LEMPAR MUSIK SEMBUNYI PIKIRAN

24-10-2017 03:43

Art Music Today


Art Music Today Image

Oleh: Erie Setiawan

Semacam lempar batu sembunyi tangan. Kita sedang tak tahu apa yang dilakukan oleh seniman kebanyakan, kreator kebanyakan, musisi, komponis, dan lain-lain. Kita sedang blank sengeblank-ngeblanknya. Akibatnya, kita juga tak punya jawaban pasti, apakah kita sekarang sedang maju atau malah mundur seribu langkah?  

Apa yang diasumsikan oleh Karlina Supelli dalam ceramahnya berjudul “Ancaman Terhadap Ilmu Pengetahuan” (2017) terasa benar adanya. Ia menyoroti gejala anti-kritik yang terjadi belakangan ini. Setiap orang makin enggan berinteraksi demi pengetahuan, terlebih memberikan silang-kritik demi kemajuan bersama. Ini pantas diwaspadai. “Tanpa proses intersubyektif, tidak mungkin ada kritik. Tanpa kritik, tidak ada ilmu pengetahuan,” ujar Karlina (Hal. 5).

Kita sesungguhnya sedang memperjuangkan apa melalui musik?

 

Perut?

Ah, rasanya kok naif.

Kekayaan Budaya Indonesia?

Sudah berlimpah dari rahim dan tak mungkin hilang.

Eksistensi?

Lebih eksis “kids jaman now”

Identitas Budaya?

Masak gak rampung-rampung ngurusin identitas?

Generasi?

Generasi sekarang gampang-gampang susah, loh?

Menghibur?

Sudah terlalu umum…

Edukasi, Kemanusiaan?

Itu semua kan kuncinya dedikasi, yuk dihitung, berapa persen yang (mau) berkorban?

Pengetahuannya?

Kalau ini saya pribadi tidak percaya, banyak data soal kelemahan-kelemahannya. Sudah riset dan jadi buku.

 

 Kepentingan Orang Banyak?

Yang pribadi aja belum selesai…

Kepentingan Pribadi?

Ini memang paling gampang, dan semua bisa.

 

Pertanyaan reflektif di atas menggiring kita untuk kembali sejenak pada pemikiran Yunani Kono, zaman Thales, Plato, maupun Aristoteles, mengenai salah-satu kaidah falsafah ilmu, yaitu ontologis. Ontologis mempertanyakan hakikatnya, mengusut tidak hanya pada urusan jasmani, tapi juga rohani, pada semua yang “ada”, yang real, bahkan ultimate reality. Mengilhami fatwa Rene Descartes: “Aku berpikir maka aku ada.”

Namun sungguh, sejujurnya kita terlampau sulit menjawab pertanyaan singkat di atas: “Kita memperjuangkan apa melalui musik? Apanya yang kita perjuangkan?” Jangan-jangan kita memang sedang tidak setia pada nurani kita masing-masing, tidak bertanya secara mendalam pada dimensi rohani kita. Kita mungkin memang sedang kesulitan untuk menerka-nerka, terutama antara ketulusan dan batas nasib.

Alfred North Whitehead, seorang matematikawan Inggris sekaligus filsuf yang produktif pada peralihan Abad ke-19 menuju modern sudah mengingatkan kita tentang pentingnya “mawas diri”. Ia dikenal sebagai perintis “filsafat proses”. Salah-satu yang menarik dari penjelasan Whitehead adalah soal unikum, keunikan setiap orang dan potensinya untuk mengembangkan diri secara berbeda dengan yang lain. Bagi Whitehead, nilai yang penting dalam kehidupan adalah dimana setiap individu dengan segala kekhasan dan kebebasannya sanggup menegaskan “siapa dirinya”. Dua kata kunci pokok: khas dan bebas (Sudarminta, 1991: 92).

Tapi agaknya kita sekarang makin malu-malu untuk menunjukkan unikum itu “kepada dunia”—ya, “kepada dunia”, layaknya pidato Bung Karno soal “Ganyang Malaysia”. Kita makin menjadi kerdil karena setiap orang tak mampu memahami kita sebagai pribadi, individu, atau kekuatan permanen dan otonom dari yang disebut “manusia” ini, yang dibedakan dengan hewan karena kita memiliki “pengalaman” dan “pengetahuan”. Apa sebab kita makin kerdil? Karena kita sendiri terlampau sulit mengenali diri sendiri. Terlebih soal dimensi kreatif, soal musik dan segala sebab-akibatnya, soal kenapa musik harus ada di dunia ini? Kenapa musik harus ada dan kita ketiban nasib untuk seolah-olah ikut menjaganya?

 

Musik dan Organisasi Pikiran Manusia

Saat ini saya sedang berusaha untuk menyelesaikan buku berjudul “Organising Music: Theory, Practice, Performance” (Cambridge University Press, 2015). Buku ini, setidaknya bagi saya, membukakan pikiran mengenai pemahaman baru soal bagaimana mengorganisasi musik. Dan yang menarik, pengorganisasian musik menurut yang saya tangkap di buku ini bukan semata urusan teknis (pengelolaan pertunjukan, penjualan tiket, sponsorhip, dll), melainkan pengorganisasian pikiran-pikiran manusia yang berkecimpung di dunia musik. Bagaimana mengorganisasi pikiran musisi, komponis, direktur musik, dan seterusnya. Pikiran manusia menjadi subjeknya, bukan identitasnya, bukan siapa aku siapa kamu, bukan kamu ngapain aku ngapain.

Ambil contoh, ketika kita mengamati kondisi terkini di dunia musik—dan mungkin seni pada umumnya: ramai festival, poster dengan desain selalu menarik, pergeseran segmen audiens, tren indie, vlog, foto selfie, hubungan sosial tanpa hirarki, dan yang seterusnya itu—lalu bagaimana cara kita membangun persepsi? Gampangnya: apakah itu benar suatu kemajuan? Tentu saja bukan soal objek (musik) yang menjadi perhatian paling utama. Bandingkan dulu sebelum abad visual saat ini. Musik nyaris hanya soal telinga dan berita di koran. Bagaimana cara menakar pikiran-pikiran manusia berdasarkan simpul ekses nyata dari teknologi informasi itu dan realitas visual terkini itu?

Umberto sudah membicarakan soal “pencitraan” secara mendalam di dalam bukunya yang sangat terkenal: “Travels in Hyper-Reality” (1987). Dalam salah-satu bab mengenai foto ia menulis:

 

“Bagi sebuah peradaban yang sudah terbiasa berpikir dalam bentuk image, foto bukan lagi mendiskripsikan sebuah peristiwa tunggal (dan sebenarnya, tidak menjadi persoalan mengenai siapa sebenarnya orang di dalam foto tersebut, maupun informasi apa yang diberikan di dalam foto untuk mengidentifikasi orang tersebut); ia hanya sebuah argumen. Dan nyatanya, argumen itu berfungsi”

 

Secara hemat kata, makna yang bisa kita petik dari pernyataan itu adalah—hubungannya dengan abad visual-pencitraan saat ini, kita makin jauh dari realitas itu sendiri, untuk mengenali apa yang sudah diingatkan Karlina Supelli di atas: intersubyektif, antar-personal.  

Mungkin saja bahwa kita memang sedang benar-benar terpisah dari realitas. Kita sedang mengalami “fana”—kekosongan pada pikiran yang menggerakkan tubuh dan rohani. Tak ada yang benar-benar “ada” sesuai dengan pandangan ontologis. Kalau boleh jujur, kita tak pernah mampu mengukur semua fakta-fakta yang terjadi pada dunia musik saat ini sebagai kemajuan atau kemunduran, karena kita sendiri tidak pernah melakukan riset secara seksama dan sistematik. Sampai di sini kita (kembali) mempertanyakan secara mendalam: “Apa itu Musik dan apa yang sesungguhnya sedang kita perjuangkan?”

Pada sebuah kesempatan di kelas musikologi yang saya kelola secara non-formal, saya bercerita kepada murid-murid mengenai “ping-pong energi” di antara musisi dan audiens—dalam konteks studi mengenai interpretasi musik. Maka benar adanya, bahwa ada perbedaan jelas antara “pemain musik/penyaji musik” (player, performer), dan “penafsir” (interpreter). Murid-murid saya bingung semua, karena selama ini (ternyata) mereka hanya memainkan musik, dan belum sampai ke tahapan menjadi interpreter.

 

“…..You will then have become an interpreter, not merely a performer” Alfred Cortot (1937: 16).  

             

Menginterpretasikan suatu karya musik adalah perjuangan keras untuk membubuhkan “nyawa-nyawa” pada bunyi—sekaligus transfer energi berbentuk zig-zag tak karuan kepada seluruh benda yang ada di sekitar bunyi yang berlangsung, termasuk badan manusia sebagai salah-satu unsurnya. Maka akustik ruangan dalam konteks psiko-akustika akan bisa berkembang tidak hanya dalam kadar material, melainkan sebagai “senyawa aktif” yang turut mempengaruhi pikiran manusia. Dari sinilah, organisasi musik yang saya singgung sepintas di atas, menjadi lebih kelihatan gamblang. Suatu pementasan musik yang dikerjakan dengan manajemen sebagus apapun apabila pikiran manusia (tokoh di atas panggung) sedang tidak tuning dalam segala hal, maka hasilnya adalah sia-sia. Momen yang bersejarah adalah momen yang mampu menggugah batin, memberikan energi positif yang awet sepanjang masa.

Lempar musik sembunyi pikiran, seperti judul tulisan ini, adalah sebuah opini bebas untuk melawan yang serba “anti-kritik”, agar kita lebih bertanggung-jawab dan tidak cari aman saja. Kita berkesempatan menggugah semangat banyak orang untuk mengenali dampak-dampak signifikan yang terjadi sesudah karya musik dibuat, direkam, atau dipentaskan.

Apa yang akan terjadi pada dunia musik di esok hari, bulan depan, dan di masa mendatang akan sangat bergantung kepada pikiran kita sendiri, tentang bagaimana kita tlaten atau sabar untuk mengelola pikiran yang serba terbatas tetapi “khas” dan “bebas” ini. 

710 x dilihat

Prev Next