Manusia dan Bunyi yang Telah Kehilangan Martabatnya (Bagian 1)

18-10-2017 13:18

Art Music Today


Art Music Today Image

Oleh: Erie Setiawan 

Kita berhutang budi pada Gustav Fechner (1801-1887), Pelopor Psikofisika (Psychophysics)—dan kita belum mampu membalasnya sampai hari ini.

Psikofisika lantas melahirkan psikoakustik, menyoroti masalah yang kurang-lebih sama: tentang persepsi manusia dalam hubungannya dengan gejala alam yang berkaitan dengan unsur-unsur fisika. Hanya saja, objek psikofisika jauh lebih luas dibanding psikoakustik yang lebih kasuistik dan objektif.  

Phytagoras pada abad lampau sudah mencoba mendekatkan fisika dengan matematika, namun belum sampai pada masalah persepsi manusia—terlebih sosial. Studi mengenai psikofisika dan psikoakustik baru benar-benar dikembangkan secara ilmiah setidaknya pada abad ke-19, pelopornya adalah Gustav Fechner, seorang dokter sekaligus ahli fisika dari Jerman. Sebelum fase Fechner, kita bisa menemukan nama-nama seperti Leonardo da Vinci, Galileo Galilei, Robert Hooke, hingga George Simon Ohm—yang sama-sama punya daya tarik terhadap gelombang sebagai sebuah fakta alam yang erat kaitannya dengan kehidupan manusia.

Fechner lebih meyakinkan, karena jasanya memperkuat studi mengenai hubungan fisika dan manusia. Dalam bukunya yang terkenal, The Element of Psychophysic (1860), Fechner menjelaskan bahwa pikiran dan badan adalah dua unsur yang terpisah dari tubuh. Maka dari itu, tubuh (keseluruhan), dan badan (sebagian) bisa bergerak secara jujur, sementara pikiran menipu—atau bisa juga sebaliknya. Pencopet atau ahli hipnotis adalah salah satu contoh yang paling nyata.

Fechner jarang disoroti, tetapi penemuannya—yang kebanyakan lahir atas eksperimen-eksperimen—mampu menghasilkan teori mengenai hubungan penginderaan dan kepekaan. Gelombang (suara-bunyi) adalah “zat aktif” yang mampu tertangkap oleh indera dan kemudian menghasilkan rangsangan, sebagai bekal dari kepekaan. Yang paling penting dari jasa Fechner adalah setiap manusia akan belajar mengenai keseimbangan hidup dengan meningkatkan kepekaan atas seluruh gejala alam (nature), dan ia percaya bahwa frekuensi mampu merubah kehidupan. Inilah dasar dari pentingnya kita mempelajari bunyi dalam kodrat dan fungsinya—terlebih musik yang membentuk bunyi menjadi sejuta identitas.

Tokoh penting selain Fechner yang mempengaruhi keberlanjutan studi ilmiah mengenai psikofisika dan psikoakustik adalah Hermann von Helmholtz, salah satu tokoh yang juga terpengaruh oleh George Simon Ohm. Buku Helmoltz, On the Sensations of Tone as a Physiological Basis for the Theory of Music (1863), adalah referensi utama dan mula-mula tentang hubungan pendengaran dan persepsi. Penelitian Helmoltz maupun Fechner tentang gejala psikopat telah turut menjadi embrio atas kelahiran terapi musik, yang pada waktu itu masih disebut terapi gelombang. Tentu saja Rudolf Hertz melengkapinya dengan ukuran-ukuran sistematis dalam frekuensi yang kita kenal dengan sebutan Hz (Hertz).

 

Kaitannya dengan masalah kemanusiaan

Saat ini kita tengah menghadapi banyak kekacauan yang tak terkendali. Sebagai manusia, kita sudah hampir tidak memedulikan masalah-masalah inti dalam psikofisika itu. Kita hanya peduli pada yang serba kasat, terutama didominasi oleh mata (visual), tidak lagi oleh (syaraf) telinga (auditif). Padahal, segala sesuatu menurut ukuran fisika, seringkali bersifat tidak kasat—butuh penyelidikan/pengujian. Seperti air yang terlihat bening namun sesungguhnya keruh; seperti udara yang tak kasat mata tapi bisa mengakibatkan influensa; seperti orang diam yang tengah menyampaikan maksud. Kita sungguh tak paham, mana sebetulnya yang sedang kita butuhkan untuk saat ini bagi kondisi psikis kita secara menyeluruh.

Memang benar ada dugaan bahwa telinga manusia semakin hari semakin tuli, karena sudah tak mampu membedakan mana bunyi yang dibutuhkan dan mana yang tidak. Setiap orang rasanya “aman-aman saja” terhadap kebisingan di jalan-raya. Hanya macetnya yang dipikirkan, tetapi tidak karena suara yang terdengar di sekitar. Bayangkanlah Anda berada di tengah kemacetan lalu-lintas, tetapi seluruh mesin dari elemen transportasi yang ada tidak menghasilkan suara berisik. Artinya, motor-mobil dan lain-lain didesain ramah telinga. Pasti akan ada dampak yang berbeda.

Secara tidak langsung, kita stres di jalanan macet itu bukan hanya disebabkan oleh benda-benda yang mengakibatkan macet, tetapi juga karena adanya suara-suara yang memang tidak dibutuhkan telinga. Kita belum mampu menyeleksi atau melakukan tindakan preventif atas bahaya bagi telinga yang bisa datang kapan saja dan dimana saja.

Agaknya kita juga harus ingat, bahwa telinga adalah pintu paling efektif untuk menerima gelombang yang diproses oleh syaraf, dan yang lebih penting dipahami lagi adalah, bahwa tidak semua suara atau bunyi bersifat kasat telinga. Ada bunyi yang memang tidak mampu tertangkap kasat telinga tetapi memberikan pengaruh. Sebab itu ada istilah in-audible sound vibration (bunyi-bunyi yang tak kasat telinga): gamma, betha, alpha, theta (rata-rata di bawah 50Hz sampai 4Hz). Adanya diam (jeda tak berbunyi) di dalam musik juga bukan berarti diam dalam arti yang sesungguhnya.

Tidak mengherankan pula bahwa ada fakta tuna rungu juga bisa bermain musik karena ia bisa peka di wilayah-wilayah frekuensi yang tak terjangkau oleh umumnya orang. Kita juga mengenal teknologi ultrasonografi (USG) yang sering digunakan untuk melihat secara langsung kondisi janin di dalam perut berdasarkan tangkapan gelombang bunyi yang didukung cairan khusus. Bunyi yang tertangkap menghasilkan citra visual janin yang mampu terukur sama persis (lingkar kepala, panjang, berat, dll.).      

Dalam soal-soal kemanusiaan hari ini, segala yang fisik lebih dianggap penting dibanding yang fisika, apalagi metafisika. Manusia semakin lupa bahwa ada unsur-unsur tak kasat yang sedemikian mempengaruhi laku kehidupan. Sebab itu kita juga pantas bertanya, apakah kita sebetulnya sudah mengoptimalkan seluruh indera yang kita punya untuk menemukan manfaat kehidupan sejati? Jangan-jangan semua itu tidaklah inti, melainkan hanya kosmetika?

Bersambung…

Ilustrasi: Oscar Artunes

320 x dilihat

Prev Next