Tony Prabowo dan Otto Sidharta Berkisah Tentang Suka Hardjana

25-04-2018 14:24

Art Music Today


Art Music Today Image

Beberapa waktu lalu Art Music Today mewawancarai komponis Otto Sidharta dan Tony Prabowo via telepon untuk menanyakan komentar-komentar beliau mengenai mendiang Suka Hardjana, pemikir musik yang wafat 7 April lalu. Bagi Tony, Suka adalah sosok pengayom yang membuat generasinya segan. Dan bagi Otto, Suka sosok kritis namun realistis, ia teguh membela dan tidak membiarkan murid-muridnya dipenjara oleh keterbatasan kreativitas bermusik. Simak laporan naratifnya berikut ini.

Pada sekitar 1980-an, Tony Prabowo dan karib seangkatannya, Otto Sidharta, berdemonstrasi di Kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Mereka memprotes kebijakan Suka Hardjana yang waktu itu menjabat sebagai Ketua Jurusan Musik di sana. Apa pasal? Menurut cerita Tony, protes yang dilakukannya itu lantaran Suka Hardjana sebagai pejabat dinilai sulit untuk memberi ijin pemakaian alat-alat musik koleksi IKJ. “Alat-alat sulit keluar, sampai berdebu, bahkan rusak dimakan rayap, maka kami berdemo,” ujar Tony mengisahkan. “Kami berdua waktu itu memang mbeling,” tambah Otto sambil terkekeh. Akibatnya, selama sekian tahun hubungan mereka cuma anget-anget tai ayam

Tony Prabowo khususnya, kembali “mesra” pada tahun 1992. Pada waktu itu Suka Hardjana menulis ulasan mengenai pergelaran Suita 92 yang ketika itu diikuti oleh antara lain Tony Prabowo, Otto Sidharta, dan Marusya Nainggolan. Bagi Tony, ulasan itu menggugah simpatinya. “Awalnya saya berpikir Pak Suka hanya berminat pada musik-musik klasik, tetapi ternyata dugaan saya meleset. Bahkan ia yang pertama kali menyebut formasi musik yang saya tampilkan sebagai ‘ansambel campuran’/mix-ensemble, dimana saya sendiri pada waktu itu belum ingin menyebutnya dengan istilah itu,” kata Tony.

Begitupun Otto, paska aksi demo-demo itu hubungan keduanya kembali baik, terutama ketika Otto menjabat di Dewan Kesenian Jakarta (setelah lulus dari Belanda) dan mengajak kembali Suka Hardjana untuk mengaktifkan Pekan Komponis Muda yang sekian lama vakum. Otto makin mengenal Suka Hardjana secara personal.

 

Dulu Memang Beda dengan Sekarang

1978 adalah tahun permulaan karir yang penting bagi Otto Sidharta, juga pertama kali ia mengenal Suka Hardjana. Ia mendaftar di IKJ Jurusan Komposisi Musik. Pada waktu itu penguji untuk seleksi masuk adalah Suka Hardjana, Frans Haryadi, dan Iravati Sudiarso.

Lolos masuk di Jurusan Komposisi Musik IKJ pada waktu itu dikenal sulit. Namun demikian, Suka Hardjana adalah orang yang jeli dalam melihat potensi calon mahasiswanya. Begitupun dengan talenta yang dimiliki Otto Sidharta ini.

Singkat cerita, pada waktu seleksi penerimaan mahasiswa itu Suka Hardjana menguji kemampuan Otto dengan cara yang pada waktu itu tergolong tidak biasa. Tiba-tiba Pak Suka main piano seakan ngawur saja, dan meminta Otto  mendengarkannya dengan cermat. Setelah selesai, Pak Suka meminta Otto menuliskan notasinya di papan. “Saya jelas bingung,” kilah Otto. “Tapi saya nekat saja, saya tuliskan notasi grafis, dan jelas tidak mungkin menuliskan notasi baloknya,” ungkap Otto. Semenjak itu, Suka Hardjana menaruh perhatian pada Otto, dan ia termasuk yang mempertahankan Otto Sidharta agar diterima kuliah.

Sementara itu, pada sisi lain memang tengah terjadi perdebatan serius khususnya antara Frans Haryadi dan Suka Hardjana, soal pro dan kontra masalah kreativitas musik kontemporer. Suka (dan juga Slamet A. Sjukur) membela segala kebaruan kreativitas yang terjadi, dan Frans Haryadi sebaliknya, tidak setuju dengan adanya “kurikulum musik kontemporer.”

Setahun berikutnya Suka Hardjana menginisiasi Pekan Komponis Muda yang mampu berjalan 6 tahun (1979 – 1985) dan kemudian vakum untuk beberapa lama karena tidak ada yang mengurus. Otto “membangunkannya” kembali dengan semangat yang baru.

Pada dekade khsuusnya 1970an hingga 1980-an pertumbuhan kreativitas berkomposisi musik dan dialektikanya memang bisa dikatakan bersemi dan tumbuh subur. Setiap orang hanya berkemungkinan berkarya, bertatap muka langsung, dan membangun misi bersama. Ulasan-ulasan di koran menjadi tolok-ukur signifikan dan prestisius. Suka Hardjana orang yang tlaten menjadi jembatan apresiatif bagi masyarakat. “Cita-cita Pak Suka memang seperti itu, agar tumbuh bakat baru, tunas muda,” kenang Otto.

“Kini zaman memang bergeser, dan kita melihat sendiri faktanya. Berkomunikasi tanpa harus bertemu langsung, segalanya sedang terpisah-pisah, juga rentan prasangka, egoisme, dan lain-lain,” kata Otto. “Melalui Pekan Komponis tahun ini, dimana saya juga terlibat, saya ingin meneruskan kembali semangat Pak Suka, yang mampu mempertemukan dan membangun dialog bersama untuk kemudian bekerja nyata,” tambah Otto.

 

Suka Sosok Pengayom

Tony Prabowo menilai bahwa Suka Hardjana adalah sosok pengayom. “Memang sulit mencari semacam Pak Suka (juga seperti almarhum Mas Slamet Sjukur). Bukan mencari pengganti, tapi yang tekun, berdedikasi dan mau mengayomi. Saya belum melihat tanda-tanda itu di generasi saya. Saya juga belum mampu,” kata Tony yang pada 2006 karya Operanya “The King’s Witch” diulas panjang lebar oleh Suka Hardjana di Kompas.

Terhadap ulasan-ulasan Suka Hardjana di koran-koran maupun dalam pengalaman berdiskusi langsung, baik Tony maupun Otto memiliki penilaian yang sama, yaitu seimbang dalam bobot. “Suka Hardjana mampu mengulas musik dalam ukuran-ukuran teknis-teoretis karena beliau juga musikus dan bikin musik, juga mampu mengulas hal-hal lebih umum dalam kepentingan apresiasi khalayak luas,” kata Tony. “Pemikirannya tajam, meski ia sangat keras kepala,” tambah Otto.

 

Pewawancara dan Penulis:

Erie Setiawan

Foto: Thomas Y. Anggoro (Suka Hardjana memutar musik melalui telefunke koleksinya)

Baca juga:

https://tirto.id/di-tangan-suka-hardjana-musik-menjelma-ilmu-pengetahuan-cH6u

252 x dilihat

Prev Next