun sama, kita perlu memilih, mana yang perlu mana yang tidak, mana yang kita butuhkan dan mana yang harus kita hindari,” ujarnya. Tapi bagaimana mungkin manusia modern, khususnya yang hidup di perkotaan yang bising punya kesempatan menyeleksi bunyi untuk telinganya? “Inilah yang sebetulnya ingin kita bangun, dimulai dengan kesadaran bahwa semua bunyi yang ada tidak seluruhnya produktif. Harus dibuat jadwal yang tegas, harus rutin menyepi untuk perimbangan hidup,” tambahnya. Dampak serius yang diakibatkan oleh “bunyi-bunyi jahat” yang menyerang otak (melalui telinga), sudah banyak terbukti. Sampai pada akibat yang paling fatal adalah manusia bisa kehilangan pendengaran, misalnya berada di pinggir jalan raya dan terus-menerus mendengar desibel yang tinggi. Banyak gejala yang bisa kita alami sehari-hari akibat kebisingan. Misalnya pusing, mual, kehilangan konsentrasi, panik, mudah emosi—itu tidak selalu diakibatkan kondisi biologis, melainkan juga fisiologis. Pada presentasi lain, Endra menjelaskan kaitan dari terapi bunyi dan terapi air. Air bisa menjadi media penyembuhan; udara sebagai penghantar bunyi dan suara juga mampu menyembuhkan. Manusia terhubung dengan semua itu, unsur alam yang sebaiknya kita maknai secara mendalam. Contoh praktik nyata adalah ketika kita berada di kolam namun bukan untuk berenang. “Berjalanlah saja, gerakkan tubuh secara teratur, ini menciptakan keteraturan bagi mekanisme tubuh dan memperbaharuhi sistem-sistem yang tidak produktif,” jelas Endra.  Talkshow dari Mbah Koko dan H.J. Endra J yang tergabung dalam Epiphyllum Relaxing Live Music ini memberi wawasan komprehensif mengenai bunyi sebagai unsur terapi bagi kehidupan manusia; dan air, yang jarang kita duga memiliki gelombang-gelombang bunyi yang positif, juga menjadi bagian dari kebijaksanaan kita memposisikan bunyi dan menggunakannya demi keselarasan hidup. Mulailah bijaksana untuk memposisikan bunyi dan air sebagai bagian penting dari kesehatan manusia, yang bisa menggantikan obat generik yang berjuta-juta harganya. (es/amt/foto: Tania).  

Gamelan Bali Pasca Reformasi
09 Oct 2018 Redaksi 2.383 Views

Gamelan Bali Pasca Reformasi

Hari kedua October Meeting "Reconnect" (9/10) juga diisi dengan sebuah diskusi menarik bertajuk New Music for Gamelan: Representasi Karawitan Bali di Era Kontemporer. Materi ini menghadirkan Ricky Irawan, dosen ISI Denpasar. Ia secara umum umum menjelaskan dualisme perspektif antara sebelum dan sesudah mengenal gamelan Bali lebih dekat. Pandangannya menarik perhatian dan turut mengajak para hadirin untuk menceritakan fenomena musik di masing-masing daerahnya. Diskusi ini dilaksanakan di KITASUKA Kitchen dan dimoderatori oleh Arya Deva Suryanegara dari Bali. Ricky mengawali presentasinya dengan bercerita tentang kondisi Pulau Bali sejak zaman kolonial. Ia mengatakan kebudayaan Bali sejak itu sudah kokoh, hingga Belanda ingin menjadikan kebudayaan Bali dianalogikan sebagai “museum hidup” yang tidak dimodernisasi. Konsep itu baginya masih berkembang sampai beberapa dekade terakhir. Apabila melihat Bali dari luar terkenal dengan daerah pariwisata, dan memiliki kesenian yang adiluhung. Sebagian orang juga mengetahui semaraknya acara-acara di Bali sebagai ikon keseniannya. Namun dugaan Ricky tidak sepenuhnya benar, karena ia melihat masih terdapat jenis-jenis karya atau kreativitas di Bali yang belum merepresentasikan ciri-khas Bali seutuhnya. Misalnya terdapat beberapa kelompok yang ingin mengembangkan gamelan Bali lebih jauh, namun tidak cukup terwadahi, seperti komponis Wayan Gde Yudane, Dewa Alit, Sang Nyoman Arsawijaya, Wayan Sudirana, dan komposer milenial lainnya. Pada akhir presentasi, para hadirin pun ikut menanggapi diskusi dengan berbagai komentar, seperti Andrien L’ Honore Naber dari Belanda yang memandang gamelan Bali perlu dikembangkan lebih jauh lagi. Sejalan yang ia lakukan ialah mencoba membawa gamelan ke ranah digital. Andrien pun akan turut berbagi pengetahuan pada diskusi harian (10/10) di Tembi Rumah Budaya (ary/amt/foto: Tika)

MUSIK-ROH-MANTIQ (Pengantar Mengenali Musik dalam Dimensi Kasat dan Misterius)
08 Jun 2020 Redaksi 3.602 Views

MUSIK-ROH-MANTIQ (Pengantar Mengenali Musik dalam Dimensi Kasat dan Misterius)

Oleh: Reza Zulianda   Manusia mampu memaknai musik melalui dua dimensi, dzahir dan bathin. Dzahir adalah yang serba fisik dan tampak jelas, misalnya mendengar lalu otomatis bergoyang. Bathin adalah yang serba metafisik dan abstrak (mendengar lalu menangis). Dalam bentangan dua kutub yang selalu tarik-menarik itu, musik akan menemui maknanya bagi kehidupan manusia. Jika kita lihat bentuk-bentuk aktivitas manusia dalam kebudayaan tradisional, maka musik sering muncul sebagai jembatan untuk menuju gerbang-gerbang spiritual. Dalam ritual adat maupun keagamaan misalnya, seringkali kita menemui musik turut dilibatkan di sana, baik secara utuh maupun samar-samar. Sebagai contoh di Kepulauan Riau ada sebuah “pusaka” terkenal bernama Gurindam 12. Pusaka dalam bentuk sastra Melayu lama hasil karya Raja Ali Haji ini terdiri dari 12 pasal. Setiap pasal memiliki makna sesuai dengan kadar makrifah tertentu, dimulai pada asas-asas yang fundamental (dzahir) hingga berangsur ke sesuatu yang ghaib-tersembunyi (bathin). Teks dalam gurindam, apabila dilantukan dengan kebiasaannya, dapat dicerna sebagai sesuatu yang dzahir, dan bisa dimengerti dengan logika (mantiq), walaupun pada tiap-tiap letupan bunyi-kata yang diucapkan serta gerak melodinya memiliki daya pikat yang sebenarnya sangat bersifat abstrak. Fenomena ini pula yang terjadi pada beberapa kelompok sufi, yang percaya pada ajaran “sauti sarmad”, yaitu adanya suara di tataran abstrak. Hanya mereka yang terpilih (Nabi), yang  dapat mendengarnya. Pernahkah kita menangis saat mendengar musik? Atau tersinggung lalu risih dan marah jika mendengar musik? Terlepas dari musik yang kita dengar menggunakan lirik atau tidak, atau apapun pengalaman kita ketika mendengar musik, itu petanda bahwa indra pendengaran kita berfungsi dengan baik dan perlu disyukuri.   Indikator dari hal tersebut adalah, kita sadar bahwa telinga telah menjadi gerbang utama yang menerima bunyi yang telah lebih dulu merambat di udara, lalu menggetarkan gendang telinga, hingga tersebar ke seluruh bagian tubuh, baik dzahir maupun bathin. Otak adalah contoh bagian tubuh yang dzahir, yang dapat bergetar oleh fenomena akustik, di sana juga bersemayam sesuatu yang bathin (akal), yang kemudian dapat mengelola hasil getaran tersebut untuk membentuk makna sesuai pengalaman setiap manusia.   Hati juga memiliki dua sisi. Contohnya terdapat fakta bahwa ada penyakit kanker hati dan “penyakit” iri hati. Artinya terdapat hati secara fisik yang dapat menawar racun, maupun hati yang bathin, di dalamnya bersemayam nafsu maupun perasaan. Kembali kepada relasi musik dan spiritual. Aktivitas sholawatan bagi pemeluk agama Islam juga menjadi contoh yang relevan. Sholawatan adalah ungkapan rindu dan kecintaan kepada Nabi Besar Rasulullah SAW, caranya adalah dengan berkumpul melantunkan pujian. Ada keindahan dari perpaduan syair dan rebana maupun tarbangan. Semua itu mampu membikin hati gembira hingga meneteskan air mata. Ada beberapa pertanyaan: Bagaimana mungkin musik mampu membuat hati orang gembira sedemikian rupa? Bukankah musik itu hanya bersandarkan suara maupun bunyi, yang di dalam fisika hanyalah berupa gelombang atau hasil dari getaran? Bagaimana mungkin orang-orang menangisi sesuatu yang tak tampak di pelupuk matanya? Pertanyaan itu kemungkinan besar tak akan mampu dijelaskan dengan akal utuh, sebab akal itu sendiri bersemayam di bawah sesuatu yang ghaib lainnya, yaitu Ruh. Ruh sendiri merupakan penggerak bathin manusia. Orang-orang bijak sering berkata kurang lebih demikian: “Bahwa perasaan hatimu tidak akan pernah bisa berbohong, sementara lidahmu bisa. Setiap sesuatu yang fitrah juga akan mampu menggetarkan kefitrahan yang lain (simpatetik).” Musik dalam dimensi spiritual tidak hanya hadir sebagai sebuah praktik yang lahiriah, namun lebih daripada itu, menyentuh yang bathin, yang ghaib. Musik mampu memberikan warna kepada perasaan dan emosi seseorang ketika mendengarnya. Itu adalah kebenaran yang tidak bisa kita tolak, meskipun rasa sangat bersifat subjektif. [] *Penulis adalah musikus dan komponis, tinggal di Pontianak. Musik untuk didengarkan:  https://www.youtube.com/watch?v=eJwSZIajEvI&feature=share&fbclid=IwAR0OFsdIa0Up5HzjgERlTrZEytfBWkXjRwn9tdWOm7oVn8FK6t3-tDLFLEU Foto: Tangkapan layar dari video Dhafer Youssef Editor: Erie Setiawan     

SIM, SURAT IZIN MENGOVER (LAGU), PERLUKAH?
07 Apr 2022 Redaksi 1.704 Views

SIM, SURAT IZIN MENGOVER (LAGU), PERLUKAH?

  Oleh: Panakajaya Hidayatullah Artikel pendek ini mencoba mengurai sekaligus memahami perasaan musisi hajatan atas pernyataan musikus Ahmad Dhani terkait perizinan dan royalti atas karya-karyanya. Lumayan pelik fakta ini, tapi asik juga kalau kita iseng nguda rasa (curhat) terkait kegelisahan musisi hajatan. Guna mengamankan musisi liar dan ngeyelan macam teman-teman yang saya ceritakan ini, mungkin negara perlu mendirikan Satuan Korps Polisi Musik yang siap menindak dan menilang para musisi hajatan yang kedapatan membawa lagu tanpa SIM (Surat Izin Mengover). Saya akan membuka tulisan ini dengan memberikan ilustrasi percakapan seorang penyumbang lagu dengan perwakilan dari grup band pengiring di sebuah pernikahan. Pak Rudi: “Mas, tolong iringi saya nyanyi lagu ‘Kangen’ Dewa 19, ya…” Pemain Band: “Waduh saya belum punya izinnya pak, lagu lain aja, ya, pak, saya takut kena denda…” Pak Rudi: “Kalau gitu lagu nasional saja gimana? Ya kan gak perlu izin ke komposernya, lha wong di sekolah aja diajari…” Pemain Band: “Waduh jangan pak, ini kan bukan Kodim, saya bisa dikomplain juragan” Pak Rudi: “Lha gimana dong, mas? Saya kan pengen tampil menyumbang. Masa nyumbang aja ruwet…” Pemain Band: “Gimana kalau solawat badar saja pak? Kalau itu nabi gak akan komplain. Saya sudah kirimi fateha semalam”   Walhasil, merekapun bernyanyi solawat badar, sembari mengiringi para undangan melahap sate kambing dan gule sapi.*** Gambaran ilustrasi di atas memang tampaknya konyol dan mungkin imajinatif bagi anda-anda yang hidup di kota-kota besar dan daerah urban, tapi sebenarnya ia benar-benar hadir dalam mental dan pikiran musisi Madura di kampung halaman saya di Situbondo. Kemarin, tak lama setelah video Ahmad Dhani ramai di Facebook, teman saya yang berprofesi sebagai tukang elekton dangdut dan spesialis hajatan di Situbondo tiba-tiba menelpon. Sebut saja namanya Cak Arifin. Tampaknya dia ingin bertanya sesuatu hal penting dan genting kepada saya. Kira-kira begini percakapannya. “Bro, membawakan lagu orang di parlo (hajatan orang Madura) itu kan berarti gak perlu minta izin dulu, kan?”, dia bertanya penasaran. Tampaknya dia terpancing dengan pernyataan musikus kepala pelontos itu. Lalu saya jawab: “Tergantung lah, bro, kalau pertunjukan itu komersil dan artinya ada perputaran uang yang besar di sana, ya, berarti perlu izin”, jawab saya sambil senyum-senyum culas. “Wah gawat kalau begitu, soalnya kalau saya pentas hajatan kan banyak yang nyawer bro, orang yang nyumbang lagu itu pasti nyawer, belum lagi kalau permintaan dari ibu-ibu sinoman di dapur dibawakan, bisa panen saweran, ini berarti juga komersil ya?”, dia bertanya lagi dengan perasaan tidak nyaman. “Waduh, kayaknya iya bro, kamu perlu izin dulu kalau begitu sama yang punya lagu”, saya jawab sambil memancing emosi. “Misal saya membawa lagu yang penciptanya sudah meninggal gimana? Berarti gak perlu izin-izinan lagi kan?”, dia bertanya lagi ngeyel. “Kalau meninggalnya 100 tahun boleh dibawain, tapi kalau masih belum, berarti kamu harus izin pada keluarganya”, saya kembali memancing emosi. “Waduh mana ada lagu dangdut setua itu? Rhoma Irama yang mbahnya dangdut aja belum meninggal kok, eh tapi misal gak ketahuan kan berarti gak papa ya?”, dia kembali ngeyel. “Di jaman sekarang mana bisa kamu ngumpet?, lha wong hajatan itu pasti direkam, masuk youtube dan tersebar, kalau ketahuan empunya lagu, bisa dituntut kamu”, saya kembali membalas ngeyel. Hehe… “Lagian ngapain, ya, para artis-artis kaya itu ngotot-ngotot begitu, tingkahnya sudah seperti pak kades yang sok jual mahal, apa-apa kudu izin, minta tanda-tangan, ujung-ujungnya uang kan? Padahal sudah untung lagunya dipromosikan, harusnya dia yang berhutang budi pada musisi”, dia mulai tidak puas dengan jawaban saya. “Lha makanya kamu juga buat lagu dong, biar bisa seperti mereka!”, saya juga mulai emosi. “Lho, saya juga sudah buat lagu, bro. Tapi masalahnya kalau saya bawa lagu sendiri, gak ada yang mau nanggap”, dia menjawab dengan nada yang melembut pesimis. Mendengar jawaban dramatis itu, saya terdiam sejenak, menghela napas panjang sembari membayangkan bagaimana kecamuk perasaan ketakutan dan pesimis menguasai kepalanya. Mungkin beban yang mengendap di benak kepalanya tak sesederhana seperti apa yang saya bayangkan. Mungkin saja dalam pertanyaan polosnya tersembunyi gambaran anak perempuan yang merengek minta sepatu sekolah. Mungkin juga ada harapan ibu tua renta yang menghabiskan waktunya dengan berbaring seharian di ranjang reyot. Entahlah. Dalam pikirannya memang tak pernah terlintas soal royalti besar yang sanggup menyejahterakan. Di Situbondo, pencipta lagu dangdut Madura terbiasa menjual lagu dengan sistem jual lepas, sama seperti menjual sayur dan tempe. Bayar di awal, selebihnya tak ada royalti-royaltian. Anda perlu tahu bahwa profesi musisi hajatan dangdut di Situbondo itu sungguh pekerjaan yang paling mengharukan. Mereka bermain dari jam tujuh pagi tet, hingga pukul sembilan malam tet. Jam kerjanya 14 jam, dengan upah tiap musikus sekitar 50-150 ribu tergantung jumlah sawerannya. Anda berminat? Saya bisa mencarikan job kalau mau. Dalam satu kali hajatan mereka umumnya membawa 30-40 judul lagu dangdut. Jadi, jika mereka harus meminta izin dan membayar kepada pencipta lagu seperti yang mereka bayangkan, itu artinya mereka sedang ingin mati syahid di jalan kemuliaan musik. Sungguh mulia sekali. *** Ya, saya tentu paham bahwa regulasi itu tak akan berlaku untuk musisi kelas bawah seperti teman saya di kampung, saya tentu tahu itu. Tapi, mendengar kecemasan mereka, saya jadi ingin membayangkan bagaimana rasanya menjadi mereka. Saya jadi benar-benar berimajinasi bagaimana jika regulasi semacam ini benar-benar diterapkan sampai level bawah.   *** Guna mengamankan musisi liar dan ngeyelan macam teman-teman saya, mungkin negara perlu mendirikan Satuan Korps Polisi Musik yang siap menindak dan menilang para musisi hajatan yang kedapatan membawa lagu tanpa SIM (Surat Izin Mengover). Di jalanan, kita akan mendapati pemandangan menarik melihat musisi berlarian tunggang langgang sambil menggotong gitar, kendang, speaker dan kabel-kabel karena berkejaran dengan polisi musik akibat kedapatan terciduk tak memiliki SIM. Lalu, akan muncul profesi baru seperti calo SIM yang sebagian besar dijalankan oleh orang dalam pemerintahan. Mereka ini yang memfasilitasi musisi berkompetensi minim, yang tak punya daya saing, namun punya banyak uang dan relasi untuk menyogok aparat. Sudah dipastikan, negara juga akan membutuhkan banyak penjara musik untuk mendisiplinkan para musisi hajatan yang tak mampu membayar uang denda dengan jumlah ratusan juta. Karena jumlah mereka ribuan orang, bahkan semakin tahun semakin membengkak populasinya. Celakalah, bagi musisi macam teman saya, pasti dia akan terbiasa dengan aktivtitas wajib lapor setiap minggu. Dia pasti bosan dengan hukuman menguras bak mandi dan menyedot WC kantor polisi setiap pagi. Selain itu, negara juga perlu membentuk Satgas Pol PP (Pemberantasan Penjiplakan) untuk memberantas musisi yang berusaha memodifikasi lirik atau notasi musik demi mengelabuhi izin musik. Satgas ini juga bisa dimanfaatkan untuk melakukan patroli blusukan dan pemantauan ke hajatan-hajatan kampung. Mereka siap menggrebek musisi hajatan yang tetep ngeyel bermain musik tanpa izin seperti teman saya tadi. Akhirnya, jika usaha pendisiplinan militeristik tak sanggup memberantas, maka negara akan mengerahkan peran para kiyai musik, ustadz musik dan para penceramah musik yang siap memperbaiki akhlak-akhlak musisi hajatan yang bengal ini. Para musisi hajatan mungkin bisa berkelit membawa solawat nabi (seperti ilustrasi awal) di hajatan supaya lolos dari jerat para polisi musik.   Tapi, siapa yang bisa menjamin jika nanti di akhirat para musisi hajatan ini justru dituntut oleh anak-cucu nabi sekian generasi? Apa gak tambah ribet? Hahaha…  

PERJALANAN BUNYI YUDANE
01 Nov 2017 Redaksi 5.620 Views

PERJALANAN BUNYI YUDANE

Oleh: Arya Suryanegara Melalui daya kreatifnya yang luar biasa, Wayan Gde Yudane tak henti-henti mengajak saya tamasya jauh menyusuri bunyi-bunyi baru. Yudane menggugah semangat, menginspirasi generasi muda untuk berani menatap jauh ke depan, dengan tetap menghargai yang silam. Contoh konkritnya, pada usianya yang nyaris senja, Yudane masih bersemangat menginisiasi program “Komponis Kini”, yang difasilitasi Bentara Budaya Bali. Program itu mewadahi karya-karya komponis kontemporer, khususnya yang bermukim di Bali. Meski sempat terhenti sejenak, program itu kini hadir kembali. Pada Senin malam (30/10), Yudane mementaskan karya-karya terbarunya dengan tajuk “Journey”.   Ada empat karya yang dipentaskan malam itu: Spring, Aquifers, Ephemeral, dan Journey. Karya-karya itu merupakan respon kreatif dari puisi Ketut Yuliarsa yang direpresentasikan oleh Yudane pada Gamelan Semara Dana, dan dimainkan dengan baik oleh Sekaa Gamelan Wrdhi Cwaram. Selain itu juga dipentaskan karya Tari Legong Semarandana sebagai pembuka.   Yang memikat dari Yudane Pada malam itu Yudane melakukan eksperimen yang menarik dalam penyajian karyanya, baik secara autidif maupun visual, walaupun terkadang visual dalam karya musik tidak memiliki porsi yang dominan. Tidak hanya fokus pada mendengarkan, audiens juga dapat melihat bagaimana Yudane menempatkan instrumen di panggung terbuka Bentara Budaya Bali. Yudane membuat susunan yang berbeda, yakni ada gamelan yang ditempatkan di bagian tengah panggung, ada juga yang ditempatkan di kanan dan kiri, yang memiliki posisi lebih tinggi. Ini bagi saya menarik sebagai total performance, sebagai seni pertunjukan yang tergarap secara utuh. Yudane dalam pementasan itu berhasil mengelabuhi pikiran saya. Pertama, ketika saya melihat (visual) penempatan gamelan yang dilakukan, saya mengagumi tata panggung, meskipun hal itu sering dikatakan tidak penting. Kedua, ketika saya telah mendengar karya musiknya (auditif), menghantarkan perspektif  saya  untuk menyimak berbagai macam cara kerja yang ada di dalamnya. Dari sudut yang berbeda dapat memperjelas audiens dalam mendengarkan pergabungan motif-motif yang ada di sebelah kanan, tengah, dan kiri. Alhasil, Yudane dalam pementasan karya ini menurut saya tidak semata-mata memanjakan mata audiens dalam melihat tata panggungnya, tapi juga telah melakukan pengolahan bunyi dengan mempertimbangkan aspek ruang. Sejauh ini Yudane memang dikenal sebagai ujung tombak dalam perkembangan musik baru untuk gamelan Bali. Karya-karyanya dikenal luas tidak hanya di Bali, tapi juga di berbagai negara lain. Bentara Budaya Bali, melalui websitenya, menulis sebuah penjelasan sekaligus ajakan untuk mengapresiasi karya Yudane kali ini: “Konsep pertunjukan ini berangkat dari elastisitas, yakni perenggangan waktu dan tempo serta kespontanan di dalam kesetiaan juga kebersamaan, merespon ombak (vibrato) pada gamelan Semara Dana guna menciptakan ruang meditatif dimana nada-nada melodi terhubung secara imajinatif di dalam benak para pendengar.” Dapat diartikan Yudane dalam karyanya kali ini berusaha melakukan pengolahan teknik vibrato dalam gamelan yang digunakan. Perlu diketahui, vibrato yang diartikan itu adalah Ngumbang dan Ngisep/Umbang dan Isep. Ngumbang dan Ngisep merupakan ciri khas pada gamelan Bali, yang dalam konsepnya terdapat interval yang berbeda pada nada yang sama. Apabila nada tersebut dimainkan bersamaan akan menimbulkan ombak atau gelombang. Secara kreatif Yudane mengolah unsur tersebut dalam karyanya. Unsur itu terdengar jelas dalam karyanya yang bertajuk Spring. Yudane menggunakan instrumen melodis pada Gamelan Semara Dana dan juga dimainkan menggunakan alat pukul lembut (berisi karet). Juga pada karya itu terdapat banyak ruang kosong dan hanya memperdengarkan getaran instrumen. Ruang kosong dalam memperdengarkan getaran tersebut saya cermati hampir 15 sampai 20 detik, dan sepertinya Yudane ingin menunjukan getaran instrumen tersebut dari mulai dipukul hingga getaran itu berhenti. Serta pada karya itu, Yudane tidak hanya memainkan nada yang sama secara bersamaan, namun ia juga membuat harmoni melalui nada yang berbeda. Hal itu menghasilkan pilihan bunyi, di antaranya gelombang dengan nada yang sama dan gelombang dengan nada yang berbeda. Selain itu dalam karyanya bertajuk Ephemeral, Yudane hanya menggunakan instrumen ber-pencon saja, antara lain seperti instrumen tawa-tawa dan kajar. Yudane dalam karya ini menurut pengamatan saya melakukan permainan ritme melalui karakter bunyi yang dihasilkan oleh instrumen ber-pencon ini. Hasilnya akan berbeda apabila dimainkan oleh instrumen ber-bilah. Saya menangkap, Yudane juga ingin menunjukan karakter gelombang dan bunyi dari instrumen pencon tersebut. Lain lagi karyanya yang bertajuk Aquifers dan Journey, yang menggunakan hampir seluruh instrumen pada Gamelan Semara Dana. Karya itu merupakan karya besar Yudane, karena durasi yang panjang dan banyaknya jenis instrumen. Menurut pengamatan saya, karya itu memiliki banyak pengolahan motif berdasarkan cara kerja pada gamelan Bali. Misalnya kotekan, ukuran lagu per-gatra, harmoni, fungsional instrumen, pengolahan melodi, pengolahan ritme, dan lain-lain. Dalam mendengar karya ini, telinga saya memang mengasumsikannya secara baru, dan saya hanya mengetahui bahwa karakter bunyi dari instrumen yang digunakan adalah gamelan Bali. Namun, dalam teknik permainannya merupakan pengembangan dari teknik permainan gamelan Bali, dan mungkin juga terdapat pengaruh dari latar belakang berbagai jenis musik yang mengilhami Yudane. Apresiasi Prof. I Made Bandem yang malam itu hadir juga turut menyampaikan apresiasi untuk karya Yudane. Bandem mengatakan: “Yudane telah mempelajari musik Barat dan ia juga sering berteman hingga berkolaborasi dengan musisi di luar gamelan. Sehingga Yudane sudah memahami betul teknik dari musik Barat dan musik-musik lintas budaya lainnya.” Sebab itulah, bagi saya, karya Yudane memberikan penyegaran baru. Bandem juga mengatakan bahwa Yudane sudah tidak lagi menggunakan teknik permainan gamelan bali secara regular, namun Yudane memainkan secara iregular. Artinya Yudane sudah memainkan gamelan secara tidak biasa. Berbagai jenis cara kerja seperti itu memang perlu diinformasikan ke masyarakat. Harapannya adalah memberi wawasan mengenai inovasi, juga yang dilakukan oleh Yudane yang telah berusaha sedemikian rupa mengembangkan karya-karya gamelan Bali.  Umumnya memang masih banyak yang kurang mengerti mengenai “dapur kreatif” seperti itu. Hal yang bisa saya pahami dalam mendengar karya tersebut adalah tekniknya menarik dan asing di telinga penabuh gamelan, dan menambah wawasan audiens dalam mengetahui perkembangan karya-karya baru untuk gamelan. Terus terang, khususnya bagi generasi muda seperti saya, sangat memerlukan wawasan sejarah, sebagai penghubung untuk mengenal yang lama dan yang baru. Dan melalui karya Yudane saya terbuka atas wawasan itu, mengajak saya berada dalam sebuah jembatan yang menunjukan ke jalan baru, untuk melihat arah gamelan Bali pada masa mendatang. Selain itu, dalam mendengarkan karyanya yang bertajuk Aquifers dan Journey ini, mengingatkan saya dengan Simfoni Mozart. Bukan berarti karya Yudane sama dengan karya Mozart, namun lebih pada peristiwa bunyinya saja. Saya mendengar adanya perpindahan bagian dari karya ini yang dilakukan secara tiba-tiba dan dilanjutkan dengan karakter bunyi yang berbeda atau instrumen yang berbeda. Misalnya, ketika sebuah bagian sudah mencapai klimaks, akan disambung secara tiba-tiba dengan instrumen dan tempo yang berbeda. Seolah-olah karya tersebut sudah selesai, namun ternyata belum, layaknya penggalan-penggalan dalam karya Simfoni. Sayangnya dalam acara itu tidak terdapat diskusi dan penjelasan komponis  tentang karyanya, sehingga akan membuat audiens bertanya-tanya tentang apa yang telah terjadi malam itu. Di sisi lain itu bagus juga, karena kita bisa berfokus mendengarkan musiknya terlebih dahulu sebelum ke informasi di sebaliknya. Namun saya juga berharap dalam lain kesempatan, Yudane bisa menjelaskan tentang apa yang terjadi dalam karyanya itu, semata-mata ingin mengarahkan pemahaman atau opini audiens yang tertarik dengan karyanya. Itu dikarenakan komponis adalah yang paling mengetahui segala proses kreatifnya. Sebagai informasi, pada Desember mendatang Yudane dan Sekaa Gamelan Wrdhi Cwaram akan melakukan pementasan gamelan di Paris dalam acara Europalia. Yudane merupakan salah satu komponis  yang mewakili Indonesia dalam ajang yang bergengsi itu. Saya sangat berbangga karena Yudane telah berhasil membawa gamelan ke ajang internasional. Inilah hal yang saya kagumi dari Yudane, ia tetap dengan gamelannya serta akan terus berjalan menemukan bunyi baru untuk gamelan. PR kita bersama Kepedulian dan semangat Yudane dalam mengembangkan gamelan Bali dapat menjadi pemantik untuk memahami ilmu pengetahuan tentang gamelan itu sendiri. Ia membuat gamelan menjadi tetap hidup dan menemui jalan barunya, tidak hanya jalan di tempat. Semangatnya saya kira perlu dijadikan pijakan bagi komponis muda Bali, dan tidak menutup diri dari perkembangan-perkembangan yang lain. Segala perubahan yang terjadi memang harus kita terima sebagai konsekuensi zaman dan perkembangan pikiran manusia. Rasanya tak ada gunanya lagi meributkan yang tradisi dan yang kontemporer secara terus-menerus.  Tautan terkait: https://europalia.eu/en/article/i-wayan-gde-yudane-gamelan-wrdhi-swaram_1238.html Foto oleh: Rudi Waisnawa | Editor: Erie Setiawan