Harmoni Duo Jazz Jeko Fauzy dan Pramono Abdi

10-10-2018 15:52

Art Music Today


Art Music Today Image

 

Turut hadir secara khusus duo musisi jazz Jeko Fauzy (gitar), dan Pramono Abdi (saxophone) dalam rangkaian October Meeting 2018 "Reconnect" hari ke-3 di Komunitas Gayam 16 (9/10). Mereka yang kini bermukim di Bali telah sama-sama bermain jazz sejak 15 tahun silam. Pada kesempatan lecture concert ini mereka membawakan sedikitnya 4 karya (nomor 1 - 4) dan memberi penjelasan spesifik tentang karya-karya yang dimainkan. Turut hadir dalam sesi ini musisi jazz Agung Prasetyo, Merry Sajuto, Arie Kusumah, dan beberapa audiens musisi jazz maupun komponis. Dalam sesi yang berlangsung 2 jam penuh ini audiens terlihat sangat mencermati materi yang disampaikan oleh Jeko maupun Pram.

"Bermain duo, terutama antara gitar dan saxophone, bukanlah soal mudah, memiliki sistem dan tantangan tersendiri," kata Jeko. "Biasanya hanya para maestro yang sanggup membawakan format seperti ini," tambahnya. Masalah utama adalah membagi peran secara seimbang. Mengingat, sebagai instrumen melodi, saxophone justru ditantang menjadi "pengiring" ketika gitar berimprovisasi. "Sebab itu butuh trick yang jitu untuk membuat keduanya sinkron dalam merajut demi menjaga kesatuan ensembleshipnya," jelas Jeko.

Jazz, musik yang telah menjadi perhatian besar di seluruh dunia, telah mengalami evolusi panjang mulai awal abad ke-20. Jeko bercerita mengenai beberapa evolusi penting dalam improvisasi dari era Bebob hingga Modern. Ia mencontohkan bagaimana setiap musisi jazz dunia bekerja dengan susah payah untuk menyebarluaskan jazz dan mengembangkan berbagai teknik yang ada. "Tapi kini zaman sudah lain, setiap orang ingin instan. Tidak mengherankan kalau banyak yang nge-hits di medsos namun dalam realitanya mereka belum benar-benar memahami jazz," kata Jeko. 

Tiga unsur penting yang harus dikuasai oleh musisi jazz, terutama bagi amatir yang beranjak untuk profesional adalah pemahaman yang lengkap antara melodi, harmoni, dan ritem. Ketiga unsur ini mutlak dan tidak bisa ditawar. “Back to basic tetap penting untuk mengasah itu semua,” kata Pramono. “Kebetulan kami berdua suka bereksperimen, terutama menantang kreativitas dan skill kami masing-masing, dan ini tak pernah ada habisnya dipelajari. Kami tetap berangkat dari sistem-sistem tradisional meskipun eksplorasi kami bisa lebih jauh dari itu,” tambahnya.

Banyak pertanyaan mengalir dari audiens yang datang pada sesi tersebut. Misalnya soal komunikasi, improvisasi, ide dan karakteristik dalam permainan duo ini, hingga keterbukaan menghadapi fenomena musik yang semakin beragam, misalnya soal kolaborasi dengan musik tradisional. Jeko dan Pram mengaku senang bisa turut berbagi ilmu di October Meeting kali ini, dan mereka mengaku siap untuk diajak berkolaborasi di berbagai kesempatan lain (es/amt/foto: Akrom).

 

 

 

 

 

 

 

 

453 x dilihat

Prev Next

Login Member

forgot password?
Kabar Berita
PERJALANAN BUNYI YUDANE

1775 x dilihat

9 Tahun Art Music Today

471 x dilihat