Musik Batak dan Masalahnya Saat ini

20-10-2017 12:37

Art Music Today


Art Music Today Image

Oleh: Markus B.T. Sirait

Pengantar Redaksi:

Rabu (18/10), bertempat di Hotel Aone, Menteng, Jakarta Pusat, diadakan Focus Group Discussion (FGD) oleh Toba Literacy & Art Festival. Kegiatan FGD ini mengumpulkan beberapa pelaku literasi dan seni dari berbagai bidang untuk fokus membahas dan memetakan beberapa permasalahan yang selama ini kurang diamati oleh pelaku industri Pariwisata, Pemerintah dan Pelaku Seni. Untuk sektor musik, pembahasan berfokus pada tiga masalah, yaitu Literasi, Musik Batak dan Opera Batak. Catatan ini ditulis oleh Markus BT Sirait sebagai ringkasan dari hasil FGD tersebut. Selamat membaca.

**

Wisata di Danau Toba selama ini hanya berfokus mengandalkan alam, tetapi kurang menyentuh aspek-aspek kultural seperti literasi dan musik. Padahal, aspek kultural juga tidak kalah penting dibangun untuk dapat meningkatkan pariwisata di Sumatera Utara khususnya Danau Toba, sebagai salah satu dari sepuluh destinasi wisata Indonesia yang akan fokus dikembangkan. FGD ini adalah sebuah upaya awal menuju kegiatan puncak yang akan dilaksanakan di Balige & Parapat, Sumatera Utara, sekitar bulan Maret tahun mendatang (2018), sebagai pendukung terselenggaranya program BODT (Badan Otorita Danau Toba).

                Memunculkan potensi kekayaan seni budaya menjadi salah satu misi utama dari TLAF (Toba Literacy & Art Festival) sehingga diharapkan mampu mencetak kaum-kaum muda kreatif di dunia literasi dan seni serta memiliki kemampuan memasarkan produknya secara profesional. Oleh sebab itu, TLAF secara berkala akan mengadakan kegiatan yang saling berkaitan dan melengkapi. Hal tersebut dimulai dengan diadakannya FGD dengan harapan adanya pemetaan, perumusan langkah, perumusan materi workshop hingga melakukan kurasi pertunjukan, pameran dan kegiatan seni budaya. FGD ini terbagi atas 3 fokus pembahasan yaitu Literasi, Musik Batak dan Opera Batak.

                Pada sektor musik, TLAF (Toba Literacy & Art Festival) sebagai lembaga yang menyelenggarakan kegiatan, mengundang beberapa akademisi, seniman, pelaku industri pariwisata dan perwakilan Dirjen Kebudayaan diantaranya adalah Rizaldi Siagian (pemusik, etnomusikolog), Irwansyah Harahap (pemusik, etnomusikolog), Hardoni Sitohang (pemusik), Viky Sianipar (pemusik), Iran Ambarita (pemusik, komponis), Markus B. T. Sirait (pemusik, etnomusikolog), Joyce Sitompul (arsitek, pecinta budaya Batak), Sabar Situmorang (akademisi, pegiat ekonomi kreatif, manager artis), Basar Simanjuntak (Badan Pengelola Otorita Danau Toba), Ratnauli Gultom (pegiat budaya dan eco tourism di Danau Toba), dan Pejabat di Kementrian Pariwisata.

                Kegiatan FGD tersebut diawali dengan membahas beberapa permasalahan yang terjadi selama ini untuk sektor musik di Toba sehingga terdapat pemetaan permasalahan untuk kemudian bersama-sama mencari solusi untuk permasalahan-permasalahan tersebut. Sekitar 2,5 jam diskusi yang dilakukan menghasilkan pemetaan masalah yang dibagi dalam beberapa sektor yaitu:

  1. Intangible Heritage as Living Culture.

Permasalahan musik sebagai bagian kultur Batak selama ini terjadi karena:

  1. Mulai hilangnya konsep ritual/upacara dalam kehidupan masyarakat Toba, padahal masyarakat Toba telah mengenal konsep event dalam kehidupannya sehari-hari sejak dulu. Melalui ritual/upacara tersebut keberadaan seni diakui sebagai bagian penting di masyarakat Toba sebagai pemilik dan pelaku kegiatan tersebut. Lewat ritual/upacara jugalah masyarakat Toba memiliki kemampuan dalam mengelola event secara kolektif. Rizaldi Siagian memaparkan: “Ketika ritual/upacara (bahasa kekinian event) mulai punah maka segala ekspresi, produk tangible maupun intangible beserta pengetahuannya akan turut musnah”. Berdasarkan tanggapan di atas, hal tersebut memang terjadi dan disepakati oleh informan yang hadir di FGD tersebut. Dari beberapa contoh kasus yang dipaparkan seperti pelaksanaan dan pengelolaan Pesta Rakyat Danau Toba selama ini terlihat bahwa masyarakat mulai kehilangan kemampuan mengelola event (ritual/ upacara, kegiatan hiburan) secara kolektif. Selain mulai kehilangan kemampuan tersebut, masyarakat juga mulai tidak merasakan dampak dari event yang diadakan selama ini dan mulai timbulnya kebencian terhadap event.
  2. Manusia Batak terlahir dengan kemampuan musikal dan dalam kehidupan sosialnya menempatkan musisi (dalam bahasa Batak Toba disebut pargongsi) dalam status yang sangat tinggi dengan gelar “Batara Guru Humundul”. Masyarakat Batak Toba memiliki keyakinan bahwa musisi adalah penyampai doa (harapan) manusia kepada Debata Mula Jadi Na Bolon (Tuhan). Dalam era sekarang, hal tersebut mulai terlupakan seiring mulai hilangnya ritual/upacara yang diadakan masyarakat Batak Toba.
  3. Selama ini, Batak Toba cenderung selalu melihat masalah dari sisi eksternal kulturalnya dan membandingkannya dengan kebudayaan lain seperti bagaimana musik berhasil di Bali atau Yogyakarta, dsbnya. Oleh sebab itu, sebaiknya seniman mulai memperhatikan internal budaya nya seperti yang disampaikan oleh Irwansyah Harahap, “Masalahnya ada di dalam, bukan di luar kebudayaan kita, oleh sebab itu mari kembali pada akar (roots) Batak”.

Karena itu, kegiatan Toba Literacy & Art Festival ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran dan kecintaan masyarakat kembali terhadap event kultural di masyarakat Toba dan menciptakan sense of art yang kembali mengakar pada roots Batak sehingga event menjadi suatu yang hidup, bertumbuh dan penting dalam kegiatan kultural Toba.

 

  1. Entertainment & Industri Musik.
  1. Banyak potensi musikal yang dapat ditemui di Batak Toba, tetapi standar kualitas juga sangat diperlukan untuk dapat memasuki industri musik.
  2. Seniman Batak jarang menyadari pentingnya perkembangan dalam dunia industri musik. Dalam era sekarang, kemampuan (skill) musikal juga harus dibarengi dengan kemampuan (skill) untuk menghibur. Memiliki kemampuan musikal tetapi tidak mampu menghibur juga akan ditinggalkan masyarakat.
  3. Kemampuan seniman Batak untuk mengemas (packaging) produk yang ditawarkan untuk masuk ke industri musik juga menjadi sorotan penting yang perlu diperhatikan.
  4. Menumbuhkan insting ekonomi bagi seniman-senimannya (selama ini dirasa tidak penting oleh seniman sehingga kurang dihargai). Ketika ekonomi seniman sudah mapan, baru senimannya akan ideal untuk beraktifitas seni.
  5. Menciptakan aliran dana baru (sponsorship) bagi seniman sehingga dapat fokus berkarya.

Kegiatan Toba Literacy & Art Festival diharapkan mampu menjadi jembatan penghubung melalui kegiatan workshop sesama seniman yang akan menambah kemampuan dan pengetahuan mengenai perkembangan dalam menyampaikan produknya jika ingin masuk ke dalam industri musik.

  1. Pendidikan.
  1. Mengembalikan peran seniman terutama musik untuk menumbuhkan sense of art dalam mengedukasi kaum muda. Hal tersebut dirasakan perlu sehingga kaum muda (generasi millenial) dapat belajar langsung kepada seniman-seniman senior. Adanya gap lintas generasi yang menyebabkan komunikasi yang tidak tepat sasaran selama ini menjadi faktor utama mengapa hal ini dapat terjadi. Semakin berkurangnya seniman senior (karena faktor umur) juga menjadi suatu alasan utama sehingga diperlukan suatu gerakan untuk menurunkan pengetahuan-pengetahuan yang mereka ketahui kepada generasi muda agar tidak punah. Karena itu diperlukan sebuah kegiatan yang dapat mempertemukan seniman senior dengan seniman muda untuk dapat duduk, berkomunikasi, dan belajar bersama (revitalisasi).
  2. Perlunya arsip musik Batak. Selain sebagai bukti data sejarah dan data kebudayaan yang hidup juga sebagai media belajar (referensi) bagi seniman muda yang ingin mengetahui musik Batak dan kemudian mengeksplorasinya sesuai dengan ekspresi musikalnya masing-masing.

 

  1. Produk Seni untuk Pariwisata.
  1. Permintaan dalam pariwisata terhadap musik juga ternyata penting sehingga perlu mengembangkan musik untuk kebutuhan pariwisata tetapi tidak menghilangkan rasa dan ekspresi Batak nya.
  2. Festival yang memiliki tujuan yang jelas, dapat dirasakan dampaknya langsung oleh masyarakat, masyarakat kembali pada spirit kolektif mengelola kegiatan sehingga tercapai pencerahan bagi masyarakat pemilik sekaligus pelaku festival tersebut.
  3. Melalui pariwisata di Danau Toba tercipta arena baru bagi pelaku kreatif sehingga konsentrasi arena pertarungan (selama ini terkonsentrasi pada satu tempat yaitu Jakarta karena seluruh seniman mudanya keluar dari Sumatera Utara; merantau) tidak lagi terkonsentrasi pada satu tempat. Hal ini menyebabkan timbulnya peluang baru agar seniman-seniman mudanya secara bersama-sama mau kembali ke kampung halaman membangun Danau Toba.

(Foto: Markus BT Sirait)

371 x dilihat

Prev Next